Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 57 Pengorbanan seorang ibu


__ADS_3

“Saya, Krisna !” jawab Krisna dengan suara lantang.


“Tunggu sebentar !” seru seseorang dari dalam rumah.


Mendengar kata tunggu, mereka berduapun langsung duduk, di teras rumah itu. Suasana tampak terasa mencekam, saat keduanya saling membisu.


“Kreek !” lalu pintu pun di buka oleh seseorang dari dalam rumah, seorang gadis cantik pemilik kontrakan itu, menatap Krisna dan Randi dengan pandangan penuh tanda tanya.


“Ada keperluan apa ?” tanya gadis itu dengan suara lembut.


Di saat pertanyaan itu di ajukan pada Randi dan Krisna, mereka berdua tak langsung menjawabnya, akan tetapi pandangan mata yang menggambarkan seribu pertanyaan, seakan-akan mereka pertanyakan saat itu juga.


“Kok pada bengong ?” tanya gadis itu pada Randi dan Krisna yang saat itu masih saling terpana.


“Ooo, kami kesini mau minta kunci kontrakan.” Kata Krisna pada gadis itu.


“Untuk siapa ?” tanya gadis itu ingin tau.


“Untuk Randi kak.”


“Randi siapa ?” tanya gadis itu kemudian.


“Saya kak.” Jawab Randi pelan.


“Ooo, jadi kamu yang bernama Randi itu ?”


“Iya, kak.” jawab Randi dengan suara lembut.


“Kamu tau, kalau teman sekamar mu telah meninggal dunia ?”


“Tau kak.”


“ Tau dari mana ?”


“Barusan, Krisna yang bilang.”


“Kata orang tua Toni, semua peralatan milik Toni yang masih berada didalam kamar itu diserahkan kepada mu.”


“Benarkah begitu kak ?”


“Iya. Jawab Gadis itu. “Dan ini kunci kamar mu.”


kata gadis itu seraya menyerahkan kunci kamar ketangan Randi.


“Iya kak, terimakasih.” Ucap Randi seraya mengambil kunci rumah itu dari tangan gadis itu.


“Dan satu hal lagi, kedua orang tua Toni telah membayar uang kontrakannya selama kau menempati kamar itu.”


“Hah ! benarkah itu kak ?” tanya Randi tak percaya.


“Iya.”


“Oh terimakasih Toni ! keluargamu sangat baik sekali.” Jawab Randi seraya menggandeng tangan Krisna.


Lalu mereka berdua, membuka kunci rumah kontrakan itu, benar saja, tak satupun benda yang berada di dalam kamar itu berubah.


Semua tetap terletak pada posisinya semula.


Dengan bantuan Krisna, Randi menata ulang isi kamarnya kembali.


Setelah selesai beres-beres, lalu mereka berdua masak mi instan, di saat itu Randi bertanya pada krisna.


“Kau masih punya orang tua Kris ?”

__ADS_1


“Masih Ran. Hanya tinggal Mama, sedangkan Papa udah lama meninggal dunia." jawab Krisna dengan suara yang sedikit berubah.


“Oh, aku turut berduka ya Kris.”


“Iya Ran.”


“Mama mu bekerja saat ini ?”


“Iya, Ran, Mama ku hanya seorang buruh cuci di rumah seorang juragan kaya di kampung ku.”


“Buruh cuci ? apakah dia sanggup membiayai kuliah mu ?” tanya Randi ingin tau.


“Maafkan aku Randi, sebenarnya aku malu untuk menceritakannya pada mu, tapi ! terkadang aku udah nggak kuat dengan penderitaan ini Ran ?”


“Maksud mu apa Kris ?”


“Untuk biaya kuliah ku, Mama bekerja siang dan malam dirumah juragan itu, terkadang Mama harus meminjam uang pada juragan itu, tapi kelakuan bejat juragan itu selalu muncul bila ada kesempatan.”


“Maksud mu ? juragan itu berbuat kasar pada Mama mu ?”


“Bukan itu saja Ran.”


“Lalu apa ?”


“Jika Mama nggak sanggup bayar uang yang dia pinjam itu secepatnya, maka juragan itu meniduri Mama ku.”


“Ya Allah ! benar begitu Kris ?” tanya Randi tak percaya.


“Iya, Ran.”


“Kenapa kau nggak pernah cerita sebelumnya pada ku, Kris ?”


“Aku malu Ran, aku malu sekali.”


“Untuk saat sekarang, apakah Mama mu masih punya hutang dengan juragan itu, Kris ?”


