
“Mama Abang masih koma, dokter udah bekerja keras di dalam, tapi jantungnya belum juga stabil.”
“Kalau Papa gimana?”
“Papa Abang hanya mengalami sock aja, sebentar lagi dia akan di bawa keruang perawatan.”
Sepintas setelah mendapatkan kabar dari Zaki, tampak kedua tangan Niko gemetaran, Intan yang melihat hal itu mencoba mengajak suaminya untuk duduk.
“Ada apa? Abang nggak boleh larut dalam kesedihan ini, ingat! kalau Abang sedih, lalu bagai mana dengan mereka berdua. Abang harus tetap tegar agar Abang bisa merawat mereka dengan baik nantinya.”
“Iya, sayang,” jawab Niko pelan.
Begitulah nasib manusia tiada yang tau, hari ini kita masih bisa tersenyum dan tertawa, tapi belum tentu untuk satu detik yang akan datang, kesempatan selalu ada untuk kita, namun kapan kita akan mengetahuinya itu yang belum pasti.
Sesaat kemudian, Intan mengabarkan kejadian itu pada keluarganya, Mang Ojo beserta yang lain datang untuk membesuk mereka kerumah sakit.
Dari balik kaca, Niko hanya memperhatikan Mamanya yang terbaring di atas ranjang, Niko berusaha untuk tetap tegar, mesti hal itu berat untuk di terima.
“Gimana keadaan Mamanya Nak?” tanya Mang Ojo pada Niko.
“Masih koma Pak, jantung Mama sangat lemah.”
“Papa mu mana?”
“Dia ada diruang rawat, Papa mengalami sock, dia tak mau bicara pada kita Pak,” jawab Niko dengan air mata berlinang.
Bersama Mang Ojo, hadir juga di sana Fitri bersama adiknya. Mereka tampak duduk diam, di sampingnya ada Intan yang menyuguhkan mereka dengan dua gelas minuman dingin, agar tidak terlalu tegang.
“Yang sabar sayang, doa kan agar Papa dan Mama cepat sadar dan bisa bicara dengan kita lagi.”
“Baik, kak,” jawab mereka berdua serentak.
Dengan sabar, baik Niko mau pun Intan dan keluarganya mereka semua selalu datang kerumah sakit silih berganti, hingga akhirnya, Retno di pindahkan keruang perawatan, walau kondisinya masih belum stabil, tapi Retno sudah bisa mengingat.
__ADS_1
Siang itu di saat suasana mulau ramai, secara pelan Retno memandangi Niko dan Intan, yang tampak duduk di sofa. Sementara kedua putrinya yang masih kecil dan lucu juga ikut bermain di sekitar neneknya yang dirawat.
“Hai, jangan lari sayang! Nanti jatuh,” ujar Intan pada kedua putrinya yang sangat lucu.
“Biarkan dia bermain sayang, Mama senang melihatnya berlari, Mama teringat masa Niko kecil dulu, dia sangat lucu dan menggemaskan.”
Intan tertawa mendengar perkataan Retno saat itu, wajahnya yang putih tampak memerah karena menahan rasa tawa.
“Kamu cantik nak, pantasan Niko tergila-gila pada mu,” ucap Retno begitu pelan sekali.
Niko hanya tersenyum manis ketika istrinya mendapat pujian dari Mamanya, siang itu, hati Niko sudah sedikit lega, karena Mamanya telah bisa bicara.
Namun Allah berkehendak lain, ternyata siang itu adalah hari terakhir untuk Niko tersenyum di hadapan Mamanya.
“Boleh Mama menggendong cucu Mama nak?”
“Boleh, Ma,” jawab Intan seraya menyerahkan si kecil ke pelukan Mamanya.
Namun gadis manis itu menolak untuk di peluk neneknya, sehingga Retno tak sempat menciumnya untuk yang terakhir kalinya.
“Nggak apa, mungkin lantaran belum kenal, itu sebabnya putrimu merasa takut dengan Mama,” jawab Retno tersenyum.
Ketika Intan dan Niko mencoba membujuk putri kecilnya yang terus saja menangis, di saat itulah, Retno meregang nyawa, tak seorang pun yang tau, baik Niko mau pun Intan mereka berdua menduga kalau Mamanya sedang tidur.
