
Malam yang indah itu, tak sedetikpun yang di lewatkan oleh Dika, tubuh yang putih bersih dan payudara yang indah dan kenyal yang selama ini telah mengusik ingatannya, malam itu dia telah menyentuhnya.
Di pelukan sang suami, Yulia tersenyum manis, kebahagiaan yang selama ini tak pernah dia bayangkan, bahkan dalam mimpi sekali pun, malam itu telah terwujud jadi satu kenyataan.
Lengkap sudah rasa hidup Dika, menikahi seorang gadis lembut dan penurut, merupakan impian setiap suami.
Di lain tempat, disebuah desa yang letaknya begitu jauh dari tempat tinggalnya Mang Ojo. Di seberang lautan lepas, seorang anak lulusan SMA, mencoba mencari peruntungan dengan mengisi formulir maha siswa undangan di akademi kedokteran.
Nasib mujurpun menyertainya, tanpa diduga sama sekali Randi menerima sepucuk surat tentang kelulusannya menjadi peserta yang telah terdaftar dari sekian siswa yang terpilih.
Dengan berbekal mental yang kuat dan tekat yang bulat, Randi mencoba menyampaikan kabar gembira itu pada orang tuanya. Dengan berlari kencang, Randi berteriak-teriak memanggil kedua orang tuanya.
“Ayah ! Ibu ! aku diterima kuliah di Jakarta ! mereka menerima aku kuliah di sana sebagai mahasiswa undangan.” Teriak Randi dengan girangnya.
“Benarkah itu nak ?” tanya Riswan tak percaya.
“Benar Yah .” jawab Randi seraya memperagakan formulir itu pada kedua orang tuanya.
“Benar ! kamu di terima di sana nak ?” jawab Riswan seraya memeluk putra tunggalnya itu.
“Kalau begitu, berarti kau jauh dari Ibu dong sayang ?”
“Ibu, aku janji, setelah tiba disana nanti, aku akan sering berkirim surat pada Ayah dan Ibu.”
“Tapi tetap saja kan, Ibu rindu dengan mu ?”
Mendengar kata-kata dari Ibunya, yang seakan-akan berat melepas kepergiannya untuk kuliah di negri seberang, Randi pun menghampiri Ibunya itu.
“Ya udah, kalau Ibu merasa berat berpisah dengan Ku, nggak apa-apa, biar aku kuliah disini aja, biar hati Ibu dan Ayah nggak sedih lagi.”
“Benar kamu mau kuliah disini, aja nak ?”
“Iya Bu, nggak apa-apa kok, toh hasilnya tetap sama bukan ?”
“Alhamdulillah !” kata Rumana dengan senangnya.
“Kalau Ayah, setuju saja nak, tapi kamu kan tau sendiri, biaya kuliah di Jakarta itu sangat mahal .”
“Lalu bagaimana dengan surat ini, Yah ?”
“Kembalikan sajalah Nak, toh kita tak punya apa-apa untuk sekolah disana.” Kata Riswan dengan suara pelan.
“Baiklah Yah, besok surat ini akan Randi kembalikan pada kepsek.”
“Ya, kembalikanlah. Nanti jika Ayah punya uang, kau pasti Ayah kuliah kan.” kata Riswan pada Randi.
__ADS_1
“Baiklah kalau itu menurut Ayah jalan yang terbaik.” Kata Randi dengan perasaan sedikit kecewa.
Esok harinya Randi pun mengembalikan formulir itu pada kepsek dan menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada kepsek.
“Pada hal hanya kau satu-satunya, orang beruntung mendapatkan formulir itu, dari sekian banyak siswa yang terdaftar selama ini.” Kata kepsek pada Randi.
“Aku bukannya nggak mau Pak, tapi keluargaku nggak sanggup membiayai kuliahku selama disana.”
“O iya, kamukan siswa berprestasi, lagian kamu itu kan jadi mahasiswa undangan, otomatis kamu nggak di pungut biaya selama kuliah di sana, dan bahkan perbulannya kamu akan di beri uang kuliah.”
“Tapi Pak ! orang tua ku merasa keberatan kalau aku jauh dari mereka !”
“Begini aja, gimana kalau bapak bantu kamu mengurus segala sesuatunya, agar keinginanmu untuk menjadi mahasiswa disana dapat terwujud dan selama kuliah orang tuamu nggak perlu mengirimkan biaya kuliah karena semua biaya kuliahmu sudah ditanggung pemerintah.”
“Gimana caranya ?"
