
Kepada suaminya, Fatma menyampaikan niatnya untuk membangun sebuah butik, yang nanti semua karyawannya, berasal dari anak-anak panti yang sudah remaja.
Selain bekerja bersama Ema, anak-anak panti juga bisa belajar, bagai mana cara menjahit yang bagus, agar produk hasil buatan mereka bisa di pasarkan di masyarakat.
Mendengar Ide dari Fatma, Mang Ojo langsung menyetujuinya, dan atas kesepakatan anak-anaknya, akhirnya butik itu pun segera didirikan di sebelah rumah milik Mang Ojo.
Setelah butik berdiri dengan kokohnya, Fatma tampak begitu senang sekali, dia pun ikut dalam menentukan tatanan ruangan butiknya.
Mang Ojo yang melihat istrinya tampak bersemangat, hatinya begitu senang.
“Sepertinya Ibu suka sekali dengan butik ini?” tanya Mang Ojo pada Fatma.
“Aku udah lama menginginkan butik ini Pak, tapi aku nggak bisa menimbulkan ide, bagai mana agar butik ku bisa berdiri dan bermamfaat buat anak-anak panti, akan tetapi semenjak Ema muncul, barulah aku mendapatkan ide tentang itu.
Benar saja, setelah butik milik Fatma berdiri, fatma memamfaatkan anak-anak panti untuk datang kebutik miliknya untuk belajar banyak pada Ema.
Setelah anak-anak itu pulang sekolah, Zaki langsung menjemput mereka, dalam satu hari, Fatma memanggil dua puluh orang secara bergantian, dalam sekian banyak yang berlatih, hanya tinggal sebagian saja yang berminat.
Mesti demikian Fatma tak langsung menyerah, setelah di lakukan penyaringan, fatma mendapat tiga puluh anak yang berbakat.
Lalu ke tiga puluh anak itu di latih hingga mereka belajar dengan bersungguh-sungguh, Ema begitu berbakat melatih mereka dengan sabar.
Hingga akhirnya ketiga puluh anak itu, bisa bekerja dengan maksimal, setiap pulang sekolah, tugas Zaki langsung datang ke panti untuk menjemput mereka.
Bagi anak-anak yang telah tamat SMA dan tak ingin melanjutkan ke perguruan tinggi, mereka semua di jemput pada pagi hari.
Uang dari hasil penjualan, mereka kumpul dan mereka belikan bahan mentah, untuk di buat baju kembali, al hasilnya, butik fatma dari hari ke hari menuai hasil yang sangat baik.
Di saat suasana mulai berjalan kondusif, keluarga Mang Ojo sudah bisa menarik nafas lega, tiba-tiba pagi itu Ahong dan Leni mendatangi Mang Ojo dan juga Fatma, niatnya yang sudah lama ingin masuk Islam, diutarakannya saat itu.
“Alhamdulillah!” ujar Mang Ojo sembari mengangkat kedua tangannya tanda bersyukur kepada Allah, atas hidayah yang telah diberikan kepada Ahong sekeluarga.
“Apakah semua keputusan ini telah Bapak dan Ibu pikirkan secara matang?”
__ADS_1
“Udah, Pak.”
“Kenapa tertarik masuk Islam, kan masih banyak agama lain yang bisa di anut selain Islam.”
“Saya melihat banyak perbedaan yang terdapat dari agama Islam jika saya bandingkan dengan agama yang lainnya.
“Perbedaan apa?”
“Perbedaan itu nggak bisa saya ucapkan secara langsung Pak, tapi saya dapat merasakan ada ketenangan di dalam hati.
“Ooo, begitu, baiklah. Nanti siang kita akan panggil Pak Ustadz untuk datang kesini, memandu Bapak dan Ibu untuk memeluk ajaran yang menurut kalian dapat membuat hati menjadi tenang.”
Setelah Zakia dan putranya masuk Islam, menyusul pula Ahong dan keluarganya masuk agama Islam, Mang Ojo tak memaksa mereka semua untuk beralih akidah, akan tetapi Mang Ojo mengajarinya dengan perilaku dan perbuatan.
Hati Mang Ojo dan Fatma menjadi senang, karena di hari tuanya, Ahong masih sempat bersujud kehadapan Allah, tuhan semesta alam, yang atas karunia nya kita semua dapat menghirup udara segar.
