
“Nggak Mang, aku hanya pingin Mamang sekeluarga ikut menikmati makanan enak juga seperti mereka, masa hanya mereka yang bisa menikmatinya, sedangkan kita nggak.”
“Tapi kalau uang Den Niko nanti habis gimana ?”
Nggak Mang, uang aku banyak kok.”
“Tapi !”
“Tapi, apa lagi Mang ?”
“Mamang nggak enak sama orang di rumah Den, nanti Mamang makan enak di restoran mewah, sementara mereka di rumah Cuma makan nasi aking. Mamang sebagai kepala keluarga kan nggak adil Den.”
“Ooo, itu masalahnya ternyata ! Emangnya Mamang punya anak berapa orang ?”
“Lima, Den.”
“Ya udah, nanti untuk anak-anak Mang Ojo, nasinya kita bungkusin, ok !”
“Aah, Mamang jadi nggak enak, udah ngerepotin Aden.”
“Nggak kok Mang, biasa aja.” jawab pemuda itu seraya menarik tangan Mang Ojo, untuk memasuki restoran mewah itu.
Kemudian Mang Ojo dan Niko masuk kedalam dan menyantap hidangan yang sudah di sediakan, setelah selesai Niko langsung memesan tujuh porsi lagi untuk dibawa pulang oleh Mang Ojo.
“Lho kok tujuh Den, kan kita udah makan enak, kenapa harus di bungkus sebanyak itu ?”
“Nggak apa Mang, siapa tau nanti Mamang lapar lagi dirumah.”
“Aduh, Den Niko, Mamang jadi ngerepotin terus kayaknya.”
“Ah, Mamang ! biasa aja kali.” Jawab Niko sembari menepuk pundak Mang Ojo pelan.
Diluar sebuah mobil mewah telah menunggu untuk mengantar Mang Ojo, pulang kerumahnya. Niko pun mempersilahkan Mang Ojo untuk naik terlebih dahulu, tapi Mang Ojo malah menolaknya.
“Kenapa Mang ?”
“Mamang biar jalan aja Den !”
“Jalan ? jalan kemana Mang ? Ini masih jauh loh ! Kalau Mamang jalan kaki ada satu hari perjalanan, apa Mamang sanggup ?” gertak Niko.
“Nggak Den !”
“Nah ayo naik ! Biar kita segera nyampe kerumah Mang Ojo.”
"Baiklah Den." jawab Mang Ojo pelan.
Mobil yang di kendarai pun melaju dengan kecepatan sedang, Mang Ojo tampak duduk diam di kursi paling depan. Hingga menghampiri tempat tinggalnya barulah Mang Ojo angkat bicara.
“Kita dah sampai Den !” teriak Mang Ojo.
“Baiklah, kita akan berhenti disini.” Jawab Niko.
“Tapi boleh saya mampir Mang ?”
“Boleh, boleh Den, tapi rumah Mamang kecil dan sempit.”
“Nggak apa-apa Mang.” Jawab Niko seraya melangkah mengikuti Mang Ojo, dari belakang.
Didepan rumah Mang Ojo, telah berdiri Ranita, seraya tersenyum manis. Niko yang berjalan Bersama Mang Ojo terkejut melihat Ranita berada di tempat itu.
__ADS_1
“Hei Nit ?” sapa Niko seraya tersenyum manis.
“Hei Niko !” jawab Ranita tersenyum lebar, hingga kedua lesung di pipi gadis itu tampak jelas mencekam.
“Ooo, kalian udah saling kenal rupanya ?” kata Mang Ojo.
“Iya Mang, Niko ini teman Ranita di kampus.”
“Jadi kalian satu kampus ?”
“Benar Mang ! kami satu kampus !” timpal Niko.
“Bagus itu, Ya udah, kalau gitu mari kita masuk !” ajak Mang Ojo pada Niko dan Ranita.
“Nggak usah Mang biar kami disini aja.”
“Baiklah kalau begitu, biar Mamang aja yang masuk duluan, kalian ngobrol aja disini, nanti biar Ibu yang bikinkan minuman.”
“Baik Mang. “ jawab mereka berdua serentak.
Saat asik ngobrol, Fatma pun datang membawa dua gelas air putih yang diletakan diatas nampan Dan mempersilahkan keduanya minum, setelah itu diapun kembali ke dapur.
Disaat Fatma ke dapur, Ranita menarik tangan Niko untuk menunjukan sesuatu padanya.
“Ada apa sih Ran ?” tanya Niko heran.
“Ayo ! Ikut Aku !” ajak Ranita seraya menarik tangan Niko untuk memasuki sebuah ruangan kamar Mang Ojo.
“Ada apa ?”
“Lihat aja sendiri !”
