Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 101 Penemuan jasad Gita


__ADS_3

Zaki yang melihat Ahong terus menangis, dirinya pun merasa tak tahan, bola matanya yang bening dan indah, saat itu telah di penuhi oleh genangan air mata, telaga itu hendak meluapkan isinya dan membanjiri suasana hati yang pilu.


Sembari berjalan pelan, mobil itu terus menyusuri seluruh Kawasan yang berada di sekitar tempat itu, begitu juga dengan Alhuda dan Dika, mereka bertiga sama-sama mencari keberadaan Gita yang malang.


Hingga dini hari, mereka belum juga menemukan tanda-tanda keberadaan Gita, mencari seseorang dimalam yang gelap yang disertai hujan berangin, membuat mereka sedikit kesulitan untuk melihat disekitarnya.


“Gimana Bang? Apakah sudah ketemu?” tanya Zaki lewat telfon genggam miliknya.


“Belum Ki, kayaknya Abang sedikit kesulitan untuk melihat kearah luar.”


“Sama, aku juga begitu Bang,” jawab Zaki.


“Kalau Dika gimana Ki?”


“Entalah Bang, akan ku coba menghubunginya dulu, siapa tau dia mendapat sedikit petunjuk.”


“Iya, coba kamu hubungi dia.”


“Baik Bang,” jawab Zaki pelan.


“Gimana nak, apakah sudah ketemu?”


“Belum Pak, hingga saat sekarang mereka belum menemui Gita, bersabar ya Pak, kita akan cari Gita sampai ketemu.”


“Tapi dimana kita akan mencarinya Nak? pasti kita kesulitan mencarinya di tengah keramaian kota ini.”


“Yang paling terpenting kita berusaha Pak, ketemu atau nggak, semuanya kita serahkan kepada Allah,” jawab Zaki dengan suara lembut.


Melihat semangat Zaki yang luar biasa itu, Ahong merasa kalau dia tak sendirian dalam menanggungkan beban berat itu, ada Mang Ojo bersama yang lain yang terus berdo’a tiada henti.


Ketika mereka berempat terus mencari, hingga suara azan subuh sedang berkumandang, tiba-tiba Dika melihat seseorang tergeletak di pinggiran jalan, dengan pakaian yang terkoyak, serta banyak darah yang berceceran.


Melihat hali itu, Dika tak langsung turun, dia mencoba berkomunikasi dengan Alhuda dan Zaki, untuk memberitahukan penemuannya.


“Coba kau turun dek, perhatikan betul dari dekat, apakah benar dia itu Gita atau bukan.”


“Baik Bang,” jawab Dika sembari keluar dari mobilnya guna menghampiri perempuan yang tergeletak di pinggiran jalan.


Setelah dilihatnya begitu dekat, Dika benar-benar sock sekali, ternyata perempuan itu adalah Gita.


Sebelum Dika sempat bicara, Zaki telah terlebih dahulu bertanya pada Dika, yang tampak terpaku diam dihadapan jasad Gita yang terbujur bersimbah darah.


“Gimana Dek? Benar itu Gita?”


“Benar Bang, datanglah kesini, dan langsung telfon polisi,” ujar Dika memberitahukannya pada Zaki.

__ADS_1


“Kenapa harus pakai polisi Dek, kenapa nggak langsung aja bawa dia kerumah.”


“Abang langsung saja kesini, lihat apa yang terjadi.”


“Emangnya apa yang terjadi sayang?” Tanya Zaki heran.


“Aku nggak bisa menjelaskannya Bang,” jawab Dika dengan suara serak.


Mendengar suara Dika yang mulai melemah, hati Zaki langsung berubah, tak ingin menunggu begitu lama, Zaki pun langsung bergerak menuju tempat di mana Gita tergeletak di pinggir jalan.


Menyusul di belakangnya Alhuda yang juga langsung ke tempat Dika berada, akan tetapi saat mereka berdua tiba di tempat itu, suasana telah berubah, banyak masyarakat yang hadir berkumpul.


Zaki dan Ahong sangat terkejut, begitu juga dengan Alhuda yang baru datang. Mereka bertiga tak menyangka, kalau Gita yang di temukan Dika telah meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.


“Putri ku!” seru Ahong seraya berlari menghampiri Gita yang saat itu telah terbujur tak bernyawa.


Bukan hanya Ahong yang tak kuasa menahan tangisnya, Zaki dan Alhuda juga ikut tenggelam dalam kesedihan yang mendalam.


