
Terlihat mata Ratu berkaca-kaca, hatinya merasa hancur mendengar ucapan Eyden yang mengatakan jika pria itu mencintai, Ade. Sang kakak, saat Ratu ingin pergi, Eyden menghentikannya "Tunggu Ratu!"
Ratu terdiam sejenak, ingin mendengar apa yang akan Eyden katakan lagi. Walau ia tahu, jika Eyden pasti akan membahas kakaknya! "Ratu, bisa kah kamu membuat aku dengan kakakmu bersatu?" tentu saja ucapan Eyden membuat Ratu kesal.
Ia menepis tangan Eyden saat dirinya memegang tangan Ratu "Enggak bisa!"
"Kenapa?"
Ratu terlihat emosi, matanya memerah. Terlihat jelas amarahnya meluap-luap "Aku enggak bisa maksain hati seseorang, bahkan aku juga enggak bisa menentukan perasaan kakak untuk siapa!"
Eyden terdiam, memang benar. Hati enggak bisa di bohongi! Ratu pun segera pergi meninggalkan Eyden. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan geram, Ratu ingin kakaknya segera menikah dengan Jasson. Saat kakaknya menikah, Eyden tidak akan menunggu perasaan dari Ade!
******
Di rumah, Jasson menarik tangan Bunga dengan kesal "Apa kau sengaja mempermalukan ku di depan para karyawan?"
Bunga menatap suaminya dengan santai, memegang pipi Jasson dengan kedua tangannya yang begitu lembut "Sayang, tenang dong! Jangan terlihat kesal begitu," Bunga mengecup bibir suaminya dengan lembut. Jasson terdiam, mengapa sikap Bunga berubah seperti itu?
"Ada apa? Bukan kah kau menyukai wanita yang agresif?" Bunga bermain mata dengan Jasson, sejenak Jasson terdiam kaku. Ia bingung serta kaget dengan tindakan istrinya.
"Sudahlah! Aku ingin membahas tentang kantor!"
"Oh, jika tentang kantor. Bicara saja besok di kantor! Sayang, jangan membawa masalah pribadi dengan pekerjaan oke?"
"Bagaimana aku bisa membahasnya di kantor jika bawahan mu selalu saja menghalangiku?"
"Dia tidak menghalangiku! Namun kau membahas tentang kita. Ya sudah, bicarakan di sini, jika tentang pekerjaan kita bahas saja besok!"
Bunga ingin meninggalkan Jasson, namun Jasson mencengkal tangan Bunga "Jangan terus menghindar dariku!" Jasson terlihat sangat serius dan begitu marah, sedangkan Bunga masih santai.
"Kau sudah mempermalukan ku!"
"Tidak! Aku tidak mempermalukan siapapun. Namun, aku hanya ingin bersikap profesional saja kepada seluruh karyawan. Sayang, aku ini CEO dan sebagai CEO aku harus mencontoh kan hal yang baik. Aku tidak mau berat sebelah hanya karena kau suamiku! Aku harap kamu mengerti! Jika aku membelamu, mereka akan menganggap diriku tidak adil,"
__ADS_1
"Biasanya bagaimana? Mengapa kau mempermasalahkannya sekarang?"
"Sudah lah! Jangan marah seperti itu, itu hanya di kantor saja. Jika di rumah, kau tetap suamiku!"
Bunga membelai pipi suaminya dengan manja, "Sudah lah! Ya sudah, aku mau membersihkan diri terlebih dahulu. Kita akan membahasnya nanti oke?"
Jasson merasa kesal, melihat sikap Bunga yang sepertinya berubah drastis.
Di kamar, Bunga menghela nafas dengan panjang. Dadanya sesak, sebenarnya ia tidak tega mempermalukan Jasson di kantor. Namun Bunga ingin Jasson mengerti dan menyadari kesalahannya.
Selama ini Bunga sudah banyak mengalah dan diam, namun Jasson semakin semena-mena. Bahkan begitu tega membawa selingkuhannya untuk tinggal bersama mereka.
Bunga sudah bisa menerima segalanya, namun yang membuatnya sakit adalah. Jasson tega membohonginya, dan hanya memanfaatkan dirinya.
Bunga meneteskan air matanya, lalu segera menghapusnya "Ini semua permainan kalian, dan aku akan mengikuti segala permainan yang kalian mainkan!"