“Gimana ? Apa kau pernah melihat sebelumnya ?”
“Keren habis coy !”
“Keren kan ?”
“Iya, seumuran aku baru kali ini lihat hal semacam ini. Gila habis, Wow !”
“Gila kan ? Dirumah sekecil ini, ternyata ada keunikan tersendiri didalamnya.”
“Benar Nit, Aku jadi kagum sama Mang Ojo. Walau hidup pas-pasan begini dia masih bisa berarti bagi keluarganya.”
“Tapi awas loh ! Jangan bilang siapa-siapa ?”
“Nanti Mamang nya marah loh.” Jawab Ranita.
“Nggak ! Mamang nggak marah kok !”
“Haaah, kan ? Mamang aja nggak marah !”
“Benar Mang nggak marah ?” ulang Ranita tak percaya.
“Benar, Mamang nggak marah, hanya saja kalau ada orang lain tau, mereka akan menganggap kalian orang stres !”
“Ha tu, kan ? benar apa yang kukatakan tadi kan ?”
“Tapi kenapa begitu Mang ?” tanya Niko penasaran.
__ADS_1
“Untuk zaman sekarang ini, diam itu lebih baik. Biar saja orang tau sendiri kondisi kita dan kita tak usah mengumbarnya ke mana-mana.”
“Gitu ya, Mang.”
“Itukan menurut Mamang !”
" Maksud Mamang apa sih ?"
“Kalau menurut kalian, Mamang nggak tau. Lagian itukan urusan kalian dan Mamang nggak perlu memaksakan kehendak Mamang pada kalian kan ?”
“Benar itu Mang ! kalau gitu Aku masih bisa lihat-lihat lagi kan ?”
“Tentu, Mamang nggak marah kok, silahkan aja kalau masih ingin melihat, Ini semua adalah ukiran Mamang waktu di SMA dulu, hanya sekedar iseng aja !”
“Iseng aja, ukirannya udah sebagus ini ? dan itu Mamang bilang iseng ? ah Mamang, apalagi kalau Mamang serius ! Pasti lebih bagus lagi, dong !”
“Aah Den Niko, bisa aja !”
“Serius Mang ! Mana mungkin Aku bercanda.”
“Sambil menunggu lamaran keluar, Mamang cari kesibukan membuat ukiran ini, sementara yang di sebelah sana itu.” kata Mang Ojo sambil jemarinya menunjuk sesuatu.
" Yang mana Mang ?"
“Nah, yang itu ? Itu adalah piala Mamang waktu SD, SMP dan SMA dulu, dan yang ini adalah piagam Mamang dan Ibumu.”
“Ibu ? Emangnya Ibu punya piagam juga ya, Mang ?” tanya Niko dan Ranita heran.
“Iya ! Ibu itu lulusan sarjana ekonomi.”
“Apa ? Lulusan sarjana ekonomi ?”
“Iya, benar ! Ibu juga pernah bekerja di luar negeri sebagai direktur, sebuah Bank."
" Benar itu Mang ?"
"Ya benar, tapi karena Ibu putri tunggal, orang tuanya tak sanggup berpisah dengan putrinya dalam waktu yang cukup lama, kemudian Ibu pun dipanggil pulang ke Indonesia.”
“Terus Mang ?”
“Tidak begitu lama kedua orang tuanya pun sakit dan akhirnya meninggal dunia, seiring dengan kepergiannya harta merekapun habis terkuras untuk biaya pengobatan keduanya, hingga Ibu pun jatuh miskin.
“Lalu Mang ?”
“Lalu Ibu mengajukan lamaran di bank yang ada di sini, tapi tak ada yang diterima, mereka semua menolaknya, dalam kesendiriannya itulah Mamang masuk dalam kehidupan Ibu dan menikahinya."
" Terus ?"
"Hingga akhirnya kami punya lima orang anak, dan disaat itu beban ekonomi begitu sulit. Karena memiliki lima orang anak tentu membutuhkan biaya banyak, awal mulanya yang jadi pemulung itu Mamang, tapi karena ada sedikit modal, Mamang pun berjualan kacang rebus dan Ibu yang gantikan Mamang jadi pemulung.”
“Oh, miris sekali kisah Mamang sekeluarga.” Ujar Ranita pelan.
“Kenapa begitu Mang ?” tanya Niko ingin tau.
“Mungkin karena Ibu tak tega melihat Mamang bekerja sendiri, makanya Ibu turun tangan membantu Mamang !”
“Waah ternyata keluarga Mamang, orang-orang yang berprestasi semua ?” kata Niko mengomentarinya.
“Lalu bagaimana dengan anak-anak Mamang ?”
__ADS_1
Bersambung...