
Gita terhenyak di lampu merah jalanan, air matanya tak dapat di bendung lagi, kesedihan yang selama ini di tahankan nya, pagi itu telah sampai ketitik puncaknya.
Setelah beberapa saat duduk di bawah lampu merah jalanan, Gita pun memutuskan untuk kembali kerumahnya, tujuannya untuk mencari pekerjaan sirna seketika.
“Tok. Tok, tok !”
Leni yang mendengar pintu rumahnya di ketuk dari luar, dia pun bergegas untuk membukanya.
Akan tetapi betapa terkejutnya dia, saat di lihat didepan pintu rumahnya telah berdiri Gita dengan mata yang membengkak seperti sehabis menangis.
“Ada apa sayang ? kenapa menangis ?” tanya Leni heran.
“Semua ini karena kesalahan Mama dan Papa ! coba saja hari itu kalian mengizinkan aku untuk masuk agama Islam, pasti Bang Zaki tak berpindah hati ke wanita lain.”
“Maksud mu Zaki udah punya wanita lain ?”
“Iya !” jawab Gita dengan deraian air mata.
“Bagus dong, berarti kamu bisa fokus dengan agama mu sendiri, nggak plin-plan seperti kemaren.”
“Maksud Mama apa ?”
“Gita, beralih kepercayaan karena ingin menikah dengan seseorang, itu nggak baik nak !”
“Itu semua menurut Mama kan ?”
“Gita, orang yang ingin beralih agama itu, karena mereka itu benar-benar yakin kalau agama yang akan di anutnya itu lebih baik dari agama nya sendiri, dan hal itu datang dari hati kita nak, bukan karena ingin menikah saja.”
“Lalu menurut Mama, agama Bang Zaki itu nggak baik ?"
“Mama nggak bicara seperti itu kan sayang ? Karena menurut Mama, semua agam di dunia ini baik dan tak ada yang salah. Itu semua tergantung kita bagai mana memahami agama yang akan kita jalani itu.”
“Terserah Mama, aku capek !” bentak Gita dengan suara keras.
“Gita sayang ! kau mengambil keputusan dengan tergesa-gesa nak, hal itu nggak baik untuk masa depan mu nanti !”
“Masa depan apa Ma ? masa depan yang bagai mana menurut Mama ? bukankah masa depan ku sudah hancur !” jawab Gita dengan deraian air mata.
Melihat putrinya menangis karena kesalahannya, Leni juga menahan air mata sendiri, agar tak mengalir keluar, dadanya terasa sesak dengan keputusan yang sangat sulit itu, Leni benar-benar dalam dilemma yang sangat berat sekali.
Di saat itu Ahong datang menghampiri istrinya, yang sedang duduk seraya memandang hampa pada suaminya.
“Kenapa ? kamu bertengkar lagi dengan Gita ?”
“Aku nggak tega melihatnya menderita, ingin sekali rasanya ku bebaskan dia dalam belenggu yang sedang mencengkeramnya saat ini.”
“Jangan terlalu mudah terpengaruh ! biasakan seorang anak melakukan hal yang aneh jika kehendaknya ditolak, begitu juga dengan Gita.”
“Lalu kita mesti gimana ?”
__ADS_1
“Biarkan saja dia merenung di kamarnya, toh, nanti juga sadar sendiri.” Jawab Ahong yang tak perduli dengan perasaan Gita putrinya.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Gita memutuskan untuk kembali kerumah sakit, tekadnya sudah bulat, untuk kembali bekerja menjadi pendamping Zaki.
Setelah tiba dirumah sakit, Gita langsung menemui pimpinan rumah sakit itu.
“Kemana saja kamu, udah beberapa hari ini, nggak masuk kerja ?” tanya pimpinan rumah sakit.
“Saya sakit Pak !” alasan Gita saat itu.
“Kalau sakit, kenapa nggak mengirim surat ?”
“Saya sendiri dirumah Pak, sementara saya nggak kuat untuk keluar rumah.”
“Orang tua mu masih ada ?”
“Mereka udah lansia pak, jadi nggak pernah keluar rumah.”
“Ya udah ! ini kali terakhir kamu membuat kesalahan, untuk kali ini kamu saya maafkan, jika saja saya nggak melihat ginerja kamu, saya tentu sudah melepas kamu keluar dari rumah sakit ini.”
