
“Buat apa berbohong ! udah jelas saat ini aja Mama berbohong pada Papa.”
“Maksud Papa, Mama ini sedang berbohong ya ?”
“Iya, tadi Papa udah datang kekantor untuk menjemput Mama, tapi kata teman Mama, Mama udah pulang dari siang itu.”
“Iya, tapi Mama mampir dulu kerumah teman ?”
“Berhenti berbohong Ma !”
“Iy, iya Pa ! tadi Mama kerumah dukun Romlah.”
“Dukun Romlah ?”
“Iya Pa.”
“Ngapain Mama kesana coba ?”
“Mama ingin Ranita itu kembali pada kita Pa ! Mama bahkan udah berusaha mati-matian untuk kepulangnanya, sementara Papa, nggak berusaha sama sekali bukan ?”
“Astagfirullah ! eling Ma ! kedukun itu nggak akan menyelesaikan masalah, justru membuat masalah yang kita hadapi semakin rumit !”
“Kata siapa ? kata Papa kan ?”
“Ampunilah istri ku ya Allah !” desah Hermawan dengan suara lirih.
“Ampuni, ampuni ! siapa yang mau mengampuni kita Pa ! nggak akan ada yang mau mengampuni kita !”
“Sepertinya kau semakin hari semakin jauh melangkah Ma.”
“Itu lebih baik bukan ? dari pada Papa, hanya duduk menunggu dirumah, mau sampai ubanan pun, Ranita itu nggak bakalan pulang Pa !”
“Itu semua karena Mama yang terlalu egois ! Mama lebih mementingkan harta ketimbang anak kita satu-satunya di dunia ini.”
“Jadi Papa menyalahkan Mama dalam hal ini ?”
“Iya ! bukan hanya sekedar salah, akan tetapi Mama juga termasuk orang tua yang bodoh dan jahat.” Ucap Margono sembari pergi meninggalkan istrinya.
“Pa ! mau kemana ? Mama belum selesai ngomong nih !”
“Ngomong aja sendiri !” jawab Margono yang terus berlalu meninggalkan Resti sendirian.
Tampa memperdulikan akibatnya, Resti terus saja berusaha untuk mendapatkan tanah kuburan itu dan untuk satu genggam tanah aja, Resti mesti mengeluarkan banyak uang.
“Kalau Ibu mau ! tadi siang aku baru melihat seorang wanita cantik meninggal ! dengar informasi, mayatnya akan di kebumikan hari ini juga.”
“Baiklah, tolong kamu ambilkan segenggam saja untuk ku.”
“Baiklah ! tapi Ibu sanggup bayar saya berapa ?”
“Saya akan bayar kamu satu juta.”
“Satu juta ! untuk hal seberat itu ? apa Ibu nggak salah ?”
“Salah gimana maksud mu ?”
__ADS_1
“Mencuri tanah perkuburan orang yang baru meninggal itu resikonya berat Bu, tengah malam nanti, kita akan di datanginya, apa Ibu mau aku suruh dia kerumah Ibu, biar Ibu dia cekik !”
“Ah, jangan lah !” jawab Resti merinding.
"Kalau begitu, bayar dong !"
“Ya udah, kamu mau minta bayaran berapa ?”
“Lima juta.”
“Apa ! lima juta ? hanya untuk satu genggam tanah !”
“Kalau Ibu nggak mau bayar, ya Ibu aja yang mengambilnya sendiri ke kuburan itu.”
“Baiklah ! baiklah, ini uang nya, nanti malam akan Ibu tunggu kau disini, dan sisanya nanti akan Ibu bayar setelah mendapatkan tanahnya.”
“Baik akan ku pegang janji Ibu !”
“Alah ! kayak orang pacaran aja kamu, pegang janji segala !” sindir Resti pada pria itu.
Sesuai dengan kesepakatan yang di lakukan, pria itu mendatangi kuburan gadis malang itu di tengah malam. Dengan membawa kantong plastik, pria itu langsung memasukan segenggam tanah kuburan itu kedalamnya.
“Berhasil !” ucap pria itu senang.
Sementara itu di sudut sebelah sana, Resti telah menanti pria itu di luar pagar. Bola matanya yang bulat tiada hentinya memandangi pria itu dari kejauhan.
“Aduh ! kenapa begitu lama ya ? nanti kalau ada yang lihat bahaya nih.” gumam Resti pelan.
Setelah beberapa saat menunggu, tiba-tiba dari ujung jalan Resti melihat seorang pria yang keluar dari perkuburan.
