Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 135 Bersembunyi


__ADS_3

“Udah selesai Bu,” jawab Nurul pelan, sembari menyusun piring bekas makannya.


“Nggak usah di susun, biar Ibu aja yang kerjakan, kamu jaga anak aja.”


“Terimakasih Bu, Ibu telah berbuat baik pada ku.”


“Ibu senang membantu mu, nak. karena selama ini, Ibu hanya hidup seorang diri, Ibu butuh teman yang bisa di ajak bicara di rumah ini.”


“Emangnya Bapak kemana Bu?”


“Suami Ibu udah lama meninggal nak.”


“Ibu nggak punya anak?”


“Ada, tapi mereka juga udah meninggal dua tahun yang lalu.”


“Kenapa Bu?”


“Dia meninggal karena ugal-ugalan di jalan, akhirnya sepeda motor yang dia kendarai di tabrak, oleh mobil.”


“Maaf ya Bu, aku udah membuka luka lama Ibu kembali.”


“Nggak sayang, Ibu merasa senang malah, karena dapat berbagi cerita dengan kamu.”


Mendengar ucapan Rohana, Nurul hanya tersenyum manis, senyum yang sudah lama tak pernah terlihat malam itu mulai terkuak.


“Sekarang tidurlah, biar kondisi tubuh mu agak sedikit segar.”


“Terimakasih Bu.”


Rohana yang melihat Nurul telah tertidur, dia langsung pergi kekamar mandi dan mengambil satu timba air untuk di campurkan dengan air panas.


Air itu di gunakan Rohana untuk membersihkan tangan dan kaki Nurul yang terlihat sedikit kotor dan kena bercak darahnya sendiri.


“Ibu!” ujar Nurul di saat dia tersentak ketika Rohana membersihkan kakinya yang kotor.


“Udah! Tidur aja, nanti kalau nggak Ibu bersihkan, kamu bisa mimpi buruk lho.”


“Tapi Bu,” ujar Nurul sembari duduk di hadapan Rohana.


“Kenapa mesti duduk sayang, tidur aja, tinggal sedikit lagi kok.”


“Aku jadi nggak enak sama Ibu, karena Ibu begitu baik pada ku.”


“Ibu udah nggak punya siapa-siapa lagi di dunia ini nak, kalau kamu mau jadi anak angkat Ibu, hati Ibu pasti senang sekali.”


“Mau Bu, mau!” jawab Nurul tersenyum manis.

__ADS_1


“Alhamdulillah,” jawab Rohana senang.


Di saat hati Nurul senang, tinggal bersama perempuan tua itu, Pak Handoko bersama putranya Riza begitu sibuk mencari keberadaan Nurul yang kabur dari rumah.


Setiap rumah, gang sempit dan bahkan Lorong serta bantaran sungai pun telah mereka cari semuanya, Pak Handoko mengerahkan begitu banyak anak buahnya untuk mencari keberadaan Nurul yang hilang.


Sore itu Pak Handoko bersama Riza mendatangi Kawasan kumuh untuk mencari keberadaan Nurul yang hampir tiga hari tak pulang kerumah.


“Jadi putri saya menghilang?” tanya Mang Ojo setengah berteriak.


“Benar Pak, udah hampir tiga hari Nurul menghilang.”


“Apakah ada masalah dengan mereka berdua Pak?” tanya Fatma yang juga ikut bicara di antara pembicaraan mereka berdua.


“Nggak Bu, pernikahan mereka berjalan normal kok, bahkan Riza begitu menyayangi istri dan anaknya itu.”


“Kalau kalian memang saling sayang, kenapa Nurul mesti kabur, dari rumah mu?”


“Itulah yang membuat aku nggak mengerti Bu,” jawab Riza dengan gamblangnya.


Walau Riza bicara dengan santai dan tenang, namun Fatma tak percaya dengan mudah, otaknya yang lincah langsung berfikir, bahwa telah terjadi sesuatu pada pernikahan putrinya.


“Jadi Nurul udah pergi selama tiga hari dari rumah Bapak?”


“Iya, Bu.”


“Udah, bahkan hampir semua anak buah saya udah saya kerahkan untuk mencari keberadaan Nurul Bu.”


“Celaka, kemana perginya nak ku itu Pak!” ujar Fatma pada Mang Ojo.


“Apakah Nurul pergi dengan membawa ponselnya Pak?”


“Nggak Bu, bahkan Nurul keluar rumah hanya memakai pakaian tidur saja.”


“Lalu bagai mana dengan pakaian bayinya?”


“Bayinya bahkan nggak mengenakan pakaian sama sekali Bu.”


