Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 139 Harapan yang besar


__ADS_3

Atas kesepakatan yang telah mereka buat, akhirnya Riza di bebaskan dari tuntutan hukum, akan tetapi Riza kembali menjalankan rehabilitas, agar depresi yang sedang dia alami bisa di obati.


Suasana bahagia bercampur haru, menyelimuti Kawasan kumuh saat itu, Handoko pun menepati janji yang telah di buatnya, dia mengerahkan para pekerja untuk membangun kembali rumah Mang Ojo yang telah hancur.


Bukan itu saja, Handoko juga telah mengembalikan lukisan Zaki yang telah di curi oleh putranya Riza.


Begitulah hidup didunia ini, penuh liku-liku, kadang susah dan terkadang senang, tapi kalau kita mampu melewatinya dengan ikhlas dan tabah, semuanya terasa menyenangkan.


Keesokan harinya, di saat Mang Ojo dan Fatma masih berada di rumah Intan, tiba-tiba saja mereka semua menyaksikan alat berat datang kerumah Mang Ojo yang telah datar dengan tanah, bukan hanya itu saja beberapa bahan bangunan pun datang menyusul.


Mang ojo dan yang lainnya tersenyum manis menyaksikan, kalau rumahnya akan di bangun kembali. Hari demi hari rumah itu menampakan bentuk aslinya.


Sementara Nurul yang telah mendapatkan informasi tentang suaminya yang masuk penjara, dia pun di izinkan oleh Rohana untuk menemui kedua orang tuanya.


Setibanya di restoran milik Intan, Nurul begitu terkejut melihat rumahnya telah hancur, dan ada bangunan baru berdiri di atasnya.


Sedangkan Mang Ojo dan Fatma yang saat itu melihat Nurul datang, dia langsung memeluk putri kecilnya itu dengan isak tangis.


“Ada apa Ini, Bu?” tanya Nurul heran.


“Rumah kita telah hancur nak,” jawab Fatma sembari membelai rambut cucunya yang tumbuh dengan lebat.


“Kenapa bisa hancur, apakah kebakaran?”


“Suami mu yang melakukannya nak, saat ini, Pak Ahong dan yang lainnya masih berada di rumah sakit.


Mendengar berita itu, Nurul hanya bisa terhenyak di atas sofa, luka yang baru di alaminya, tak seberapa bila di bandingkan dengan penderitaan yang di alami oleh kedua orang tuanya.


“Kau tau nak? bahwa yang merancang semuanya adalah Riza suamimu.”


“Maksud Ibu?”


“Dia sengaja mencuri lukisan Dika, agar semua anak-anak panti menderita, dan akhirnya kita memohon bantuan pada Pak Handoko, dengan persyaratan yang telah disepakati, yaitu dengan menikah dengan mu.”


“Ya, Allah, ternyata semua ini telah di rencanakan Pak Handoko, jauh-jauh hari?”


“Bukan Pak Handoko yang merencanakannya sayang, tapi Riza lah yang telah merencanakannya, itu sebabnya, Pak Handoko bersedia mengganti rugi semua yang yang telah di lakukan putranya itu,” jawab Niko yang saat itu sedang berada di restoran.


“Kalau begitu Papa, nggak bersalah dong, dalam hal ini?”


“Nggak nak, Papa mu nggak bersalah sama sekali, Pak Handoko orang baik sayang.”


“Kalau begitu pagi ini aku harus menemui Papa, agar hatinya senang melihat cucunya kembali.”


“Iya, sayang, pergilah, biar Bang Niko mu yang mengantarkan.”


“Baiklah, Bu, Pak, aku akan kesana sekarang juga.”


“Iya, sayang, berhati-hatilah.”


“Baik,” jawab Nurul singkat.”

__ADS_1


Mendengar Nurul hendak kerumah Papanya, Niko segera menyalakan mobilnya untuk mengantarkan Nurul kerumah Handoko.


Di perjalanan mereka pun saling diam, tak ada pembahasan yang mesti mereka perbincangkan, setibanya di depan rumah Handoko, mobil pun di putar untuk masuk ke halaman rumah megah itu.


Septi yang melihat ada mobil asing masuk kedalam halaman rumah majikannya, dia langsung sembunyi di balik pintu untuk mengintip, siapa yang datang.


Betapa senangnya hati Septi setelah dia melihat Nurul kembali kerumah itu seraya menggendong putra tunggalnya.


“Ya Allah, non Nurul,” ujar Septi sembari berlari menyongsong majikannya.


“Bi, Septi.”


“Iya Non, kemana saja, kenapa lama sekali menghilangnya?”


“Aku masih takut untuk kembali Bi,” jawab Nurul dengan suara lembut.


“Tuan begitu sedih sekali dengan kejadian hari itu, Bibi sering melihat tuan menangis di atas sofa, dia begitu rindu sekali dengan Non Nurul dan Radit.”


“Maafkan kami Bi, sekarang mana Papa?”


