
Dengan bergegas Resti langsung naik kelantai atas untuk membangunkan suaminya.
“Kurang ajar ! ternyata semalam dia udah pulang !” gerutu Resti kesal.
Margono yang mendengar suara pintu terbuka, dia pun langsung bangun dari tidurnya.
“Ada apa ?” tanya Margono heran, melihat istrinya masuk kedalam kamar dengan raut wajah cemberut.
“Kemana Papa semalaman ?”
“Buat apa Mama tanya ? toh pada intinya kita berdua sama-sama keluar kan ?”
“Kenapa sih Papa sekarang ini udah jauh berubah ?”
“Yang berubah itu bukan Papa, tapi Mama !”
“Mama keluar karena Mama ada sedikit urusan Pa !”
“Seorang istri keluar di tengah malam sendirian, karena ada urusan, urusan apa ?”
“Mama udah janji dengan seseorang untuk mengambil tanah kuburan, Pa.”
“Apa ? tanah kuburan ?”
“Iya Pa.” jawab Resti dengan wajah tertunduk takut.
“Buat apa tanah kuburan Ma ? buat apa ?”
“Untuk nyai Romlah Pa !”
“Aduh Mama ! ke dukun itu syirik hukumnya ! kita ini orang Islam.”
“Tapi Mama menginginkan Ranita pulang kerumah ini Pa ! Mama mau anak kita itu kembali pulang kerumah ini, huhuhuk !” jawab Resti sembari menangis.
Margono yang melihat istrinya telah jauh melangkah , dia pun datang menghampiri, di peluknya Resti dengan lembut.
“Kembalilah kejalan Allah sayang, kau udah terlalu jauh melangkah, kalau nggak mau kembali, nanti Mama akan tersesat lebih jauh lagi.” Kata Margono menasehati istrinya.
Karena merasa suaminya memperhatikan hidupnya, Resti pun menangis di pangkuan suaminya. Walau saat itu Resti menangis sedih, akan tetapi dirinya tak pernah mau berubah.
Keesokan harinya tanpa sepengetahuan Margono suaminya, Resti pergi lagi kerumah nyai Romlah, karena menurutnya dia telah habis-habisan untuk mengembalikan Ranita kerumahnya.
"Tanggung, sekalian aja !" ucap Resti.
Dengan membawa tanah kuburan kerumah nyai Romlah, Resti tampak duduk tenang di hadapan dukun itu.
“Benar, ini tanah kuburan yang saya maksud kan ?”
“Benar nyai !” jawab Resti yakin.
“Ingat ! kalau Ibu salah, maka Ibu sendiri yang akan menanggung konsekuensinya.”
“Maksud nyai apa ?”
“Kalau kamu salah mengambil tanah yang saya katakan, maka salah satu diantara kalian akan menanggung akibatnya.”
__ADS_1
“Maksud nyai ? aku jadi nggak mengerti.”
“Kalau Bukan kau sendiri yang kena, maka anak mullah yang akan jadi korbannya.” Jawab Nyai Romlah mengingatkan.
“Baiklah, aku bersedia menanggung konsekuensinya.”
Setelah Resti benar-benar yakin dengan ucapannya, maka mulailah nyai Romlah untuk bekerja. Tanah kuburan yang di bawa Resti langsung di ambil untuk upacara ritualnya.
Setelah beberapa menit, maka selesailah Nyai Romlah bekerja, dia tampak begitu lelah sekali saat itu, sehingga Resti merasa takut untuk bertanya lagi.
Dengan pelan dan tenang Resti pun pergi meninggalkan perempuan tua itu.
Di saat Resti hendak melangkah keluar, tiba-tiba saja nyai Romlah bicara pada Resti.
“Tunggulah seminggu lagi, obatnya akan bekerja, sesuai dengan keinginan mu.”
“Baik nyai.” Jawab Resti dengan perasaan lega.
Setelah merasa puas, Resti pun meninggalkan Romlah sendirian di ruang ritualnya. Kemudian dengan tenang Resti pun kembali ke kantornya untuk bekerja.
Sementara itu, Margono yang melihat istrinya tampak tenang dan santai di rumah, dia pun merasa yakin kalau istrinya telah berubah.
Merasa kembali rukun, Margono tak banyak bicara, kerena menurutnya semua akan berjalan dengan semestinya.
Akan tetapi, atas ulah Resti yang melakukan hal keji itu, Ranita putrinya menjadi korban kebiadaban Ibunya.
