Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 145 Di hantui rasa takut


__ADS_3

Dua minggu setelah Bima bekerja di perusahaan milik Handoko, perusahaan Papanya mengalami gulung tikar, Mirwan dengan berbagai macam cara mencoba untuk menanggulangi semuanya, namun tetap saja tak berarti.


Handoko yang mendengar berita itu, langsung mengajak Nurul ke perusahaan milik Mirwan, dengan di damping Bima sekretaris pribadinya, yang tak lain adalah putra bungsu Mirwan itu sendiri.


Bersama dengan Nurul, Handoko mencoba mengadakan rapat terbuka bersama beberapa orang karyawan yang turut mewakili.


Dari perusahaan Handoko lah perusahaan milik Mirwan mencoba untuk bangkit kembali, Bima merasa senang, karena semua karyawan di perusahaannya tak jadi di PHK. Suntikan dana yang di berikan Handoko pada perusahaan Mirwan, ternyata berasal dari separoh saham milik cucunya Radit, yang saat itu telah berusia lima tahun.


Sementara itu, Handoko terus memantau kedekatan Bima dengan Nurul, semakin terlihat merapat, walau Nurul seorang janda, namun kecantikannya, belum ada yang menandingi, gadis-gadis yang selama ini di kenal oleh Bima.


Selain cantik, Nurul berbudi baik, tidak sombong dan mudah bergaul. Mesti pendiam namun Nurul sangat pengertian.


Karena melihat kedekatan mereka, Handoko langsung memanggil keduanya, karena dia tak ingin ada pihak ketiga yang akan andil dalam hubungan mereka.


“Papa memanggil kami?”


“Iya, silahkan masuk,” ujar Handoko dengan suara pelan.


Setelah duduk, keduanya saling beradu pandang, mereka merasa heran dengan tujuan Handoko memanggilnya berdua. Lama Nurul dan Bima duduk diam di hadapan Handoko, namun pria paruh baya itu tampak hanya diam saja.


Karena merasa resah, Nurul mencoba untuk angkat bicara, tapi Handoko telah lebih dahulu membungkam keinginan Nurul.


“Sebenarnya begini, nak. kau sama Riza kan udah lama berpisah, karena dia mengalami sakit, otomatis kalian telah resmi bercerai, jadi Papa mau menjodohkan kalian berdua, untuk dapat menikah.”


Mendengar perkataan Handoko, Nurul begitu terkejut, karena tak di sangkanya sama sekali, kalau Handoko berusaha keras mendekatkan mereka, dan bahkan akan menikahkan mereka berdua secepatnya.


“Bima, di perusahaan mu, ada suntikan dana dari perusahaan Bapak, sebenarnya dana itu berasal dari separoh saham milik putranya Nurul, yaitu Radit. Kalau kalian menikah, kalian bisa membangun perusahaan itu berdua.”


Nurul yang mendengar perkataan dari Handoko, tak kuasa untuk membendung air matanya, di peluknya Handoko dengan lembut.


“Kenapa Papa lakukan ini, Pa?” tanya Nurul penuh haru.


“Papa nggak mau menyiksa hidup mu, nak.”


“Tapi aku nggak merasa tersiksa, Pa.”

__ADS_1


“Kau masih muda sayang, kau harus dapatkan suami yang bertanggung jawab untuk membimbing masa depan mu, untuk melindungi putra mu dan melindungi kita semua, Bima anak yang baik sayang.”


“Tapi Pa?”


“Udahlah, sebenarnya ini semua rencana Papa, untuk mendekatkan kalian berdua, Papa ingin kau menikah dengan pria yang baik.”


Bukan hanya Nurul yang terharu, Bima juga ikut menangis, menyaksikan hal itu, dia juga tak menyangka sama sekali, kalau sekenario itu sengaja di buat oleh Handoko, agar keduanya bisa bersatu, dan menjalin mahligai rumah tangga yang harmonis.


Setelah mereka berdua sepakat untuk menerima tawaran dari Handoko, keesokan harinya, mereka bertiga langsung menuju rumah Mirwan, untuk membahas perjodohan antara Bima dengan Nurul.”


Setelah Handoko menyatakan niatnya pada Mirwan, ternyata keduanya sangat setuju dengan hal itu, bahkan Tinah merasa senang, kalau Nurul menikah dengan Bima, karena menurut cerita Bima, Nurul seorang wanita yang lembut dan baik.


Seperti ajaran kedua orang tuanya, Nurul tak pernah bersikap sombong walau dia memiliki saham yang banyak di perusahaan milik Handoko dan bahkan akan berlanjut pada perusahaan Mirwan, yang sedang mulai bangkit kembali.


