Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 100 Duka mendalam


__ADS_3

“Itu karena trauma yang di alaminya Bu, jika saja kejadian itu teringat olehnya, maka dia akan ketakutan, untuk itu, tugas Ibu buat dia senyaman mungkin, jangan ada kata-kata yang dapat membuatnya tertekan.”


“Baik, Nak,” jawab Leni dengan suara lembut.


Bukan hanya Leni yang menderita, akan tetapi Mang Ojo dan yang lainnya juga merasakan sakit, akibat dari kejadian itu. Pedihnya hingga menusuk kedalam hati.


Mang Ojo yang tampak bersenderan di sofa ruang tamu, sebenarnya mata batinnya sedang menangis, tak terbayangkan pula olehnya, betapa menderitanya Ahong dan Leni saat itu.


Di hadapan zaki, Mang Ojo selalu mengingatkan untuk bisa menerima Gita apa adanya, karena Gita perempuan baik yang malang.


Setelah beberapa hari, mengalami peningkatan Depresi yang luar biasa, tiba-tiba saja, pagi itu mereka semuanya di gegerkan kehilangan Gita di kamarnya.


Leni yang kesulitan mencari putri tunggalnya, dia persis seperti orang yang kesurupan, Leni menangis histeris di hadapan Mang Ojo.


“Serasa baru saja, kita dapat menghirup udara segar, pagi ini kita mendapat masalah baru lagi. Untuk itu, mari kita cari keberadaan Gita yang selama ini telah menjadi bagian dalam hidup kita.”


Mendengar perintah Mang Ojo, semuanya bergerak, mencari kemana saja yang menurutnya, dapat menemui Gita yang menghilang dari rumah.


Bukan hanya seisi rumah Mang Ojo yang bergerak, bahkan Alhuda dan Dika serta seluruh karyawan dan para penghuni panti. Mereka semua di kerahkan turun kejalan untuk mencari keberadaan Gita.


“Anak-anak yang berusia berapa tahun yang boleh ikut mencari Pak?” tanya Sofia pada Dika.


“Yang remaja ke atas, mereka yang boleh mencari, sementara yang lain harus tetap berada di panti.”


“Baik Pak,” jawab Sofia, sembari mengerahkan anak-anak panti.


Melihat ramai turun kejalan, banyak para pengendara mobil dan sepeda motor, yang merasa heran, mereka mengira ada kecelakaan, atau tauran yang menyebabkan banyak orang yang turun kejalan.


“Dek, ada apa ya? kenapa rame sekali?” tanya seorang pria pengendara sepeda motor saat dia berhenti di bahu jalan.


“Ada yang hilang Om,” jawab Heru saat itu.


“Siapa yang hilang?"


"Keluarga kami.”


“Maksudnya keluarga apa sih?”


“Kami yang turun kejalan ini Om, semuanya adalah anak asuhan Mang Ojo, orang yang paling kaya di Kawasan kumuh.”


“Sekaligus orang paling dermawan Om,” timpal pria yang berada di belakang Heru.”


“Jadi, kalian mau cari kemana?”

__ADS_1


“Kemana saja.”


“Ooo.”


Tak ada yang dapat di ucapkan oleh pria itu, karena saat itu dia memang sedang kagum dengan orang yang bernama Ojo tersebut.


Telah setengah hari mencari, mereka semua tak ada yang dapat menemukan Gita, bahkan mereka mencari hingga menelusuri Lorong dan gang sempit serta ke bantaran sungai dan kali.


Tak ada yang mereka lewatkan saat itu, namun Gita tetap tak ditemukan.


Karena tak ditemukan, Ahong dan Leni tak henti-hentinya menangis, kepedihan yang dia rasakan semakin membuatnya terpuruk.


Sementara itu, Gita yang mereka cari terus saja berjalan tak terarah, tatapan matanya yang kosong, membuatnya tak lagi dapat melihat siapa saja yang berada disekitarnya.


Karena terasa lelah, Gita mencoba untuk beristirahat sejenak, sambil senderan di bawah sebatang pohon, Gita pun tertidur.


Saat malam menunjukan suasana yang mengerikan, di situlah baru Gita tersentak dari tidurnya, sadar dirinya telah jauh dari rumah, Gita pun menangis histeris, tangisnya yang tersedu-sedu, mengundang pasang mata jahat untuk datang menghampirinya.


