
Dengan tenang dan pelan, Septi pun melangkah meninggalkan rumah majikannya, yang bagi Septi tempat itu sudah tak aman untuk di tempatinya lagi.
Baru berjalan beberapa meter dari rumah Handoko, Septi mendengar langkah kaki seseorang berlari menuju kedalam rumah itu.
“Siapa yang sedang berlari ya?” tanya Septi pada dirinya sendiri.
Merasa tak senang, Septi pun kembali menarik kopernya kearah rumah Handoko, ternyata benar apa yang di dengarnya, ternyata Riza datang dengan membawa sebilah golok di tangannya.
“Mana Nurul! cepat katakan, mana perempuan kotor itu, Pa!”
“Perempuan kotor siapa yang kau maksudkan nak?”
“Perempuan yang telah membuat hidupku habis mendekam di rumah sakit jiwa.”
“Kau mengatakan Nurul itu kotor, seolah-olah kau bersih dan suci selama ini.”
“Papa kok bicara seperti itu sih!”
“Kan emang kenyataannya, seperti itu.”
“Aku lihat, semakin hari, Papa seperti orang suci saja, menolong orang lain yang membutuhkan bantuan dari Handoko yang arif, tapi sayang, Handoko itu ternyata seorang pria munafik, yang telah menelantarkan putranya sendiri demi mencari hati orang lain!”
“Maksud mu apa?”
“Papa nggak usah bertanya pada ku, tanyakan sendiri diri Papa, apakah Papa udah menunaikan tanggung jawab Papa sebagai orang tua atau belum?”
“Kau nggak perlu mengajari Papa, tentang tanggung jawab. Apakah kau tau, ulah kelakuan mu, Papa harus kehilangan banyak uang untuk membangun rumah Mang Ojo dan rumah panti yang kau bakar tiga hari yang lalu, tanggung jawab apa lagi yang akan kau tuntut dari Papa hah!”
“Itu kan salah Papa sendiri, kenapa mesti di ganti, Papa kan bisa bilang kalau Papa nggak punya uang.”
“Bicara dengan orang seperti mu, selalu saja bikin kepala Papa pusing!”
“Kalau Papa nggak ingin pusing, kasih tau aku di mana Nurul sekarang!”
“Papa nggak tau!”
“Bohong, saya nggak yakin kalau Papa nggak tau,” ujar Riza bersikeras.
“Terserah!”
“Cepat katakan di mana Nurul!” ancam Riza sembari menaruh golok itu di leher Handoko.
Septi yang melihat kejadian itu, sangat terkejut sekali, sehingga tanpa sadar dia menjerit, untung saja Riza tak mendengar jeritan kecil itu, sehingga Septi aman dalam persembunyiannya.
“Kalau Papa nggak mau bilang Nurul itu di mana, akan ku gorok leher Papa, seperti aku memotong tubuh Ibu waktu itu.”
__ADS_1
Mendengar ucapan Riza, Handoko teringat dengan kejadian sekitar beberapa tahun yang lalu, di mana Riza terbukti membunuh Ibunya sendiri dan bahkan dia tega memutilasi tubuh Ibunya dan menghisap darah orang yang berjuang mati-matian demi hidupnya.
“Baik, baik! tapi lepaskan golok ini terlebih dahulu.”
“Nggak akan!” ujar Riza semakin menekan golok itu ke leher Handoko.
“Baik, akan saya katakan, sebenarnya Nurul udah lama keluar dari rumah ini,” jawab Handoko berbohong.
"Bohong!”
“Papa nggak bohong nak, Nurul memutuskan pergi dari rumah ini, semenjak kau menyakiti putranya Radit.”
“Aku nggak percaya!” ujar Riza sembari menekan golok itu ke leher Handoko, hingga mengeluarkan darah.
Septi yang melihat kejadian itu, merasa geram sekali dengan kelakuan Riza yang menyakiti Papanya sendiri, dengan sigap Septi mengambil sebongkah batu besar yang berada di dekatnya, dan bergegas menuju ke tempat Riza menyakiti Handoko.
“Cepat katakan, kalau nggak ingin lehermu ini putus!” teriak Riza dengan pandangan mata penuh amarah dan dendam.
“Baik, akan saya katakan,” ujar Handoko ketakutan.
“Cepat, katakan! Teriak Riza sembari menekan golok itu semakin kuat ke leher Papanya.
