Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 68 Kehadiran yang tak di duga


__ADS_3

Setelah keduanya tiba didepan pintu, lalu Margono mengetuk pintu rumah itu.


“Tok, tok, tok ! assalamua’alaikum !” ucap Margono dari luar.


“Wa’alaikum salam.” Jawab Zakia sembari berlari menuju pintu.


Setelah pintu di buka, alangkah terkejutnya Mang Ojo dan yang lainnya, karena tanpa mereka sangka sama sekali kalau kedua orang tua Ranita, datang kerumah yang selama ini tak ingin untuk di datanginya.


Namun Fatma, wanita yang arif dan bijak sana itu, langsung datang menyongsong dan menyambut keduanya dengan ramah.


Di saat kedua tangan Fatma di ulurkan untuk menyambut kedatangan besan nya, justru Resti menepis tangan Fatma itu dengan kuatnya, Margono yang melihat hal itu, menjadi malu pada Fatma dan yang lainnya.


“Oh, Ranita putri Mama ! kamu itu kenapa sayang ?”


Ranita tak menjawab, karena keadaannya saat itu sudah kritis, matanya yang masih terbuka, tak lagi melihat siapa-siapa yang datang menghampirinya.


Dari tubuhnya keluar aroma yang sangat busuk sekali, Resti yang datang menghampirinya merasa mual dan bahkan dia muntah di depan putrinya yang sudah sekarat.


Melihat Resti muntah, Margono menarik tangan istrinya untuk menjauh dari tempat itu.


“Kenapa harus muntah di situ, Ma ?”


“Mama nggak tahan Pa ! baunya begitu menyengat ! Mama terasa mau muntah !”


“Mama kan bisa menutup hidung, kenapa nggak di tutup ?”


“Tapi mereka nggak ada yang menutup hidung Pa !”


“Mereka memang nggak menutup hidung, Ma ! karena mereka semua udah terbiasa mencium bau sampah yang menyengat.”


“Ooo, gitu ya pa.”


“Ya udah ! kalau Mama merasa nggak tahan, sebaiknya Mama menjauh aja darinya.”


“Baik, Pa.” jawab Resti mengikuti saran dari suaminya.


Meskipun semua keluarga Mang Ojo, tampak menangis, namun Resti dan Margono tak terlihat seperti itu.


Keluarga Mang Ojo tak sedikit pun menggubris keluarga Margono. Karena mereka semua tau, kalau Resti di ladeni, pasti kata-kata pedasnya akan keluar lagi.


Untuk itulah mereka semua pada diam, dan tak ada yang berkomentar. Setelah beberapa saat kemudian, Margono menghampiri Mang Ojo, yang saat itu tampak duduk lesu.


Dengan berpura-pura, Margono bertanya pada Mang Ojo.


“Kenapa dengan putri saya Pak ?”


“Putri Bapak terkena teluh seseorang yang berhati Iblis.” Jawab Mang Ojo datar.

__ADS_1


Di saat kata-kata itu keluar dari mulut Mang Ojo, jantung Margono dan Resti langsung mendidih, tak disangkanya sama sekali, kalau ucapan itu bakal keluar dari mulut Mang Ojo yang lembut dan baik.


“Siapa yang berhati Iblis itu, Pak ?” tanya Resti yang tak sabaran mendengar jawaban Mang Ojo.


“Orang yang berhati Iblis itu, orang yang di dalam hatinya selalu di kuasai hawa nafsu serta sifat dendam dan dengki.”


“Maksud Bapak apa ?” tanya Resti tersinggung.


“Saya nggak bermaksud apa-apa ? kenapa Ibu tampaknya nggak terima ?”


“Saya tersinggung lho !”


“Kok Ibu bisa tersinggung ! atau jangan-jangan, Ibu yang mengirimkan teluh ini ke keluargaku, dan Ranita yang jadi korbannya ?”


“Jaga mulut Bapak kalau ngomong ya ? saya bisa laporkan Bapak ke polisi lho, karena telah mencemarkan nama baik saya.”


“Nama baik siapa yang saya cemarkan ? nama baik Ibu ? dalam situasi seperti ini Ibu masih sempat bicara nama baik ?”


“Kenapa ? nggak boleh saya bicara seperti itu ?”


“Sadar Bu, lihat putri kesayangan Ibu, dia menderita karena ulah kelakuan Ibunya !” kata Mang Ojo tak mau kalah.


Ketika Resti hendak balik membalas, Margono langsung melerai keduanya, agar pertengkaran itu tidak mereka lanjutkan.


