
Setelah Mona berlalu dari hadapan Dika, lalu datang pula Febi, yang ingin di lukis, sama dengan Mona. Dan bukan hanya Mona dan Febi yang datang, setiap harinya Dika selalu dibanjiri pelanggan yang memiliki tujuannya masing-masing.
Dan hasil dari penjualan lukisan itu, diserahkan Dika pada orang tuanya, karena menurut anak-anak Mang Ojo, sebaik-baik bendahara adalah orang tua mereka sendiri. Yang dapat mengumpulkan uang dan membaginya secara adil.
Mesti seluruh anak Mang Ojo telah dikatakan berhasil, bila dimata orang tua mereka, anak-anak itu masih kecil dan butuh bimbingan.
Mereka semuanya patuh dan penurut, tidak sombong dan tidak pula angkuh.
Bagi Mang Ojo dan Fatma, uang yang telah mereka kumpulkan bersama kelima orang anaknya akan mereka musyawarahkan nanti, dan hasil musyawarah itulah baru mereka semua melakukan keinginan keluarganya.
Dan dalam kesepakatan yang telah mereka rancang, mereka semua ingin membangun sebuah panti asuhan yang menampung lebih dari seratus orang anak dan orang tua jompo.
Selain dari rumah panti itu, mereka juga mendirikan sebuah mini market dan dua buah mobil mewah, yang dipergunakan untuk keperluan panti dan penduduk rumah susun.
Tanpa sepengetahuan keluarga, Dika berkeliaran di sekitar kota Jakarta untuk mencari anak gelandangan dan orang tua serta anak yatim piatu yang berpencar untuk mencari sesuap nasi.
Dika masuk kedalam Kawasan kumuh, tempat berkumpulnya para gelandangan dan anak terlantar.
“Om mau cari siapa ?”
“Kamu punya orang tua ?”
“Nggak om !"
"Jadi, kalau mau makan siapa yang mencarikannya ?”
“Kami mengemis di lampu merah dan setelah dapat uang, lalu kami belikan nasi bungkus dan untuk sorenya kami pergi ke jalanan lagi. Begitulah seterusnya Om.”
“Lalu kamu tidur dimana ?”
“Di sana om !” kata anak itu seraya menunjuk ke suatu tempat.
“Boleh Om mampir kerumah mu ?”
“Kami nggak punya rumah Om, kami semua hanya tidur di rumah kardus.”
“O ya ?” ucap Dika sembari mengikuti anak itu dari belakang.
“Ini Om, tempatnya !”
Saat tempat itu ditunjukan, Dika langsung menoleh kedalam, betapa terkejutnya Dika, di dalam rumah kardus itu banyak sekali anak-anak kecil yang sedang tidur. Sungguh sangat menyentuh sekali, Dika sampai menangis melihat hal yang sangat miris itu.
“Yang di dalam itu siapa ?”
“Teman Om ?”
“Teman ? dapat teman dari mana ?”
“Mereka semua sama- sama anak gelandangan, kami berbagi suka dan duka bersama.”
“Kalian ada berapa orang semua ?”
“Lima belas orang Om ?”
“Lima belas ? apa muat sebanyak itu di tempat sekecil ini ?”
“Mesti tempatnya terlihat kecil, tapi kami semua memiliki hati yang luas untuk berbagi tempat.”
__ADS_1
“Kalian mau nggak, tinggal bersama Om, di sebuah rumah yang bagus.”
'Nggak usah Om, biarlah kami di sini aja !”
“Kenapa ?”
“Om mau jual kami lagi kan ?”
“Maksudnya ?”
“Seminggu yang lalu mereka datang kesini dengan janji akan menempatkan kami di sebuah panti, tapi nyatanya empat orang teman kami telah mereka jual pada orang lain.”
“Jadi ?”
“Ya sampai sekarang teman kami nggak pernah kembali, sejak itu aku punya inisiatif, untuk melarang mereka keluar rumah, jika aku dan ketiga teman ku udah mendapatkan uang, maka uang itu kami belikan nasi dan makan bersama-sama.”
“Tapi untuk kali ini, Om nggak bohong kok ! om akan tunggu kamu di sini carilah berapa saja anak yang bisa kamu dapat, Om akan bawa kalian kerumah Om.”