Setelah semuanya sepakat untuk menjodohkan Nurul, maka Handoko dan Mirwan mendatangi Mang Ojo, dan menjelaskan semuanya.


Ketika cerita itu selesai di bahas, Mang Ojo dan Fatma sangat menyetujui ide itu, mereka pun akhirnya bekerja sama meresmikan hari pernikahan keduanya, Mang Ojo tampak tersenyum puas dengan kesepakatan kedua CEO itu.


Dua minggu setelah hari resepsi pernikahan Nurul selesai, Riza kembali keluar dari rumah sakit, walau saat itu Riza tak mengetahui pernikahan Nurul dengan Bima, namun Riza sengaja keluar untuk balas dendam pada keluarga Nurul.


Di hari Riza lari dari rumah sakit, siangnya beberapa orang dokter rumah sakit datang menemui Handoko, untuk mengabarkan perihal kejadian yang mereka alami.


“Dia mengalabui kami Pak, siang itu dia menangis histeris, dokter yang merawatnya telah datang untuk memeriksa keadaannya, namun Riza tak terlihat sedang sakit, tapi katanya dia merasakan sakit perut.”


“Lalu, kalian percaya begitu saja?”


“Dokter menyarankan agar Riza di bawa keruang perawatan, di saat itulah, Riza mencoba untuk kabur dan menyandra seorang perawat kami Pak.”


“Gimana dengan perawat itu saat ini?”


“Dia mengalami kritis dirumah sakit Pak, karena Riza menusuk perutnya berulang-ulang kali dengan kawat.”


“Oh, ya Allah! bagai mana lagi caranya agar anak itu bisa di kendalikan,” ujar Handoko mengeluh.


“Kami semua udah berusaha Pak.”

__ADS_1


“Yang saya takutkan saat ini, Nurul dan cucu saya, karena Riza sangat anti pada mereka berdua.”


“Kalau begitu, sembunyikan Nurul dan cucu Bapak, agar Riza tak melihat keberadaan mereka berdua, sampai kami menemukan kembali putra Bapak itu.”


Setelah Handoko mendapatkan cara, lalu Nurul bersama Radit mereka antar kerumah Mirwan dan untuk sementara Nurul belum di izinkan bekerja di perusahaan.


Pagi itu, saat Nurul tak di izinkan Handoko bekerja, sebenarnya Nurul merasa heran sekali, takut ada kesalah yang telah di lakukannya di perusahaan, ingin sekali Nurul bertanya pada Handoko, namun dia tak berani.


“Kemasi pakaian mu, nak,” ujar Handoko pada Nurul.


“Baik, Pa.”


“Jangan lupa dengan pakaian Radit, bawa semuanya, cepat pagi ini kita akan nginap di rumah mertua mu.”


“Sebenarnya kita mau kemana sih Pa? kok bawa pakaian segala?” tanya Nurul heran.


Walau terdengar jelas oleh Handoko apa yang di tanyakan Nurul padanya, namun Handoko tetap diam, bukan hanya Nurul dan Radit yang di suruh beres-beres, Rohana juga di perintahkan Handoko untuk segera berkemas-kemas.


Di saat di luar masih gelap, Handoko pergi meninggalkan rumahnya bersama Nurul dan cucu satu-satunya. Di atas mobil tampak semuanya hening tak bersuara, Handoko terlihat begitu fokus pada laju kendaraanya saat itu.


Setiba di depan rumah Mirwan, mobil langsung di arahkan Handoko ke parkiran, Tinah yang melihat Handoko datang bersama Nurul, langsung datang menyambut mereka semua.


“Ayo masuk! Saya udah lama menunggunya lho!” ujar Tinah pada Handoko.


Nurul yang belum mendapatkan dengan jelas, tentang masalah yang terjadi, hatinya hanya bisa menebak-nebak, hal yang belum pasti.


Setelah mereka semua masuk, barulah Handoko bicara tentang semuanya, di sanalah Nurul baru mengetahui, ternyata Handoko sengaja mengungsikan mereka demi keselamatan Radit dan dirinya sendiri.


“Kenapa Papa nggak bilang sih, Pa?”


“Nggak perlu sayang, yang penting kau dan putramu selamat.”


“Emangnya kapan Riza lari dari rumah sakit Pa?”


“Kemaren Pagi, tapi Papa nggak tau di mana dia saat ini.”

__ADS_1


Bersambung...


\*Selamat membaca\*


__ADS_2