
Setelah dr. Defi bersedia pulang bersama keluarga Mang Ojo, Zaki pun membantu mengangkat barang bawaan dr. Defi.
“Ow, berat juga ternyata !” kata Zaki saat dia mengangkat koper milik dr. Defi.”
“Nggak kuat ya ?” tanya dr.Defi seraya membantu Zaki mengangkat koper miliknya.
Di saat mereka berdua sama-sama hendak mengangkat koper itu, tanpa sengaja kepala mereka berdua beradu, sehingga dr.Defi berteriak.
“Aduh ! sakitnya !”
“Oh, maaf ! nggak sengaja.” Jawab Zaki pada dr. Defi yang saat itu masih menggosok keningnya yang sakit.
“Itu berarti kalian itu udah sehati !” kata Mang Ojo, yang masuk di antara mereka berdua.
Mendengar Mang Ojo bicara, Zaki langsung melirik pada Bapak nya, namun Mang Ojo berlagak seperti orang yang tak pernah mengucapkan kata apapun.
Sementara itu dr. Defi kelihatan begitu malu, sehingga di balik senyumannya yang manis, terbayang warna merah merona di kedua belah pipinya.
Zaki yang memandang dr. Defi saat itu, tersentak hatinya, namun dia diam saja, karena tak mungkin baginya beralih pandangan hanya dalam sekejap saja.
“Kalau begini terus, kayaknya kita nggak bakalan pulang kerumah nih !” kata Dika yang saat itu sudah berada di dalam mobilnya.
“Sabar dek ! ini baru permulaannya lho !”
sambung Ranita yang masih berada di dekat mobil Dika.
“Selanjutnya terserah anda !” seru Alhuda sembari menimpali pembicaraan Dika dan Ranita.
Mendengar semuanya sudah berkomentar, Zaki dan dr. Defi hanya tersenyum-senyum simpul.
Seraya menghampiri mobil miliknya, Fatma pun ikut-ikutan nimbrung di dalamnya.
“Biasanya, cinta suci itu berawal dari pandangan pertama lho, sayang !”
“Hahahaha !” semuanya pun ikut tertawa senang.
“Ya udah kita berangkat !’ kata Dika sembari tersenyum lebar.
Setelah mengatur para penumpang di dalamnya, mobil mereka bertiga pun melaju dengan tenang di jalan raya. Mang Ojo dan Fatma memberi kesempatan pada Zaki untuk saling bertukar pikiran berdua di dalam mobilnya.
Meski telah di beri kesempatan untuk saling bertukar pikiran, namun Zaki dan Defi tak mau melakukannya, di dalam mobil itu, mereka saling diam dan membisu, karena menurut mereka tak ada masalah yang perlu di bahas.
__ADS_1
Setenang hati Zaki saat itu, mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, Defi yang belum pernah ke Jakarta, matanya begitu tajam melihat semua yang telah di lewatinya.
Di saat sedang asik menikmati pemandangan kota Jakarta, tiba-tiba saja mobil Zaki berbelok kesebuah Rumah yang sangat mewah dan indah.
“Kita udah nyampe ! ayo turun !” ajak Zaki pada Defi yang saat itu masih merasa bingung.
“Kok berhenti disini ?” tanya Defi heran.
“Ya, ini rumahnya !” jawab Zaki polos.
“Ini rumahmu ?” tanya Defi tak percaya.
“Iya ! kenapa emangnya ?”
“Waah ! rumah mu mewah sekali !”
“Ah biasa aja ! mungkin lantaran kamu baru kali ini melihatnya, maka kamu agak sedikit sock.” Jawab Zaki tenang.
Seraya menurunkan barang bawaan Defi, Zaki pun menggandeng tangan perempuan itu, untuk masuk kedalam.
“Silahkan masuk nak Defi !” ajak Fatma pada Defi yang saat itu masih malu.
Lalu Defi di izinkan oleh Fatma untuk duduk dan beristirahat di kamar tamu. Defi diam saja dia hanya mengikuti apa yang di katakan Fatma kepadanya.
“Di sini nggak usah malu-malu, anggap saja ini rumah sendiri.”
“Iya, Bu.” jawab Defi pelan.
