
Walau berada di posisi yang tinggi di perusahaan, Nurul tak pernah melupakan kedua orang tua dan keluarganya, dia berusaha memberikan yang terbaik layaknya seorang anak pada keluarganya, Nurul juga selalu menjadi orang nomor satu di panti asuhan milik keluarganya.
Tak sedikit dana yang di gelontorkan Nurul untuk panti asuhan milik keluarganya dan hal itu pun mendapat dukungan penuh dari Handoko.
Di saat karirnya semakin menanjak, Nurul teringat pada perempuan yang telah berjasa menolong dirinya yaitu Bu Rohana.
Pagi itu sebelum Nurul pergi kekantor, dia pun menyempatkan diri mampir di rumah Ibu angkatnya itu, dengan pelan Nurul menghampiri rumah kediaman Rohana.
“Tok, tok, tok! Assalamu’alaikum!” ujar Nurul sembari mengetuk pintu.
Mendengar pintu di ketuk dari luar, Rohana pun bergegas untuk membukanya, saat di lihatnya yang mengetuk pintu adalah Nurul, Rohana langsung memeluk Nurul, perempuan manis yang pernah mengisi kekosongan rumahnya.
“Putri Ibu, kau datang Nak?”
“Iya, Bu.”
“Kenapa begitu lama sekali datangnya?”
“Hari ini aku datang untuk membawa Ibu bersama ku.”
“Kemana kau mau bawa Ibu, nak?”
“Kerumah Handoko, tempat majikan lama Ibu.”
“Nggak, Ibu nggak mau kesana nak, ibu takut.”
“Kenapa mesti takut, kan Ibu nggak bersalah.”
“Nanti kalau Riza kembali gimana?”
“Jika Riza kembali kerumah itu, maka aku yang akan keluar Bu.”
“Kenapa seperti itu?”
“Karena aku bukan istrinya lagi.”
“Apakah Handoko menyetujuinya sayang?"
“Mau tak mau, dia mesti menyetujuinya, karena Handoko tak mau kehilangan kami berdua Bu, apa lagi Radit, telah di jadikan Handoko sebagai pewaris tunggal perusahaan kakeknya.”
“Waah! Kau sungguh beruntung nak, jarang lho, orang mendapat rezeki nomplok seperti itu,” ujar Rohana sembari melipat bajunya yang sudak kering.
“Gimana, Ibu setuju bukan, ikut bersama ku, ke istana tuan Handoko?”
“Ibu masih di hantui rasa takut dengan kejadian itu nak.”
“Ibu nggak usah khawatir semuanya pasti baik-baik saja kok.”
Mendengar permintaan dari Nurul, Rohana tampak termenung sejenak, dia merasa sedih sekali meninggalkan rumah yang udah bertahun dia tempati, tinggal bahagia bersama anak dan suami tercintanya.
“Ibu nggak usah khawatir, biar rumah ini tetap terjaga dan nggak mudah lapuk, untuk sementara waktu, kita harus carikan penyewanya Bu.”
__ADS_1
“Penyewanya?”
“Iya,” jawab Nurul sembari tersenyum manis.
“Kalau di sewakan, nanti malah rumah Ibu jadi berantakan.”
“Tenang saja, nanti aku yang akan mengurusnya.”
“Baiklah, kalau begitu, boleh Ibu bermohon sesuatu pada mu?”
“Ibu mau minta apa dari ku?”
“Jika nanti, anak tuan Handoko kembali, dan kau juga pergi, maukah kau membawa Ibu bersama mu?”
“Ya, tentu! aku nggak membiarkan Riza menyakiti diri ibu.”
Tapi Ibu begitu kenal sekali dengan Riza itu nak, dia pasti berbuat nekad kalau keinginannya nggak di penuhi.
Karena telah mendapatkan jaminan keselamatan dari Nurul, Rohana pun menyetujui permintaan Nurul, setelah pulang bekerja, Nurul langsung menjemput Rohana dan membawanya kerumah Handoko.
Awalnya Rohana merasa takut, kalau-kalau Handoko tak mau menerimanya lagi, akan tetapi ketika Handoko melihat Rohana berdiri di hadapannya, Handoko malah terkejut dan dia juga mencium tangan perempuan tua itu.
“Ibu!” ujar Handoko seraya menyalami perempuan tua itu.
Bukan hanya itu saja, Handoko malah mencium tangan perempuan yang dulu pernah menjadi pembantunya.
