Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 76 Menemukan jalan buntu


__ADS_3

Melihat Gita menangis tersedu-sedu, Ibu itu pun ikut bersedih di buatnya, dengan tenang, di ajaknya Gita duduk dan ngobrol bersamanya.


“Nah coba kamu ceritakan semuanya pada Ibu, siapa tau Ibu punya solusi untuk jalan keluar mu.


“Nggak ada yang bisa ku ceritakan Bu, semuanya udah final.” Jawab Gita datar.


“Allah menciptakan satu masalah, dan disalurkan pada hati manusia, semua itu pasti ada alasannya, akan tetapi, kita tak menyadarinya, sehingga kita berputus asa untuk menghadapinya.”


Gita tak menjawab, dia hanya diam saja dan menyimak pengajaran apa yang di masukan Ibu itu kedalam hatinya.


“Hikmah di balik masalah itu, pasti sudah di tetapkan Allah pula, apa dan bagai mana.”


“Aku ini seorang non muslim Bu, aku punya kekasih seorang dokter, dia orang baik, dan santun dalam bicara, akan tetapi dia beragama Islam, dalam Agamanya melarang menikah dengan orang yang berlainan akidah.”


“Ya itu benar !” jawab Ibu itu seraya menganggukkan kepalanya.


“Masalahnya sekarang, kedua orang tua ku nggak merestui aku untuk masuk kedalam Agama yang di anut oleh kekasih ku.”


“Kamu udah bicara baik-baik pada orang tua mu sayang ?”


“Udah Bu ! bahkan dia menyuruh agar mengajak kekasih ku untuk menganut agama kepercayaan kami.”


“Apakah kekasih mu mau ?”


“Nggak Bu.”


“Kenapa ? pasti dia punya alasannya sendiri kan ?”


“Iya Bu, menurut kekasih ku, seorang pemimpin itu akan di pertanggung jawabkan nantinya tentang kepemimpinannya, jika seorang pemimpin dengan mudahnya beralih akidah, lalu bagai mana pula dengan orang yang akan dipimpinnya nanti. Pasti semuanya jadi kacau.”


“Ya, benar sekali, berarti kekasihmu itu orang yang memiliki akidah yang kuat, Ibu suka sekali pada pria seperti itu.”


“Tapi keluarga ku menanggapinya, dengan hal lain Bu ?”


“Apa kata kedua orang tua mu ?”


“Jika saja, kekasih mu itu menghormati ajaran nenek monyangnya, kita mesti demikian juga dong ! kita kan juga punya leluhur yang harus kita ikuti ajarannya.”


“Kalau begitu, kamu teruslah berusaha untuk membujuknya, karena hanya itu jalan yang terbaik yang masih kau punya. Bicaralah dengan lembut, dari hati ke hati.”


“Baiklah Bu, akan aku coba.” Jawab Gita pelan.


“Nah, sekarang pulanglah kerumah, Ibu akan pergi dulu.”

__ADS_1


“Iya Bu.” jawab Gita yang saat itu juga berjalan menuju rumahnya.


Setiba di depan rumah, Ahong telah berdiri di depan pintu. Dia begitu berharap agar putrinya menegurnya saat itu, akan tetapi harapan itu telah sirna, karena Gita masuk tampa bicara sepatah pun pada Papanya itu.


Leni yang melihat kekecewaan di hati suaminya, mencoba untuk tetap bersabar dan tak langsung terbawa emosi.


Akan tetapi setelah Gita masuk kedalam kamarnya, dia tak pernah muncul lagi, Ahong dan Leni merasa sedih, karena putrinya tak memandang dirinya sama sekali.


Akan tetapi Leni tak ingin Gita sakit, dia pun menggedor-gedor pintu kamar Gita dan menyuruhnya keluar.


“Gita ! Gita sayang ? apakah kau nggak makan nak ?”


Gita diam saja, meskipun saat itu dia mendengar jelas, suara Mamanya yang sedang memanggil dirinya. Lalu dengan paksaan Leni mencoba mendorong pintu itu dari luar, akan tetapi ternyata pintu itu lebih kuat dari keinginan nya untuk masuk.


“Kenapa kau lakukan semua itu pada kami nak ?”


“Mama jahat !” seru Gita dari dalam kamarnya.


“Jahat kenapa ?”


“Kenapa Mama nggak izinkan Gita menikah dengan Bang Zaki.”