“Hai kenapa menangis sayang?” tanya seorang pria yang tak dikenal Gita sama sekali.


Karena di sentuh oleh pria berandalan itu, Gita mencoba menagis semakin kuat lagi, namun malam tak memberikan Gita sedikit harapan. Tangan-tangan jahil itu telah menyentuh tubuhnya yang indah.


Gita mencoba untuk meronta-ronta dan bahkan dia menjerit sekuat tenaganya, lengkingan suara Gita, juga masuk kedalam dinding beton yang sempit, namun tetap saja tak ada yang mau mengulurkan bantuan pada Gita yang malang.


Di saat itu, Leni merasakan kepiluan yang sedang di alami Gita, dia terus saja menangis tiada henti.


Zaki yang melihat, Bu Leni menangis, hatinya menjadi tak tenang, di hadapan semua anggota keluarga, Zaki kembali keluar untuk mencari keberadaan Gita.


“Ayo pak, kita mencari Gita!” ajak Zaki pada Ahong.


“Kita mau cari kemana nak? bukankah sudah ke seluruh penjuru kita mencari keberadaannya.”


“Kita cari Gita sampai kepuncak yang paling tinggi sekali pun,” jawab Zaki.


Mendengar jawaban dari Zaki, hati Mang Ojo benar-benar senang, di dalam hatinya dia selalu berdo’a tiada henti, agar Gita terlindung dari marabahaya.


“Baiklah,” ujar Ahong, seraya mengambil kunci mobilnya.


Ketika tiba di depan mobil, Zaki langsung mengambil kunci itu dari tangan Ahong, dia tak ingin Ahong mengendarai mobil dalam keadaan bersedih.


Di dalam mobil Zaki mencoba menghubungi Alhuda dan Dika, untuk minta bantuan dari nya.


“Kita ketemu dimana Dek?” tanya Alhuda ingin tau.

__ADS_1


“Di depan pertamina, Bang.”


“Ooo, baiklah, tunggu Abang disana.”


“Ajak Dika sekalian Bang.”


“Baiklah, nanti Abang akan kerumahnya dulu.


“Baiklah, kutunggu kalian disana nanti.”


“Ok.”


Setelah mereka sepakat bertemu di depan Pertamina, Zaki dan Ahong langsung menuju kesana terlebih dahulu, setelah selesai mengisi bahan bakar kendaraannya, Zaki mencoba menunggu di depan pertamina.


Suasana tampak begitu hening sekali, baik Ahong maupun Zaki mereka berdua sama-sama diam menbisu, tak ada hal penting yang mesti mereka bahas saat itu.


Dari kejauhan Zaki melihat ada cahaya mobil sedang mengarah kepadanya, zaki yakin kalau itu adalah saudaranya yang datang untuk membantunya mencari keberadaan Gita.


“Gimana Dek, kita berangkat sekarang?” tanya Alhuda pada Zaki.


“Tapi Dika kok belum datang ya?” tanya Zaki ingin tau.


“Tadi udah Abang bilangin, mungkin sebentar lagi datang, kita tungguin aja dulu.”


“Baik Bang,” jawab Zaki sedikit resah.


Beberapa saat kemudian Dika pun datang menghampiri mereka berdua, di saat Dika datang Alhuda dan Zaki langsung turun, mereka bertiga berembuk untuk menentukan area pencarian.


Setelah mereka sepakati, lalu ketiganya berpencar, menuju arahnya masing-masing.


Ahong yang melihat kesepakatan yang mereka buat dia hanya bisa diam saja, karena saat itu Ahong sudah begitu pasrah dengan apa yang bakal mereka lakukan untuk mencari keberadaan putrinya.


Suasana malam yang gelap, membuat pencarian mereka sedikit kesulitan, ditambah pula hujan lebat yang turun disertai angin kencang, membuat jantung Ahong berdebar semakin tak menentu. Keresahan hatinya membuatnya semakin tak tenang.”


“Bersabarlah Pak, kita berusaha terus untuk menemukannya, yang terpenting Bapak harus tenang dan terus berdo’a.”


Mendengar ucapan Zaki, Ahong langsung menangis pilu, air mata yang telah di bendungnya sedari tadi, kini tercurah tak bersisa, hatinya begitu takut, kalau terjadi sesuatu pada putrinya itu.


“Oh, uhuhuhuk!”


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2