Serasa lengkap semua kebahagian yang di rasakan Mang Ojo, anak yang baik dan penurut, hati yang tenang, harta yang berlimpah dan semuanya adalah rahmat yang tak dapat di balas dengan tumpukan harta yang berharga sekalipun.
Harta hanyalah titipan yang sewaktu-waktu akan di ambil kembali, begitu juga dengan keluarga yang kita sayangi, jangankan untuk mempertahankannya agar selalu berada disisi kita, sedangkan untuk menyelamatkan diri kita saja, kita sendiri bahkan tak mampu.
Di usianya yang sudah lanjut, Mang Ojo beserta istri selalu berdo’a kehadirat Allah, agar hati dan ke imanannya selalu terjaga dari hal-hal duniawi, karena semua itu dapat membuatnya semakin jauh dari Allah.
Suasana damai, saat itu benar-benar telah menyelimuti keluarga Mang Ojo, mereka selalu saja mendekati diri pada Allah Swt. Agar ketenangan hati tak direnggut dari mereka.
Malam itu, di saat ribuan bintang tampak bergelayut di cerahnya suasana malam, tampak oleh Leni, Zaki sedang asik duduk di serambi rumahnya bersama Defi, hati Leni terasa begitu sakit sekali, karena Zaki telah mengisi hatinya dengan gadis lain.
Di sudut tiang rumah megah itu, Leni mencoba menahan tangisnya agar tak terdengar oleh orang lain, di saat putri tercintanya sedang berusaha untuk mencoba bangkit, Zaki justru hendak meninggalkan dirinya.
Tapi Leni harus bersikap sportif, dia tak boleh memikirkan dirinya sendiri, karena hal itu bukan kesalahan Zaki semata, akan tetapi semua itu juga karena kesalahan Ahong dan dirinya.
Setelah Leni mencoba untuk tetap tenang, dia pun masuk kedalam kamar putrinya, yang tampak duduk terpaku memandang ke arah bintang yang begitu banyak.
“Kamu senang melihat keindahan alam ini sayang?” tanya Leni seraya tersenyum manis pada Gita.
__ADS_1
Gita tidak menjawab, dia hanya ikut tersenyum tipis kehadapan Mamanya, di saat itu teringat Leni akan pertemuannya dengan Zaki dan Defi.
“Oh, jika saja Gita sempat melihat pertemuan Zaki dengan Defi, hatinya pasti terasa sangat hancur sekali, aku harus tetap merahasiakan semua itu dari Gita,” kata Leni pada dirinya sendiri.
Seraya tersenyum lembut, Leni menghampiri Gita dan menyisir rambutnya yang halus, hati Leni terasa bergetar, ketika tangan lembut putrinya menyentuh tangannya.
“Ada apa sayang?” tanya Leni pada Gita yang saat itu hendak bicara sesuatu.
Gita hanya diam saja, dia sepertinya mengurungkan niatnya untuk bicara, walau Leni telah berulang kali menyuruhnya untuk bicara.
Tak berapa lama kemudian Ahong masuk, di saat dia hendak kedalam kamar gita, secara tak sengaja, Ahong juga melihat hal serupa persis sama dengan yang di lihat oleh Leni.
“Aku melihat Zaki bersama!”
“Ssst!” ujar Leni seraya menaruh telunjuknya di depan bibir.
Melihat Bahasa isyarat yang di tunjukan istrinya, Ahong pun berhenti bicara, kemudian Leni menarik tangan suaminya untuk menjauhi Gita.
“Ada apa sih?” tanya Ahong heran.
“Papa ya, kalau ngomong itu nggak pakai aturan, tolong di jaga sedikit kenapa sih, ntar kalau Gita kedengaran, kan kita semakin sedih jadinya.
“Maaf, tadi Papa nggak sengaja.”
“Ya udah, nggak apa-apa. Tadi aku juga lihat kok, kalau mereka berdua saling bicara di serambi rumah.
“Kenapa sih, nggak kita izinin aja Zaki menikah dengan wanita lain, bukankah dengan kehadiran kita bertiga ini saja, udah menjadi beban yang cukup berat bagi mereka sekeluarga.”
Sebenarnya Aku juga berpendapat demikian, tapi apakah Gita nggak merasa sedih, jika dia melihat Zaki bersama perempuan lain?”
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1