Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 121 Pertemuan yang meragukan


__ADS_3

Ketika Pak Handoko sedang bicara dengan orang tua Nurul, Riza tampak diam saja di samping Papanya, di tak sanggup bicara sepatah pun di hadapan orang banyak, hanya matanya yang binar melirik tajam kearah Nurul yang sedang berbaring.


“Saya juga mendengar kabar, kalau suami Nurul baru meninggal, ya Pak?”


“Iya, baru seminggu yang lewat,” jawab Mang Ojo pelan.


Karena pria itu banyak sekali pertanyaannya, Mang Ojo pun menjadi sedikit heran, akan tetapi Mang Ojo tak mau berprasangka yang bukan-bukan dulu.


Ketika ketiga pria itu hendak pergi, Riza menghampiri Nurul dan memberi setangkai mawar untuk nya, Mang Ojo dan Fatma hanya diam saja melihat hal itu.


“Baiklah, kalau begitu kami permisi dulu, semoga Nurul cepat sehat dan dapat kembali bekerja seperti biasa.”


“Insya Allah!” terimakasih atas simpatiknya.”


“Sama-sama pak, karena untuk selanjutnya, kita akan lebih sering bertemu.”


“Ya, semoga saja begitu,” jawab Mang Ojo yang sudah mengerti dengan ucapan pria itu.


Di saat pria itu hendak kembali, Mang Ojo mengantarkannya hingga ke pintu rumah sakit. Sesaat kemudian menyusul pula Alhuda dan Ranita, yang hendak pulang ke rumahnya.


Di perempatan lampu merah, mobil Alhuda berhenti, di ikuti oleh mobil lainnya, di saat itu Resti juga berada di sana, menunggu lampu hijau menyala.


Tanpa sengaja, Resti melihat Ranita dari jarak yang tak begitu jauh, sementara itu dari kaca jendela, ada anak Ranita yang mencoba meraih kaca mobil dari dalam.


“Ranita,” ujar Resti sembari mengikuti mobil Ranita dari belakang.


Saat Alhuda melihat ada mobil yang mengikutinya, dia menjadi sedikit heran, di perhatikannya terus mobil yang berada di belakangnya itu, akan tetapi, mobil itu tetap saja mengikuti kemana Alhuda melajukan kendaraannya.


“Sayang, kamu lihat mobil yang berada di belakang kita itu nggak?”


“Lihat, kenapa Bang?”


“Sepertinya mobil itu, mengikuti kita sedari tadi.”


“Mengikuti kita?” tanya Ranita heran.


Karena tak yakin dengan apa yang di lihatnya, Ranita memandangi mobil itu dengan serius.


“Ya, Allah!” ujar Ranita terkejut.


“Ada apa sayang?”


“Ternyata yang mengikuti kita itu adalah mobil Mama.”


“Mobil Mama? Aduh kenapa dia mengikuti kita?”


“Entahlah, pasti Mama punya niat yang nggak baik, Bang,” jawab Ranita ketakutan.


“Tenang sayang, tenang! Kamu yakin kalau yang mengikuti kita itu mobil Mama?”


“Iya, aku sangat yakin sekali, aduh gimana ini Bang?”


“Tenang sayang! Nggak usah panik.”


“Nanti kalau Mama berbuat jahat gimana Bang?”

__ADS_1


“Nggak mungkin sayang, walau Mama mu itu marah dan jahat pada kita, Abang yakin kalau Mama itu nggak bakalan tega menyakiti cucunya sendiri.”


“Benar, begitu?”


“Insya Allah.”


“Jadi kita mesti gimana sekarang?”


“Kita berhenti dan turun dari mobil.”


“Nggak, aku nggak mau, Bang.” Karena Ranita merasa takut bertemu dengan Resti, Alhuda pun tak mau berhenti, mobil yang tadinya melambat kembali melaju dengan kecepatan kencang.


Resti sebenarnya menyadari kalau Ranita sudah mengetahui keberadaan dirinya di belakang mobil Alhuda, namun Resti tetap mengikuti Alhuda dari belakang.


Lalu tiba-tiba saja mobil Alhuda mendadak berhenti di hadapan mobil Resti, untung Resti sigap dan cekatan, sehingga mobil Resti tidak menabraknya.


Alhuda kemudian turun dari mobilnya, menyusul pula dengan Ranita dan kedua anaknya yang sangat lucu. Karena merasa takut dengan Resti, Ranita berdiri di belakang Alhuda begitu juga dengan kedua anak-anaknya.


Ketika semuanya turun dari mobil, Resti melihat dengan jelas cucunya yang tampan bersembunyi di belakang Ayahnya.