“Nanti biar Bapak sendiri yang bicara dengan orang tua mu.”
“Benarkah itu, Pak ?” tanya Randi tak percaya.
“Benar Randi, dan beritau pada orang tuamu kabar gembira ini, nanti biar Bapak menyusul kesana.”
“Alhamdulillah, terimakasih banyak, Pak !” kata Randi seraya mencium tangan kepsek berulang-ulang.
“Benar nggak bayar sepersen pun ?” tanya pak Riswan kurang yakin.
“Benar Yah, kata kepala sekolah seluruh biaya kuliah ditanggung pemerintah. Bahkan selama Aku kuliah disana, Aku mendapatkan biasiswa setiap bulannya. Dan untuk biaya Randi selama kuliah, Randi janji akan mencari biaya hidup sendiri.”
“Apa kamu bisa, bekerja sambil kuliah ?”
“Insya Allah, Randi akan mencobanya. Nanti kepala sekolah akan datang kerumah ini untuk memberitahukan Ayah dan Ibu.”
"Nggak perlu, kami udah ngizinin kok."
"Iya, yah."
“Baiklah kalau itu menurutmu yang terbaik, Ayah dan Ibu akan mengizinkanmu sekolah disana.”
“Terimakasih Yah, Ibu ! Randi janji akan memberikan yang terbaik untuk keluarga ini.”
“Aamiin !” kata Riswan dan istrinya.
“Tapi ingat Randi, selama dirantau orang, berhati-hatilah di sana, jangan sampai lupa diri, dan jagan kau lupakan Allah. Kalau bukan karena kemurahan nya kita nggak akan jadi begini.”
“Iya Bu, amanah Ibu akan selalu Randi pegang.”
__ADS_1
Satu bulan kemudian. Malam itu adalah malam terakhir untuk Randi tidur bersama keluarganya, karena demi menuntut ilmu, Randi harus rela berpisah dengan kedua orang tuanya.
Sementara itu Rumana, dengan sigap menyiapkan semua keperluan putranya selama berada disana, mesti dengan deraian air mata, Rumana berusaha untuk tetap tegar.
Saat tengah malam, Rumana pergi kekamar Randi yang saat itu sedang tertidur lelap, di cuimnya kening putranya berulang kali, air mata Rumana tak henti-hentinya mengalir membasahi kedua belah pipinya.
Karena basah oleh tetesan air mata Rumana, Randi langsung terbangun dari tidurnya, perlahan di lihatnya Ibunya sedang menangis.
“Ibu kenapa ?”
Mendengar suara putranya, Rumana langsung menghapus air mata yang bercucuran, dan dia menoleh kearah Randi yang sudah duduk di sisinya.
“Ibu nggak apa-apa kok nak.” jawab Rumana pelan.
“Tapi, kenapa Ibu menangis ?”
“Ibu mana yang nggak menangis bila berpisah dengan putra satu-satunya.”
“Kalau Ibu merasa keberatan, Ibu tinggal bilang saja, maka Randi nggak jadi pergi. Karena hal yang sama pasti akan Randi rasakan, karena jauh dari Ibu dan Ayah.”
Mendengar penuturan putranya itu, Rumana semakin sedih, dipeluknya tubuh putranya itu erat-erat, seakan tak ingin dia melepaskan untuk selamanya.
Mesti demikian, Rumana harus berbesar hati mengiklaskan putranya untuk menuntut ilmu, semua itu demi masa depannya nanti.
“Udah, kamu tidur lagi ya sayang ? besok pagi-pagi kita akan ke bandara untuk mengantar mu.”
“Baik Bu.” jawab Randi dengan suara lembut.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Randi sudah siap untuk berangkat, lalu dari kejauhan Randi mendengar suara deru mobil Kepsek menghampiri rumahnya.
Dari dalam mobil itu, keluar Kepsek bersama dengan istrinya. Mereka berdua kemudian menghampiri Randi dan kedua orang tuanya.
“Hei ! kamu udah siap Randi ?” sapa Kepsek seraya tersenyum lebar.
“Udah Pak !” jawab Randi seraya mencium tangan Kepsek beserta istrinya.
Begitu juga dengan Kepsek dia juga menyalami kedua orang tua Randi, menyusul Juwita di belakangnya.
“Kamu udah siap untuk berangkat ?”
“Udah Pak.” Jawab Randi singkat.
“Ayo Pak, Bu ! kita sama-sama ke bandara !” ajak Kepsek pada kedua orang tua Randi.
Bersambung...
__ADS_1