Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 31 Pelajaran berharga


__ADS_3

Mendengar penuturan putrinya, Margono yakin kalau ucapan putrinya itu tak main-main, karena Margono tau persis siapa putrinya itu. Setiap ancaman yang diucapkannya pasti akan dia buktikan.


“Kalau begitu baiklah, Papa akan menikahkan kalian berdua.” Kata Margono seraya duduk dihadapan penghulu.


Walau saat itu para tamu undangan sudah pada pulang, tapi masih ada yang tinggal beberapa orang lagi. Di depan para saksi, Margono pun menikahkan putrinya dengan anak Mang Ojo, Resti yang menyaksikan hal itu, hatinya terasa bagai di tusuk-tusuk.


Dan akhirnya resmilah pernikahan Ranita dengan Alhuda, orang yang mereka anggap pengangguran itu.


Setelah putrinya resmi menikah, Margono pun mengajak istrinya pulang, tanpa sepatah katapun yang dia tinggalkan.


Sementara itu, Mang Ojo yang melihat semua tamu kebingungan, langsung angkat bicara.


“Maaf, Bapak- bapak dan Ibu-Ibu serta saudara -saudara sekalian, semua ini diluar rencana kami, jadi kalau para hadirin ada yang merasa tak nyaman, saya sekeluarga mohon maaf, yang sebesar-besarnya.” kata Mang Ojo sembari meneteskan air matanya.


“Maaf, Mang ! sebenarnya apa sih pekerjaan Alhuda, kok dia nekat ingin menikahi perempuan kaya itu ?” tanya seorang tamu yang hadir saat itu.


“Iya ! bukankan kita semua tau kalau Bu Rasti dan Pak Margono itu, seorang pejabat negara.”


timpal Bu Sotia.


“Baik, baik ! akan saya jelaskan, tapi sebelum itu, apa boleh saya bertanya satu hal ?”


“Ya, silahkan !”


“Apa menurut Bapak, jika kita ingin menikahkan anak kita yang sudah saling menyukai, kita harus memaksakan kehendak kita ? Yang demi harta dan jabatan, sehingga kita mengabaikan niat mereka itu.”


“Bukan itu maksud saya Mang ? saya hanya ingin sekedar tau saja, sebenarnya apa pekerjaan Alhuda, sehingga dia begitu nekat menikahi gadis pejabat itu.”


“Alhuda sekarang dia sebagai direktur Bank.” Jawab Mang Ojo dengan suara datar.

__ADS_1


“Apa ! direktur, Bank ? kenapa Bu Resti, bilang kalau Alhuda itu seorang pengangguran ?”


“Bu Resti nggak tau apa-apa ! dia hanya bertahan diegonya saja, sehingga dia gelap mata. Sebenarnya saya tau tujuan bapak tadi bicara, bapak pasti menganggap, kalau keluarga pemulung tak perlu berkhayal terlalu tinggi, begitu maksudnya kan ?”


Mendengar penjelasan dari Mang Ojo, Pak Darto merasa malu hati pada Mang Ojo, karena rencananya yang tersembunyi dibaca oleh Mang ojo.


“Maaf bukan itu maksud saya, Mamang terlalu berlebihan menilai saya.”


“Saya sama sekali tak menilai Bapak, saya hanya membaca jalan fikiran Bapak saja, bahwa kalau kita seorang pemulung jangan pernah bermimpi terlalu tinggi ! begitu bukan ?”


“Heh Pak ! aku sangat kenal sekali dengan Mang Ojo dan Bu Fatma, mereka orang tua yang bertanggung jawab, walau dulunya hanya menjadi pemulung dan berjualan kacang rebus, tapi mereka berhasil mendidik anak-anak mereka hingga perguruan tinggi.” Jelas Aida pada Pak Darto.


“Apa ! Semua anak Mang Ojo perguruan tinggi ?”


“Kenapa ? Kaget kan ? Itu makanya, jangan menilai orang dari luarnya saja !”


“Udah, udah ! jangan dibahas lagi, malu !” kata Mang Ojo seraya meninggalkan Pak Darto dan semuanya.


“Jaga mulutmu kalau bicara, Aida ! Kau disini bukan siapa-siapa. Apa sih bangganya jadi pemulung, walau berkoar-koar sekalipun, orang nggak bakalan percaya. Jangankan untuk beli Gedung, gubuk aja kalian nggak sanggup membuatnya, mimpi terlalu tinggi !” ucap Sumi, Tante dari Ranita.


