
“Kan aku udah mau menyusun, sebentar lagi juga wisuda, kalau kamu kuliah lagi, berarti masih lama dong kita nikahnya.”
“Ah, ngaco kamu, masa kamu mau nyusun skripsi, sementara kuliahmu baru empat semester?”
“Habis, kamu bikin aku nggak sabaran deh,” ujar Randi dengan suara serak.
“O iya, Ran. Kapan kamu mau kesini?”
“Rencana dalam minggu ini, kenapa?”
“Nggak sih, tapi kalau menurut aku, kamu datangnya minggu depannya satu lagi aja.”
“Lhoh kok gitu?”
“Kan dalam minggu itu, aku mau wisuda.”
“Ooo, gitu ya, ok lah kalau begitu, insya Allah, aku akan datang kesana.”
“Janji ya.”
“Iya, percaya deh, aku akan datang.”
“Ya udah, ku tunggu ya.”
“Ok.”di saat mereka selesai bicara, Bu Zakia datang menghampiri Nurul di balkon rumahnya.
“Neng, di panggil Bapak,” ujar Zakia pada Nurul.
“Oh, baiklah! Apakah semuanya udah hadir Bik?”
“kayaknya udah Neng.”
“Makasih ya Bik, sebentar lagi aku datang,” ujar Nurul pada Zakia.
Setelah menyampaikan pesan dari Mang Ojo untuk Nurul, Zakia langsung pergi kedapur untuk membuatkan minuman bagi anggota keluarga yang saat itu sudah berkumpul.
“Ada apa ya, Pak. Kita semua berkumpul?”
tanya Alhuda pada Bapaknya.
“Ini, mengenai, adikmu Nurul, dia ingin melanjutkan kuliahnya ke Bandung, untuk mencari S2.”
“Benar itu dek?” tanya Zaki pada Nurul.
“Rencana begitu Bang, itu pun kalau ada biaya untuk melanjutkannya,” jawab Nurul pelan.
“Kalau soal biaya, kita bisa atur kok, asalkan Nurul benar-benar berniat untuk melanjutkan kuliahnya,” ujar Alhuda.
“Benarkah itu Bang?” tanya Nurul tak percaya.
“Benar, sayang.”
“Kalau Alhuda udah menyanggupinya, gimana dengan yang lainnya?”
“Kami semua setuju Pak, kalau Nurul memang ingin melanjutkan kuliahnya, soal biaya kita semua bisa atur kok,” timpal Dika, menyanggupi keputusan yang telah di buat.
“Baiklah semuanya sudah diel bukan, jadi keputusannya, tinggal pada Nurul, kapan rencananya mau berangkat,” ujar Mang Ojo.
“Kalau berangkatnya sih, sesuai dengan jadwal, kapan kampus buka pendaftaran maha siswa baru.”
__ADS_1
“Ooo, gitu. Ya udah, semuanya cukup untuk hari ini, Bapak sangat senang sekali, karena kalian semuanya masih berlapang dada dalam membantu, sesama kalian, karena di usia Bapak yang udah lanjut begini, Bapak ingin semuanya damai.
Ketika sedang asik menikmati menu malam yang di hidangkan Leni dan Zakia, tiba-tiba saja dari luar gerbang, ada seorang anak panti yang datang dengan tergesa-gesa.
Nafasnya begitu sesak sekali, Dika yang sangat mengenalinya, langsung berdiri dan menghampiri anak itu.
“Kamu! Ngapain kesini sayang?” tanya Dika heran.
“Bawa duduk dulu Dika, dia itu kan baru berlari, beri dia minum dulu,” kata Mang Ojo sembari menyuguhkan segelas air pada anak itu.
“Nah, minumlah dulu,” ujar Dika pelan.
Setelah selesai minum, barulah Dika bertanya tentang kedatangannya, kerumah Mang Ojo yang jaraknya cukup begitu jauh sekali.
“Kamu kesini, naik apa sayang?” tanya Dika ingin tau.
“Berlari, Pak!”
“Sejauh itu?”
“Iya, Pak.”
“Kan di Panti ada mobil, kenapa nggak naik mobil aja?”
“Pak Rafi nggak ada di Panti, Pak.”
“Kemana Dia?”
“saya nggak tau, Pak.”
“Baiklah, sekarang coba kamu jelaskan ke Bapak, apa tujuanmu berlari sejauh itu?”
“Tesa, Pak!”
“Dia melompat dari lantai tiga, panti Asuhan pak,” jawab Tito dengan suara datar.
“Apa! Tesa melompat dari lantai tiga?”
“Iya, Pak.”
