Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 126 Di curigai


__ADS_3

Leni berusaha mencari Mang Ojo kesetiap penjuru rumahnya, namun pria paroh baya itu tak terlihat sama sekali, kemudian Leni pergi kekebun belakang, dari kejauhan Leni melihat Mang Ojo tampak asik bermain dengan putri Ema yang saat itu sudah begitu dekat dengan dirinya.


“Pak, ada telfon dari Neng Intan!” ujar Leni seraya menghampiri Mang Ojo.


“Oh, baiklah, saya akan kerumah, sini Len, temani cucuku bermain.”


“Baik Pak,” jawab Leni seraya menghampiri gadis manis itu bermain.


“Kamu nggak lapar Nak?” tanya Leni pada gadis kecil itu.


“Nggak Bi, aku hanya mau main aja sama Bibi.”


“Oh, boleh! Dengan senang hati sayang,” jawab Leni yang juga ikut-ikutan berlari mengejar gadis manis itu.


Sementara itu, Mang Ojo yang sudah berada di depan telfon, langsung mengangkat telfon.


“Assalamu’alaikum, sayang. Ada apa?”


“Wa’alaikum salam. Kemana sih Pak? kok lama banget ngangkatnya!”


“Tadi Bapak di kebun bersama Debi.”


“Ooo, Bapak udah lengket banget sama Debi sekarang ya?”


“Habis, dia itu menggemaskan sekali.”


“Ada apa, tumben kamu telfon Bapak, kan jarak rumah kita nggak begitu jauh.”


“Di depan restoran ku, ada Mama Bang Niko, Pak. aku takut sekali untuk keluar.”


“Ngapain dia disana?”


“Nggak tau, waktu ku suruh Buk’e menanyakan tentang tujuannya, malah dia hanya diam saja.”


“Sekarang mana dia?”


“Di dalam mobilnya, dia nggak keluar-keluar sedari tadi, aku takut, Bapak kesini ya?”


“Baiklah, Bapak kesana sekarang,” jawab Mang Ojo sembari menutup telfonnya.


Setelah selesai menelfon, Mang Ojo langsung bergegas menuju rumah Intan, Ahong yang melihat Mang Ojo keluar dengan tergesa-gesa, datang menghampirinya.


“Mau kemana Pak?”


“Kerumah Intan.”


“Nggak diantar?”


“Nggak perlu!”


“Jauh lho, nanti encok Bapak bisa kambuh.”


“kamu itu ya, suka sekali gangguin kesenangan saya,” jawab Mang Ojo sembari berbalik untuk menghampiri mobil milik Zaki.


“Katanya mau jalan, kok malah berbalik?”

__ADS_1


“Nggak jadi, lebih baik naik mobil saja.”


“Ooo, gitu, baiklah, kita jalan.”


“Padahal kalau saya terlalu sering naik mobil, nanti kolesterol saya bisa naik lhoh.”


“Emangnya Bapak sering naik mobil? Perasaan naik mobilnya, Cuma satu kali dalam satu minggu, itu pun sebentar doang.”


“Apa iya, begitu?”


“Kalau nggak percaya, coba Bapak pikir aja sendiri.”


“Ya udah, nanti saya pikirkan dirumah.”


“Ok,” balas Ahong tersenyum lebar.


Setelah mengendarai mobil tidak begitu jauh, tibalah mereka berdua di rumah Intan, saat melihat ada mobil Mama Niko terparkir, Mang Ojo langsung mengetuk pintunya dari luar.


“Tok, tok, tok!”


Karena ada yang mengetuk kaca mobilnya dari luar, Retno langsung membukanya untuk Mang Ojo.


“Ada apa, kenapa Bapak mengetuk pintu mobil saya?” tanya Retno ingin tau.


“Ngapain disini?”


“Itu kan hak saya, mobil-mobil saya, parkirnya pun di rumah putra saya, kok Bapak yang usil.”


“Saya nggak usil, asalkan saya tau, apa tujuan Ibu datang di mari.”


“Kalau merasa neg, ya pergi saja, ngapain berdiri di sini?"


“Itu kan hak saya!” ujar Resti kesal.


“Mau maling! Biar saya panggilkan semua warga,” gertak Mang Ojo.


“Idih! nggak anak nggak Ayah sama saja kelakuannya, dasar nggak berpendidikan, mesti bergelimang harta pun tetap saja jadi orang bodoh,” jawab Resti


Mang Ojo hanya diam saja, mendengarkan omelan Resti, tapi kakinya yang nakal mulai menendang dinding mobil Retno berulang kali.