“Udah Ma, udah ! Papa heran deh, kemana pergi, Mama selalu saja mencari masalah, apa Mama nggak sadar, kalau putri kita sedang sakit.”


“Kalau udah selesai melihat putrinya, pulang deh, aku nggak mau rumahku yang bobrok ini di datangi seorang konglomerat sombong seperti Ibu !”


“Kurang ajar !” teriak Resti.


Namun Margono langsung menarik tangan istrinya yang hendak mendatangi Mang Ojo.


Merasa kesal karena tangannya ditarik suaminya, Resti pun marah pada Margono.


“Ada apa sih, Pa ! kenapa main tarik-tarik aja !”


“Mama ini, nggak ada malu-malunya, bukannya sedih melihat putrinya dalam keadaan kritis, malah berantem dengan Mang Ojo !”


“Kenapa sih, Papa nggak mau belain Mama !”


“Buat apa di belain Ibu seperti mu !” jawab Margono sembari pergi.


Merasa kesal oleh kelakuan suaminya, Resti pun berjalan sembari menggerutu.


“Dasar tua bangka, bukannya belain istrinya, malah dia belain pemulung dekil itu.”


Di saat Margono dan istrinya pergi, pembacaan yasin kembali mereka lanjutkan, isak tangis dan air mata terlihat jelas mewarnai pengobatan yang di lakukan malam itu.

__ADS_1


Di saat mereka semua menangis, tiba-tiba Ranita bicara pelan pada Alhuda.


“Bang ! perempuan itu minta pada ku, untuk mengembalikan apa yang telah diambil dari tempatnya, tolong tanyakan ke Mama, apa yang telah Mama ambil, tolong kembalikanlah ke tempatnya, agar aku bisa sembuh !” ucap Ranita dengan suara lirih.


“Oh baiklah, biar Abang mendatangi Mama mu dulu.” jawab Alhuda sembari menemui Resti yang saat itu masih berada di halaman rumahnya.


“Tunggu !” seru Alhuda dari depan rumahnya.


Ketika mendengar Alhuda memanggilnya, Margono dan Resti langsung menoleh kebelakang.


“Seminggu yang lalu, sebelum penyakit itu berjangkit di tubuh putri Ibu, dia bermimpi di datangi oleh seorang wanita, dia minta pada Ranita, agar di kembalikan apa yang telah diambil darinya.”


“Apa yang di kembalikan ?” tanya Resti heran.


“Mana saya tau ? apa yang telah Ibu ambil tanpa sepengetahuan kami.”


“Bukan hanya itu saja, perempuan itu juga mengancam akan membunuh bayi yang ada di dalam kandungan Ranita, jika kalian nggak mengembalikan apa yang telah kalian ambil itu.”


“Saya nggak mengambil apa-apa !” jawab Resti berkilah.


“Bohong ! Mama udah lupa kan, kalau hari itu Mama menyuruh orang untuk mengambil tanah kuburan ?”


“Mama nggak mengambilnya Pa, itu hanya bisanya Mama aja !”


“Nggak, Mama bohong ! katakan sekarang juga pada Alhuda, di mana Mama mencuri tanah kuburan itu dan mana tanah itu sekarang ! cepat katakan !” paksa Margono dengan nada amarah.


“Tanahnya udah habis Pa ?”


“Habis ? apa kalian makan tanahnya ?”


“Nggak Pa ! nyai romlah yang memakainya.” Jawab Resti dengan nada pelan.


“Nyai Romlah ? nyai Romlah itu siapa ?” tanya Alhuda ingin tau.


“Nyai Romlah itu seorang dukun teluh, Bang !” jawab Dika yang berdiri di sudut tiang rumah.


“Ooo, ternyata kalian yang menyuruh nyai Romlah meneluh Ranita ? tega kalian ya, anak sendiripun kalian teluh !”


“Itu semua karena kalian ! kalian yang telah merebut Ranita dari kami.”


“Sekarang Ibu lihat sendiri ulah kelakuan Ibu, Ranita mengalami kritis, dia tak makan dan tak bisa minum, bayi yang di dalam kandungannya pun saat ini sedang lemah sekali.”


“Baiklah, biar Mama datangi nyai Romlah itu.” Jawab Resti.


“Nggak ! kita kesana sekarang juga.” Bantah Alhuda dengan tegas.


“Baiklah, mari kita kesana sekarang juga !” ajak Dika pada yang lainnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2