“Oh, ya Allah!” teriak Dika sembari berlari keluar rumah, di ikuti Mang Ojo dan yang lainnya.
Tanpa berfikir panjang lagi semuanya bergegas menuju panti. Di perjalanan hati Dika menjadi tak tenang, dia selalu berfikir sendiri, kenapa Tesa sampai bunuh diri.
“Oh, ya Allah, apa yang terjadi pada Tesa, sehingga dia bunuh diri ya?” tanya Dika pada dirinya sendiri.
Setelah mobilnya di belokan arah parkiran, Dika langsung turun dari mobilnya, dia begitu cemas sekali saat melihat banyak darah berserakan di depan panti asuhan itu.
Dengan rasa sedih yang teramat sangat, Dika memeluk tubuh Tesa, air matanya mengalir sederas darah yang mengucur dari kepala Tesa.
“Oh, tidak!” teriak Dika sembari terus memeluk tubuh Tesa yang sudah tak bernyawa.
Mang Ojo yang menyaksikan hal yang sangat memilukan itu, air matanya juga turut mengalir membasahi kedua pipinya yang keriput.
Kejadian miris itu, membuat hati semua orang menjadi pilu, air mata tertumpah ruah kebumi saat itu. Tubuh Tesa di bawa Dika kedalam rumahnya, diatas Kasur yang beralaskan perlak, Dika menaruh jasad Tesa di atasnya.
Semua anak-anak panti menyaksikan kejadian itu secara bersama sama, mereka tak henti-hentinya menangis.
Di aula rumah mewah itu, Dika duduk bersimpuh di hadapan jasad Tesa yang sudah mulai kaku.
__ADS_1
“Gimana kejadiannya tadi Bu, kok bisa Tesa melompat dari panti?” tanya Dika pada pembantu Panti.
“Tesa udah dua kali ingin melakukan bunuh diri Pak, tapi selalu di cegah oleh Ririn.”
“Ririn? Mana Ririn, suruh dia kesini!” ujar Dika pada anak-anak panti.
“Tito, yang merasa mengetahui Ririn di mana, dia langsung saja berlari mencari Ririn.
“Tito, ngapain kamu disini?” tanya Ririn saat melihat Tito menghampiri dirinya.
“Kamu di panggil Pak, Dika!”
“Buat apa?”
“Nggak tau,” jawab Tito seraya mengangkat kedua bahunya.
“Semestinya Pak Dika senang kan, kalau Tesa udah meninggal?”
“Maksud mu apa Rin?”
“Kamu tau sendirikan, kalau Tesa itu butuh perhatian kusus dari Pak Dika, tapi dia nggak pernah datang ke panti ini, dia selalu saja sibuk dengan urusan pribadinya.
“Kenapa kau berfikiran seperti itu Rin?
Bukankah Pak Dika itu baik, untuk orang seperti kita ini, udah syukur, Pak Dika mau merawat kita, memberi kita tempat berteduh, makan dan minum gratis, kita juga nggak perlu mengemis di jalanan lagi kan.”
“Itu menurut pendapat mu, kan Tito, kami para perempuan nggak sama dengan kalian para pria.”
“Udah-udah! Sekarang datanglah kerumah Pak Dika, kau dipanggilnya saat ini.”
“Ogah!” jawab Ririn polos.
Mendengar jawaban dari Tesa, Tito tak dapat berbut apa-apa, dia pun kembali menemui Dika yang masih berduka diruang aula.
“Mana Ririn, Tito?”
“Dia nggak mau datang Pak,” jawab Tito lantang.
“Kenapa, apakah ada masalah dengan nya?”
“Aku nggak tau pak.”
“Baiklah, biar Bapak sendiri yang kesana,” jawab Dika yang keluar untuk menemui Ririn yang saat itu sedang bersedih.
Dika yang melihat Ririn duduk mengarah kearah bulan yang sedang bersinar terang, hatinya juga sedih sekali saat itu, dengan pelan dihampirinya Ririn yang diam.
Seraya sama-sama mengarah kearah buan yang sedang bersinar terang, Dika mencoba bicara pada Ririn dari hati ke hati.
“Kamu tau, kenapa Tesa bunuh diri sayang?”
“Nggak!” jawab Ririn spontan.
“Kenapa harus di sembunyikan, bukankah duka Tesa juga duka kita bersama kan?”
“Itu kan kata Bapak, tapi kami nggak merasa, kalau Bapak ikut menanggung duka yang kami rasakan.”
“Apa maksud mu sayang?”
“Kami ini perempuan Pak, usia kami juga bukan anak-anak lagi? Dan bahkan kami ini sudah menanjak dewasa!”
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*