
“Iya Kia, tuhan Ibu sebenarnya sama dengan Tuhan mu, tapi cara kita menyembahnya saja yang berbeda.
“Apa menurut Ibu, tuhan ku itu baik ?”
“Tergantung dari sudut mana kau memandangnya.” Jawab Fatma dengan suara serak.
“Ooo, begitu ya.”
Setelah Zakia bertanya banyak pada Fatma, kemudian perempuan muda itu kembali ke kamarnya.
Semenjak hari itu pula, hati Zakia selalu senang melihat Fatma dan sekeluarganya beribadah, dia sering mencuri waktu untuk berdiri disudut ruangan tamu agar bisa memandang jelas kearah tempat Ibadah.
Suatu ketika, di saat sama-sama memasak di dapur, Zakia bicara pelan pada Fatma.
“Boleh aku bicara dengan Ibu ?” tanya Zakia dengan suara lembut.
“Kenapa nggak boleh ? Ibu nggak marah kok, kalau ada orang yang ingin bertanya pada Ibu.”
“Boleh kagak, aku memeluk keyakinan yang Ibu anut.”
“Apa ? kamu serius Kia ?” tanya Fatma dengan mata terbelalak.
“Serius Bu.” jawab Zakia tertunduk takut.
“Alhamdulillah ya Allah !” jawab Fatma sembari memeluk tubuh Zakia dengan senangnya.
“Jadi boleh ya Bu ?”
“Oh Zakia sayang, Ibu selama ini udah menganggap mu sebagai bagian keluarga Ibu, Ibu juga nggak pernah membedakan mu dengan yang lainnya, sekarang rasanya kegahagiaan Ibu telah lengkap dengan keinginanmu untuk memeluk Agama yang Ibu anut.”
“Iya, Bu. rasanya hati ku terasa senang sekali bila melihat keluarga Ibu sedang beribadah, apalagi saat saya mendengar suara Nurul dalam mengaji, hati saya terasa tertekan setiap harinya.”
“Sepert itulah kalau seseorang telah mendapatkan Hidayah dari Allah, ingin rasanya dia menyegerakannya dari pada nanti semuanya jadi berubah.”
“Iya Bu.”
Mendengar pengakuan yang di buat oleh Zakia hati Fatma begitu senang sekali, lalu Fatma mengabarkan berita bahagia itu kepada suaminya Mang Ojo dan anak-anaknya.
Pagi itu juga seluruh keluarga di kumpulkan, dan Alhuda mengundang seorang ustad untuk membantu Zakia dalam Bersyahadat.
Zaki yang melihat kesepakatan keluarga Mang Ojo dalam membantu dirinya, dia pun menangis karena bahagia. Pagi itu juga Fatma membelikan seperangkat alat sholat untuk Zakia dan beberapa potong baju muslim serta jilbab yang baru.
“Ini untuk mu, pakailah agar kau kelihatan cantik.” Kata Fatma pada Zakia.
“Apa ini Bu ?” tanya Zakia heran.
“Ini hadiah untuk mu.” Jawab Fatma sembari tersenyum lebar.
__ADS_1
“Terimakasih, Bu.”
“Iya sama-sama. Cepatlah berkemas-kemas, semuanya telah siap di ruang tamu.”
“Baik Bu.” jawab Zakia sembari langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian hadiah dari Fatma.
Saat Zakia sudah selesai berkemas-kemas, semuanya ternyata sudah siap menunggu diruang tamu, dan dengan di bantu oleh Pak Ustad, Zakia resmi masuk agama Islam, seperti yang di anut Mang Ojo sekeluarga.
Semenjak hari itu, hati Zakia terasa damai, dan dia juga ikut sholat berjama’ah bersama dengan Mang Ojo sekeluarga.
Di balik kedamaian yang di rasakan keluarga Mang Ojo. Ternyata ada kesedihan yang sedang melanda keluarga kecil putrinya. Intan Putri kedua MangOjo yang sudah tiga tahun menikah, kini sedang dilanda dilemma yang sangat berat.
Betapa tidak, setelah dikaruniai anak kedua, Allah menguji imannya dengan masalah yang sangat rumit. Tiba-tiba saja Mama Niko datang untuk mengambil bayi yang saat itu masih berusia tiga bulan.
Intan pun berusaha mempertahankannya, bayi mungil itu seperti tersiksa dengan pertikaian yang terjadi antara Ibunya dengan Neneknya sendiri. “Wulandari.” Itulah nama yang di berikan Intan padanya.
Semenjak pertikaian itu, Wulandari sering rewel dan menangis histeris, Intan yang tak senang dengan kejadian itu, membuatnya gelisah sekali.
