Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 24 Masuk rumah sakit


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, dr. Harni pun datang, setelah memarkirkan mobilnya dr. Harni langsung menuju lantai atas ruang kamar Ranita.


“Ayo dok, ayo !” ajak Bi Inah pada dr. Harni.


“Iya, Bi ! Terimakasih.” Jawab dr. Harni dengan suara lembut.


Sambil mengiringi langkah Bi Inah, dr. Harni terus berkonsentrasi penuh melewati anak tangga yang berliku-liku.


“Ini kamar Neng Ranita dok ?” kata Bi Inah menunjukan ruang kamar Ranita.


“Terimakasih Bi.”


“Iya, sama-sama dok.” jawab Bi Inah seraya pergi kebawah untuk membuatkan teh hangat untuk dr. Harni.


“Gimana keadaanya, Bu ?” tanya dr. Harni pada Resti.


“Silahkan lihat sendiri dok, saya sangat cemas sekali ?”


“Baik!” jawab dr. Harni dengan suara lembut.


Karena telah mendapat izin dari Resti, dr. Harni langsung memeriksa tubuh Ranita, sembari menyentuh denyut nadinya, dr. Harni pun membuka kelopak mata Ranita secara bergantian, lalu dia diam sejenak.


“Hmm, begini saja, keadaan Ranita sangat memprihatinkan, tubuhnya sudah begitu lemah, denyut nadinya pun hampir tak terasa. Saya takut kalau Ranita tak tertolong nantinya, gimana kalau Ranita kita bawa kerumah sakit aja. Karena di rumah sakit fasilitasnya lengkap.”


“Terserah dokter aja !” kata Resti menyerahkan keselamatan Ranita pada dr. Harni.


“Baiklah kalau begitu, mari kita angkat Ranita nya.”


“Baik dok !” jawab Pak Margono, seraya mengangkat tubuh Ranita kemobil. Diiringi oleh Resti dan dr. Harni.


Beberapa saat kemudian, mobil yang dikendarai dengan kecepatan sedang , tiba dirumah sakit yang dituju. Beberapa orang perawat langsung menyusul mereka keluar , seraya membawa kursi dorong.


Ranita pun didudukan dan para perawat itu membawanya keruang UGD. Infus pun dipasang ditangan Ranita, agar kondisi tubuhnya cepat membaik.


Sudah beberapa botol infus habis dipasang namun Ranita belum juga membaik. Pak Margono dan Resti semakin cemas dia berjalan hilir mudik tak terarah. Resti tak henti-hentinya menangis hingga matanya kelihatan membengkak.


Meski demikian, Rasti tetap saja menghujat keluarga Mang Ojo sebagai penyebab putrinya mengalami kritis.


“Dasar orang nggak berguna, ulah dia semua Ranita jadi begini !”


“Berhentilah untuk selalu menyalahkan orang lain, benahi pikiran jahat Mama itu dulu.”


“Maksud Papa, apa nih ? Papa kok jadi belain keluarga si pemulung itu ?”

__ADS_1


“Papa nggak membela siapa-siapa Ma, Mama sendiri yang ingin cari masalah.”


“Lama-lama, kalau Mama dengar Papa ngomong, kok Mama jadi neg ya ?”


“Ya kayak gitu tu, nggak bisa di ajari yang baik ! maunya menang sendiri !” sindir Margono seraya melirik ke arah Resti.


“Papa sepertinya udah terlalu jauh menyalahkan Mama, ya ?”


“Terserah !” bentak Pak Margono sembari pergi meninggalkan istrinya diruang tunggu.


Setelah tiga hari dirawat dirumah sakit, rekan kerja Pak Margono dan Resti datang membesuk putrinya. Yang waktu itu Ranita masih kelihatan lemas.


“Emangnya Ranita sakit apa Bu ?” tanya Bu Eka ingin tau keadaan yang sebenarnya.


“Entahlah, Bu ! Saya juga nggak tau ? saat saya masuk ke kamarnya dia juga sudah lemas begini.” Jawab Rasti menyembunyikan hal yang sebenarnya.


“Lihat wajahnya kelihatan pucat nya ?” tambah Lastri dengan suara datar.


“Iya, seperti nggak makan aja ?” lanjut Rustam seperti menjawab pertanyaan Eka dan Lastri.


“Sebenarnya sakit apa putrimu Resti ? Masa kamu nggak tau, kan dia putri tunggal mu ?” tanya feti penasaran.


