
“Nggak ! Mama tetap pada pendirian awal ! terserah Papa, setuju atau nggak, karena dia harus manut pada perintah kita, bukan dari suaminya, anak pemulung itu !” bantah Rasti.
“Kalau Mama nggak percaya, silahkan Mama lakukan sendiri sesuka hati Mama. Papa capek mau istirahat.” Kata Margono seraya meninggalkan istrinya sendirian.
“Kau begitu bodoh Pa, bisanya hanya menyerah pada keadaan.”
Walau Margono mendegarkan panggilan istrinya, namun dia tetap berlalu tanpa mengubrisnya sama sekali. Resti memang keras orangnya, terkadang dia mempermalukan dirinya demi keegoisannya sendiri.
Hingga keesokan harinya Margono masih saja membisu, dia tak ingin bicara sepatah katapun dengan istrinya.
Pagi-pagi dia berbenah diri sendiri tanpa mengandalkan istrinya seperti yang dilakukannya setiap pagi ketika hendak pergi kerja.
Sementara Resti masih tertidur pulas diranjang, Margono sengaja tidak membangunkan istrinya karena masih kesal dengan pertengkaran mereka semalam.
Setelah siap berpakaian, Margono langsung keluar rumah , menuju mobil yang sedang terparkir di garasi.
Disaat itu pula Resti terbangun dari tidurnya dan dilihatnya sang suami sudah tak berada disisinya, Rasti langsung terbangun, dan menjerit-jerit memangil suaminya, tapi sayang deru suara mobil telah melewati pagar rumah mewah itu.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, tidak seperti hatinya saat itu, yang berkecamuk tak menentu. “Aku telah gagal mendidik istri dan anakku.” rintih Margono seraya menangis pilu.
Dikantor Margono tampak diam saja tak seperti biasanya, wajah pria paro baya itu terlihat sangat murung.
Bu Diana yang sedari tadi ada didepannya pun tidak diketahui oleh Margono.
Pikiran Margono begitu kalut, hatinya seperti terbebani oleh masalah berat yang tak dapat dipikulnya sendiri.
“Ada apa, Pak ? kenapa bengong aja ?” tanya Diana heran.
“Oh Diana ! kenapa masuknya nggak ngetuk pintu dulu ?” ujar Margono dengan sedikit gelagapan.
“Udah Pak, udah tiga kali kok ! tapi Bapak diam aja, saya kira Bapak sedang sakit makanya saya beranikan diri masuk, lagian nggak biasanya Bapak datang sepagi ini ?” tanya Diana dengan suara tenang.
Kebetulan saya ingin menyelesaikan tugas yang kemaren terbengkalai.”
“Oh begitu !”
“Apa ada berkas yang harus saya tanda tangani ?”
“Ada Pak !” kata Diana seraya menyodorkan berkas yang dipegangnya ketangan Margono.
Setelah berkas selesai ditanda tangani, Diana pun keluar dari ruangan Margono dengan sedikit heran.
Sementara itu dirumah mewah, Resti yang baru bangun dari tidurnya merasa kesal, Resti yang ditinggal pergi oleh suaminya terus saja menggerutu, saat dilihatnya jam dinding sudah menunjukan angka Sembilan, Rasti semakin bertambah kesal.
__ADS_1
“Ya ampun ! aku kesiangan kayaknya.” Ucap Resti sembari bergegas menuju kamar mandi.
“Kemana ya situa bangka ini ? pagi-pagi sekali dia udah menghilang. Atau jangan-jangan dia udah pergi duluan.” Kata Resti selanjutnya.
“Dasar suami nggak berguna hanya masalah spele aja, dia udah ninggalin istrinya sendirian, huhuhuk !” Resti pun menangis, karena sakit hati.
Resti yang selalu mengemukakan ego dan harga dirinya, ternyata memiliki hati yang rapuh dan mudah untuk di propokasi. Dia selalu saja menghalalkan segala cara untuk mendapatkan yang diinginkannya.
Semua itu terbukti, dia rela mengorbankan kebahagiaan putrinya demi mempertahankan harga diri.
“Ya, ya. Aku harus bisa memisahkan Ranita dari putra pemulung itu, agar kebahagiaan putriku nggak bisa direnggutnya dengan mudah.
“ Tapi Kemana perginya situa bangka itu ya ?” teriak Rasti kesal.
Seraya menggerutu, Resti terus menerus menyebut nama suaminya. Namun dia juga memiliki ambisi yang tinggi.