“Mama memngizinkanmu sayang ! tapi jangan pindah Agama dong ! kan kamu bisa cari pria yang satu kepercayaan dengan kita ! nggak mesti dr. Zaki itu kan sayang.”


“Aduh ! Gita ! di dunia ini kan bukan Cuma Zaki yang ada, masih banyak kan pria yang lain yang tampan dan baik hati !”


“Mama lupa ya ! kalau rumah tempat kita tinggal ini, adalah pemberian Bang Zaki pada kita, agar kita bisa hidup layak dan nggak ngontrak rumah lagi, tapi apa balasannya Ma, kita telah mengecewakannya. Aku hanya minta restu dari Mama saja, nggak lebih.”


“kalau menikah dengan Zaki, akan Mama restui, tapi kalau kau mau beralih kepercayaan hanya karena ingin menikah dengan Zaki, Mama nggak izinkan !” tegas Leni saat itu pada putrinya.


Setelah Mamanya memberi keputusan yang sangat berat, Gita tak mau lagi membantahnya, karena saat itu, Gita sudah tak punya alasan lagi.


Malam itu cuaca sangat dingin sekali, namun Gita tak bisa tertidur, pikirannya selalu tertuju pada Zaki yang selama ini telah menjadi beban berat dalam hidupnya.


Bukan hanya Gita yang menanggung beban berat itu, Zaki yang tampak kuat di hadapan Gita, dia juga merasakan hal yang sama, di tengah malam Zaki sering menangis pilu, di cobanya untuk menahan isak tangis, agar tak terdengar oleh keluarganya.


Rasa sedih yang dialaminya, tak bisa untuk diuraikan dengan kata-kata, karena kesalahannya bukan karena kedua orang tuanya yang tak setuju, akan tetapi semua itu karena Agama mereka yang berbeda.


Tak ada jalan keluar yang dapat menyelesaikannya, karena ajaran dan Agama seseorang menjadi hal yang paling di prioritaskan dalam hidup ini.


Dua hari Gita tak datang kerumah sakit, tak ada keterangan yang menyatakan tentang ke alfaannya. Zaki yang selalu menantikan kehadirannya tak berani menemuinya.


Sementara itu Mang Ojo dan Fatma yang berada dirumah, juga merasa Iba dengan kondisi putranya, karena sudah beberapa hari dia sakit karena terlalu memikirkan kekasihnya itu.

__ADS_1


“Gimana keadaan Zaki Pak ?” tanya Alhuda pada Bapaknya.


“Tuh, masih kelihatan lemas.”


Mendengar penjelasan dari Bapaknya, Alhuda langsung masuk kedalam kamar Zaki, benar saja, di dalam kamar itu Zaki hanya diam saja, adik yang dulunya sangat ceria, tiba-tiba saja jadi pemurung.


“Hai !” sapa Alhuda sembari memegang keningnya.”


“Bang !” jawab Zaki. Dengan suara pelan.


“Kenapa dek, belum ada keputusan tentang Gita ?”


“Belum Bang, dia pun udah hampir seminggu nggak masuk kerja.”


“kenapa ? apakah kau udah melihat keadaannya.”


“Aku belum kesana Bang.”


“Kenapa nggak kesana ? kalau kau kesana kan, kau tau gimana keadaannya saat ini.”


“Aku nggak berani, Bang.”


“Gimana kalau Abang menyuruh kak Ranita kesana ?”


“Ngapain ? nanti ketahuan, kan gawat.”


“Nggak ! kak Ranita mu itu kan udah profesional !”


“Iya, tapi kalau ketahuan gimana ?”


“Tenang aja dek, Abang jamin, kakakmu nggak bakalan gagal.”


“Terserah Abang ajalah.”


“Ya, gitu dong !”jawab Alhuda tersenyum lebar.


Benar saja, siang itu Ranita langsung mendatangi rumah Gita, yang jaraknya tak begitu jauh dari rumah sakit tempat dia bertugas.


Karena Ranita tau, kalau penghuninya bukan beragama Islam, itulah sebabnya, Ranita tak mengucapkan salam saat hendak mengetuk pintu rumah itu.


“Tok, tok, tok ! permisi ! halo ada orang dirumah ?” tanya Ranita yang terus memanggil-manggil penghuninya.


“Sebentar !” jawab seorang Ibu dari dalam rumah itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2