
Hati Intan sangat sedih sekali, karena hingga bertahun mereka menikah orang tua Niko masih tetap membenci dan menghina keluarganya.
“Jangan bawa bersedih sayang !” kata Mang Ojo pada Intan yang saat itu masih duduk termenung di ruang tamu.
“Aku benar-benar heran Pak, kenapa Mama masih saja menaruh dendam dan benci pada ku, padahal kalau mereka menyayangi anak-anak ku, bukannya kebencian pasti kami menyerahkan putri kami pada mereka.”
“Begitulah nak, kadang kita di uji dengan kesabaran, kadang kita di uji dengan kemiskinan dan rasa sakit serta kehilangan, namun kalau kita mengambil hikmah dari semua musibah itu, maka kita pasti dapat menjalaninya dengan baik.”
“Iya, Pak.”
“Mesti terkadang hal itu sangat menyakitkan sekali. Kamu taukan sayang, Allah itu nggak akan menguji hambanya di luar batas kemampuan hamba itu sendiri.”
“Iya Pak.” Jawab Intan dengan deraian air mata.”
“Jadi hadapi semuanya dengan ikhlas dan berlapang dada.”
“Baik Pak.”
“Minumlah dulu nak !” kata Fatma seraya menyodorkan segelas air putih ketangan putrinya Intan.
Tanpa bicara sepatah pun Intan langsung mengambil air putih itu dari tangan Ibunya, dengan mengawali kata “Bismillah” lalu Intan meneguknya dengan pelan.
“Tenangkan fikiran mu sayang, ingat ! kau baru melahirkan, seorang wanita yang baru melahirkan dia nggak boleh banyak berfikir, karena hal itu dapat membahayakan dirinya dan bayi yang baru dia lahirkan.”
“Iya Bu.”
“Nah ! kalau kau udah sedikit tenang pergilah kekamar, tidur dan istirahatlah sejenak.”
“Baik Bu.”
Bagi Intan dalam kekalutan dan kesedihan hati yang baru dirasakannya, kehangatan dan kelembutan seorang Ayah dan Ibulah yang sangat di butuhkan, karena hanya kepada mereka lah, seorang anak itu paling dekat.
Bersamaan dengan kejadian yang melanda rumah tangga Intan, rumah tangga Dika juga mengalami prahara yang tak kalah peliknya.
Melihat kemewahan yang dimiliki Dika beserta istrinya, rupanya telah memancing seseorang untuk berbuat kejahatan.
Awal mulanya seseorang telah mengakui dirinya sebagai tante dari Yulia wulandari, istri dari Dika sendiri.
Sebenarnya Dika tak langsung mempercayainya. Tapi karena Yulia orangnya tak pernah mengenyam Pendidikan, dia begitu mudah percaya dan dipengaruhi oleh pihak ketiga.
Pagi itu Dika mencoba bicara empat mata dengan istrinya, dan Yulia pun datang menghampiri suaminya.
“Sayang, ada sesuatu hal yang ingin Abang tanyakan padamu ?”
“Apa itu, Bang ?”
“Tapi Lia harus jujur pada Abang.”
“Iya katakan lah, Lia pasti jawab dengan jujur.” Kata Yulia saat itu.
“Kalau boleh Abang tau, sejak usia berapa orang tua Lia meninggal ?”
__ADS_1
“Lia nggak tau Bang ? tapi kata Pak Joko, pemulung yang membesarkan Lia, katanya orang tua Lia meninggal sejak Lia bayi.”
“Jadi sejak saat itu, apa pernah tante Meri datang menjenguk mu ?”
“Nggak ? malah kata pak Joko, saat Lia dilaporkan kekepala desa, tak seorangpun yang datang mengambil Lia, termasuk tante Meri.”
“Lia kenal dengan tante Meri ?”
“Nggak ! tapi katanya dia itu benar-benar tante Lia , yang udah lama mencari keberadaan Lia.”
“Itu bisa saja sayang ! ada orang yang ngaku sebagai tantemu, karena saat dilihatnya, Lia nggak seperti dulu lagi.”
“Lalu apa yang mesti Lia lakukan Bang ? kata tante Meri dia punya bukti yang kuat untuk pernyataannya itu.”
“Jalan satu-satunya kita harus menemui Bang Niko. Karena hanya dia yang bisa menjelaskan semua ini.”
“Baik Bang, Lia ikut Abang aja.” Jawab Lia menuruti perkataan suaminya.
“Kalau begitu besok kita kerumah Kak Intan.” Kata Dika pada istrinya.