“Ya, aku harus memisahkan mereka berdua, bagai manapun caranya, sebab merekalah rumah tanggaku berantakan.
“Dasar orang-orang bodoh.” gerutunya dengan suara keras. Sehingga, suara itu didengar oleh BI Inah.
“Mmm, dasar orang tua nggak tau malu, rela memperlakukan putrinya sendiri demi derajat dan harta. Kata Bi Inah dengan suara pelan.
Tak lama kemudian Rasti beranjak dari ranjang. Dia berjalan menuju ruang tamu, disana terlihat begitu sepi, yang biasanya Ranita sering minum dan tersenyum kini tak ada lagi. tak ada siapa-siapa di ruangan itu.
Setelah mengambil segelas air putih dan meneguknya, Rasti pun bergegas menuju kamar dan mempersiapkan diri untuk berangkat kerja.
Hingga akhirnya di bulatkan tekadnya untuk pergi kerumah dukun yang disinyalir sangat ampuh, untuk mengguna-gunai orang.
“Benar Ibu bersungguh-sungguh ingin memisahkan mereka ?” tanya dukun itu memastikan.
“Benar, Pak !”
“Apa Ibu nggak menyesal ?”
“Buat apa menyesal, justru saat ini aku lebih menyesal, karena ulah pria itu putriku satu-satunya, durhaka padaku dan menikah dengan anak pemulung itu.”
“Ah ! masa orang sekaya Ibu, sudi putrinya dinikahi oleh anak seorang pemulung ?”
“Ya, mesti gimana lagi ? mereka mengguna-gunai putriku dan menikahinya dengan putra pengangguran. Rasanya hatiku begitu sakit sekali, aku ingin putriku kembali ke pangkuanku apapun alasannya.” Kata Resti berharap.
“Baik ! Aku bersedia menolongmu, tapi ketahuilah nggak semudah itu melakukan ritualnya. Aku butuh peralatan yang banyak dan biaya yang banyak.”
“Katakan apa persyaratannya, Aku pasti bayar !”
__ADS_1
kata Rasti dengan begitu yakin.
“nggak banyak, hanya butuh seratus juta untuk satu kali perceraian. Apa Ibu sanggup bayar ?”
“Apa ! seratus juta ?”
“Tenang ! Tak perlu berteriak, Ibukan orang kaya ! Masa untuk uang segitu Ibu nggak sanggup mengeluarkannya !”
“Tapi mengapa begitu mahal ? Apa nggak bisa nego gitu ?”
“Ibu ingin anak Ibu kembali bukan ? kurasa uang seratus juta, nggak seberapa bila dibandingkan dengan harus kehilangan putri Ibu sendiri.”
“Baiklah, akan ku bayar.” Kata Rasti tanpa berfikir Panjang.
“Nah gitu dong, jadi kapan kita mulai ?”
“Lebih cepat lebih baik.”
“Tapi Ibu harus membawa Foto keduanya kesini.”
“Aduh, kalau masalah itu, aku nggak bisa melakukannya.”
“Kenapa ? saya nggak bisa loh bekerja, kalau saya nggak melihat wajah orang yang akan saya guna-guna.”
“Kalau saya kasih alamatnya, apakah Bapak bisa kesana sendiri ?”
“Ya nggak bisa gitu loh, Bu ?”
“Saya hanya bisa bekerja dari sini, kalau soal foto mereka harus Ibu sendiri yang kesana memfoto mereka.
“Tapi kalau saya yang kesana, bisa ketahuan dong !”
“Itu kan urusan Ibu ! Ibu ingin kagak anak Ibu kembali pulang kerumah ?”
“Ya kepingin lah ! kalau nggak ngapain juga saya harus jauh-jauh datang kesini.”
“Ya udah kerjakan aja apa yang saya perintahkan.
“Baiklah.” Jawab Resti seraya keluar dari rumah dukun itu.
Saat itu Resti benar-benar bingung bagai mana caranya mengambil Foto Alhuda dan Ranita sedang berduaan.
“Aduh ! tua bangka minta fotonya lagi, gimana aku harus mencarinya coba.” gerutu Resti seraya kembali menyetir mobilnya.
__ADS_1
Sementara itu Margono telah bekerja seperti biasanya di kantor, dia tak lagi memikirkan istrinya yang sangat egois itu, karena semakin dia memikirkan kelakuan Resti maka semakin sakit kepalanya.
Bersambung...