Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 124 Tersangka


__ADS_3

“Iya, Bu. sekarang saya udah menyadarinya, betapa bahagianya hidup rukun dengan anak sendiri. Karena mesti gimana pun, mereka itu adalah darah daging kita.”


Malam itu semua terlihat senang dan bahagia, Ranita dan kedua anaknya, juga bisa merasakan betapa bahagianya memiliki dua orang nenek dan dua orang kakek sekaligus.


Setelah beberapa jam bertemu, mereka kemudian kembali berpisah, karena Mang Ojo sekeluarga ingin pulang kerumahnya, hati yang begitu senang membuat mereka semua kembali kerumah dengan bahagia.


Keesokan harinya, ketika Zaki hendak pulang kerja bersama Defi istrinya, di perjalanan mereka berdua terjebak macet, hampir satu jam Zaki terperangkap kepanasan. Tiba-tiba saja, dari kejauhan Zaki melihat ada orang tua Niko yang sedang di bawa oleh polisi.


Awalnya Zaki tak percaya dengan apa yang baru saja di lihatnya, namun setelah di perhatikan betul ternyata dia tak salah, karena apa yang di lihatnya memang orang tua Niko.


“Ya Allah!” ujar Zaki sembari terus memperhatikan Bu Retno yang di bawa polisi.


Defi yang melihat ada gelagat aneh pada suaminya, dia pun merasa heran, dan ikut menoleh kearah yang di lihat Zaki.


“Emangnya kau lagi melihat apa sih Bang?” tanya Defi heran.


“Itu tuh, tadi Abang melihat ada Mamanya Bang Niko di bawa polisi.”


“Mamanya Bang Niko, emangnya Mama bang Niko kerjanya apa Bang?”


“Dia itu seorang guru SMA.”


“Seorang guru? Berarti Abang salah lihat kali!”


“Nggak sayang, Abang begitu yakin kok, kalau yang Abang lihat tadi benar-benar Mamanya Bang Niko.”


“Kalau begitu kita kasih tau aja Bang Niko, kalau Mamanya ditangkap oleh polisi.”


“Iya, kita mesti beri tahu Bang Niko secepatnya.”


“Tapi, gimana mau ngasih tau kalau kita sendiri terjebak macet begini.”


“Sebenarnya apa sih Bang, yang menyebabkan kemacetan ini?” tanya Defi heran.


“Abang juga nggak tau.”


Di saat mereka sedang berfikir, tiba-tiba seorang pria melintas di sebelah kanan mobil Zaki, Zaki yang melihat langsung memanggil pria tersebut.


“Heh, Bang, ada apa ya, kok dari tadi kita belum bisa jalan.”


“Ooo, itu Bang, ada seorang Ibu yang ketangkap polisi!”


“Ibu yang barusan lewat itu maksudnya?”


“Iya, Bang,” jawab pria itu.


“Emangnya Ibu itu salah apa sih?”


“Dengar kabar, dia dalang di balik perampokan yang terjadi di rumah anaknya sendiri.”


“Siapa sih anaknya itu, kok Ibunya tega merampok anaknya?”


“Itu, Bang, anaknya yang menikah dengan orang paling terkaya di Kawasan kumuh, orang tua yang dermawan itu.”


“Benar dia itu orang tua yang dermawan, mana ada di zaman sekarang ini ada orang kaya yang dermawan, kebanyakan mah orang kaya itu pada pelit semua.”


“Ah, nggak semua orang kaya itu pelit Bang.”

__ADS_1


“Kok kamu tau, kalau nggak semua orang kaya itu pelit?”


“Buktinya Bapak tua di Kawasan kumuh itu, dia punya panti asuhan sendiri Bang, menampung para gelandangan dan anak yatim, orang tua jompo dan dia juga memiliki mini market sendiri, dia juga punya restoran yang menampung banyak karyawan.


“Alah sok tau kamu!”


“Abang tau nggak, kedua orang anak ku, juga di sekolahkan oleh putrinya Bapak tua itu.”


“Maksudnya?”


“Waktu itu putri Bapak itu mencari sepuluh orang anak-anak yang nggak bersekolah untuk di bantu, salah satunya ya itu, kedua anak saya bang.”


“Ooo, begitu ya,” ujar Zaki yang berpura-pura tak mengetahuinya.


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya jalan pun kembali normal, dengan tenang Zaki pun kembali melajukan kendaraannya tanpa ada hambatan.


