Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 106 Kehadiran cucu yang mungil


__ADS_3

“Aku ini perempuan Ran, bahaya kalau pergi berduaan dengan pria yang bukan muhrimnya.”


“Kan ada aku sayang, kenapa sih, nggak percaya banget sama aku.”


“Bapak bukan nggak percaya sama kamu, justru bersama mu lah, Bapak lebih mengkuatirkan keselamatan putrinya.”


“Udahlah, sebaiknya aku pulang ke Semarang aja, disini bikin aku kesal!” ujar Randi sembari pergi meninggalkan Nurul begitu saja.


Mesti Randi kesal dan pergi meninggalkan dirinya, Nurul tampak biasa-biasa saja, sedikit pun dia tak merasa tersakiti oleh sikap Randi kepadanya.


Setelah menarik nafas panjang Nurul pun masuk kedalam, akan tetapi di ruang tamu Mang Ojo telah menantinya.


“Sayang, Bapak mau bicara dengan mu.”


“Baik Pak,” jawab Nurul sembari menghampiri Bapaknya.


“Mana Randi?”


“dia udah pulang.”


“Dia pasti kesal dengan keputusan Bapak tadi kan?”


“Iya, Randi marah dan pergi begitu saja.”


“Kamu masih ingat dengan kisah kak Gita, kan sayang,” ujar Mang Ojo seraya berbisik ke telinga putrinya.


“Ingat Pak.”


“Bapak nggak ingin kisah itu terjadi pada mu.”


“Iya Pak.”


“Kita memang sudah kenal dengan Randi, dirumah ini bahkan dia sudah kita anggap sebagai orang kita sendiri, tapi Syetan tak kenal siapa itu Randi, dia akan membujuk dan menghasut keimanan Randi untuk berbuat jahat.”


“Iya, Pak.”


“Bapak sayang sama kamu, itu sebabnya, Bapak selalu minta Pak Ahong atau Zaki yang antar jemput kamu, karena dunia ini sudah enggan bersahabat dengan kita sayang.”


Mendengar penjelasan dari Bapaknya, Nurul begitu paham sekali dengan tujuan orang tuanya itu, semua nasehat dari Bapaknya di ambil dan disimpan di dalam hatinya.


“Sekarang boleh aku kekamar dulu Pak.”

__ADS_1


“Ya, silahkan,” ujar Mang Ojo seraya tersenyum lebar pada putrinya itu.


Nurul gadis pendiam, dia tak banyak bicara, apa saja nasehat yang di sampaikan, selalu di sematkan di dalam hatinya, gadis berhijab yang ta’at beribadah itu, selalu saja duduk diam di kamarnya, jika telah pulang bekerja.


Dalam satu hari Nurul hanya datang ke restoran miliknya pada sore hari saja, karena direstoran itu dia telah memiliki orang kepercayaan yang bisa untuk di andalkan.


Hasil dari restoran miliknya dan gaji dari perusahaan tempat dia bekerja, semua dikumpulkan pada Fatma yang di jadikan sebagai berdahara keluarga, kecuali jika anak-anak nya telah berkeluarga, mereka sendirilah yang menyimpannya.


Tak terasa sudah, waktu terus bergulir meninggalkan masa lalu yang tak dapat di raih kembali, mengukir masa depan yang terbentang luas di hadapan semua orang.


Begitulah kehidupan yang di rasakan Mang Ojo sekeluarga, berjalan tenang tak terasa, di usianya yang semakin lanjut, Mang Ojo selalu berdo’a agar putra putrinya hidup rukun dan damai.


Mang Ojo selalu menasehati kelima orang anaknya agar selalu mengerjakan perintah Allah, jangan pernah lupa dan lalai untuk meyembah, karena hanya kepadanya setiap makhluk di dunia ini akan tunduk.


Pagi itu Ranita mengalami rasa nyeri di kandungannya. Alhuda sebagai suami siaga, siap mengantarkan Ranita kerumah sakit untuk di periksa, ternyata pagi itu dia hendak melahirkan anak keduanya.


Dengan bantuan beberapa orang dokter dan perawat, akhirnya Ranita dapat melahirkan bayinya dengan selamat, bayi yang mungil itu berjenis kelami perempuan sesuai dengan keinginan Ranita sebagai seorang Ibu.


Fatma beserta yang lainnya datang kerumah sakit untuk membesuk Ranita, hati mereka sangat senang, karena bayi yang lahir saat itu adalah bayi perempuan yang di inginkan Ranita selama ini.