“Baik pak ! kalau begitu saya permisi dulu.”
“Bekerjalah yang giat, tunjukan dedikasih yang baik untuk rumah sakit ini.”
“Baik Pak.” Jawab Gita sembari berlalu meninggalkan pimpinannya.
Zaki benar-benar merasa rindu sekali dengan Gita, di peluknya gadis itu dengan eratnya, di dalam ruangan itu, Zaki pun mencumbu Gita dengan lembut sekali.
Tak sepetah kata pun yang dapat di ucapkan Gita saat itu, karena bibir Zaki telah menutup keinginannya untuk meluapkan semua kekesalan hatinya.
Tangan Zaki yang nakal mulai menyelinap kedalam pakaian Gita yang putih, Gita diam saja, dia juga ikut merasakan betapa nikmatnya pertemuan mereka pagi itu.
Berkali-kali Zaki mengecup bibir gadis yang sangat di cintainya itu, lama dia memandangi wajah Gita yang tampak memerah.
Merasa di perhatikan Gita pun tertunduk malu, jantung nya berdebar terlalu kencang, sehingga membuat dadanya terasa sakit dan sesak, dengan lembut tangan Zaki yang putih dan berbulu, membuat Gita merasakan nikmatnya disentuh.
“Hei !” ucap Zaki di saat Gita menikmati betapa senangnya, ketika tangan itu menyentuh *********** yang lembut dan kenyal.
Gita pun tersentak, ketika suara itu bergema ditelinganya, hembusan nafas Zaki membuat gairah Gita semakin memuncak.
“Sayang !” desah Gita yang tak ingin Zaki berhenti untuk menyentuhnya.
Tapi Zaki sadar, kalau saat itu, keluarga nya mendukung penuh agar Zaki segera memutuskan hubungan mereka berdua.
Perlahan Zaki mulai melonggarkan jarak antara dirinya dan Gita, yang membuat Gita bertanya padanya.
“Kenapa berhenti ?”
“Maumu kita lanjutkan sayang ?” tanya Zaki dengan suara lembut.
__ADS_1
Gita diam saja, hanya tatapannya yang saat itu tampak berharap sesuatu pada Zaki.
“Jika kita lanjutkan, ujungnya pasti nggak baik untuk masa depan kita nantinya.”
“Masa depan siapa ? aku atau kamu !”
“Kenapa kau mempertanyakan hal itu sayang ?”
“Karena aku merasa, masa depan itu udah nggak ada lagi dalam hidup ku Bang.”
“Jangan bicara seperti itu, nggak baik berputus asa.”
“Berputus asa ? berputus asa apa Bang ?”
“Masih banyakan pria di dunia ini selain Abang !”
Mendengar ucapan Zaki, jantung Gita terasa mendidih, dia begitu heran dengan ucapan Zaki saat itu pada dirinya.
“Abang kira aku ini perempuan murahan ya ?”
“Abang nggak ada bilang begitu kan ?”
“Aku tau, semalam aku melihat Bang Zaki dengan perempuan lain, apakah wanita itu yang telah menggantikan posisiku di hati Abang ?”
“Kamu lihat Abang di mana ?"
“Di pertigaan lampu merah !” jawab Gita sembari membenahi pakaiannya yang telah terbuka.
“Ooo, dia itu maksud mu.”
“Ya, perempuan itu.”
“Kenapa ? kamu cemburu ya ?” tanya Zaki seraya tersenyum lebar.
“Cemburu ? ah, nggak ! buat apa cemburu !” bantah Gita dengan wajah cemberut.
“Benar nggak cemburu ?”
“Iya ! untuk apa cemburu coba, kan nantinya Abang bakalan menikah dengan wanita lain juga.”
“Padahal dia itu seorang dokter lho, cantik lagi !” ledek Zaki sembari membantu Gita membenahi pakaiannya.
Mendegar ucapan Zaki, Gita jadi semakin sedih, dengan lembut di peluknya Zaki.
“Hei ! ada apa sayang ?”
“Uhuhuhuhuk !” Gita menangis di dalam pelukan Zaki.
Bersambung...
__ADS_1