Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 72 Tragedi yang memilukan


__ADS_3

"Mari.” Ujar Ratika.


Merekapun akhirnya menuju rumah Yulia bersama-sama, semua anak panti pun ikut berlarian menerobos masuk kerumah Yulia.


“Lia, Lia ! ada apa ? kenapa menjerit ?” tanya Ratika memastikan.


Tapi Meri telah membekap mulut Yulia, hingga tak ada jawaban sama sekali. Sementara itu Bu Nadin telah terkapar bersimbah darah dan suaminya merasa pusing karena terbentur kedinding.


“Awas kalau kalian sampai berteriak ku patahkan leher Yulia !” ancam Meri.


Tapi Pak Joko tak kehabisan akal, walau kepalanya masih terasa pusing, dia langsung berlari menuju lantai bawah, untuk meminta bantuan orang panti dan warga.


Pak joko langsung menceritakan hal yang sebenarnya pada para orang panti, dan semuanya pun berlarian menaiki lantai atas, dan memergoki Meri sedang membekap Yulia.


Sedangkan Nadin terkapar dilantai bersimbah darah. Melihat hal itu emosi warga tak dapat dibendung lagi, mereka semua marah dan memukuli Meri hingga babak belur.


Merasa jiwanya terancam, Meri berusaha membela diri, dan mengambil benda-benda yang ada didekatnya, untuk dilemparkan kearah warga. Hingga rumah Dika hancur berantakan.


Sementara itu Yulia tanpak begitu shok, dia duduk bersender didinding kamarnya seraya gemetaran. Kandungannya yang masih berusia empat bulan pun ikut merasakan kesedihan Ibunya.


Karena begitu takutnya, perut Yulia mengalami rasa nyeri dan keram. Wajahnya pun tampak pucat sekali. Sementara itu Ratika yang melihat Yulia tak berdaya, dia pun mengajak Yulia untuk menghubungi Dika.


“Ayo Yulia, kita hubungi suamimu !” kata Bu Ratika.


Yulia diam saja, tapi dia berusaha berdiri dan berjalan, walau langkah kakinya terseot-seot. Bu Ratika mencoba membantunya berjalan, menghampiri telfon rumah, untuk menghubungi Dika.


“Halo, assalamua’alaikum.” Ucap Yulia dengan suara lirih.


“Wa’alaikum salam.”


“Bang !”


“Ada apa Lia, kenapa kedengarannya sedih ?”


“Abang pulang dulu, di rumah ada musibah, Ibu terluka.”


“Apa ? di rumahku ada musibah ?"


“Iya, Dik !cepatlah pulang !” sambung Murni.


“Baiklah Bu.” jawab Dika. Sembari bergegas pulang kerumahnya.


Setelah mendapat laporan dari Bu Ratika dan istrinya, Dika segera pulang kerumah.


Sedangkan Yulia menunggu kedatangan suaminya dengan tak henti-hentinya menangis.


Sementara itu Meri berhasil ditangkap warga, dan mengikatnya di tiang rumah. Beberapa saat kemudian Dika datang bersama polisi.


“Perempuan itu udah kami ikat dikamar Pak !” Kata pandu dengan suara lantang.


“Baik, Pengawal ! mari kita seret dia kekantor !” perintah kapolsek pada anggotanya.


“Siap !” jawab anggota polisi itu seraya menggiring Meri keluar dari rumah Dika.


“Yulia ! Ujar Dika seraya memeluk istrinya.


“Ibu bang, Ibu ! Dia terluka diatas.” Kata Yulia sambil menangis


sedih.


“Ada yang terluka ?” tanya kapolsek.

__ADS_1


“Ada Pak, diatas !” jawab Dika.


“Kalau begitu segera panggil ambulance.”


“Baik Pak.”


Ambulance dihubungi dan Bu Nadin dilarikan kerumah sakit. Suasana tampak begitu menegangkan, seisi rumah seperti dalam keadaan berduka.


“Gimana dengan kandungan mu sayang ?” tanya Dika kuatir.


“Perut ku sakit Bang !”


“Ayo kita kekamar !” kata Dika seraya menggendong tubuh istrinya.


“Apa Ayah mengetahui kejadian ini sayang ?” tanya Dika pada istrinya.


“Nggak Bang, aku nggak ngasih tau siapa pun.”


“Sekarang kamu istirahatlah dulu, biar Abang menemui para warga.”


“Baik Bang.” Jawab Yulia dengan suara lembut.


“Kalau begitu, terimakasih pada semuanya, karena bantuanan kalianlah keluarga saya bisa selamat. Kalau begitu besok siang disini akan kita adakan selamatan, saya mengundang seluruhnya untuk datang di acara selamatan itu.”


