Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 115 Pertolongan Medis


__ADS_3

Nurul sebagai seorang istri tak merasakan firasat apa pun tentang kejadian itu, bahkan dia dan keluarganya dapat makan dengan santai.


Setelah selesai makan, barulah Mang Ojo pindah keruang tamu untuk menikmati siaran televisi, saat itu Riswan melihat kecelakaan yang melibatkan putranya sendiri. Akan tetapi Riswan tidak menyadari kalau mobil yang mengalami kecelakaan itu adalah mobil putranya.


Setelah selesai berkemas-kemas, Nurul berencana hendak ke kantor kembali, akan tetapi di saat dia hendak berpamitan pada orang tuanya, sepintas Nurul melihat kecelakaan itu.


Jantung Nurul serasa hendak lepas, ketika dia melihat mobil warna merah yang mengalami kecelakaan.


“Oh, tunggu, tunggu!” ujar Nurul sembari mengambil remote control itu dari tangan Bapaknya.


“Mau nengok apa sayang?”


“Kecelakaan tadi Pak.”


“Itu kevelakaan yang baru terjadi siang ini nak, pasti karena ugal-ugalan, akhirnya melayang jiwa sia-sia.”


“Di siaran mana tadi Pak, kok aku nggak melihatnya lagi?” tanya Nurul yang terus mengacak siaran itu.”


“Di metro, sayang,” jawab Mang Ojo.


Setelah mengetahui siaran apa yang menayangkan kecelakaan itu, Nurul pun mengambil siaran Metro yang dimaksud Bapaknya.


Karena iklan, Nurul terpaksa harus menunggu sejenak, agar siaran yang akan di tuju nya dapat di lihat kembali.


“Kok kamu ngotot banget sih sayang, itu kan hanya kecelakaan biasa.”


“Tapi mobilnya mirip dengan punya Bang Randi Pak.”


“Ah, serius kamu?”


“Iya, aku yakin, kalau itu tadi mobilnya Bang Randi.”


Mendengar putrinya mengatakan kalau yang kecelakaan itu mobilnya mirip dengan kepunyaan Randi suaminya, Mang Ojo dan Riswan langsung serius untuk menyaksikannya


Setelah iklan selesai.


Ketika berita itu pun kembali diputarkan, benar saja apa yang ada di pikiran Nurul ternyata yang mengalami kecelakaan itu adalah Randi suaminya.


“Ya Allah, itu benar-benar mobil Bang Randi pak!” teriak Nurul sembari menangis histeris.


Zaki yang mendengar Nurul menjerit histeris, dia bersama Defi langsung berlari keluar kamar, mereka berdua penasaran dengan apa yang telah terjadi dengan Nurul di ruang tamu.


“Ada apa sih sayang, kenapa menjerit?” tanya Zaki heran.

__ADS_1


“Randi, Bang. Dia mengalami kecelakaan, mobilnya ringsek, dan tubuhnya terjepit di dalam mobil,” ucap Nurul dengan deraian air mata.


“Benarkah itu sayang?” tanya Zaki tak percaya.


Untuk memastikan yang sebenarnya, Zaki kembali mencari siaran yang menyiarkan berita tentang kecelakaan itu, ternyata benar, mobil yang sedang mengalami kecelakaan itu, ternyata mobil milik Randi.


Setelah benar-benar Yakin, Zaki langsung menelfon Alhuda dan Dika, mereka bertiga pun langsung menuju kelokasi kejadian, jalanan yang macet, membuat mereka bertiga terpaksa harus berjalan kaki menuju tempat kecelakaan.


Di sekitar arel kecelakaan polisi telah membentangkan garis pengaman, Alhuda dan kedua adiknya yang ingin masuk tak mendapat izin dari polisi.


“Maaf, biarkan tim SAR yang bekerja Pak, saya harap Bapak agak sedikit menjauh dari lokasi ini.


“Nggak bisa, karena yang mengalami kecelakaan itu adalah adik saya sendiri, kalau Bapak tetap melarang saya untuk masuk, maka saya akan menerobosnya sendiri.”


“Baiklah, tapi jangan bikin suasana semakin panik ya Pak.”


“Iya,” jawab mereka bertiga serentak.


Setelah Alhuda bersama kedua adiknya di izinkan masuk ke lokasi, di langsung membantu tim SAR untuk memotong dan menggergaji bagian mobil yang sudah hancur.


Keringat dingin bercucuran di saat tubuh Randi mulai sedikit terlihat, Zaki melihat sendiri, kalau kaki dan bagian tubuh Randi ada yang sudah hancur.