Mendengar penjelasan dari Handoko, berarti mertua Nurul itu telah berbohong, kalau keluarga putrinya berada dalam keadaan aman.


Karena sebelum Nurul meninggalkan rumah, Fatma pernah berpesan pada dirinya, kalau terjadi sesuatu pada dirinya, Nurul di suruh Fatma berlari sejauh mungkin, hingga Handoko kesulitan untuk mencari dirinya.


Setelah Handoko dan Riza kembali pulang, Fatma mencoba menghubungi keempat orang anaknya, untuk membahas masalah Nurul yang lari dari rumah Handoko.


“Kapan dia keluar dari rumah itu Pak?” tanya Alhuda ingin tau.


“Kata Pak Handoko, Nurul pergi udah tiga hari yang lalu, dan belum kembali hingga hari ini,” jelas Mang Ojo pada keempat anak-anaknya.

__ADS_1


“berarti telah terjadi sesuatu pada Nurul, makanya dia melarikan diri dari rumah.”


“Ya, Bapak begitu yakin sekali, pasti telah terjadi sesuatu pada adik kalian itu.”


“Emangnya Nurul nggak bekerja lagi di perusahaan itu, Bu?”


“Adikmu, udah berhenti bekerja semenjak dia hamil tiga bulan, Pak Handoko yang melarang, tapi mesti Nurul udah nggak bekerja, Pak Handoko masih tetap menggaji Nurul perbulannya seperti yang telah dia terima selama ini.”


“Kalau begitu, baiklah. Akan kita cari Nurul sampai ketemu.”


Malam itu juga Alhuda berangkat bersama Dika, sementara Niko berangkat bersama Zaki, mereka berpencar, menyusuri jalan yang ramai dan padat penduduknya itu.


Hingga jalanan sepi pun, Nurul belum juga mereka ketemukan, tapi mereka berempat yakin, kalau Nurul pasti bersembunyi di tempat yang aman.


Setelah malam itu mereka tak berhasil mencari keberadaan Nurul, pencarian di lanjutkan esok harinya, di perjalanan Zaki bertemu dengan Riza yang saat itu juga ikut mencari keberadaan Nurul.


Bola mata yang bulat itu menatap tajam kearah Zaki yang tampak dian di atas mobil pribadinya.


Melihat Zaki diam di atas mobilnya Riza datang menghampiri Zaki, dan menarik rambut Zaki dari belakang, Zaki benar-benar terkejut di buatnya, karena saat itu dia tak siap kalau ada Riza yang akan menyerangnya secara tiba-tiba.


“Jika kau nggak menemukan Nurul, akan ku bakar rumah orang tua mu itu!” ancam Riza pada Zaki.


Niko yang melihat Riza menarik rambut Zaki, langsung datang menghampirinya, dan mencoba untuk memisahkan mereka berdua, bukannya dapat memisahkan mereka, Niko justru terpental begitu jauh oleh Riza.


“Dasar Psikopat idiot!” teriak Niko yang mencoba untuk mendorong tubuh Riza dari hadapan Zaki.


Setelah selesai menarik rambut Zaki dan mengancamnya, Riza bersama anak buahnya langsung pergi meninggalkan mereka berdua.”


Di lihat dari penampilannya, Riza terlihat lembut dan seperti orang pada umumnya, tak ada menunjukan kalau dia itu memiliki jiwa yang labil dan tak terkendali.


“Kamu nggak apa-apa, Ki?” tanya Niko sembari memperbaiki rambut Zaki yang rusak karena di Tarik Riza.


“Pria macam apa yang telah nikahkan dengan Nurul itu, Bang, dia bukan hanya seorang psikopat, tapi dia itu orang gila.”


Karena mereka semua merasa kesulitan menemukan Nurul, mereka pun akhirnya kembali pulang kerumah, malam itu Zaki menceritakan kepada Alhuda dan yang lainnya, tentang ancaman Riza pada dirinya.


“Jadi Riza bilang begitu pada diri mu?”


“Iya, Bang, bahkan Riza menarik rambut ku kebelakang secara tiba-tiba.”


“Adik kita itu orang pintar dek, Abang yakin, pasti sekarang ini, dia bersembunyi di suatu tempat, yang menurutnya Riza nggak akan pernah kesana.”


“Iya, Bang. Aku juga yakin itu kok.


“Jadi untuk sementara ini, kita hanya fokus menunggu hari yang tepat untuk menanti kepulangan Nurul kerumah ini, dan menjaga rumah orang tua kita ini, dari ancaman Riza .


Bersambung...

__ADS_1


\*Selamat membaca\*


__ADS_2