
Lalu keduanya langsung menuju ruang rawat Zaki, karena di kamar itu, semua penghuni rumah bisa terpantau.
“Maaf Pak, sepertinya cctv di kamar ini telah hancur terkena ledakan semalam.”
Karena tak ada barang bukti yang tertinggal, Alhuda langsung keluar rumah untuk melihat kamera yang di pasang, ternyata kedua kamera itu pun telah hancur terkena ledakan.
Di saat keluarga Mang Ojo berusaha menyelidiki kejadian yang baru mereka alami, tiba-tiba, Riza datang dengan membawa anak buahnya.
“Hei, keluarga resek! Mana istri saya Nurul, kalian jangan coba-coba menyembunyikan dia ya? akan ku bunuh kalian semua.”
“Siapa yang mau kau bunuh hah! Siapa?”
“Kalian semua yang berada di rumah ini!”
“Heh, emangnya kau ini siapa hah!” bentak Alhuda sembari menari kasar kerah baju milik Riza.
“Eh, jangan kasar-kasar dong Bang,” jawab Riza dengan gaya orang yang ketakutan.
“Puas kau telah membakar rumah saya, mau saya laporkan ke polisi?”
“Ah, maaf Bang, bukan saya pelakunya kok.”
“Bohong!”
“Hei, hei! Masih ada saya!” ujar kedua bodyguard Riza.
“Apa, kau kira aku takut dengan kalian!” ujar Alhuda seraya menantang kedua pria sangar itu.
“Ooo, kamu mau nantang ya!” ujar keduanya sembari ambil ancang-ancang untuk berduel.
Perkelahian pun tak dapat di elakkan lagi, Alhuda bersama kedua bodigart Riza main serang dan main pukul, di saat itu Mang ojo menelfon polisi, namun Riza yang melihat Mang Ojo menelfon seseorang, tangan nakalnya pun menarik baju Mang Ojo.
Pria gila itu menarik Mang Ojo, hingga terjatuh, Zakia yang melihat majikannya di perlakukan buruk mencoba mencari akal, ketika dia mendapatkan balok kayu, Zakia langsung menghantamkannya kepala Riza dari belakang.
Spontan hal itu membuat Riza tersungkur seraya meringis menahan rasa sakit, kesempatan itu di mamfaatkan Zakia untuk membawa Mang Ojo lari menjauh dari tempat itu.
“Aduh Kia, gimana dengan Alhuda?”
“Yang penting Bapak selamat dulu, urusan Alhuda kita minta tolong warga aja, untuk membantu.”
“Baiklah Kia,” jawab Mang Ojo bergegas pergi sembari menahan rasa sakit di lututnya akibat terjatuh.
Setiba di tempat yang ramai, Zakia langsung menjerit-jerit minta tolong, beberapa orang pria datang menghampirinya.
“Ada apa Bu, kenapa minta tolong?”
“Itu, Bang! Mereka semua mengeroyok adik saya,” ujar Zakia seraya menunjuk kearah pertengkaran Alhuda dengan dua bodyguard itu.
Setelah melihat hal itu, beberapa orang warga pun juga ikut datang membantu Alhuda yang di hajar oleh kedua bodyguard Riza tersebut.
sementara itu, dari samping mobil, Nampak Riza begitu menikmati adegan perkelahian itu.
Pria psikopat itu tampak tertawa dan bertepuk tangan kesenangan. Tapi setelah dia melihat beberapa orang warga datang berlari ke arahnya, Riza pun berhenti tertawa, dia lari ketakutan saat itu, begitu juga dengan kedua orang bodyguard itu.
Ketika hendak lari, Riza masih sempat bicara dengan lantang, kalau dia berjanji akan membunuh keluarga Mang Ojo satu persatu.
“Adek nggak apa-apa?” tanya seorang warga pada Alhuda yang tampak mengalami luka memar di wajahnya.
__ADS_1
“Alhamdulillah, untung saja, Abang dan semuanya segera datang, kalau nggak habislah aku di hajar oleh psikopat itu.”
“kenapa nggak lapor ke polisi?”
“Udah Bang, kami udah laporkan kejadian ini kepolisi, saya yakin yang melakukan peledakan rumah kami ini, pasti dia.”
Siang itu, Mang ojo dan Zakia langsung mereka hantarkan kerumah Intan, karena di sana mereka semua merasa aman.
Untuk yang kedua kalinya, Alhuda mendatangi kantor polisi lagi, dia melaporkan tentang penyerangan yang barusa dia alami.
“Kamu tau siapa pria itu?”