“Benar Om nggak bohong !”
“Ya, benar sayang, om bukan bagian dari mereka yang berbuat jahat pada kalian.”
“Baiklah, Om tunggulah disini, aku akan mencari semua anak-anak itu, dan membawa mereka kehadapan Om.”
“Terimakasih.” Jawab Dika seraya duduk di tumpukan karung kotor yang berada didekat rumah kardus itu.
Tak begitu lama kemudian, anak itu pun muncul lagi dengan membawa lima orang teman sebaya dengannya.
“Udah cukup ini Om ?” tanya anak itu pada Dika.
“Cuma lima orang ini yang ada ?”
“Seratus orang !”
“Apa ! seratus orang ?”
“Iya ! baiklah kalau sebanyak ini yang ada, biarlah ! sisanya besok Om akan cari sendiri.”
“Iya, Om.”
“Jadi kalian sekarang ada berapa orang semuanya ?”
“Kami ada dua puluh orang Om.”
“Diantara kalian yang dua puluh orang ini, siapa yang masih punya orang tua ?”
Saat pertanyaan itu di ajukan Dika pada mereka, tak seorang pun yang tunjuk tangan, semuanya diam dan saling berpandangan satu sama yang lainnya.
“Jadi nggak ada yang punya orang tua atau keluarga ?”
“Nggak Om !”
“Baiklah, ayo kita berangkat.” Kata Dika pada anak-anak itu.
Setelah mendapatkan perintah dari Dika, dua puluh orang anak itu langsung menaiki mobil yang sudah berada di depan Kawasan kumuh itu.
Ketika mereka hendak berangkat, tiba-tiba saja seorang Ibu berlari menghadang kendaraan yang hendak melaju.
__ADS_1
Untung saja Dika dengan sigap menginjak rem mobilnya dan sontak semua anak yang berada didalam mobil terkejut.
“Astagfirullah ! apa kalian kenal dengan Ibu ini ?”
“Dia, Bu Liza ! yang selama ini sering memberi kami makan.” Jawab anak-anak di mobil itu.
Mendengar penjelasan dari anak-anak tersebut, Dika langsung turun dari mobilnya dan menghampiri Bu Liza.”
“Ada apa Bu ? kenapa Ibu menghalangi mobil ku ?”
Bu Liza tak menjawab, dia hanya bersimpuh di hadapan Dika seraya menangis pilu.
“Mereka itu mau dibawa kemana nak ?”
“Ke panti asuhan milik ku, Bu.”
“Boleh Ibu ikut ?”
“Apakah Ibu nggak punya keluarga lainnya ?”
“Mereka semua telah meninggalkan Ibu di sini sendirian.”
“Apakah Ibu punya anak ?”
“Mereka juga telah mencampakkan Ibu di tempat ini.”
“Baiklah, kalau Ibu mau, Ibu cari teman Ibu yang lainnya, siapa saja yang mau di ajak, berkumpulah nanti siang disini, nanti akan aku jemput kalian di tempat ini.”
“Benar begitu nak ?” tanya Bu Liza menyakinkan dirinya, takut kalau Dika tak kembali lagi menjemputnya.
“Iya, aku janji pada Ibu, nggak usah bawa apa-apa, semuanya saya yang sediakan di panti.”
“Benarkah begitu ?”
“Iya Bu.”
“Baiklah.” Jawab Bu Liza pelan.
Setelah sepakat dengan Bu Liza, Dika langsung naik kedalam mobil.
“Kenapa Om nggak membawa Bu Liza ? bukankah dia itu orang baik ?”
“Iya sayang, nanti siang, Om akan kesini lagi untuk menjemput mereka semua.”
“Mereka semua ? emangnya mereka banyak Om ?”
“Tergantung berapa orang yang di dapat Bu Liza nantinya.”
“Ooo, begitu.”
“Udah, siap semua !”
“Siap Om.”
Lalu mereka pun berangkat, menuju rumah panti yang masih dalam pembangunan, selain tiga ruangan yang telah selesai dan siap untuk ditempati Dika juga membangun dua ruangan lagi di sebelahnya.
Tidak tanggung-tanggung, Dika menghabiskan semua tabungannya, untuk pembangunan panti dan biaya seluruh anak yang sudah berada didalamnya.
__ADS_1
Bersambung...