Malam itu mata Dika sangat sulit untuk dipejamkan, fikirannya tak tenang karena ada orang ketiga yang ingin masuk dalam kehidupan mereka berdua. Bukan masaalah harta yang ditakutkan Dika, tapi wanita itu punya maksud tertentu.
Keesokan harinya Dika dan Yulia datang berkunjung kerestoran tempat Intan dan Niko tinggal, saat Dika hendak mengetuk pintu, Dika mendengar suara Intan yang sedang menangis.
Dika mengira kalau Intan sedang bertengkar dengan Niko, makanya Dika mengurungkan niatnya menemui Intan kakaknya.
“Kenapa nggak masuk Bang ? tanya Yulia heran.
“Besok aja sayang .”
“Nggak ! tapi sepintas lalu, Abang mendengar suara Kak Intan sedang menangis, mungkin mereka sedang bertengkar, jadi Abang urungkan aja niat Abang untuk menemui Kak Intan, kan masih ada waktu untuk esok lusa.”
“Baiklah !” jawab Yulia dengan nada sedikit tegang.
“Gimana kalau kita kerumah Bapak saja, siapa tau Bapak punya jawaban dari berita kita ini.”
“Baiklah.”
Setelah mendapat jawaban dari istrinya, Dika langsung pergi kerumah orang tuanya. Saat mereka tiba, Fatma langsung menyambut kedatangan Yulia dengan senyuman yang manis.
“Putri Ibu yang cantik, kalian baru datang ?” tanya Fatma sembari memeluk tubuh Yulia.
Tidak seperti biasanya, jika memeluk tubuh Yulia Fatma selalu menempelkan tubuhnya keperut Yulia, tapi kali ini Fatma merasakan ada yang mengganjal di antara mereka berdua.
“O walah duk ! wes toh ?”
“Iya Bu !” jawab Yulia pelan.
“Udah berapa bulan ?”
“Udah masuk empat Bu.”
__ADS_1
“Ooo, syukurlah ! semoga saja kau dan bayimu sehat ya nduk ?”
“Insya Allah Bu.” jawab Yulia pelan.
“Apakah kalian udah makan sayang ?” tanya Mang Ojo pada Dika dan istrinya.
“Udah Pak.” Jawab Dika dengan suara lembut.
“Ada apa ? sepertinya kamu sedang punya masalah ?”
“Iya, Pak.”
“Masalah apa ?”
“Dirumah ada orang yang mengaku sebagai Tantenya Yulia.”
“Maksud mu ada tante Yulia yang datang ?”
“Persisnya seperti itu Pak, tapi anehnya
aku agak sedikit curiga dengan perempuan ini.”
“Letak curiganya dimana sayang ?”
“Selama hidup Yulia, dia mengaku nggak punya seorang Tante. Sehingga Yulia hidup luntang lantung di jalanan, nggak seorang pun yang mau mengakui Yulia sebagai keponakan mereka, sehingga Yulia di pungut oleh seorang pemulung.”
“Lalu, aneh nya itu dimana ?”
“Aneh nya, kenapa setelah Yulia hidup senang dan bahagia lalu Tantenya itu datang ? kenapa nggak sewaktu Yulia jadi gelandangan saja dia datang Pak !”
“Iya juga ya ?”
“Aku bingung Pak, nanti kalau kuterima dirumah ku, takut ku dia akan berbuat jahat pada Istri ku dan bayi yang sedang di kandungnya.”
“Waah ! kalau begitu kamu itu harus berhati-hati sekali, sekarang di mana Tante Yulia itu ?”
“Saat ini dia ada di panti asuhan, bersama anak panti.”
“Begini saja nak, untuk saat ini kamu nggak usah mendekati panti dulu.”
“Lalu gimana dengan anak panti Pak, siapa yang akan memberi mereka makan ?”
“Iya juga ya !”
“Kalau nggak begini aja, anggap aja kalian nggak mencurigainya, jadi kalau bertemu dengannya berpura-pura lah jadi orang baik.”
“Baiklah, kalau begitu besok pagi kami akan bersandiwara, seolah-olah kami nggak mencurigainya.”
“Tapi ingat ! walau kelihatan nggak mencurigainya, tapi kamu jangan lalai, tetap pantau terus kedaannya, dan bilang sama anak panti, apa saja yang dilakukan Tante Yulia itu di saat kamu sedang pergi dan nggak berada dirumah.”
“Baik Pak. Saspek pertama akan dimulai.” Kata Dika seraya tersenyum lebar.
__ADS_1
Sedikit jalan sedang terbuka saat itu, Dika dengan senang tampak melenggang memasuki rumahnya yang berdiri kokoh seperti istana itu.
Bersambung...