Mereka tak kuasa melihat kepedihan itu, air mata duka telah menyelimuti daerah itu, bersama seluruh penduduknya.


Tak berapa lama kemudian, polisi pun datang menghampiri jasad Gita yang sudah kaku dan dingin.


“Jasad putri Bapak akan kami bawa ke rumah sakit dulu, guna melakukan otopsi, dan beberapa pemeriksaan lainnya.


“Sebenarnya putri saya kenapa Pak?” tanya Ahong dengan deraian air mata.


“Oh, uhuhuhuk!”


Ahong yang mendengar perkataan polisi itu langsung menangis histeris, dukanya tak lagi dapat di sembunyikan, mesti air matanya telah kering saat itu.


Sementara itu Zaki yang merasakan duka mendalam tak kuasa untuk bangkit dan berdiri, Alhuda mencoba untuk membatunya, memberinya semangat agar tetap kuat dan tegar.


Sementara itu Ahong ikut bersama ambulance kerumah sakit, di sepanjang jalan Ahong tak henti-hentinya menangis.


Berita duka itu juga di kabarkan kerumah, Fatma yang saat itu sedang berada di ruang tamu bersama yang lain, selalu menanti kabar dari ketiga orang putranya.


Dalam suasana yang begitu menegangkan, tiba-tiba saja, telfon rumah berdering, Fatma langsung bergegas untuk mengangkatnya.


“Hallo! Assalamua’alaikum, ada apa nak?” tanya Fatma pada Alhuda yang saat itu sedang terpaku.


“Bu, Gita udah nggak ada,” jawab Alhuda.


“Nggak ada gimana maksudnya nak?” tanya Fatma dengan suara lantang.


Di saat Fatma bicara, semua mata sedang tertuju padanya, ucapan demi ucapan mereka dengar dengan jelas, sementara itu Leni yang tak sabar, langsung berdiri dan menghampiri Fatma.

__ADS_1


“Siapa yang bicara Bu?” tanya Leni ingin tau.


“Dengan Alhuda,” jawab Fatma dengan kedua tangan yang bergetar.


“Ibu kenapa?” tanya Leni heran.


“Gita!”


“Ada apa dengan Gita, Bu?”


“Dia telah tiada.”


“Apa! Oh!”


Leni begitu sock mendengarkan berita itu, tubuhnya yang tadi tampak tegar, saat itu telah melemah, pandangan matanya tampak begitu gelap sehingga Leni pun tersungkur tak sadarkan diri.


Semua orang yang saat itu berada di dekatnya, langsung berlarian memberikan bantuan, Leni mereka bawa ke ruang rawat milik Zaki. Sementara itu, Mang Ojo yang mendengarkan berita itu tak kuasa untuk menahan air matanya.


Suasana haru telah menyelimuti rumah Mang Ojo saat itu, semuanya tampak menangis tersedu-sedu, Gita yang telah menjadi bagian dalam kehidupan mereka, hari itu telah terdengar kabar kepergiannya.


Setelah di pastikan jasad Gita di bawa kerumah sakit, mereka pun menyusul kerumah sakit, guna mendengar penjelasan dari pihak rumah sakit.


Suasana sangat ramai sekali, semua orang ingin menyaksikan dengan jelas kejadian yang baru saja menimpa Gita.


Sementara itu Mang Ojo dan yang lainnya juga telah hadir di rumah sakit, menyusul pula sesudah itu Alhuda dan kedua adiknya, Zaki dan Dika.


“Gimana bisa terjadi begitu nak?” tanya Fatma ingin tau.


“Aku juga nggak tau Bu, tapi saat Dika menemukannya Gita sudah tak bernyawa, tergeletak di pinggir jalan.”


“Siapakah orang yang berani melakukan semua itu pada dia nak?”


“Aku juga nggak tau Bu, aku begitu terkejut saat kulihat tubuhnya berlumuran darah,” jawab Dika sembari terus menangis.


“Semoga, Allah memberi kekuatan Pak.” ucap Mang Ojo sembari menepuk pundak Ahong.


“terimakasih atas semuanya.”


“Sama-sama, kita semua juga merasa kehilangan, karena selama ini Gita sudah menjadi bagian dari keluarga ku.”


“Iya, Pak.”


“Apapun yang terjadi, Bapak nggak sendiri saat ini, ada kami bersama Bapak sekeluarga.


“Terimakasih, Pak,” jawab Ahong sembari menangis.

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2