“Masih Ran !”


“Banyak ?” tanya Randi ingin tau.


“Bulan semalam Mama mengirimkan uang untuk pembayaran UKT aku, Ran ?”


“Berapa ?"


"Tiga juta.”


“Berarti, selama uang itu belum di bayar Mama mu, juragan itu tetap meniduri Mama mu ?”


“Oh kurang ajar !” teriak Randi seraya mengambil sesuatu dalam kantong bajunya.”


“Apakah rumah mu jauh dari sini Kris ?”


“Nggak begitu jauh, tapi sekitar, dua jam perjalanan.”


“Apakah kau punya rumah ?”


“Nggak Ran. Kami hanya tinggal dirumah kontrakan, yang hanya tinggal dua bulan lagi.


“Ayo kita ke rumahmu sekarang !” ajak Randi pada Krisna.


Ngapain ?” tanya Krisna heran.


“Ayo ikut aku !” paksa Randi pada Krisna.

__ADS_1


Dengan rasa heran, Krisna pun mengikuti kemauan Randi, dengan menaiki Ojol, Randi dan Krisna menuju kampung Duku, tempat Krisna bersama Mamanya tinggal.


Di perjalanan menjelang sampai kerumahnya, Krisna selalu bertanya-tanya pada dirinya sendiri. “Kenapa Randi mengajaknya pulang, setelah mendengarkan cerita darinya.”


“Bisa di percepat om, laju kendaraannya ?” kata Randi pada pengemudi ojek.


“Bisa dek.” Jawab pengemudi itu seraya memacu kendaraannya lebih kencang lagi.


Setelah lebih kurang dua jam menempuh perjalanan menuju rumah Krisna, maka berhentilah mereka di suatu tempat.


“Ini rumah ku Randi !” seru Krisna dari belakang.


“Ini dia rumah mu ?” tanya Randi pada Krisna saat itu.


Lalu dari jauh, Randi melihat seorang wanita muda sedang menjemur pakaian di depan rumah yang terbuat dari papan.


Bersama dengan Krisna, Randi menghampiri perempuan yang wajahnya mirip sekali dengan Krisna.


“Mama !” panggil Krisna pada perempuan yang sedang menjemur pakaian itu.


Betapa terkejutnya perempuan itu saat dilihatnya, Krisna telah berada disamping kanannya.


“Krisna !” teriak perempuan itu sembari memeluk tubuh putranya dengan erat sekali.


“Mama !” jawab Krisna seraya menangis.


“Kenapa kau nggak pulang-pulang nak, Mama kangen sekali pada mu.”


“Maafkan krisna, Ma. Gara-gara Krisna, Mama jadi korban kebiadaban juragan itu.”


“Mama iklas nak, Mama iklas ! asalkan kau bisa kuliah, seperti impian Papamu sebelum dia meninggal.” Jawab Mama Krisna sembari menangis pilu.


Kesedihan itu telah membuat Randi ikut-ikutan meneteskan air matanya. Randi terharu sekali melihat pengorbanan Mama Krisna, yang rela di perlakukan buruk hanya demi cita-cita anaknya tercapai.”


“Tapi Mama nggak harus berkorban sampai segitunya kan ?”


“Krisna, kau masih ingat, dihadapan Papamu kau berjanji akan melanjutkan pengabdiannya untuk menjadi seorang Polisi bukan ?”


“Tapi Ma, Krisna nggak sanggup harus mengorbankan Mama, untuk hal ini.”


“Sabarlah nak, sebentar lagi kau tamat kan, hanya menunggu satu setengah tahun lagi, cobalah bersabar sayang.” Ucap Mama Krisna seraya membelai rambut putranya.


“Emangnya untuk saat ini, Ibu masih punya hutang dengan juragan itu ?”


“Masih Nak, masih tinggal tiga juta lagi.”


“Ini ada uang tiga juta, cepat Ibu bayarkan pada juragan itu sekarang, cepat Bu !” perintah Randi tak sabaran.


Mendengar perintah dari Randi, Zakia langsung bergegas menuju rumah juragan kejam itu.


“Tuan ! tuan !” panggil Zakia yang saat itu sedang menuju kamar juragan kejam itu.


“Ada apa Kia ? kenapa berlari ?”


“Aku mau mengembalikan uang juragan, yang dipinjam waktu itu.”


“Kenapa begitu cepat kau mengembalikannya Kia ? kau dapat uang dari mana ?” tanya Juragan itu heran.


“Dari Krisna !”


“Putra mu mencuri ?”


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2