
“Kok, nggak ada mirip-miripnya ya, anaknya seorang direktur, Ibunya seperti pemulung.”
“Tolong jaga mulut anda kalau bicara,” ujar Fatma tersulut emosi.
“Ibu mau mengancam saya, emangnya Ibu siapa, berani bilang seperti itu ke saya.”
Merasa tak senang dengan perilaku karyawan Nurul tersebut, lalu Fatma mencoba untuk duduk tenang di ruang tunggu, menanti Nurul keluar dari ruangannya.
“Kenapa Ibu belum pergi?”
“Ibu menunggu Nurul di sini.”
“Nggak usah di tunggu, Nurul itu nggak bakalan mau bertemu dengan Ibu.”
“Kata siapa? Nurul itu akan datang menghampiri saya dan mencium tangan saya nantinya,” jawab Fatma menyakini karyawannya.
“Percaya diri banget.”
Sudah beberapa jam Fatma duduk diam diruang tunggu, seorang karyawan lainnya datang menghampiri Fatma yang tampak duduk tenang menghadap ruangan Nurul.
“Ibu siapa?” tanya pria itu.
“Saya orang tuanya Nurul.”
“Ooo, ibunya Bu Nurul?”
“Iya, apakah Nurul nya ada nak?”
“Ada, lagi di dalam, kenapa Ibu nggak langsung masuk aja?”
“Thuh, perempuan itu melarang Ibu masuk untuk menemui Nurul, bahkan dia meremehkan ibu.”
“Benar begitu Fit?” tanya pria itu pada Fitri yang sedang asik bermain ponsel miliknya.
“Kalau perempuan itu tetap bekerja di perusahaan ini, maka secara drastis perusahaan ini langsung gulung tikar.”
Di saat Fatma sedang bicara, tiba-tiba saja dari ruangan itu, keluar Nurul dengan berpakaian sangat anggun sekali, akan tetapi betapa terkejutnya dia, ketik melihat Ibunya telah duduk diruang tunggu.
“Ibu!” Seru Nurul seraya berlari menghampiri Ibunya.
Dipeluknya tubuh Fatma, di ciumnya perempuan paruh baya itu sesuka hatinya. Nurul yang tak pernah pulang kerumah semenjak dia menikah, membuat rasa rindunya semakin membara.
“Kenapa Ibu nggak langsung masuk saja, di dalam kita bisa bicara banyak tadi.”
“Perempuan itu melarang Ibu masuk kedalam,” kata Fatma sembari menunjuk Fitri.
Betapa takutnya fitri saat itu, karena sebelumnya, Fatma sudah mengancam untuk memecat dirinya.
“Benar Fit? Kau melarang Ibu untuk masuk kedalam?”
“Maafkan aku, Bu. aku nggak tau kalau dia itu orang tua Ibu.”
“Tapi tadi Ibu udah bilang kok, kalau Ibu ini orang tua mu, tapi dia nggak percaya, dia justru bilang, anaknya seorang direktur, tapi Ibunya seperti pemulung.”
“Benar begitu Fit?”
“Maaf kan saya Bu, saya nggak bermaksud bilang begitu kok.”
__ADS_1
“Ya sudah kamu kembali bekerja.”
“Baik Bu,” jawab Fitri sembari meninggalkan dirinya.
Setelah suasana kondusif kembali, Nurul mengajak Ibunya untuk keluar dari ruangan itu. Mesti hati Fatma saat itu masih ragu, namun dia tetap mengikuti Nurul dari belakang.
Di dalam rumah Nurul yang mewah dan besar, Nurul melayani Ibunya dengan senang hati, akan tetapi saat itu Fatma melihat ada bercak darah di mana-mana.
Fatma diam saja, mesti dia melihatnya dengan jelas, kalau bercak darah itu masih baru dan terlhat begitu banyak.
“Suami mu ada dirumah Ibu saat ini,” kata Fatma dengan suara lembut.
Mendengar Ibunya bicara seperti itu, Nurul hanya tersenyum dingin menanggapinya, seperti tak ingin membahas masalah itu, Nurul mencoba menawari Ibunya dengan makanan.
“Ibu lapar?”
“Nggak sayang, sebelum Ibu kesini tadi, Ibu udah makan dirumah.”
“Gimana kabar Bapak saat ini Bu?”
“Alhamdulillah, Bapak mu sehat.”
“Ooo, syukurlah,” jawab Nurul dengan senyum yang di paksakan.
“Kenapa kalian nggak pernah pulang kerumah sayang, padahal Ibu dan Bapak begitu merindukan mu.”
