Lihat Aku, Jasson!

Lihat Aku, Jasson!
Lihat Aku, Jasson! Bab 149


__ADS_3

Bunga telah sampai di restaurant Jasson, Ara begitu antusias memesan makanan yang sedari awal memang ia inginkan. Sementara Bunga bertanya keberadaan Jasson membawa anaknya Jesslyn agar anaknya bisa bertemu dengan Jasson


"Maaf, dimana pemilik restauran ini?"


"Saya tidak tahu Bu, karena saya hanya karyawan baru di sini. Permisi,"


Bunga menoleh anaknya yang terlihat murung dan sedih "Sayang, kamu jangan khawatir. Mommy akan berbicara dengan manager dan bertanya di mana papa kamu ya?"


Jesslyn mengangguk, Bunga meminta waiters tersebut untuk memanggil managernya. Waiters itu mengangguk, untuk memanggil atasannya


"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?"


"Maaf, saya ingin bertemu dengan pemilik restauran ini, apakah bisa?"


"Maaf sekali ibu, namun sayangnya tuan Jasson dan mamanya sudah pergi dari kota ini. Ini hanya salah satu cabangnya saja, mungkin mereka berkunjung restauran lainnya di luar kota,"

__ADS_1


"Boleh kah saya meminta nomernya?"


"Mohon maaf ibu, identitas owner sangat privasi dan saya tidak bisa memberikannya. Jika ibu ada pesan, saya akan menyampaikannya,"


"Katakan saja jika Bunga mencarinya dan ingin berbicara dengannya,"


Manager itu pun mengangguk, lalu permisi untuk segera pergi. "Mommy, apakah kita tidak akan bertemu dengan papa?"


"Nak, mommy sudah berusaha namun kamu mendengarnya sendiri bukan? Papa dan nenek kamu telah pergi dari sini, dan mereka tidak bisa memberikan nomer papa kepada kita. Tetapi, mommy sudah memberikan pesan dan semoga saja papa segera menghubungi mommy,"


"Ya sudah, kita makan dulu ya?" Jesslyn mengangguk dengan berat hati, Bunga mengajak anaknya untuk bergabung dengan yang lainnya "Bunga, bagaimana nak?"


Salvira bertanya dengan penasaran, begitu juga dengan Ara. Bunga pun mengatakan jika Jasson tidak ada di kota ini, dan karyawan tidak bisa memberikan kontaknya kepada sembarang orang


"Sembarang orang? Jesslyn ini adalah anaknya Jasson. Sombong sekali mereka," Ara terlihat kesal, terutama melihat wajah Jesslyn yang murung. Gerry yang tak tega pun menghibur Jesslyn "Duh, cantiknya Daddy senyum dong. Nanti cantiknya hilang tau?"

__ADS_1


"Daddy, kenapa papa tidak bisa memberikan nomer ponselnya? Apakah Jesslyn tidak penting?"


"Sangat penting sayang, namun papanya Jesslyn kan tidak tahu jika Jesslyn dan mommy datang kesini. Lagipula, nomer ponsel itu privasi sayang. Makanya, karyawan yang ada disini tidak berani memberikan sembarang nomer papa Jesslyn. Kamu jangan bersedih ya nak?"


Jesslyn terdiam, mengabaikan ucapan Gerry "Daddy, kenapa bukan Daddy papanya Jesslyn! Kenapa orang asing?"


Gerry terdiam, walau ia sangat menyayangi Jesslyn namun ia juga tidak bisa melawan takdir jika bukan dia papa kandung Jesslyn.


Bukan karena Gerry menyukai atau mencintai Bunga, namun ia memang menyayangi Jesslyn seperti anaknya sendiri. Namun apa yang bisa ia lakukan? Dia hanya bisa menyayangi anak kecil itu dengan ketulusan hatinya tanpa berharap ikatan apapun


"Sayang, kenapa kamu memberikan pertanyaan seperti itu kepada Daddy?" Bunga pun mencoba mencairkan suasana, namun Jesslyn menangis


"Mommy, kenapa Jesslyn mempunyai dua ibu dan dua ayah?"


Jesslyn yang masih kecil merasa bingung dengan hubungan keluarganya, karena ia juga memanggil Ara dengan mami dan Gerry dengan Daddy. Sedangkan Bunga adalah mommynya dan lelaki yang baru beberapa waktu ia temui adalah papanya. Hal itu tentu saja membuat Jesslyn merasa bingung

__ADS_1


__ADS_2