“Udah puaskan sayang, keinginanmu telah di kabulkan oleh Allah. kau mendapatkan seorang bayi perempuan yang cantik dan lucu, seandainya saja Mama mu tau kau telah melahirkan dua orang cucu untuknya, pasti dia merasa senang sekali.”


“Nggak Bu, Mama jangan di beri tau dulu, aku takut, nanti terjadi sesuatu pada bayi kecil ku,” ujar Ranita ketakutan.


“Iya, Bu, demi masa depan anak-anak ku.”


“Baiklah, Ibu akan diam saja,” ucap Fatma sembari menggendong bayi mungil itu.


Setelah kelahiran anak kedua Ranita, istri Zaki pun hendak melahirkan anak pertamanya, Defi melahirkan di rumah saja bersama Zaki suaminya, bayinya laki-laki, tampan dan sehat.


Setelah beberapa bulan setelah melahirkan Marlina datang ke Jakarta bersama suaminya secara diam-diam. Setelah kejadian waktu itu, Marlina merasa bersalah karena telah mencurigai besannya yang baik.


Sebenarnya orang tua Defi tidak sombong, meski mereka orang kaya. Selama ini Marlina hanya salah paham saja dengan Mang Ojo, akan tetapi setelah mendapat penjelasan, Marlina merasa bersalah sekali pada mereka.


Kebaikan budi mereka tercermin dari perilaku keduanya yang datang kerumah orang tua Zaki, mesti mereka tau kalau Zaki adalah anak mantan pemulung.


Pagi itu, setelah Zaki dan keluarga selesai sholat subuh, mereka berdua berencana untuk kembali tidur. Akan tetapi, tiba-tiba saja pintu rumah di ketuk dari luar.


“Assalamu’alaikum!”


“Bang kayaknya ada tamu diluar,” kata Defi pada suaminya.

__ADS_1


“Siapa yang bertamu, pagi-pagi begini Def?”


“Entahlah Bang, tapi aku yakin kalau diluar ada orang yang datang.”


“Baiklah biar Abang bukakan pintu dulu.”


“Iya, Bang,” jawab Defi seraya menarik selimutnya hingga menutupi wajahnya.


“Wa’alaikumsalam,” jawab Zaki seraya bergegas menuju pintu. “Siapa ya? pagi begini udah bertamu?” tanya Zaki seraya membukakan pintu.


Setelah pintu di buka betapa terkejutnya Zaki saat itu, karena yang muncul malah Ibu mertuanya.


“Belum bangun kalian! Nanti rezekinya dipatok ayam lhoh!”


“Eh, Bunda. Kapan datangnya, kok pagi-pagi begini tiba-tiba saja muncul?”


“Nggak boleh, emangnya!”


“Boleh, sih? tapi kok nggak ngasih kabar terlebih dahulu, biar kami jemput ke bandara!”


“Nggak usah! mana cucu Bunda yang ganteng itu!”


“Masih tidur Bun!”


“Aduh Zaki! Udah siang begini jagoan nenek belum dibanguni, benar-benar ayah keterlaluan kamu ini!” kata Marlina seraya berjalan menuju kamar cucunya. “Hai jagoan Nenek! belum bangun juga, tengok Nenek bawa apa nih! bawa Mobil kesukaanmu!”


“Bunda kenapa mesti beli mobil sih, Rido kan masih kecil, baru tiga bulan,” ucap Zaki pada Bundanya.


“Nggak apa Zaki, nanti dia kan besar, jadi kamu nggak perlu beli mobil lagi untuknya!”


“Aduh Bun! kita nunggu besarnya kan masih lama!”


“Betul kata Bang Zaki, Bun? kenapa Bunda buang-buan uang nggak menentu, kan lebih baik uangnya Bunda simpan untuk Rido besar nanti.”


“Kalau untuk itu, Bunda udah siapkan, untuk cucu kesayangan Bunda ini. Kan sayang! Oooh, cucu nenek tersayang!” kata Marlina seraya menciumi cucunya itu. “kalau udah kesini, dan jumpa ama cucu kesayangan kayaknya nenek pun nggak pingin pulang lagi dah!”


“Kalau gitu Nenek tinggal disini aja, temani Rido! biar Papa sama Mama, bisa shoping kemana mereka suka! Hihihi,” jawab Defi cekikikan.


“Ooo kamu ledek Bunda ya! gadis kecil!” kata Marlina seraya bersenda gurau dengan anak dan cucunya. Begitulah kebahagian, yang dialami Zaki dengan istri tercintanya.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2