Melihat Ranita dan cucucnya bersembunyi di belakang Alhuda, hati Resti terasa begitu sakit sekali, karena anak kandungnya sendiri merasa takut bertemu dengan Ibunya.


Resti dengan anggun keluar secara pelan dari dalam mobilnya, selangkah demi selangkah, dia menghampiri keluarga kecil putrinya itu.


“Ku mohon, jangan mendekat!” teriak Ranita.


Walau Ranita melarang Mamanya untuk mendekat, namun Resti tak memperdulikannya, dia tetap saja melangkah dengan pelan.


Setelah begitu dekat, Ranita melihat dengan jelas, kalau saat itu Resti menangis, kedua matanya tampak memerah.


Ranita tidak menjawab, dia hanya memandang kearah Alhuda suaminya, matanya yang mengandung rasa takut membuat Alhuda menjadi ragu untuk memberinya izin.


“Boleh kan nak?”


“Ya, boleh Ma,” jawab Alhuda pelan.


Setelah mendapat izin dari Alhuda, Ranita pun keluar dari persembunyiannya, dengan pelan dia pun memberikan putri kecil itu pada Resti.


Resti mengambil bayi mungil itu dari pelukan putrinya, Resti menggendong dan mencium bayi itu berulang ulang kali.


“Sini sayang!” ajak Resti pada putra sulung Alhuda yang saat itu masih ketakutan.


Karena Resti juga menginginkan putranya, lalu Ranita juga ikut mendorong putranya dari belakang.


“Pergilah sayang!” ujar Ranita pada putranya yang ketakutan.


“Kesini sayang, saya ini Nenek mu,” ucap Resti sembari tersenyum manis.


“Benar kamu itu Nenek ku?”


“Iya sayang.”


“Tapi kenapa Aku nggak pernah melihat mu?”


“Karena Nenek tinggal jauh sekali dari sini.”

__ADS_1


“Betul Ma, kalau nenek tinggal jauh dari sini?”


“Benar sayang, nenek tinggal jauh sekali dari sini,” jawab Ranita


“Dimana?”


“Nanti kalau nenek memberi kita izin, kita akan berkunjung kerumahnya.”


“Iya, boleh! Boleh sayang, datanglah kerumah nenek, di sana juga ada kakek mu yang sangat merindukan kalian semua.”


Mesti merasa takut saat itu, tapi Ranita masih bisa tersenyum, hatinya yang dirundung rasa was-was, langsung berubah menjadi tenang.


Ketika melihat Ranita tersenyum, Resti langsung memanggil putrinya itu, dengan senyumannya yang begitu hangat dia merangkul keempatnya sekaligus.


“Maafkan keegoisan Mama ya nak, Mama telah membuat hidup kalian hancur, Mama perempuan yang jahat,” ucap Resti dengan isak tangis.


Melihat Resti menyadari kesalahannya, tubuh Ranita yang tadinya sedikit tegang perlahan lembut, dan semakin mendekap erat perempuan paro baya itu.


“Kembalilah pulang sayang, ajak suami dan kedua anak kalian, tinggallah bersama kami,” ujar Resti pada Ranita putrinya.


“Kami nggak bisa pulang kerumah Mama saat ini Ma.”


“Kenapa?”


“Karena kami udah punya rumah sendiri, mesti kecil dan sederhana, tapi kan hasil keringat Bang Huda sendiri.”


“Bagus itu, kalau begitu boleh Mama mampir kerumah mu?”


Ranita tak langsung menjawabnya, pikirannya masih dilanda rasa takut, atas perbuatan jahat Mamanya selama ini.


“Gimana Bang?” tanya Ranita minta pendapat suaminya.


“Yaaa!” ucap Alhuda dengan keraguan.


“Nggak apa! kalau kalian merasa keberatan, nggak apa-apa, lain kali saja Mama mampir kerumah kalian.”


“Oh, boleh kok Ma!” jawab Alhuda dan Ranita serentak.


Setelah mereka berdua memperbolehkan Resti untuk mampir kerumahnya, lalu Ranita dan Alhuda saling beradu pandang, mereka merasa asing sekali saat itu.


“Kalau begitu ayo, Mama, mau lihat rumah kalian,” ajak Resti pada keduanya.


“Baiklah,” jawab Alhuda sembari naik kedalam mobilnya.


Lalu Resti pun mengembalikan putri kecil Ranita yang di gendongnya, pada Ibu tercintanya.


“Ini sayang, putri mu, wajahnya sangat cantik dia mirip dengan mu semasa bayi, sangat lucu dan menggemaskan.”


“Benar kah, Ma?”


“Iya, sayang,” jawab Resti seraya kembali ke mobilnya.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2