
“Iya ! saya yakin, karena semenjak kaki kalian yang kotor itu menginjak rumah saya, maka semenjak itu pulalah bencana masuk kerumah saya.”
“Maaf, sebaiknya Ibu intropeksi diri dulu, jangan suka menyalahkan orang lain, dengan kesalahan yang kita perbuat. Bukankah Ibu itu seorang pejabat negara, yang terhormat dan kaya raya ? Permisi !”
“Sial ! berani-beraninya dia menceramahi saya !”
“Udah, Ma ! Udah, tahan dikit emosinya, ini rumah sakit, anak kita sedang dirawat di dalam.”
“Iya, Mama tau itu kok.” Kata Resti seraya melirik kedalam ruangan Ranita.
Sebenarnya Ranita sudah pulih, tapi dia berpura-pura lemah , agar Papa dan Mamanya menyadari kesalahannya.
Meskipun berat resiko yang harus dia tanggung namun Ranita tetap berusaha mencari jalan keluar yang lain. Agar dia bisa menunjukan rasa protes kepada keluarganya.
Walau demikian, Resti masih teguh dengan pendiriannya, untuk tetap menjauhkan Ranita dari keluarga pemulung dikawasan kumuh. mesti dia harus menghabiskan uang banyak untuk itu.
Sementara itu, dikawasan kumuh. Mang Ojo dan Fatma sudah tidak berjualan lagi, karena sepulangnya mereka dari tanah suci, kelima anaknya sepakat membebaskan orang tuanya bekeja. Mereka dibebaskan dari hal-hal yang berhubungan dengan duniawi.
Hasil ketiga orang anaknya sudah lebih dari cukup, untuk biaya hidup sehari-hari. Sementara Dika dan Nurul, kuliahnya ditanggung oleh Alhuda.
Malam itu, Intan mengkakulasikan kembali semua uang hasil usahanya selama membuka rumah makan berkah. Setelah dihitung-hitung, Intan berniat membuka rumah makan di kota Padang dan Batam. Niatnya didukung penuh oleh keluarga.
“Apakah kau udah perhitungkan semuanya sayang ?” tanya Alhuda pada adiknya.
“Udah Bang, semuanya udah ku perhitungkan.”
“Bagus, jadi kapan kau akan kesana ?”
“Rencana dalam minggu ini.” Jawab Intan dengan suara lembut.
Namun, setelah rencana itu tersusun dengan rapi, tidak disangka sama sekali, tiba-tiba datang orang suruhan keluarga Niko hendak melamar Intan.
Dalam musyawarahnya bersama keluarga, Intan berencana mau mengajak mereka kerumah susun. Di sanalah acara lamaran Intan akan dilaksanakan. Karena dirumah susun ada nurul yang berjualan nasi, menggantikan Ibunya.
“Kenapa harus di rumah susun nak ? kan kita punya rumah yang lebih layak ?” tanya Mang Ojo pada putrinya itu.
“Bapak dan Ibu tenang saja, nanti pasti kita akan tau siapa sebenarnya keluarga Niko itu yang sesungguhnya.”
“Maksud mu apa si dek ?” sambung Alhuda kemudian.
“Kita lihat aja nanti Bang.” Jawab Intan tersenyum lebar.
Seminggu kemudian rombongan dari keluarga Niko datang untuk melamar, sesuai rencana rombongan itu dibawa kerumah susun.
__ADS_1
Mang Ojo dan Fatma benar-benar tak tau apa rencana yang sedang disusun putrinya itu, begitu juga dengan saudaranya yang lain, termasuk Niko sendiri.
Intan juga menganjurkan, agar keluarganya berpakaian biasa, tidak mencolok.
Saat lamaran dilaksanakan, Intan duduk diam disudut ruangan dengan menunduk. Sehingga orang tua Niko tidak begitu jelas melihat wajahnya Intan.
Sekilas Intan sempat mendengar kata-kata pedas yang dilontarkan keluarga Niko pada orang tuanya, yang menyindir dan menghina keluarga intan. Karena berasal dari Kawasan kumuh dan anak seorang pemulung.
Hati Intan terasa begitu sakit sekali, tapi apa boleh buat, begitulah kebanyakan orang kaya, mereka hanya memandangi orang miskin degan sebelah mata.
Bahkan diantara mereka ada yang tidak menganggap sama sekali. Namun bagi Intan, selentingan kata-kata pedas itu akan dijadikan kunci untuk menuju kesuksesannya.
“Mana sih nak, perempuan yang mau kau lamar itu ? kok Mama nggak melihatnya sama sekali ?” tanya Retna pada Niko.