“Cukup, cukup ! berhenti semua ! Tante sumi, aku nggak nyangka, ya ? ternyata tante seperti ini, didepan Oma dan Opa, Tante kelihatan sangat lembut, tapi ternyata Tante sama kelakuannya kayak Mama. Kalau Tante nggak suka melihat aku menikah dengan anak seorang pemulung, Tante boleh pergi kok, aku nggak keberatan !”


“Ranita ! apa-apaan kamu ini ! Kamu mengusir Tante mu sendiri ?”


“Iya ! aku mengusir Tante, yang kelakuannya sama kayak Mama.” Kata Ranita dengan lantang.


Merasa dipermalukan oleh keponakannya sendiri, Sumi pun berlari keluar rumah Mang Ojo. Dia menangis histeris, hatinya merasa begitu sakit, belum pernah selama ini Ranita memperlakukan dirinya seperti itu.


Melihat istrinya menangis karena tersakiti, Rudi pun menyusulnya keluar, diikuti oleh ketiga anaknya.

__ADS_1


Setelah kepergian semua tamu undangan, kini rumah mewah itu kelihatan sunyi, disana hanya ada Fatma dan anaknya yang masih menangisi keadaan yang tiada mereka duga sama sekali.


Pernikahan putra putrinya berakir kacau dan tak terkendali, rencana yang telah disusun secara matang, kini hancur sudah hanya sesaat saja.


Disudut ruangan ada Mang Ojo yang duduk bersimpuh, dadanya terasa sesak karena menahan tangis.


Seluruh tubuhnya terasa lemah tak berdaya, setetes demi setetes air mata pria tua itu jatuh membasahi kulit wajahnya yang sudah mengerut.


Allah pasti punya rencana dibalik semua kejadian yang menimpa setiap hambanya, hanya saja terkadang, kita lupa bahwa semua itu adalah kehendaknya.


“Sabarlah wahai anak-anakku, ini bukan azab yang diturunkan Allah untuk keluarga kita, tapi ini merupakan suatu ujian, yang mengharuskan kita semua memperbanyak istigfar serta memohon perlindungan kepadanya. Karena tak akan bergerak sebesar biji Zarah pun, kecuali atas izin darinya.”


Mendegar sepatah kata dari ayahnya, spontan seluruh anak-anaknya ikut menangis, kegalauan hati yang berkecamuk, akhirnya mereka tumpahkan secara bersama-sama.


“Beginilah dunia itu anak-anakku, nggak semua kebaikan yang kita lakukan mendapat tempat dihati orang-orang yang ada disekitar kita. Terkadang kita mendapatkan pujian dan terkadang kala kita malah mendapat penghinaan. Tapi jangan sesekali kalian merasa minder dan sakit hati. Jadikan itu cambuk untuk kesuksesan kita dimasa depan. Yakinlah bahwa takdir Allah Swt, lebih menentukan dari segalanya.”


“Maafkan atas perbuatan orang tua saya Mang, mereka benar-benar sudah keterlaluan.” Kata Ranita seraya menangis dipangkuan Alhuda suaminya.


“Iya, Mamang sudah memaafkan orang tua Neng, beginilah kami Neng ! hal seperti ini sudah sering kali kami alami, kalau bagi Eneng mah, mungkin baru pertama kalinya, tapi kalau Eneng sabar dan tabah, pasti Neng terbiasa dengan sendirinya.”


“Insya Allah Mang, semoga aku akan tabah menjalaninya.”


“Mamang mau tanya satu hal sama Neng Ranita ?”


“Apa itu Mang ?” tanya Ranita penasaran.”


“Neng kan tau kalau Alhuda orang miskin dan dari keluarga pemulung malah, tapi kenapa Neng masih nekat mau menikah dengannya?”


“Karena dikeluarga inilah aku menemukan jati diriku yang sesungguhnya, kehidupan keluarga Mamang banyak memberi insfirasi tersendiri bagi hidupku, yang selama ini belum pernah kudapati dirumah mewah itu. Mereka hanya memanjaiku dengan uang bukan dengan kasih sayang. Seorang anak pasti lebih membutuhkan kasih sayang dari pada uang yang berlimpah.”

__ADS_1


“Iya, kami tau itu Neng, gara-gara menikah dengan anak Ibu, akhirnya Neng Ranita jadi sakit hati.” Kata Fatma seraya menangis.


Bersambung...


__ADS_2