Karena si kecil terus saja menangis, Niko dan Intan mencoba membawanya keluar dari ruangan itu, akan tetapi ketika Niko hendak minta izin pada Mamanya, Niko merasa tubuh Mamanya sedikit dingin.
Karena merasa curiga dengan apa yang di rasakannya, Niko mencoba memegang urat nadi yang ada di pergelangan tangan Retno.
“Ya Allah, ternyata Mama sudah tiada dek,” ujar Niko sembari menyakinkan dirinya.
Intan yang mendengarkan hal itu, langsung terkejut dan berlari kedalam untuk memeriksa kondisi Mama nya yang telah tiada.
“Innalillaahi wainna ilahi rooji’un, benar Bang, ternyata Mama udah tiada.”
__ADS_1
Melihat hal itu, Intan langsung berlari mencari keberadaan Zaki adiknya. Setelah mencari keruangan tempat dia bertugas, Intan tak menemukan Zaki disana, kemudian Intan memeriksa hampir ke seluruh ruangan.
Setelah berkeliling, barulah Intan menemui adiknya Zaki, dan dia pun mengatakan kalau Bu Retno telah meninggal dunia.
Zaki pun terkejut, dan dia langsung masuk kedalm ruangan Retno, ternyata benar apa yang di katakan Intan padanya, bahwa Retno telah meninggal dunia.
Retno telah meninggalkan dunia ini. Dia pergi meninggalkan semua kekayaan dan kesombongan yang dibanggakannya selama hidupnya. Bahkan Retno tega membuang darah dagingnya sendiri demi ambisinya.
Tapi untunglah sebelum Retno pergi, dia masih sempat bertemu dengan putra dan juga dengan kedua orang cucunya yang sangat lucu-lucu, semasa hidupnya, Retno kepingin sekali menimang cucunya itu tapi sudah terlambat. egonya lah yang membuat dia menyesali semuanya.
“Maafkan Mama, nak! Mama telah bersikap tak adil pada kalian berdua. Sebenarnya Mama sudah lama menerima kehadiran Intan dirumah, tapi karena Ego Mama, mama malu untuk mengatakannya pada kalian.” Hanya kata penyesalan yang dapat dia ucapkan di akhir hayatnya.
Rasa haru pun tak dapat lagi dielakkan, suasana tampak hening dan mencekam. Retno pergi meninggalkan dunia ini dengan seribu penyesalan yang tak dapat dibayarnya.
Hermawan, menangis sedih, begitu juga dengan Niko, Intan dan kedua putrinya yang ditinggalkan.
Sore itu juga, jenazah Retno mereka bawa pulang untuk di mandikan, Niko tak henti-hentinya menagis menyesali diri, karena sudah begitu lama mereka tak saling bersilaturahmi.
Banyak warga yang datang membantu prosesi pemakaman Retno, isak tangis dan air mata mewarnai sore itu.
Mang Ojo beserta yang lainnya juga telah hadir, mereka semua ikut membantu mengurus pemakaman Retno yang katanya harus di kebumikan secepatnya.
Cuaca sagat gelap sekali sore itu, angin kencang dan hujan lebat turun mengguyur bumi, membuat prosesi pengantaran jenazah keperkuburan sedikit mengalami penundaan, tapi mereka semua bersyukur, karena tak ada halangan yang menghambat penyelenggaran acara itu.
Tiga hari restoran milik Intan di tutup, tanda berkabungnya seluruh keluarga besar Mang Ojo saat itu.
Di saat acara seratus hari Retno di selenggarakan Intan, di restoran miliknya, di saat itu Intan mengundang beberapa orang pejabat, yang dia kenal termasuk direktur tempat Nurul bertugas.
Di saat acara telah selesai di laksanakan Papa Riza datang menghampiri Mang Ojo, mereka tampak bicara dengan serius sekali, Riza yang saat itu bersama dengan Papanya, hanya mendengarkan saja apa yang sedang mereka bahas saat itu.
Tak begitu lama kemudian Mang Ojo memanggil Nurul putrinya, dengan perasaan malu Nurul pun datang menghampiri Mang Ojo Bapaknya.
“Nak, Bapak ini ingin melamar mu untuk putra kesayangannya Riza, gimana menurut pendapat mu?”
__ADS_1
Bersambung...
\*Selamat membaca\*