“Nanti setelah ganti pakaian, langsung aja kebawah, kita akan makan bersama.”
“Baik Bu.” jawab Defi. Sembari mencoba merebahkan tubuhnya di atas Kasur milik Fatma.
Walau orang tua Defi adalah orang yang mampu dan berada, namun dia masih kalah mewah di bandingan dengan keluarga Mang Ojo.
Setelah berganti pakaian, Defi pun turun kebawah, seperti yang telah di instruksikan oleh Fatma sebelumnya.
Saat hendak memasuki ruang makan, Defi begitu terkejut sekali, karena diruangan itu semuanya sudah hadir dan duduk tenang menanti kedatangannya.
Melihat semua orang mengarah padanya, Defi merasa sedikit malu, karena saat itu dia telah menjadi pusat perhatian semua orang.
“Silahkan duduk nak !” kata Mang Ojo dengan suara lembut.
__ADS_1
“Baik pak !” jawab Defi yang saat itu langsung duduk diam.
Setelah mereka sama-sama duduk, lalu Dika memimpin do’a saat itu, dan seluruh anggota keluarga mengaminkannya dengan serentak, termasuk Defi yang saat itu telah hadir bersama mereka.
Setelah selesai berdo’a, lalu Zaki berdiri dan mengisi nasi kepiring masing-masing, Defi yang melihat hal itu merasa aneh sekali, karena selama ini, dia makan kadang berjalan dan kadang sambil berlari, sehingga nasi pun sering berserakan di mana-mana.
Ketika nasi itu hendak di sendokan kepiring Defi, gadis itu langsung menariknya, dia merasa malu pada Zaki yang telah menyendok kan nasi ke piringnya.
“Biar aku sendiri yang menyendok nya !” ucap Defi, seraya melirik kearah Zaki.
Walau Defi udah melarangnya, namun Zaki tetap mengambil piring itu dari tangan Gita, dan mengisinya dengan nasi sesuai dengan porsinya masing-masing.
Mang Ojo dan yang lainnya hanya melihat saja, apa yang terjadi di antara mereka berdua.
Sebenaranya Defi merasa heran sekali, di ruangan sebesar itu dia melihat meja makan yang sangat besar serta di kelilingi oleh kursi yang begitu banyak.
Akan tetapi setelah nasi terletak di hadapan masing-masing, lalu Fatma memanggil Zakia dan pembantu lainnya, untuk makan bersama mereka, di sanalah, pertanyaan di kepala Defi terjawab.
“Ayo dimakan nasinya !” ajak Mang Ojo pada yang lainnya.
Setelah mendapat perintah dari Mang Ojo, semuanya langsung bergerak, suasan tampak hening sekali, seperti tak terjadi apa-apa dimeja makan saat itu.
Tak ada denting sendok yang terdengar dan tak ada suara yang menggema diruangan itu.
Seorang anak kecil tampak duduk diantara kedua orang tuanya, dia juga telah membiasakan diri dengan suasana rumah itu, jangankan untuk bicara, untuk menarik nafas pun Defi terasa begitu kesulitan.
Begitulah suasana yang di rasakannya selama makan di ruangan itu.
Di rumah itu, Defi baru menyadari kalau pembantu hidup setara dengan yang lainnya, mereka sama-sama makan dan sama-sama duduk di ruangan tamu, tak terlihat perbedaan di antara mereka.
Antara kedua orang tua Zaki dan pembantunya, mereka saling bercanda dan beramah tamah, sehingga timbul perasaan senang di hati Defi saat itu, karena hal yang baru saja dia saksikan berbeda dengan yang dia lakukan di rumahnya.
Keesokan harinya, Zaki dan Defi berangkat kerja bersama-sama, ketika berhenti di pertigaan jalan, tanpa sengaja Gita melihat Zaki bersama Defi di dalam mobil.
Hati Gita begitu sakit sekali, rasanya baru beberapa hari mereka tak bertemu, Zaki langsung menggandeng perempuan lain.
Tanpa terasa air mata Gita langsung mengalir membasahi kedua pipinya.
“Bang Zaki ! teganya kau ! huhuhuhuk !”
Bersambung...
__ADS_1