“Terimakasih Pak Dika, kami semua pasti datang.” Jawab seorang warga mewakili yang lainnya.


Setelah semua warga pergi, Dika kembali lagi menemui istrinya, yang saat itu masih kesakitan di kamarnya.


“Gimana sayang ? ayo kita kerumah sakit aja.”


“Nggak usah Bang.”


“Nanti kenapa-napa loh.”


Jawab Yulia mencoba untuk tetap tenang.


“Nanti kalau kandungan mu bermasalah gimana ?”


“Insya Allah aman Bang.”


“Benar aman ?” tanya Dika yang begitu kuatir sekali.


“Benar, Bang.”


Merasa aman dengan apa yang di kuatirkannya, DIka pun duduk di samping istrinya sembari menempelkan telinganya ke perut Yulia.


“Gimana ? Abang dengar sesuatu ?”


“Iya sayang .”


“Dengar apa ?”


“Ibu ku wanita yang luar biasa. Itu katanya.” Ucap Dika yang membuat Yulia tersenyum manis.


“Abang ya, bisanya bikin kesal.”


“Gimana kalau kita nengok Ibu kerumah sakit.” Ajak Dika pada istrinya.


“Baiklah, biar aku siap-siap dulu.”


“Tapi, kandungan mu udah nggak sakit lagi kan ?”

__ADS_1


“Nggak Bang, udah agak mendingan kok.”


Setelah merasa aman, dengan kandungan Yulia, lalu mereka berdua memutuskan untuk pergi kerumah sakit, menyusul Bu Nadin yang dirawat.


Dirumah sakit Bu Nadin langsung dibawa keruangan UGD. Ada Zaki yang sedang menanganinya saat itu.


Zaki terkejut saat dilihatnya keluar, ada Yulia dan Dika, yang modar mandir menunggu. Setelah selesai membalut luka Bu Nadin, Zaki langsung keluar.


“Ada apa Dik ?” tanya Zaki heran.


“Itu Ibu Yulia yang terluka kakinya.”


“Ooo, yang tadi itu Ibunya Yulia ? tapi udah Abang tangani kok, lukanya nggak begitu parah, hanya delapan jahitan saja, sekarang boleh ditengok.”


“Terimakasih, Bang !” kata Dika seraya mencium tangan Zaki.


Lalu merekapun berlarian menuju ruang UGD. Didalam nampak Bu Nadin terbaring lemah, karena banyak kehilangan darah.


Namun tak ada suaminya saat itu bersamanya, membuatnya bertanya-tanya dalam hati.


bersamaan dengan itu Dika dan Yulia muncul menghampirinya.


“Gimana, Bu ? udah selesai dijahit lukanya kan ?”


“Udah Lia, tapi Ibu heran, kenapa Ayahmu nggak ada disini ?”


“Ayah ? ya, Ayah mana Bang ? dia nggak ada disini ?” tanya Yulia pada Dika yang saat itu sama-sama bingung.


“Apa Ayah nggak bersama Ibu tadi ?” kata Dika balik bertanya pada Ibunya.


“Entahlah Ibu juga nggak tau.”


“Atau jangan-jangan ?”


“Jangan-jangan apa Bang ?” tanya Yulia penasaran.


“Ah sudahlah, mari kita cari sayang ?”


“Mari bang ! Bu, aku cari Ayah dulu !”


“Iya hati-hati nak !” kata Nadin pada putrinya.


“Kita cari Ayah disekitar sini aja dulu, siapa tau dia sedang ke toilet.”


“Baik, Bang .” jawab Yulia mematuhi perintah suaminya.


Merekapun akirnya memutuskan untuk mencari Pak Joko di sekitar rumah sakit dulu, namun setelah berkeliling begitu lama, Ayah Yulia nggak juga ditemukan, Yulia merasa putus asa, dia tampak menangis sedih didepan lobi rumah sakit.


Sesaat kemudia dari jauh disana, samar-samar Dika melihat Pak Joko berjalah tergopoh-gopoh menuju rumah sakit, keringat dingin tampak bercucuran di seluruh wajahnya yang keriput.


“Ayah dari mana saja tadi ?” tanya Dika dengan suara pelan.


“Ayah baru selesai sholat.” Jawab Pak Joko.


“Ooo, aku cemas takut kalau Ayah kenapa-napa.”


“Gimana kabar Ibumu, nak ?”


“Dia udah selesai dijahit, Ayah tenang aja, Ibu nggak kenapa- napa kok, lukanya nggak terlalu parah.”


“Sukurlah kalau begitu, mari kita jumpai dia.” Ajak Pak Joko pada Dika dan Yulia.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2