
Waktu meninjau proyek yang sedang di tangani Nurul, tiba-tiba saja hujan turun dengan deras sekali, saat itu jalanan licin, Nurul yang memakai sepatu hak tinggi, merasa kesulitan untuk berjalan, apa lagi saat itu perutnya sudah mulai membesar.
Malihat hal itu, tanpa Ragu lagi, Riza langsung menggendong tubuh Nurul dan membawanya ke mobil.
Nurul benar-benar tak percaya sama sekali dengan yang di lakukan Riza padanya, karena selama ini, Riza selalu berlagak acuh padanya.
Sebenarnya Riza adalah putra dari pemilik perusahaan yang sedang tangani Nurul saat itu. Mesti Riza anak orang kaya, namun hatinya baik, dia tak sombong dan tak suka bermain perempuan.
Sama dengan Nurul, mesti dia putri terkecil dari seorang pria kaya yang dermawan, namun dia tetap anggun dan lembut, tidak keras dan tidak sombong.
Suatu hari, Nurul meminta Riza untuk mengantarkan file, ke direktur. Tanpa sengaja surat itu terjatuh karena Riza tak menerimanya dengan berhati-hati, Nurul mengambil file yang terjatuh, namun di saat bersamaan Riza juga mengambil file itu.
“Maaf, kamu aja yang mengambilnya,” kata Nurul di saat Riza juga ikut berdiri bersamanya.
“Maafkan saya Bu,” ujar Riza dengan suara lembut.
Di saat itu Riza mencium parfum Nurul yang begitu lembut, hati Riza merasakan kehangatan tubuh Nurul, mesti hanya dari Parfum yang diciumnya. Pria yang tampak tenang dan santai itu, langsung mengundurkan diri.
Menjelang dia sampai ketempat yang di maksud, pria itu terus menerus menarik nafas, dia masih teringat dengan parfum Nurul yang pernah diciumnya.
“Mita seorang bawahan Nurul merasa heran dengan sikap Riza saat itu. Merasa penasaran Mita mengikuti Riza, hingga ke toilet.
“Aneh ada apa dengan Riza kenapa dia seperti sedang mencium sesuatu?” tanya Mita heran.
Di dalam toilet, Riza tak melakukan apa pun, dia hanya sibuk mencium aroma tubuh Nurul yang ada diingatannya.
Walau merasa heran namun Mita tak mau memberi tahu Nurul, karena menurut Mita hal itu belum pantas untuk di laporkan pada Nurul
Dua hari setelah kejadian aneh itu, terdengar kabar kalau Riza ingin melamar Nurul, kabar burung itu di bawa angin kerumah Mang Ojo, Riswan yang saat itu ikut mendengarkannya, merasa senang sekali.
__ADS_1
“Benar kamu mau menikah dengan anak direktur itu Nur?” tanya Riswan pada Nurul.
“Ayah tau dari mana? aku sendiri belum kepikiran untuk itu kok.”
“kenapa? Kan lebih baik kau menikah lagi, dari pada mengharapkan Randi yang sudah nggak bisa membahagiakanmu.”
“Tapi aku mau fokus pada kehamilan ku dulu Ayah.”
“Iya, kalau masalah itu Ayah tau, maksud Ayah, nanti setelah anak mu lahir.”
Mendengar perkataan Riswan Nurul hanya diam saja, Riswan memang sengaja melakukan hal itu, karena dia tak mau egois, sebab Nurul masih muda, lagian dia nggak mungkin mengharapkan Randi lagi.
Akan tetapi Randi yang mendengar kalau Nurul akan menikah lagi, hatinya terasa begitu sakit sekali, tampa sepengetahuan Nurul ternyata Randi membuat jebakan untuk dirinya.
Tengah malam, seperti biasa Rumana selalu meminta minum, Nurul mesti dalam keadaan hamil dia masih tetap menyempatkan diri mengambilkan air minum untuk Rumana. Akan tetapi, niat busuk Randi telah terencana sebelum itu.
Di saat Nurul selesai memberi Rumana minum, tiba-tiba saja Randi mencekik leher nurul dengan seuntas tali pengikat bantal guling.