“Hei, nanti mobil saya bisa lecet! Apa Bapak sanggup untuk ganti rugi!”


“Nggak ada yang mau mengganti rugi, sekarang cepat pergi tinggalkan restoran ini.”


“Jadi Bapak mengusir saya!”


“Terserah.”


“Nanti Bapak saya laporkan ke Niko baru tau rasa.”


“Cepat pergi dari sini, jangan bikin anak dan cucu saya ketakutan dengan kehadiran Ibu disini.”


“Emang benar ya, nggak punya sopan santun sedikit pun.”


“Terserah!” jawab Mang Ojo dengan nada keras.

__ADS_1


Karena merasa telah di usir oleh Mang Ojo, Retno pun memutar setir mobilnya dan berbalik meninggalkan restoran milik Intan.


Diperjalanan, hati Retno begitu kesal sekali, karena Intan tidak menyambutnya dengan ramah dan baik.


“Dasar menantu kurang ajar! bukan menyambut mertuanya dengan baik dan ramah, eh malah bersembunyi di dalam kamarnya. Itu lagi si tua bangka itu, ngapain coba, dia datang dan mengusir saya dari sana. Iiih, bikin kesal sekali!” gerutu Retno sembari memukul setir mobil yang ada di hadapannya.


Karena telah jauh dari restoran milik Intan, Retno pun memutuskan untuk kembali kerumahnya, Hermawan yang melihat mobil istrinya memasuki bagasi, langsung menyambutnya dengan amarah.


“Mama dari mana?”


“Nggak ada, hanya jalan-jalan aja kok.”


“Jalan-jalan seharian penuh, jalan-jalan kemana?”


“Papa kok, jadi mencurigai Mama?”


“Untuk saat ini, Mama harus di curigai, kalau nggak mau di curigai, jangan bikin masalah yang baru. Ingat, Papa bisa laporkan Mama ke polisi, Mama mau masuk penjara lagi!”


“Idih! Nggak mantu, nggak pemulung itu, kini suami sendiri pun bikin Mama kesal tau nggak!”


Mendengar ucapan Retno, Hermawan langsung menarik tangan istrinya, hingga Retno hampir saja terjatuh.


“Apa-apaan sih Pa?”


“Ooo, jadi Mama udah bikin ulah lagi di rumah Niko?”


“Siapa yang bikin ulah sih!”


“Jadi ngapain Mama kesana tadi?”


“Mama hanya ingin berkunjung aja kok.”


“Bohong!”


“Nggak percaya ya udah, di jelaskan gimana pun, Papa tetap nggak percaya bukan,” jawab Retno sembari meninggalkan suaminya sendirian.


“Mama sekarang udah jauh berubah, mau jadi istri durhaka ya?”


“Terserah!” jawab Retno dengan suara ketus.


Perginya Retno meninggalkan nya sendirian, Hermawan, langsung mengambil kunci mobil miliknya, lalu dia pun pergi meninggalkan Retno di rumah sendirian.


Retno yang mendengar deru suara mobil langsung berlari ke jendela, melihat siapa yang telah keluar rumah.


“Kurang ajar, ternyata kau mau cari gara-gara Hermawan!” gerutu Retno sembari mengepal tinju tangannya.


Setelah rasa sakit hatinya terobati, Retno langsung memeriksa lemarinya, karena di lemari itu, Retno menyimpan barang perhiasan yang telah di curi nya dari Intan menantunya sendiri.


Betapa terkejutnya Retno saat itu, karena semua perhiasan itu sudah tak ada lagi di lemari miliknya.


“Ya ampun, kemana perginya perhiasan itu? Apa aku salah menaruhnya?” tanya Retno pada dirinya sendiri.


Karena tak bertemu, Retno pun mengacak-acak semua barang yang ada di dalam lemari itu, bukan hanya itu, Retno juga membongkar semua pakaian yang ada di dalam lemari miliknya.


“Aduh kacau!” gerutunya. “Atau jangan-jangan perhiasan itu udah di kembalikan Hermawan pada Intan, itu sebabnya Niko melepas kan aku dari penjara, tanpa bicara sepatah pun. Oh kurang ajar!” ujar Retno sembari berjalan mondar mandir di teras rumahnya.

__ADS_1


.


__ADS_2