
“Kok cemas, anak gelandangan sudah biasa mengalami hal buruk Bang, bahkan lebih buruk dari ini, mereka bahkan nggak dipandang kok.”
“Tapi saat ini kan Yulia udah menjadi tanggung jawab Abang, apa pun terjadi pada diri mu, itu semua ada hubungannya dengan Abang.”
Merasa di perhatikan oleh Dika, Yulia tampak sangat senang sekali, di dalam hatinya ada bunga yang baru saja tumbuh dan mengeluarkan kuncup-kuncup kecil.
Kemunculannya membutuhkan setetes embun di pagi hari.
“Nanti Abang mau kepanti dulu, untuk mengabari kejadian ini pada orang panti, agar mereka nggak merasa kehilangan.”
“Baik Bang.”
“Istirahatlah dulu, pulihkan kondisi tubuhmu.” Kata Dika seraya mengecup lembut kening Yulia, di saat itu, hati Yulia terasa bergetar kuat, jantungnya terasa hendak lepas dari bingkainya.
“Ya Allah ada apa ini ? kenapa jantungku berdebar begitu kuat ?” batin Yulia dengan lirih.
Di saat itu Yulia mencium aroma tubuh Dika yang wangi, tidak seperti dirinya yang kumal dan dekil.
Setelah Dika berpamitan dengan Yulia, dia langsung menuju panti dan memberi tahukan keadaan Yulia pada penghuni panti.
“Jadi gimana keadaan Yulia saat ini nak Dika ?” tanya Bu Liza ingin tau.
“Yulia udah aman Bu, sekarang dia masih dalam perawatan dokter.
“Emangnya Kak Yulia kenapa sih Om ?” tanya Fajri ingin tau.
“Kak Yulia mengalami kecelakaan ringan, tapi dia udah ditangani dokter kok, mungkin besok dia boleh pulang.” Jawab Dika.
Setelah mengabarkan keadaan Yulia pada penduduk panti, lalu Dika bergerak menuju rumah orang tuanya di Kawasan kumuh.
“Jadi, gimana keadaan anak itu saat ini, Dik ?”
“Dia udah ditangani oleh Bang Zaki, Bu !”
“Kok bisa di ke tusuk potongan besi sih, Dik ?”
“Yulia terpeleset, dan jatuh kearah tumpukan besi tua yang ada dikawasan kumuh Bu.”
“Ngapain kalian ke kawasan kumuh ?”
“Tadinya kami bermaksud untuk mencari orang tua angkat Yulia, yang belum ketemu, tapi karena lelah kami beristirahat, dan ketika hendak pergi, di situlah Yulia terjatuh dan tubuhnya menimpa potongan besi tua yang ada ditempat itu.”
“Dalam lukanya ?”
“Ada sepanjang telunjuk !”
“Berarti dalam dong, Dik.”
“Iya juga sih, tapi saat ini udah aman kok.”
“Syukurlah, dia udah ditangani Abang mu.”
“Iya, Bu.” jawab Dika sembari menuju dapur.
__ADS_1
Kamu udah makan sayang ?” tanya Fatma pada Andika yang saat itu masih duduk sendirian di meja makan.
Saat pertanyaan itu, di ajukan Fatma padanya, Dika tak menjawabnya, karena saat itu fikiran Dika sedang melayang, mengenang kejadian yang baru saja dia alami bersama Yulia.
Tubuh putih bersih dan payudara yang lembut serta kenyal, membuat fikiran Dika melayang seketika.
“Apakah kamu udah makan sayang ?” tanya Fatma seraya menepuk pundak Dika.
Sontak hal itu membuat Dika gelagapan dan konsentrasinya langsung buyar seketika.
“Kenapa kamu Dik ? kok bengong aja ?”
“Oh, eh ! Ibu, datangannya kok diam-diam !”
“Diam-diam gimana ? Ibu memanggilmu udah dua kali loh, tapi kamu nya aja yang nggak konsentrasi pada pertanyaan Ibu.
“Tapi aku nggak sedang memikirkan apa-apa kok, Bu.”
“Benar kau sedang nggak memikirkan apa-apa ?”
“Benar Bu !” jawab Dika berbohong pada Ibunya.
“Ingat, sekali saja kau mulai belajar berbohong, untuk selamanya kau akan terbiasa berbohong.” Jawab Fatma seraya meninggalkan Dika di meja makan.