“Masih di perusahaan Non,”


“Ooo, biarlah, nggak usah di ganggu, kalau begitu aku kekamar dulu ya Bi.”


“Iya, Non, biar Radit, Bibi yang pegang, non istirahat lah dulu, pasti non Nurul kecapean.”


“Baik Bi, terima kasih.”


Setelah Radit putra kecilnya di ambil oleh Septi, Nurul pun kembali kedalam kamarnya, untuk mengemasi semua pakaian mereka berdua, sembari menunggu Pak Handoko, Nurul mencoba merebahkan tubuhnya di atas Kasur.


Di saat itu, Septi pun masuk kedalam kamar Nurul, dia berencana hendak mengantarkan Radit bersama Ibunya, karena saat itu Radit sudah tertidur dengan nyenyak nya.


Akan tetapi ketika Septi melihat ada koper yang telah berjejer rapi di kamar Nurul, dia pun mengurungkan niatnya untuk masuk, Septi kembali keruang tamu untuk menelfon Pak Handoko yang saat itu masih di perusahaan.


“Hallo, assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikum salam, ada apa Sep?”


“Ini tuan, tadi pagi Non Nurul datang kerumah ini bersama dengan Radit cucu tuan, tapi sepertinya non Nurul datang hanya untuk mengambil pakaiannya tuan.”


“Benar, Nurul datang untuk mengambil pakaiannya?”


“Iya, Tuan.”


“Di mana Nurul sekarang, Sep?”


“Ada, lagi di kamarnya tuan.”


“Tahan dulu dulu dia, Sep.”


“Non Nurul nya lagi tidur tuan.”

__ADS_1


“Ooo, baiklah, saya akan segera kesana sekarang.”


“Baik tuan.”


Setelah mereka selesai berkomunikasi, henfone pun segera di tutup oleh Septi, dan dia langsung menuju kamar Nurul guna mengantarkan Radit bersama Ibunya.


Tak berapa lama kemudian, Handoko pun datang bersama supir pribadinya, Handoko tampak tersenyum manis saat dia memasuki rumah miliknya.


“Mana Nurul Sep?”


“Ada, lagi di kamarnya Tuan.”


“Baiklah, biar saya sendiri yang kesana,” ujar Handoko sembari bergegas menuju kamar Nurul.


Ketika hendak memasuki kamar Nurul, Handoko mengetuk pintu kamar itu terlebih dahulu, Nurul yang sedang tetidur pulas, langsung terbangun dan segera mengenakan hijabnya.


“Pa," sapa Nurul sembari mencium tangan Pak Handoko.


Pak Handoko yang sudah terlanjur menyayangi Nurul melebihi anak sendiri, langsung menangis, sembari memeluk tubuh Nurul.


“Jangan pergi lagi nak, Papa mohon, Papa nggak kuat berpisah dengan kalian lagi.”


“Tapi, Pa.”


“Riza sekarang telah menerima ganjaran dari apa yang telah dia lakukan pada mu nak, jangan pergi lagi, Papa nggak mau kehilangan kalian lagi.”


Bukan hanya sekedar memeluk Nurul, Handoko juga mengeluarkan pakaian Nurul dari dalam koper dan menaruhnya kembali kedalam lemari, Handoko juga menggendong cucunya dan menciumnya dengan deraian air mata.


“Baiklah, aku akan tinggal bersama Papa di sini, tapi dengan satu perjanjian, mulai hari ini, aku bukan lagi menjadi istri Riza.”


“Kenapa?”


“Aku nggak mau Pa, jika nanti Riza kembali kerumah ini, aku akan segera keluar.”


Berat rasanya Handoko memenuhi permintaan Nurul, tapi karena rasa sayangnya pada Nurul dan bayi kecilnya, terpaksa hal itu disanggupinya.


“Baiklah, Papa janji pada mu sayang, asalkan kalian berdua nggak keluar dari rumah ini, apa pun akan Papa lakukan.”


“Baik, Papa janji kan?”


“Iya, Nak,” jawab Handoko pelan.


Mesti gimana pun, Handoko terpaksa menerima tawaran yang di ajukan Nurul padanya, karena bagi Handoko dia sudah tak punya alasan lagi untuk mengelak. Sebab di dunia ini Handoko sudah tak punya siapa-siapa lagi, selain Nurul dan Radit cucunya itu.


Setelah tawarannya di terima oleh Handoko, Nurul pun bersedia tinggal di rumah megah itu, bukan hanya sekedar di angkat menjadi anak oleh Handoko, Nurul bahkan di beri wewenang untuk mengendalikan perusahaan.


Sedangkan Radit cucu satu-satunya, telah mendapat sebagian harta dari Kakeknya, berupa, separoh dari saham perusahaan yang di kelola oleh Nurul Ibunya.


Bukan hanya mendapat durian runtuh, Nurul bahkan di perlakukan sebagai ratu kesayangan di rumah Handoko.


Bersambung...

__ADS_1


\*Selamat membaca\*


__ADS_2