Malam itu di saat Ranita sedang terlelap tidur, tiba-tiba saja dia didatangi oleh seseorang. Wanita itu minta agar yang diambil di kembalikan ke tempatnya.
“Apa yang mesti aku kembalikan ?” tanya Ranita dengan suara lantang.
“Katakan, apa yang harus aku kembalikan !”
“kalau tak kau kembalikan maka bayi yang ada didalam kandungan mu tak akan selamat.”
“katakan pada ku, apa yang mesti aku kembalikan ?”
Namun suara itu tak lagi terdengar oleh Ranita, di saat itu Ranita terus berteriak-teriak.
“Apa yang harus ku kembalikan ! apa yang harus ku kembalikan !” teriak Ranita sehingga membuat Alhuda terbangun dari tidurnya.
“Hei ! hei ! ada apa sayang. Kenapa berteriak ?”
Karena di bangunkan oleh Alhuda, maka Ranita pun terbangun dari mimpi buruk yang menghantui tidurnya.
“Ada apa sayang ?”
“Aku mimpi Bang.”
“Mimpi apa ?”
“Seorang perempuan datang pada ku, dia minta agar aku mengembalikan apa yang telah kuambil.”
“Mengembalikan apa yang telah di ambil ?”
“Iya, Bang.”
__ADS_1
“Emangnya kamu mengambil apa ?”
“Entahlah, perasaan aku nggak mengambil apa-apa kok.”
“Coba kamu pikir dulu, siapa tau dalam keadaan tenang, kau akan mengingatnya.”
“Dan satu hal lagi. Kata wanita itu, kalau aku nggak mengembalikannya maka bayi yang ada di dalam kandungan ku nggak bakalan selamat.”
“Bayi ? emangnya kamu mengandung ?”
“Aku juga nggak tau, tapi kalau aku mengandung, kenapa aku nggak merasakan apa-apa ya ? aneh !” jawab Ranita heran.
“Baikalah, untuk menyakinkan mimpimu itu, maka besok pagi kita akan kerumah sakit.”
“Baik Bang.” Jawab Ranita pelan.
“Nah kau lanjutkan tidur mu.”
“Baiklah.”
Walau Ranita berusaha untuk memejamkan matanya, namun dia tetap sulit untuk tidur, bayangan wajah wanita yang datang dalam mimpinya begitu menakutkan sekali.
Alhuda yang selalu memperhatikan istrinya, mencoba untuk menenangkan hati Ranita dan berusaha memberikan masukan yang dapat membuatnya tertidur. Namun, hingga pagi menjelang pun Ranita tetap saja terjaga.
Pagi sekali di saat azan subuh mulai berkumandang, Ranita pun terbangun, pertama sekali dia melihat di punggung tangannya terdapat luka bakar yang sangat perih.
“Oh, kenapa sakit sekali tangan ku ini ya ?” tanya Ranita pada dirinya sendiri.
Akan tetapi Alhuda yang saat itu sudah bangun dari tidurnya melihat sesuatu tumbuh di tangan Ranita.
“Hei, ada apa dengan tangan mu sayang ?”
“Ada apa dengan tangan ku ?” tanya Ranita pada Alhuda, sembari mencoba menoleh ke punggung tangannya sendiri.
“Seperti luka bakar.” Jawab Alhuda pada istrinya.
“Luka bakar ? tapi tadi malam saat kita bangun, aku nggak merasakan ada luka bakar ditangan ku, lalu kenapa sekarang tiba-tiba saja ada ya ?”
“Entahlah !”
Mereka berdua pun sama-sama merasakan keanehan yang tak bisa di cerna oleh akal pikiran mereka sendiri.
“Lalu kita mesti gimana Bang ?” tanya Ranita sedikit ketakutan.
“Nanti kita kerumah sakit dulu, siapa tau, di rumah sakit ada obat yang bisa membuat luka bakar itu mengering.
“Baik Bang.” Jawab Ranita dengan lembut.
Pagi itu juga Alhuda dan Ranita mulai bersiap-siap untuk menuju rumah sakit, melihat kecemasan pada diri istrinya, Alhuda mencoba untuk menenangkan hatinya.
“Jangan terlalu di pikirkan sayang, nanti akan sembuh kok, percayalah pada Abang.”
“Baik Bang, insya Allah semuanya akan baik-baik aja."
Bersambung...
__ADS_1