Setibanya di restoran milik kakaknya , Zaki langsung turun, menyusul pula Defi istrinya. Melihat Zaki dan istrinya mampir di restoran miliknya, Intan menyambut mereka dengan senyuman yang ramah.


“Ohoi!” adek kakak tersayang, tumben mampir siang-siang begini?” tanya Intan seraya memeluk adiknya Zaki.


“Tadi di jalan aku melihat Mama Bang Niko di tangkap polisi Kak?”


“Serius kamu dek?”


“Iya, kak. Karena penangkapan itu, semua jalan menjadi macet. Lalu kutanya pada seorang pria yang sedang melintas, jawabannya ya itu.”


“Yaitu apa sayang?”


“Katanya, Mama Bang Niko lah yang menjadi dalang di balik perampokan yang terjadi di rumah kakak waktu itu.”


“Ya, Allah! ternyata Mama yang melakukannya.”


“Ya, kakak sendiri nggak tau apa motifnya, sehingga dia menyuruh orang merampok rumah kami.”


“Bang Niko mana kak?”


“Ada, lagi di belakang,” jawab Intan.


“Ooo, kalau begitu nanti kakak aja yang menjelaskan pada Bang Niko, biar kami pulang dulu.”


“Ya, baiklah, tapi apa kalian nggak makan dulu?”


“Nggak usah kak, nanti Bapak dan Ibu merasa sedih, kalau kami nggak makan bersama mereka.”


“O, baiklah. Hati-hati di jalan, jangan sampai lalai dalam berkendara.”


“Baik kak,” jawab Zaki dan Defi sembari berlalu meninggalkan Intan yang berdiri terpana melepas kepergian adiknya.


Setelah Zaki pergi, Niko pun keluar, sembari menggendong putri kecilnya, sekilas Niko melihat ada mobil Zaki yang baru meninggalkan halaman restoran.


“Siapa yang datang dek?”


“Ooo, itu, tadi Zaki datang bersama istrinya Bang.”


“Kenapa nggak ngasih tau Abang kalau mereka datang berkunjung?”


“Mereka lagi keburu Bang.”

__ADS_1


“Jadi ngapain mereka kesini?”


“Mereka Cuma ngasih kabar kalau Mama di tangkap polisi.”


“Apa, Mama ditangkap polisi?”


“Iya, Bang. Tadi Zaki sempat terjebak macet, karena Mama di tangkap di tengah jalan.”


“Kenapa Mama di tangkap ya?”


“Kata Zaki, Mama yang menjadi dalang pembobolan restoran kita Bang.”


“Benar gitu dek?”


“Kata Zaki kayak gitu Bang.”


“Kalau begitu, bersiaplah! kita berangkat sekarang juga,” ujar Niko pada Intan istrinya.


“Kita ke kantor polisi Bang?”


“Iya, sayang.”


“Baiklah,” jawab Intan seraya berlalu dari hadapan suaminya.


Air mata Niko tercurah saat itu, hatinya terasa begitu sakit sekali, pasalnya Mama yang selama ini dia banggakan harus berbuat senekat itu demi memenuhi ambisinya.


Setelah selesai berkemas-kemas, Niko dan Intan langsung berangkat menuju kantor polisi.


“Titip anak ku yo, buk’e, kami mau kekantor polisi dulu,” ujar Intan sembari menitipkan kedua putrinya pada Aida, orang yang selama ini di percaya mengelola restoran miliknya.


“Hati-hati yo nduk.”


“Iya, Buk’e,” jawab Intan pelan.


Di dalam mobil keduanya tampak diam, tak ada yang mereka perbincangkan saat itu, karena hati Niko sedang merasakan sedih.


Di halaman kantor polisi, Niko memarkirkan kendaraannya, dia bersama dengan Intan langsung masuk kedalam.


Lalu Niko berjalan menuju ruang penjaga, untuk melaporkan kalau mereka ingin mengunjungi Bu Retno.


“Kamu siapa?” tanya petugas itu.”


“Saya putranya, Pak.”


“Ooo, anda saudara Niko, yang waktu itu melaporkan tentang perampokan restoran anda bukan?”


“Iya, pak,” jawab Niko dengan tegas.


“Bisa kita bicara sebentar?”


“Baik, pak!”


“Mari keruangan saya!” ajak petugas itu pada Niko.


Tanpa berfikir panjang lagi, Niko langsung mengikuti petugas itu sampai keruangan nya.


“Silahkan duduk!”

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2