“Nggak, Ma ! itu nggak mungkin !” kata Niko pada Mamanya.
“kenapa nggak mungkin, ini kan cucu Mama ?”
“Iya, dia memang cucu Mama, tapi Mama lupa satu hal !”
“Apa itu ?” tanya Retno ingin tau.
“Agar kau ketahui ya Niko, Mama nggak ingin cucu Mama dibesarkan dikeluarga pemulung, udah cukup satu cucu yang dibesarkan disini, Mama nggak ingin yang satunya lagi juga ikut jadi keluarga pemulung !”
“Mana bisa begitu, Ma ? Intan adalah istri Niko dan mereka berdua adalah anak-anak Niko, kami sudah satu hati dan akan tetap hidup bersama selamanya.”
“Apa maksudmu Niko ?”
“Yang pasti, Niko nggak mau anak-anak Niko dipelihara oleh Mama.”
“Jaga ucapanmu Niko !” bentak Retno pada putranya Niko, yang di anggapnya telah membangkang pada dirinya.
“Maafkan Niko, Ma ?” kata Niko seraya membawa Intan dan kedua anaknya masuk.
“Mama harus ingat satu hal, Asva dan adiknya tak akan kemana, dia akan tetap bersama Ibunya.”
“Kurang ajar kau Niko ! teriak Retno diluar rumah.
“Maafkan Niko, Ma !” Katanya seraya menangis pilu. “Sebenarnya Niko nggak ingin jadi anak durhaka, tapi Mama terlalu kejam pada Niko.”
Intan yang menyaksikan peristiwa itu hanya bisa menangis sedih, anaknya yang masih berusia tiga bulanpun sudah diperebutkan, Niko yang melihat kesedihan dihati istrinya, mencoba untuk menenangkannya.
“Sudahlah sayang nggak usah terlalu dipikirkan, hal itu nggak akan pernah terjadi, Abang janji akan tetap menjaga kalian bertiga, sudahlah Abang pergi kerja dulu, beristirahatlah didalam.”
__ADS_1
“Nanti kalau Mama datang lagi, dan bersikeras membawa anak kita, lalu aku mesti gimana, Bang ?”
“Sekarang tenangkan hatimu, semuanya pasti baik-baik saja.”
“Itu menurut Abang, tapi aku takut, Bang ?” kata Intan seraya menangis dipangkuan Niko.
Melihat istrinya menangis karena ketakutan, Niko menjadi bingung tak tau mesti berbuat apa, hingga akhirnya Niko menitip kan Intan berserta kedua anaknya kepada Ibunya.
Intanpun berkemas dan meninggalkan rumah makan kepada para pelayannya.
“Udah begitu parah kah Intan ?” tanya Ibunya dengan perasaan tak tenang.
“Betul, Bu ! Mama datang dan langsung saja merebut sikecil dari pangkuanku.”
“Benar begitu, Nak Niko ?” tanya Fatma memastikannya.
“Benar, Bu.” Timpal Niko seraya duduk di sudut sofa.
“Apa sebenarnya maksud Mamamu Nik ?” tanya Mang Ojo.
“Entahlah Pak ?” jawab Niko singkat seraya mengernyitkan dahinya.
“Kata Mama, dia tak ingin cucunya dibesarkan dikawasan kumuh.” Jawab Intan pelan.
“Tapi itu nggak mungkin kan ? Mana bisa bayi sekecil ini dipisahkan dari Ibunya. Itu nggak masuk akal !”
“Tapi itulah kenyataanya ! Aku begitu takut sekali.” jawab Intan.
“Ya, udah ! sekarang kamu istirahat dulu, biar nanti urusan ini kita bahas bersama, sekarang izinkan suamimu pergi kerja, nanti dia bisa terlambat.”
“Iya, Bu.” Jawab Intan seraya mengizinkan Niko pergi kerja.
“Iya Ibu benar, kalau begitu aku nitip Intan, soal Mama biar aku yang nanganinya nanti.”
“Iya, berangkatlah nak ! hati-hati dijalan.”
“Baik Bu.” Jawab Niko seraya meninggalkan Intan dan keluarganya.
Sepeninggal Niko, Fatma mengajak Intan masuk dan menenangkan diri di kamarnya. Agar pikirannya yang kalut dapat kembali normal.
“Beristirahatlah nak, biar anak-anakmu kami yang jaga.” Kata Bu Fatma pada Intan.
“Baik Bu.” jawab Intan dengan suara lembut.
Mendegar perintah dari Fatma, Intan langsung saja masuk kedalam kamarnya, sementara si kecil di urus oleh Fatma dan Nurul.
Bersambung...
__ADS_1