“Itu Ma, disana !” tunjuk Niko pada Intan yang duduk disudut ruangan.
“Kata Mu, Intan itu anak yang sukses, punya rumah makan sendiri, mana buktinya ?”
“Ssst, jangan bicara keras-keras nanti kedengaran orang.”
“Emangnya kalau orang tau, bahwa Intan itu anak pemulung, kenapa ? kan memang iya !”
“Udah-udah, Mama kayaknya mulai mencari masalah ni.” Ujar pak Hermawan.
“Mama Cuma nanya ke Niko, Pa!”
“Tapi Mama merasa di bohongi oleh Niko, Pa !”
“Di bohongi gimana ?”
“Katanya orang tua Intan itu orang sukses, mana buktinya ! nyatanya dia masih tinggal dirumah susun kok.”
“Mama, jangan ribut dong !”
“Kamu sih, kalau begini, Mama jadi neg, tinggal berlama-lama disini.”
“Mama jangan bilang gitu ah, nanti kedengaran orang tua Intan, kan jadi nggak enak.”
Mendengar nasehat dari suaminya, Retno akhirnya diam saja, dia tak mau berkomentar sama sekali, dia merasa telah di kecewakan Niko putranya.
Lalu di saat itu, mereka pun menentukan hari pernikahan Intan dan Niko.
Sesuai rencana bulan berikutnya pesta pernikahan Niko dengan Intan safira putri akan dilaksanakan.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, Mang Ojo mendapat surat dari Ranita, kalau dia akan tetap menikah dengan Alhuda walau tanpa restu kedua orang tuanya.
Mang Ojo semakin bingung, dia tak tau mesti berbuat apa, sementara persiapan pernikahan Intan sudah dilaksanakan, kariawan Intan dan Nurul siap tempur dengan setiap tugas yang dibebankan kepada mereka.
Mang Ojo sengaja memberikan kedua rumah makan itu kepada kedua putrinya karena itulah tempat yang paling aman untuk seorang wanita.
Sementara itu, Mang Ojo sudah mengambil keputusannya untuk Ranita, mengigat jasa Ranita selama ini kepada keluarganya, sangat besar dan tak sanggup mereka balas. Maka pernikahan Ranita akan mereka laksanakan bersamaan dengan pernikahan Intan.
Untuk yang kedua kalinya Mang Ojo mendatangi kembali rumah Ranita, untuk melamarnya. Walaupun kuping Mang Ojo dan keluarga terasa sakit atas penghinaan orang tua Ranita, tapi karena rasa kasihannya pada Ranita yang berhati mulia, biarlah kata-kata pahit itu ditelannya sendiri.
Setibanya dirumah Ranita, kata yang sama diucapkan Mang Ojo untuk mengulangi perihal lamaran itu, tapi kali ini Papa Ranita merestui pernikahan putrinya, tak banyak komentar mereka menyambutnya dengan baik.
“Baiklah, untuk kali ini, saya selaku Papa Ranita, saya akan merestui pernikahan putri saya, karena berat sekali tantangan yang telah dia terima karena keegoisan orang tuanya.
“Alhamdulillah !” ucap Mang Ojo dan Fatma.
“Kalau boleh saya tahu, kapan rencana anak kita akan menikah Pak ?” tanya Pak Margono dengan suara lembut.
“Dalam minggu ini, sebenarnya pernikahan itu sudah lama kami rencanakan tapi ! ya ini tadi masalahnya, sehingga kami sepakat untuk menundanya.”
“Saya hanya memiliki seorang putri, dan dialah harapan kami selama ini, jadi pesan saya jangan sakiti dia.”
“Keluarga ku, udah lama kenal dengan Ranita, begitu juga sebaliknya, Ranita pasti sudah kenal baik dengan keluarga kami, jadi Bapak nggak usah kuatir, semuanya akan baik-baik saja.”
“Ya saya percaya dengan ucapan Bapak.”
“Terimakasih.”
“Tapi, apakah kalian punya biaya sebanyak itu untuk biaya pernikahan anak-anak ini ?”
“Insya Allah ! semua biayanya sudah kami persiapkan jauh-jauh hari.”
“Hebat ya, Keluarga Bapak ! padahal hanya seorang pemulung, tapi bisa mengadakan pesta, untuk dua orang sekaligus.”
“Ah itu mah rezeki mereka pak, kami sebagai orang tua hanya mengatur saja.”
“Ya, memang kita sebagai orang tua hanya bisa mengarahkan mereka saja.”
“Nah kalau begitu kami mohon pamit dulu.”
“Iya, silahkan.”
“Assalamu’alaikum.”
__ADS_1
“Wa’alaikum salam."
Bersambung...