“ sebenarnya hanya masalah sepele ! Biasa ! Kena marah, langsung mogok makan.”


“Kata BI Inah udah lima hari.”


“Apa ? Udah lima hari nggak makan, kamu nggak tau ?”


“Iya, kami semua nggak ada yang tau, hanya Bi Inah yang tau, tapi dia nggak memberitahu kami.”


“Ya Allah kasihan kamu Ranita ? cepat sembuh ya Nak ! ini kami ada bawa sedikit makanan untuk mu, makan ya ?” biar tubuhmu kuat dan bersemangat lagi, ingat masa depanmu masih Panjang, jadi kamu harus tetap semangat.” Kata Bu Yola memberi Ranita semangat.


“Makasih ya, Ibu-Ibu telah menyempatkan diri membesuk anak saya !”


“Sama-sama Bu Resti, kita satu profesi, jadi harus kompak dan saling mendukung satu sama lainnya.” Jawab Bu Yola dengan senyum manis di bibirnya.


“Kalau begitu kami pamit dulu, semoga anakmu cepat sembuhnya Resti ! kata feti tersenyum.


“Terimakasih, Fet !” jawab Resti seraya menaruh makanannya di atas meja.


Bersama pak Margono, Resti ikut mengantar para rekan kerja mereka keluar dari ruang rumah sakit. Setelah mereka berangkat, hati Resti begitu sakit sekali.


Dengan bergegas dia masuk kedalam ruangan Ranita, di atas sofa Resti duduk termenung seraya menatap tajam kerah Ranita yang terbaring. Sementara itu, Pak Margono yang melihat istrinya terdiam dia pun ikut diam.

__ADS_1


Diamnya Resti bukan berarti dia berubah baik, akan tetapi diamnya Resti hanya untuk mencari celah bagai mana cara membalas rasa sakit hatinya pada tamu yang seakan-akan telah mengejeknya.


“Dasar, ibu-ibu nggak berguna, dia hanya bisanya mengejek Mama, pa !”


“Maksud Mama apa ?”


“Papa dengar sendirikan, dia bertanya persis seperti wartawan yang sedang mencari berita.”


“Itu kan hanya persepsi Mama aja, Papa nggak melihatnya begitu kok.”


“Lagi-lagi, Papa belain mereka lagi ! maksud Papa ini apa sih ?"


“Papa nggak bermaksud apa-apa kok, ya udah Papa mau istirahat !”


“Tapi Mama belum selesai bicara Pa !”


“Papa, capek melayani mulut Mama yang nggak pernah berhenti menyalahkan orang lain itu.”


“Huh ! dasar suami nggak berguna !” gerutu Resti kesal.


Sebenarnya, setelah rekan kerja Pak Margono dan Rasti berpamitan untuk kembali kekantor bekerja. Ranita melihat mereka seraya tersenyum.


Ranita yang mendapat perawatan intensif dari rumah sakit, sebenarnya udah merasa sembuh, tapi karena dia ingin memberi pelajaran pada Mamanya, itulah sebabnya dia tetap berpura-pura kritis.


Resti yang nggak pernah merasa bersalah sedikit pun, dia Terus-menerus mengajak putrinya bicara, namun Ranita tetap saja diam tak bergeming, pandangan matanya kosong.


Sebenarnya Pak Margono dan Resti begitu cemas melihat keadaan putrinya, hingga mereka berdua menangis. Mesti demikian kedua orang tua Ranita itu tetap teguh pada pendiriannya.


Melihat orang tuanya bersikap seperti itu, Ranita pun tetap diam tak mau diajak bicara.


Hatinya terasa begitu sakit sekali, karena kedua orang tuanya begitu egois.


Siang itu dr. Burhan masuk, untuk memeriksa Ranita.


“O iya, Bu ! siang ini Ranita sudah bisa makan bubur, tapi jangan dipaksakan, beri sedikit-sedikit, agar lambungnya tidak terkejut dengan makanan yang masuk.”


“Baik dok !” jawab Resti. “ Tapi bagai mana dengan kondisi putri saya dok ?” lanjut Resti kemudian.


“Kondisinya sudah mulai membaik, tapi seluruh tubuhnya masih lemah, dia butuh istirahat dan makan yang banyak untuk mengembalikan kekuatan fisiknya , saya harap Ibu jangan memberi tekanan pada dirinya.” Jawab dr. Burhan.


“Ya ! terimakasih, dok.”


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2