
“Gimana Bang! Gimana keadaan Randi?” tanya Nurul penasaran.
“Kedua kakinya harus di amputasi sayang?”
“Apa, amputasi?”
Melihat Nurul terkejut Dika langsung menyambut tubuh adiknya yang mulai melemah. Nurul mengalami sock.
“Lalu gimana ini? Sayang tolonglah kuat, kalau nggak di amputasi, kakinya akan membusuk sayang, tolong beri keputusan mu dengan cepat,” bujuk Zaki pada adiknya yang sudah tak berdaya itu.
“Aku nggak bisa ngasih keputusan Bang, karena aku nggak mau di salahkan nantinya, minta izinlah pada Ayah, karena dia yang lebih berhak atas Randi ketimbang aku,” jawab Nurul dengan suara lirih.
“Baiklah, akan Abang tanyakan hal ini pada Ayahmu.”
Lalu Zaki datang menghampiri Riswan yang sedang duduk diam di samping Mang Ojo. Saat Zaki datang menghampirinya, Riswan langsung berdiri.
“Ada apa nak? bagai mana keadaan Randi saat ini?”
“Kedua kakinya harus di amputasi Yah, kalau nggak kakinya bisa membusuk.”
“Oh, ya Allah! begitu berat cobaan ini ku rasakan,” teriak Riswan sembari menangis pilu.
“Yang sabar Pak, semoga saja setelah ini, Bapak dapat memetik hikmahnya.”
“Tapi Pak, aku sungguh tak kuat!" melihat Riswan menangis histeris, semuanya pun ikut larut dalam kesedihan itu, air mata duka menyelimuti sore yang kelam.
“Lalu gimana Yah, kasihan Randi begitu lama menanggungnya,” desak Zaki saat itu.
“Terserah mu nak, lakukan saja apa yang menurutmu baik,” jawab Riswan dengan suara serak.
Setelah mendapat izin dari Riswan, Zaki langsung masuk kedalam, Zaki tak lagi memikirkan yang lainnya, dia fokus untuk menyelamatkan Randi yang kritis.
“Kita lakukan operasi, secepatnya!” perintah Zaki pada yang lainnya.
Setelah mendapat perintah, Zaki bersama dokter ahli, langsung mengamputasi kedua kaki Randi yang telah hancur, begitu juga dengan tangan kanannya yang seluruh jarinya telah putus.
Setelah beberapa jam menjalani operasi, akhirnya Randi bisa di selamatkan, mesti demikian, Randi benar-benar telah menjadi pria cacat seumur hidupnya.
__ADS_1
Dengan perasaan sedih, Zaki pun keluar dari ruang operasi, tak sepatah kata pun yang dapat di ucapkannya saat itu, Nurul yang tak sabar mendengar kabar suaminya, juga tak mendapatkan penjelasan apa-apa dari Zaki.
“Gimana Bang? Gimana kabar Randi Bang?” tanya Nurul ingin tau.
Mesti Zaki mendengar suara Nurul, namun hatinya sedang tidak sehat waktu itu, air mata Zaki tercurah, ketika melihat adik kecilnya, menangis tiada henti.
“Kau lihatlah sendiri sayang,” jawab Zaki sembari terhenyak di kursi tunggu.
“Ada apa nak?” tanya Fatma penasaran.
“Mesti Randi dapat di selamatkan, tapi dia kehilangan kedua kakinya dan sebelah tangan kanannya.”
Mendengar penjelasan dari Zaki, Nurul semakin tak kuasa menahan tangisnya, segunung beban terasa menggumpal di dadanya, tak tau mesti kemana harus di empaskan nya.
Mang Ojo yang melihat putri kecilnya tak henti-henti menangis, dia pun datang menghampiri, memberi memberi semangat hidup padanya, agar selalu sabar dan tabah.
“Kalau teras ada yang mengganjal di lubuk hati mu, kembalikanlah kepad Allah, karena semua yang terjadi di atas dunia ini, adalah takdir yang telah digariskan. Randi saat ini telah menjemput takdir yang telah ditetapkan untuknya sayang.”
“Semuanya salah aku, Pak. aku telah keras padanya.”
“Nggak ada yang perlu di salahkan sayang, tugas kita semua hanya bisa bersabar dan iklas pada apa yang telah ditetapkan Allah, nggak perlu berkeluh kesah padanya, kamu paham nak.”