“Insya Allah, jika ada kesempatan, aku akan datang kerumah Ibu.”
“Tapi kamu baik-baik saja kan sayang?”
“Iya, Bu, aku baik-baik saja kok.”
“Baik Bu.”
Lalu Fatma pun keluar dari rumah Nurul, dengan hati yang penuh tanda tanya, putrinya yang pendiam saat itu tampak begitu tenang sekali.
“Kenapa Ibu begitu cepat kembali?”
“Ibu hanya bilang, kalau kau punya waktu jemput lah suamimu nanti sore.”
“Baik Bu.”
“Asalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam.”
Setelah Ibunya pergi, Nurul langsung pergi kekantor untuk bekerja kembali, di ruangannya, Nurul memanggil Juwita untuk menghadap.
“Tok, tok, tok!”
“Silahkan masuk!” ujar Nurul dari dalam.
Setelah pintu di buka, Juwita langsung bertanya, kepada Nurul apakah benar dia di panggil atau tidak.
“Benar Ibu memanggil saya?”
“Ya, kamu suruh Fitri menghadap saya sekarang!”
__ADS_1
“Baik Bu,” jawab Juwita sembari bergegas meninggalkan Nurul di ruangannya.
Beberapa saat kemudian, Juwita datang bersama Fitri, yang saat itu begitu takut sekali.
“Kemasi barang-barang mu, ini surat pemecatan mu. Tiga hari lagi datang kesini ambil pesangonnya.”
“Ibu memecat saya?”
“Ya,” jawab Nurul singkat.
“Hanya karena pemulung itu, Ibu langsung memecat saya? Apakah nggak salah!”
Nurul diam saja, walau ucapan Fitri begitu menyakitkan sekali, namun Nurul berlagak seperti tak mendengar apa-apa.
Setelah pulang dari kantor, Nurul langsung masak di dapur, dia juga makan sendiri dengan lahapnya, tanpa memikirkan Randi suaminya.
Nurul tampak tenang sekali saat menyantap masakan yang di buatnya, sedikitpun tak terlihat di raut wajahnya kalau dia sedang bermasalah.
Setelah selesai makan, Nurul lansung masuk keruang tamu, karena selama bermasalah dengan Randi, Nurul tidur diruang tamu, dia tiduran sambil menyalakan televisi.
Sementara itu di rumah Mang Ojo, semua orang tampak duduk tenang menanti kedatangan Nurul, perempuan lembut yang pendiam itu, ternyata punya pendiariannya sendiri, setelah jam menunjukan angka Sembilan malam, Mang Ojo telah yakin kalau Nurul tak akan datang.
Sedangkan Randi yang begitu yakin kalau istrinya akan datang menjemput dan meminta maaf padanya ternyata saat itu berada di luar pemikirannya.
“Randi, kamu lihat sendirikan, kalau hari udah semakin larut, Bapak yakin kalau istri mu nggak bakalan kesini,” ujar Mang Ojo seraya berlalu meninggalkan ruangan itu.
“Huuh, dasar perempuan sial!” gerutu Randi dengan kesal.
Zaki yang mendengar jelas apa yang di katakana Randi saat itu, tangannya yang gatal, langsung menarik kerah baju Randi, hingga suami nurul itu menjadi ciut.
“Sekali lagi kau bilang adik ku perempuan sial, akan ku patahkan seluruh gigimu itu!” bentak Zaki.
Fatma yang melihat hal itu menjadi sedikit tergoncang jiwanya, tubuhnya yang sudah di balut usia tua, mendadak bergetar dan mengeluarkan keringat dingin.
Defi yang menyaksikan kejadian itu, langsung berdiri untuk menolong Fatma yang saat itu tampak sempoyongan.
“Ibu, sini aku bantu,” ucap Defi sembari memegang pergelangan tangan Fatma.
Fatma langsung di bawa Defi masuk kedalam kamarnya, Mang Ojo yang melihat istrinya masuk kamar dalam keadaan gemetar, dia begitu heran sekali.
“Ada apa sayang, kenapa dengan Ibu mu?”
“Nggak ada apa-apa Pak, mungkin Ibu kecapean.”
“Ooo, begitu.”
Setelah Fatma merebahkan tubuhnya di ranjang, Defi pun keluar dari kamar itu, tapi Mang Ojo melihat hal lain dari istrinya.
“Ada apa?”
“Nggak ada apa-apa, Pak!”
“Nggak mungkin, aku begitu kenal sekali diri mu, kapan kau punya masalah dan kapan kau merasa senang.”
“Aku nggak bohong Pak.”
“Ya udah, kalau nggak mau bicara, nggak apa-apa.”
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*