“Tapi mana tanahnya ?” tanya Resti heran.
Karena pria itu diam saja, Resti pun menjadi ragu, dan sesuai permintaan pria itu, Resti meninggalkan uangnya di atas batu, yang jaraknya tak begitu jauh.
Setelah uang itu diambil, lalu pria yang disuruh pun keluar dari kuburan yang di maksud.
“Ini tanahnya, mana uang sisanya ?”
“Lho, tadi kan udah saya kasih !”
“Ibu kasihkan ke siapa ?”
“Seseorang yang mirip dengan mu !”
“Orang yang mirip dengan ku ?”
“Iya, buat apa Ibu berbohong.”
“Lalu mana tanahnya ?”
“Belum dia kasih.”
“Berarti Ibu udah kenapa tipu orang lain, kalau Ibu nggak mau membayar sisanya, saya pastikan tanah ini nggak akan sampai ketangan Ibu.” Kata pria itu seraya mengambil tanah itu kembali dari genggaman Resti.
“Aah, sial !” gerutu Resti kesal. “Hanya untuk tanah satu genggam saja saya harus mengeluarkan uang delapan juta.”
__ADS_1
“Itu makanya, kalau Ibu berurusan dengan seseorang Ibu harus berhati-hati.”
“Udah-udah! Kamu nggak perlu menggurui saya !” bentak Resti kesal.
Dengan rasa kesal Resti pun kembali pulang kerumahnya, sementara tanah perkuburan yang dia inginkan belum bisa diambil dari tangan pria itu.
Setibanya di rumah Resti langsung masuk kedalam kamar, tak seorang pun yang berada di dalam kamar itu, Margono suaminya ternyata telah pergi.
“Kemana situa bangka itu perginya !” gerutu Resti sembari mencoba membuka brangkas miliknya.
Setelah di cobanya berulang kali, ternyata brankasnya tak bisa di buka, dengan setenagah kesal, Resti mencoba senderan didinding seraya mencoba menarik nafas panjang.
“Kenapa nggak bisa ya ? padahal aku nggak pernah salah dalam mengingat kodenya, atau jangan-jangan si tua bangka itu telah menukar kodenya. Ya ampun ! aku yakin pasti si tua bangka itu telah menukar kodenya.”
Lalu dengan perasaan kesal, Resti langsung turun kebawah untuk mencari suaminya yang saat itu sudah tak berada dirumah.
“Pa ! Papa ! Papa ! kemana dia ya ?” teriak Resti sembari terus mencari suaminya di setiap sudut ruangan.
Di saat Resti sibuk mencari keberadaan suaminya, tiba-tiba saja Inah muncul.
“Inah ! kesini kamu !” panggil Resti dengan nada amarah.
“Iya nyah !” jawab Inah ketakutan.
Karena menurut Inah selama dia bekerja dengan keluarga Resti dia tak pernah di marahi apa lagi berteriak kasar dan penuh emosi.
“Mana Bapak ?”
“Pergi nyah !”
“Pergi kemana ?”
“Saya nggak tau nyah !”
“Dari jam berapa tadi dia berangkat ?”
“Setelah nyonya pergi, tuan juga langsung pergi !”
“Apa dia ada meninggalkan pesan ?”
“Nggak nyah, tuan perginya seperti keburu-buru.”
“Pergi keburu-buru ? pergi kemana dia itu, nggak biasanya dia pergi tanpa memberi tau saya, aneh ?”
“Kalau begitu saya permisi dulu nyah !”
“Eeeh, tunggu ! apakah Bapak ada bertanya kepada Bibi tentang kepergian saya ?”
“Nggak nyah.” Jawab Inah seraya bergegas menjauhi majikannya itu.
Karena kode brangkas nya di tukar oleh Margono, makanya Resti nggak bisa mengambil uang, dengan perasaan resah, Resti berjalan hilir mudik di ruang tamu untuk menanti kedatangan suaminya.
Karena lamanya Margono datang, akhirnya Resti tertidur di ruang tamu, Margono yang telah pulang begitu larut, tak mau mengganggu kenyamanan istrinya yang telah tertidur. Dia pun langsung masuk kedalam kamar untuk beristirahat.
Pagi sekali Resti terbangun dari tidurnya, dia begitu terkejut karena semalaman dia tertidur dan tak sempat pergi kekuburan untuk mengantarkan uang bayaran pria yang disuruhnya.
__ADS_1
Bersambung...