Sementara Intan yang memeluk tubuh Nurul, dia pun tak henti-hentinya menangis begitu juga dengan Ranita, Yulia dan Defi, rasa sakit itu seperti telah menjalar secara langsung ke batin mereka masing-masing.
“Yang sabar sayang, jika kamu nangis terus, nanti kamu juga ikut-ikutan sakit lhoh,” ujar Intan memberi nasihat pada adik kecilnya.
“Kak Intan benar sayang, kamu jangan sedih lagi ya,” timpal Ranita dengan linangan air mata.
Di saat itu, tiba-tiba saja Nurul mengalami mual-mual, perutnya terasa mules, seperti orang yang sedang masuk angin.
Nurul berlari menuju toilet rumah sakit. Semuanya tampak sedang memperhatikan dirinya, yang mondar mandir ke toilet.
“Ada apa sayang, kamu sakit?” tanya Ranita ingin tau.
“Entahlah Kak, rasanya mual sekali.”
“Atau, jangan-jangan, kamu lagi hamil nggak.”
__ADS_1
“Hamil? Apa benar aku lagi hamil kak?” tanya Nurul tak percaya.
Defi yang melihatnya, langsung mengajak Nurul masuk kedalam untuk diperiksa, ternyata benar dugaan Ranita, Nurul dinyatakan positif hamil, bayi yang di dalam kandungannya sudah memasuki usia tiga minggu.
“Aku hamil Bu,” ujar Nurul dengan senyum lebar.
“Alhamdulillah!” semuanya mengucapkan kata syukur yang tiada terhingga, ternyata kehadiran sikecil di kandungan Ibunya, butuh pengorbanan sang Ayah tercinta.”
Mesti sakit, namun Nurul masih bisa tersenyum manis, karena ada jabang bayi yang sedang bersembunyi di dalam Rahim Ibunya.
Setelah dua hari berada diruang UGD, Randi pun mereka pindahkan keruang perawatan, Nurul yang saat itu telah mengandung anak pertamanya, tak pernah merasa jenuh merawat Randi yang masih koma.
Sepulang dari bekerja Nurul selalu menyempatkan diri kerumah sakit, untuk melihat kondisi suaminya.
Hari demi hari telah dilewatkan Nurul penuh dengan kesabaran, tak tahan dengan biaya rumah sakit yang semakin membeludak, akhirnya Randi di pindahkan kerumah. Karena dirumah, ada Zaki yang selalu setia merawat Randi beserta Rumana.
Mesti dalam keadaan Stroke, Rumana merasa sedih melihat kondisi Randi yang masih koma, siang dan malam perempuan paruh baya itu selalu meneteskan air matanya.
“Ibu yang sabar ya,” ujar Zaki sembari memeriksa kondisi Rumana.
Sementara itu, Riswan yang dalam keadaan berduka, dia tak bisa berbuat apa-apa, air matanya terasa sudah mengering, karena kesedihan yang datang secara bergantian.
Tak terasa sudah hampir satu tahun Randi mengalami koma, hingga saat itu dia sadar. Ketika dia tersadar dari koma yang panjang, Randi merasakan ada sesuatu yang hilang pada dirinya.
Kedua kaki yang buntung serta sebelah tangan kanan yang sudah di amputasi membuatnya sedih. Randi pun menjerit histeris sekali.
“Mana kaki ku, mana kaki ku, mana! oh aku udah kehilangan kaki dan tangan ku! Bunuh saja aku! Bunuh saja! Untuk apa aku hidup, untuk apa kalian menyelamatkan aku, huhuhuhuk!” Randi menangis histeris.
Melihat Randi sadar dari koma nya, semua keluarga merasa senang saat itu, tapi tidak dengan Randi, dia ternyata memilih tiada dari pada hidup tak berguna.
Nurul menjadi sedih sekali, karena selama ini, dia telah merawat dan mengurus Randi dengan senang hati, namun Randi tetap saja tak ingin disentuh oleh istrinya itu.
“Jangan mendekat lagi, pergi kau! Pergi!” teriak Randi pada Nurul dengan mata yang melotot tajam.
“Kau nggak bersyukur telah diberi Allah kesempatan untuk hidup, Bang.”
“Bersyukur apa! Lebih baik aku tiada, dari pada hidup menanggung rasa malu dan berkumpul dengan keluarga pemulung macam kalian!” teriak Randi dengan suara keras.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*