“Bu !”
“Hah, kamu memanggil Ibu ?”
“Iya.”
“Iya, Bu.”
“Hm, apa itu ?” tanya Fatma seraya mendekatkan diri pada Dika putranya.
“Aku mencintai seseorang Bu.”
“Apa ? benarkah itu Dik ?”
“Iya, Bu ! tapi dia itu bukan orang kaya.”
“Orang kaya atau nggak, bagi Ibu sama saja sayang, karena kekayaan yang kita miliki itu, hanyalah titipan dari Allah yang bersifat sementara.”
“Iya, Bu.” jawab Dika dengan suara lembut.
“Kalau boleh Ibu tau, orang mana perempuan yang beruntung itu sayang ?”
“Sebenarnya aku hanya tertarik padanya Bu, tapi aku belum mengungkapkannya secara langsung, takut kalau dia kaget nantinya.”
“Ooo, begitu. Nanti kalau udah kau ungkapkan padanya, jangan beritahu yang lain dulu, kasih tau Ibu saja.”
“Lho, kenapa begitu Bu ?”
“Kalau Ibu setuju, yang lainnya pasti ikut setuju.”
__ADS_1
“Apa benar begitu, Bu ?”
“Bercanda sayang !” ledek Fatma pada Dika yang menganggap ucapan Ibunya itu serius.
Mendengar Ibunya bercanda, Dika langsung memeluk tubuh Fatma dan menghujaminya dengan ciuman.
“Ibu sedang bercanda rupanya ya ?” kata Dika memeluk tubuh Ibunya dengan erat.
“Udah Dik, udah ! Ibu nggak kuat .”
“Ibu sakit ?”
“Nggak sayang, tapi pelukanmu itu, membuat nafas Ibu menjadi sesak.” Jawab Fatma sembari duduk di sofa.
Melihat Ibunya merebahkan badannya di sofa, Dika pun mohon pamit untuk mengajar.
“Ya, hati-hati dijalan !”
“Baik Bu.” jawab Dika seraya mencium tangan Ibunya dengan lembut.
Sesuai dengan jadwal mengajarnya, Dika langsung pergi, dan meninggalkan Fatma sendirian dirumah.
Setelah pulang mengajar, Dika langsung ketempat biasa dia melukis, tiga orang wanita cantik telah menunggu kedatangan Dika.
“Kok lama Dik ? biasanya kalau jam segini kan udah buka ?” tanya Nia ingin tau.
“Maaf kak, tadi ada saudara yang kecelakaan, jadi aku mengantarnya kerumah sakit dulu.”
“O gitu.”
“Ya udah, kakak mau dilukis ?” tanya Dika pada Nia yang saat itu telah duduk ditempat biasa, sementara Rani dan Anggren, mencoba santai sambil menunggu giliran.
Setelah enam jam bekerja melukis ketiga wanita itu sesuai dengan karakternya masing-masing, Dika pun mencoba merebahkan tubuhnya, diatas sofa.
Entah mengapa, begitu sulit sekali mata Dika dipejamkan, bayangan Yulia tampak jelas sedang terbaring di atas pangkuannya.
Tubuh putih dan payudara yang indah dan kenyal membuat pikiran Dika sulit untuk melupakannya.
“Aduh ! kenapa ya ? aku terbayang itu terus ? apakah aku sedang jatuh cinta pada Yulia ?” tanya Dika pada dirinya sendiri.
Lalu Dika pun mengambil jaket kulit yang di gantungkan dan dia pun langsung berangkat menuju rumah sakit, di mana, disana ada gadis yang telah menunggu kedatangannya, gadis yang selalu ada didalam pikirannya.
Setibanya dirumah sakit, Dika langsung masuk kedalam dan bertemu dengan Yulia yang tampak duduk diruang tunggu.
“Loh, kamu mau kemana ?” tanya Dika heran.
“Kata dokter aku udah boleh pulang Bang.”
“Benar begitu ?” tanya Dika tak percaya.
“Iya, Bang.”
“Baiklah, ayo kita pulang.” Kata Dika seraya memegang pergelangan tangan Yulia.
__ADS_1
Hati Yulia sangat senang sekali, karena Dika memperlakukannya bagai seorang ratu yang turun dari kayangan.
Bersambung...