“Nurul udah menikah lagi dengan pria lain saat ini.”
Hanya tinggal berjarak satu senti lagi golok itu dari leher Handoko, Septi pun datang dari belakang dan memukul kepala Riza dengan batu besar yang dia bawa dari halaman rumah.
Seketika itu juga, Riza langsung tersungkur dan menimpa tubuh Papanya, darah segar pun keluar membanjiri tubuh Handoko yang tertimpa tubuh putranya, sementara Septi hanya bisa terpana kaku di hadapan majikannya.
Septi tak menyangka, kalau hal itu akan terjadi, batu yang besar itu akhirnya membuat majikannya meregang nyawa.
“Apa yang kau lakukan Sep?” tanya Handoko pelan.
Walau Septi mendengar apa yang di katakan Handoko padanya, namun dia tetap saja diam membisu, lidah Septi terasa kaku untuk bicara, hal yang tak di sangka nya, malam itu telah terjadi.
Septi yang hanya seorang pembantu, kini telah menjadi seorang pembunuh, rasa takut mulai membayangi pikirannya, jeruji besi yang di takuti semua orang tampak bergerak mendekati dirinya.
“Aku nggak sengaja tuan, aku hanya ingin menyelamatkan tuan dari amarah Riza,” jawab Septi ketakutan.
Handoko yang sangat mengerti, mencoba mengangkat tubuh Riza dan membaringkannya di atas sofa.
“Gimana keadaannya tuan?”
“Dia meninggal Sep.”
“Ya Allah, aku telah membunuh Den Riza tuan, huhuhu!”
__ADS_1
“Semuanya telah terjadi Sep, nggak ada yang bisa di sesalkan lagi.”
“Berati saya harus di tangkap polisi dong tuan?”
“Nanti kita urus Sep.”
“Saya takut tuan, saya nggak mau masuk penjara.”
Di hadapan jasad Riza putranya, Handoko hanya terpana, pandangan matanya tak lagi punya arti, putra yang di sayanginya selama ini, telah tiada di tangan pembantunya sendiri.
Beberapa saat kemudian, Handoko mencoba menghubungi Nurul dan yang lainnya, tak perlu menunggu lama Nurul dan Mirwan pun datang. Betapa terkejutnya mereka semua, ketika melihat tubuh Riza telah terbujur di atas Sofa.
“Ya Allah Papa!” teriak Nurul yang terkejut melihat tubuh Handoko yang berdarah-darah.
“Riza telah meninggal nak.”
“Apa yang terjadi Pa?”
“Dia berencana ingin membunuh Papa, tapi Septi datang untuk menyelamatkan Papa dengan memukulkan batu itu ke kepala Riza hingga tewas.”
“Tapi Papa nggak apa-apa kan Pa?”
“Hanya leher Papa yang sedikit berdarah nak.”
Mendengar penjelasan dari Handoko, Nurul langsung membersihkan luka menganga di leher Papanya.
Semua yang hadir saat itu, hanya bisa menatap pilu. Sementara Septi hanya terpaku diam di hadapan Handoko.
“Tolong Bibi ambilkan air hangat ya!” perintah Nurul pada pembantunya itu.
“Baik Non,” jawab Septi pelan.
Mesti Septi bekerja sesuai dengan perintah majikannya, namun rasa takut itu tetap saja ada bersembunyi di dalam hati kecilnya.
Pagi itu suasana berkabung, mulai memadati kediaman Handoko, mesti semua orang melihat dengan jelas kalau di bagian kepala Riza pecah dan mengalirkan darah yang tiada berhenti, namun tak seorang pun yang berani bertanya, apa yang terjadi sebenarnya.
Dari sekian banyak pelayat yang datang, mereka hanya mengucapkan kata bela sungkawa pada Handoko, namun tidak pada Mang Ojo, di saat keadaan telah sunyi, dia pun menghampiri Handoko, yang tampak senderan pada dinding dengan leher di perban.
“Ada apa? kenapa leher Bapak di perban?” tanya Mang Ojo ingin tau.
“Riza berusaha untuk membunuh ku, tapi untung ada Septi yang membantu, tapi naas batu yang di hantamkan ke kepala Riza begitu besar, sehingga dia langsung meninggal dunia.”
Bersambung...
\*Selamat membaca\*
__ADS_1