Nurul meronta-ronta untuk dapat menyelamatkan diri, namun tetap saja tak bisa karena tangan Randi begitu kuat sekali.
Di saat itu, Rumana yang langsung melihat kejadiannya, perempuan itu mencoba untuk menolong Nurul, niatnya untuk bisa berdiri, di cobanya terus dengan sekuat tenaga, mesti sulit, namun demi Nurul dan demi cucu yang sedang berada di dalam kandungan Nurul, Rumana berusaha terus.
Tanpa dia rasakan sama sekali, rasa sakit itu, Rumana terus saja berdiri dan mengambil gunting yang ada di meja praktek milik Zaki dan menghunjamkannya ketubuh Randi.
Rumana melakukannya dengan kesadaran penuh, sehingga dia lupa kalau saat itu dia sedang mengalami stroke.
Sementara Nurul yang dicekik oleh Randi, Nampak begitu sock, hingga dia tak sadarkan diri.
Rumana yang sudah sembuh dari strokenya menjerit histeris, dia begitu kaget sekali karena apa yang telah di lakukannya, membuat putra semata wayangnya sekarat bersimbah darah.
__ADS_1
Semua orang yang mendengar jeritan Rumana malam itu menjadi kaget dan berhamburan keluar kamar, begitu juga dengan Mang Ojo dan Fatma.
Setelah memasuki ruang rawat Rumana dan Randi, betapa terkejutnya mereka semua ternyata Randi telah bersimbah darah, ada Nurul juga di tempat itu yang tak sadarkan diri.
Tak ada yang dapat di ucapkan, di saat semua orang bahagia melihat kesembuhan Rumana, mereka juga sedih karena Randi meregang nyawa di tangan Ibunya sendiri.
“Ada apa? apa yang terjadi?” tanya Riswan saat melihat di tangan Rumana ada gunting yang berlumuran darah putranya.
“Oh, huhuhu!” Rumana hanya bisa menangis histeris sembari membuang gunting itu dari tangannya.
Dengan lembut, Riswan menghampiri Rumana yang saat itu tampak ketakutan dengan apa yang dia lakukan.
“Dia hendak membunuh Nurul, dengan menggunakan tali itu,” jawab Rumana sembari menunjuk tali yang masih berada ditangan Randi.”
Semua nafas menjadi sesak, Randi yang telah lama menjadi permasalahan yang di perbincangkan di rumah mewah itu, kini meregang nyawa di tangan Ibu kandungnya sendiri.
Sementara Zaki yang melihat Nurul terkapar tak sadarkan diri, segera di gendong dan baringkan di atas tempat tidur. Zaki melihat sendiri ada tanda bekas jeratan tali di leher Nurul yang sudah mulai membiru.
Zaki tak kuasa menahan tangis, Nurul yang tengah hamil lima bulan itu selalu saja di landa penderitaan yang tak pernah ada habisnya.
Peristiwa berdarah malam itu membuat seisi rumah manjadi trauma, Alhuda telah melaporkan kejadian itu pada polisi, Rumana juga bersedia mempertanggung jawabkan perbuatannya di hadapan hukum.
Malam itu juga rumah Mang Ojo, di penuhi oleh polisi yang ingin membawa jasad Randi untuk di otopsi, akan tetapi Rumana melarang jasad putranya untuk di otopsi, dia hanya ingin jasad Randi di kuburkan secara layak.
Untuk menanggung semua perbuatannya, akhirnya Rumana mendekam di balik jeruji besi, mesti bahagia dengan kesembuhannya, tapi sedih karena kepergian Randi, Rumana hanya bisa pasrah dengan apa yang telah menimpa dirinya.
Dua hari setelah kejadian yang menimpa dirinya, Nurul datang ke kantor polisi untuk bersaksi, atas kejadian malam itu, Nurul yang merasa yakin kalau kejadian itu di lakukan Rumana tanpa dia sengaja, membuat Polisi membebaskan Rumana dari jeratan hukum.
Kini Ibu satu anak itu dapat menghirup udara segar di Jakarta, dia yang tak ingin mengenang masa lalunya bersama Randi memutuskan untuk kembali ke kota Padang.
__ADS_1
Bersambung..
*Selamat membaca*