“Tau Pak.”
“Siapa?”
“Dia itu suami adik saya.”
“Suami adik anda?”
“Iya, Pak.”
“Apa motifnya, sampai dia menyerang anda.”
“Dia itu anak Pak Handoko, direktur PT Telkom.”
.
“Pak Handoko, setau kami, anak Pak Handoko itu yang pernah kami tahan, karena dia mengalami gangguan jiwa.”
“Jadi anak Pak Handoko itu mengalami gangguan jiwa?”
“Iya, Pak.”
“Riza pernah kami tahan karena telah membunuh Ibunya sendiri dan memutilasinya, setelah kami tahan lalu dia kami masukkan kerumah sakit jiwa untuk di rehabilitas. Karena dia menunjukan sikap baik, dan nggak pernah berkelakuan aneh, itu sebabnya dia di lepaskan kembali.”
“Tapi Pak, dia itu seorang psikopat, saya yakin pasti dia yang telah membakar rumah saya, karena waktu itu dia sempat mengancam adik saya untuk membakar rumah kami.”
“Benar begitu?”
“Benar Pak.”
Mendengar cerita dari Alhuda, polisi langsung bergerak menuju rumah mewah milik Handoko,
Ketika puluhan polisi datang memasuki halaman rumah mewah itu, Riza tampak memandangi nya dengan tersenyum manis, tak ada rasa bersalah dan rasa takut di hatinya saat itu.
Sementara itu Septi yang melihat puluhan orang polisi menangkap dan memborgol tangan Riza, dia bersembunyi ketakutan. Di saat polisi melihatnya ketakutan dan bersembunyi, polisi langsung menangkapnya.
“Mana Pak Handoko?”
“Dia lagi bertugas di kantor Pak,” jawab Septi gemetaran.
“Coba Ibu hubungi dia.”
“Saya nggak berani, Pak,” jawab Septi mencoba untuk berbohong pada petugas.
“Jangan cari alasan, kalau Ibu nggak ingin saya penjara!”
__ADS_1
“Bab, baik, Pak!” jawab Septi ketakutan.
Di dalam pengawasan polisi, Septi mencoba menghubungi majikannya yang saat itu sedang bertugas di perusahaan.
“Hallo, Assalamu’alaikum, tuan,” ucap Septi gugup.
“Wa’alaikum salam, ada apa Septi?”
“Di rumah ada banyak sekali polisi tuan, Den Riza udah mereka tangkap.”
“Aduh, pasti dia bikin ulah lagi!” teriak Handoko kesal.
“Saya nggak tau tuan, mereka semua menyuruh Tuan datang ke sini.”
“Baik, saya akan segera pulang, persilahkan mereka duduk, buat minuman, saya akan segera datang!”
“Baik Tuan,” jawab Septi sembari menutup telfonnya.
“Apa kata, Pak Handoko?”
“Tuan akan segera datang, Pak.”
“Bagus kalau begitu.”
“Tuan menyuruh saya membuatkan minuman untuk Bapak.”
“Nggak usah, karena saat ini kami sedang bertugas.”
“Baik, Pak.”
Sembari menunggu kedatangan Handoko, Riza mereka bawa kedalam mobil terlebih dahulu, sementara Septi tampak duduk diam di atas sofa.
“Apa kerja majikan mu sehari-hari?”
“Tuan setiap harinya mengurusin perusahaan, sedangkan den Riza, semenjak Non Nurul menghilang dia selalu saja membuat masalah, setiap hari ada saja benda yang dia rusak di rumah ini, bukan itu saja, Den Riza juga mengganggu rumah warga yang berada di sekitar sini.”
“Untuk apa dia mengganggu warga sekitar sini?”
“Den Riza mencari keberadaan istrinya yang lari dari rumah karena mereka bertengkar pak.”
“Den Riza mu itu kan orang gila, kenapa Pak Handoko memberinya kebebasan berkeliaran kemana-mana?”
“Saya nggak tau Pak, saya hanya melihat, kalau setiap hari, Pak Handoko selalu menyuntikan sesuatu ketubuh putranya itu.”
“Menyuntikan apa?”
“Saya nggak tau Pak.”
“Narkoba?”
“Saya nggak tau Pak!” jawab Septi semakin ketakutan.
Setelah sekian lama menunggu, tiba-tiba dari arah depan masuk sebuah mobil menuju kearah mereka semua berdiri.
Setelah memarkirkan mobilnya, Pak Handoko langsung turun, seraya menenteng tas kulit miliknya.
Bersambung..
__ADS_1
\*Selamat membaca\*