Bunga tersenyum sinis, lagipula ia tidak pernah menyakiti siapapun. Dia hanya ingin memberikan pelajaran kepada orang-orang yang menyakitinya!
Jasson begitu kaget, ia pun segera berdiri. Menggelengkan kepalanya dan mengatakan hanya kesalahpahaman yang begitu kecil "Tidak, Mi. Biasa lah suami dan istri pasti akan mengalami perbedaan pendapat."
Salvira mengangguk, ia menyuruh menantunya untuk segera tidur di kamar. "Ya sudah, ini sudah larut malam. Sebaiknya, kamu istirahat!"
Jasson mengangguk, ia segera menaiki anak tangga satu persatu untuk masuk ke dalam kamar.
Terlihat Bunga sedang berdiri di depan cermin, mengeringkan rambutnya. Saat melihat Jasson masuk ke dalam kamar, Bunga langsung menyiapkan pakaian untuk suaminya Jasson "Mandi lah, aku akan menyiapkan makanan untukmu!"
Jasson hanya mengangguk, ia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Bunga keluar dari kamar untuk menyiapkan makanan untuk dirinya dan sang suami.
Di dapur, Bunga melihat maminya yang sedang memasak. Bunga mendekati maminya "Mami kenapa memasak malam-malam begini? Apa mami lapar? Biar Bunga yang memasaknya."
"Tidak, Sayang! Mami tidak lapar, mami hanya ingin memasak untuk kamu dan suami kamu. Kalian baru pulang dari kantor, pasti lelah dan lapar!" Bunga berkaca-kaca mendengar ucapan maminya. Betapa maminya begitu menyayangi ia dan sang suami, bagaimana jika maminya mengetahui bagaimana hubungan rumah tangganya.
Bunga memeluk maminya dengan erat "Mami, terimakasih untuk kasih sayang dan perhatian yang mami berikan kepada Bunga dan juga Jasson. Bunga sangat menyayangi mami, mami hidupnya Bunga!" Suaranya terasa berat, bahkan air matanya menetes. Salvira membalas pelukan anaknya, ia pun semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Kamu itu anak semata wayangnya mami, mami akan melakukan apapun demi kebahagiaan kamu. Kamu adalah hidup mami, mami tidak bisa hidup tanpa kamu, mami hanya ingin kamu bahagia, Sayang!"
Bunga mengangguk, sekali lagi ia mengucapkan terimakasih banyak kepada maminya..
Keduanya pun memasak makanan untuk Jasson, Jasson melihat istri dan mertuanya berbincang..
Sejauh yang ia lihat, Bunga sangat menghormati dan menutupi aibnya. Namun mengapa sikap Bunga jauh berbeda, saat berada di kantor?
Entahlah! Jasson merasa bingung dengan sikap istrinya yang berubah. Namun yang pasti, ia harus segera membuat Bunga mengandung anaknya.
"Wah, wangi banget sih makanannya. Masak apa sih mami mertua dan istriku ini?"
Bunga melihat Jasson dengan jengah, mengapa Jasson bisa memasang topeng yang begitu palsu?
Padahal ia tahu, jika sebenarnya Jasson tidak tertarik kepada dirinya. Lagi dan lagi, Jasson bersandiwara didepan maminya.
Bunga hanya memasang senyuman palsu, "Iya, ini sedang memasak makanan untukmu!"
Bunga terlihat kesal, dan begitu dingin. Salvira mengamati gerak anaknya yang terlihat cuek dengan Jasson..
Jasson duduk di meja makan, dan Bunga menghidangkan masakan untuk Jasson.
"Ini, makanlah!"
"Bukan hanya Jasson yang makan, kamu juga makan, Sayang! Biar mami yang akan melayani kalian!"
"Tidak perlu, Mi! Biar Bunga yang melayani Jasson. Mami duduk dan makan lah!"
Salvira menolak, karena dirinya masih sangat kenyang "Tidak, Sayang! Kalian saja, mami sudah merasa begitu kenyang. Mami hanya ingin menemani kalian untuk makan, mami ingin kita berkumpul makan bersama!"
Salvira mengatakan itu dengan tersenyum, semenjak kepergian suaminya ia merasa sangat sepi.
Hanya anaknya Bunga yang bisa mengobati rasa sepinya "Jika kalian punya anak, mami pasti akan menemukan mainan baru mami. Saat kalian tidak di rumah, mami bisa bermain dengan cucu mami"
__ADS_1