“Kau lihat kan Bang? Sebagian tubuh Randi udah hancur, aduh kasihan sekali dia,” ujar Dika pada Zaki.


“Kasihan sekali Nurul, dia pasti begitu menderita saat ini.”


“Iya, Bang.” Jawab Zaki dan Dika serentak.


Para tim SAR, berusaha mengefakuasi mobil pasir yang melindas mobil milik Randi, dengan cara menariknya, setelah beberapa jam, barulah mobil itu berhasil di pisahkan.


Semua orang melihat dengan jelas kalau bagian dari pinggang Randi kebawah sudah hancur dan darah berserakan dimana-mana.


Melihat hal itu Alhuda bersama Zaki dan Dika langsung mengangkat tubuh Randi keluar dari dalam mobil, di saat itu, Randi tampak sedikit sadar, dia berusaha bicara pada Alhuda dan Zaki.


“Bang, maafkan aku, mana Ayah dan Ibu ku?”


“Mereka ada dirumah Abang dek, Bang Zaki yang merawat Ibumu sampai sembuh.”


“Jangan ceritakan pada mereka berdua tentang kejadian ini, aku takut mereka akan semakin sedih nantinya.”


“Tenang dek, Abang akan membawamu kerumah sakit, kau pasti sembuh, jangan banyak bicara dulu ya,” ujar Alhuda sembari menangis histeris.


Begitu juga dengan Zaki dan Dika mereka bertiga tak kuasa membendung air mata yang terus saja mengalir membasahi kedua pipinya.

__ADS_1


“Lalu kita mesti gimana Bang?” tanya Dika tak kuasa untuk berdiri.


“Kita mesti bawa dia kerumah sakit sayang, agar bisa di selamatkan,” jawab Alhuda sembari berlari menghampiri ambulance.


Setelah tubuh Randi mereka selamatkan, lalu ambulance itu bergerak sembari menyalakan lampu.


Sementara Alhuda bersama kedua adiknya ikut mengiringinya dari belakang. Mereka tampak begitu sedih, namun walau demikian, mereka tetap mengurus Randi sampai kerumah sakit.


“Kita mesti bawa kemana dia Bang?” tanya Zaki ingin tau.


“Kita bawa kerumah sakit mu saja, kalau di sana ada kau yang menjaganya.”


“Baik, Bang,” jawab Zaki sembari melewati mobil ambulance yang sedang melaju di jalan raya.


Setelah melewati, mobil ambulance, zaki langsung memberi kan supir isyarat agar korban di bawa kerumah sakit tempat dia bertugas.


Sopir pun menganggukkan kepalanya bertanda dia mengerti dengan isyarat yang di katakan Zaki padanya, setelah itu supir langsung mengiringi mobil Zaki dari belakang.


Setibanya mereka di rumah sakit, bantuan dari dalam langsung berdatangan, Randi mereka bawa ke ruang UGD, Zaki yang sebagai dokter ahli dengan sigap menangani sendiri perawatan Randi.


Di saat Zaki sedang melakukan operasi, Nurul beserta keluarga datang untuk melihat kondisi Randi yang mengalami luka sangat parah.


“Gimana keadaan Randi Bang?” tanya Nurul ingin tau.


“Dia sedang di tangani oleh Zaki, sayang. Bersabarlah semoga Randi dapat di tolong,” jawab Alhuda seraya memeluk adik kecilnya.


Air mata Nurul tak henti-hentinya mengalir membasahi kedua pipinya, Dika yang melihat Nurul tampak begitu sock, dia pun menghampirinya, memberi semangat agar selalu kuat dan tabah dalam menghadapinya.


“Jika saja aku sedikit mengalah dan nggak keras hati, pasti kejadiannya nggak seperti ini Bang,” ujar Nurul dengan deraian air mata.


“Randi sedang menjalani takdirnya, sayang. Jadi tak ada yang perlu kita sesali, semua itu udah menjadi catatan bagi yang disana.”


“Apakah Randi bisa di selamatkan nggak?”


“Insya Allah, sayang, berdo’alah yang terbaik untuknya.”


Terasa sesak dada Nurul saat itu, karena sekeping hatinya telah terbaring tak berdaya di meja operasi. Hatinya yang sakit karena perbuatan Randi tiba-tiba saja berubah menjadi sedih.


Nalurinya sebagai seorang istri, begitu mengharapkan kesembuhan yang mutlak untuk suaminya, akan tetapi ruang operasi mengatakan lain.


Di saat semua orang melihat Zaki keluar dari ruang operasi, Nurul langsung bergegas menghampirinya, hatinya yang merasa tak pasti, mencoba untuk bertanya tentang keadaan suaminya, yang terbaring di meja operasi.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2