“Kemana saja Ibu selama ini, kenapa nggak pernah kelihatan?”
Di saat itu Nurul melihat ada butiran-butiran bening jatuh membasahi kedua pipinya, hatinya sedih, karena Rohana yang selama ini sudah dia anggap sebagai Ibunya, tiba-tiba saja menghilang.
“Aku sudah mencari Ibu kemana-mana, sepertinya aku begitu tergamang saat derita itu terasa berat bergantung di pundak ku, Ibu yang selama ini sebagai teman dan juga orang tua, pergi begitu saja meninggalkan kami berdua.”
Bukan hanya Handoko yang menangis pilu, akan tetapi Rohana juga merasa terharu,
Mulai hari ini tinggallah bersama kami, hidup aman di rumah ini bersama Nurul dan Radit cucu ku satu-satunya.”
“Iya, tuan, aku akan menjaga dan merawat cucu mu itu dengan baik,” jawab Rohana pelan.
“Makasih, Bu.”
“Sama-sama."
Merasa satu keluarga yang utuh,Handoko bersama Rohana dan yang lainnya, hidup satu atap yang sama, mereka semua merasa senang dan bahagia.
Siang itu, Handoko bersama Nurul, datang kerumah sakit, guna melihat anak Zaki yang masih koma, akan tetapi setibanya di rumah sakit, Nurul begitu terkejut, di saat melihat kamar keponakannya rame di kunjungi oleh orang.
“Ada apa, kenapa begitu rame?”
Di saat rasa herannya belum terbayar, dari dalam kamar Intan pun keluar seraya menangis, Nurul yang melihat kakaknya langsung datang menghampirinya.
“Ada apa kak? Kenapa begitu rame?”
__ADS_1
“Kau lihatlah kedalam dek.”
“Sebenarnya apa yang terjadi sih?” tanya Nurul penasaran.
Karena tak mendapat jawaban dari Intan, Nurul langsung saja menerobos masuk,tetapi betapa terkejutnya Nurul, ketika di lihatnya putra satu-satu Zaki telah berpulang ke Rahmatullah.
“Innalilahi wainnailaihi roji’un.”
“Dihadapan Zaki, Nurul menangis histeris, Zaki yang melihat adiknya baru saja datang, dia langsung memeluk tubuh Nurul.
“Kapan perginya Bang?” tanya Nurul ingin tau.
“Baru dek.”
“Kenapa?”
“Jantungnya begitu lemah dek, sehingga, kami nggak bisa menolongnya lagi.
“Oh, keponakan ku yang tampan,” ujar Nurul sembari menciumnya.
“Bersama siapa kau datang dek?”
“Bersama Papa, Bang.”
“Ooo, begitu.”
Setelah itu, berita duka pun langsung di sampaikan ke rumah Mang Ojo, bahwa putra tercinta Ahmad Zaki telah meninggal dunia.
Mendengar berita itu, seluruh keluarga menangis histeris, air mata mereka tak dapat di bandung lagi.
Rasa sedih telah menyelimuti hati yang terluka, Mang Ojo yang mendengar berita kemalangan itu, langsung lemah, lututnya tak sanggup menyanggah kuatnya tubuh Mang Ojo.
Pria tua itu tampak sock sekali, Fatma yang berada saat itu di sampingnya langsung menyambut tubuh suaminya yang hampir menyentuh tanah.
“Innalilahi wainnailaihi raji’un.”
Rasa senang di hati Mang Ojo, yang telah melihat putrinya bahagia, kini berbalas dengan rasa pilu yang tak dapat untuk dia ucapkan.
Mang Ojo menangis, di antara senyumannya yang tersembunyi, bersama putranya yang lain, Mang Ojo langsung ke rumah sakit untuk menjemput jenazah cucu yang disayanginya, bersama iring-iringan ambulance, Mang Ojo tampak tertunduk sedih di belakang.
Begitu juga dengan zaki beserta yang lainnya, putra satu-satunya yang dia miliki kini telah berpulang ke Rahmatullah. Hanya do’a yang bisa di ucapkan saat itu, semoga putra tercintanya di beri tempat yang layak di sisi Allah swt.
“Kamu yang sabar, ya nak,” ucap Fatma pada putranya itu.
“Iya, Bu.”
“Sekarang kita telah kehilangan orang yang kita sayangi, semoga, Allah akan mendatanginya kembali dengan anak-anak yang sholeh dan sholeha yang lainnya.”
“Aamiin.”
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*