Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 104 Merasa di kecewakan


__ADS_3

“Padahal mertua mu orang kaya, tapi kenapa acara pernikahannya di lakukan secara sederhana?” tanya Marlina pada putrinya.


“Entahlah Bu, aku nggak tau,” jawab Defi dengan sedikit berbisik.


“Berarti, mertua mu itu orang pelit.”


“Ssst, Ibu jangan asal bicara, nanti kedengaran sama mereka, kan kita juga yang susah.”


Marlina benar-benar merasa kecewa saat itu, karena acara pernikahan Zaki tak sesuai dengan kondisi rumahnya yang mewah dan megah.


Sampai acara itu selesai pun Marlina masih saja memperlihatkan muka masamnya. Defi yang melihat wajah Bundanya tak pernah manis, mencoba untuk bertanya.


“Kenapa sih, Bu? kok kelihatan nggak senang?”


“Gimana senang Def, kamu tau sendirikan, kalau mertua mu itu orang paling kaya, tapi kenapa acara pernikahan putranya hanya sebegini aja!”


“Ssst! Bunda tu ya, kalau ngomong suka nyakiti perasaan orang. Lagian ini kan pesta mereka, kenapa Bunda jadi sewot."


Mesti gimana pun, kalau orang kaya itu mengadakan pesta, ya meriah, nggak seperti ini Defi.”


“Udah-udah, nanti kedengaran sama merek lagi.”


Marlina, yang senang karena mendapat besan konglomerat, dia sebenarnya ingin sekali pamer pada teman-teman seprofesinya, kalau keberuntungan sedang berpihak pada dirinya.


Namun karena Mang Ojo tak mau menampakkan kemewahannya di hadapan orang tua Defi, sebab itulah hati Marlina terasa sakit sekali.


Selesai acara resepsi itu di laksanakan, Marlina segera mengajak suaminya untuk segera pulang ke kota Padang.


“Kenapa keburu-buru sih, Bun?” tanya Defi heran.


“Buat apa berlama-lama disini coba, kalau mereka merasa takut memperlihatkan kemewahannya pada semua orang.”


“Bunda ini kenapa sih? Aku jadi nggak ngerti.”


“Apa kamu nggak lihat, mereka itu sengaja melaksanakan acara resepsi seperti itu.”


“Bunda, itu kan acara mereka, lagian kita di sini hanya sebagai tamu undangan, bukan tuan rumah, jadi tolonglah Bunda untuk mengerti tentang hal itu.”


Baiklah, untuk kali ini, Bunda mencoba untuk mengerti, tapi hari ini juga Bunda akan pulang ke Padang.


Melihat sikap Bunda nya yang sedikit keras itu, Defi hanya bisa diam saja, sementara Feri yang melihat putrinya bersedih, dia langsung marah pada Marlina yang tak bisa menjaga perasaan putrinya.


“Apa sih, maksud mu seperti ini?”

__ADS_1


“Aku nggak punya maksud apa-apa kok, Da.”


“Jadi, kenapa dari kemarin, kamu selalu saja membahas hal itu?”


“Aku kesal pada mereka Da, karena mereka udah merendahkan kita.”


“Kapan mereka merendahkan kita?”


“Coba saja Uda lihat, masa sih rumah sebesar dan semewah ini, mereka hanya melaksanakan acara resepsi seperti itu.”


“Itukan urusan mereka, untuk apa sih kamu ikut campur,” kata Feri sedikit kesal.


“Udah, udah! Aku malas membahasnya dengan Uda, karena nggak ada jalan keluarnya.”


Di saat mereka sedang bertengkar, tiba-tiba saja Zakia datang kedalam kamar itu.


“Bapak dan Ibu di tunggu di meja makan!”


“Baiklah, sebentar lagi kami akan datang.”


Setelah Pak Feri menyetujui ucapan Zakia, perempuan itu pun berlalu meninggalkan kamar itu.


“Ayo, Yah, Bu! kita makan bersama di sana!” ajak Defi kepada kedua orang tuanya.


Setibanya mereka bertiga diruang makan, ternyata seluruh keluaga Mang Ojo telah menunggu mereka untuk makan, di sana Marlina juga melihat ada Zakia dan yang lainnya, duduk sama di meja makan.


Setelah semuanya duduk dan bersiap untuk makan, lalu Alhuda berdiri dan membagikan nasi kesetiap piring mereka, semntara Marlina yang tak terbiasa dengan hal itu, mencoba untuk menolaknya.


“Biar Ibu sendiri yang mengambilnya nak,” ujar Marlina sembari menahan piringnya.


“Lepaskan aja Bu,” ujar Defi dengan suara lembut.


Dengan berat hati, Marlina pun melepaskan piring itu dari tangannya. Dan Alhuda langsung mengisi piringnya dengan nasi.


Di saat makan, Marlina yang tak tau apa-apa, langsung bicara di hadapan semua anggota keluarga.


“Kami besok mau pulang ke Padang Pak, nggak enak meninggalkan rumah terlalu lama,” ujar Marlina dengan suara lantang.


Saat Marlina bicara, seluruh mata langsung tertuju pada Mang Ojo, bukan pada Marlina yang sedang bicara.


Walau pun suara itu sangat jelas terdengar di telinga Mang Ojo, namun dia diam saja, tak sepatah katapun yang keluar dari bibirnya, Defi yang melihat hal itu, langsung mencolek tangan Bundanya dan menyuruhnya untuk diam saja.


Sementara itu Feri yang melihat keluarga itu makan tak bersuara, dia pun merasa serba salah, nafasnya terasa begitu sesak sekali saat itu, karena Feri yang selama ini biasa makan tanpa di hidangkan, tak merasa nyaman dengan hal itu.

__ADS_1


Tangannya tampak sedikit kaku, daging yang berada di piringnya terasa sulit untuk di potong, sehingga garpu yang dipegangnya jatuh kebawah meja makan.


Feri berusaha untuk mengambilnya, akan tetapi Alhuda langsung datang mengantarkan sendok yang baru untuknya.


“Maaf kan saya,” ujar Feri pada Alhuda.


Alhuda tak menjawabnya dia hanya tersenyum manis di hadapan Feri yang tampak sedikit pucat di wajahnya.


Setelah selesai makan, Marlina langsung berdiri dan meninggalkan meja makan, sementara yang lainnya menutupnya dengan membaca do’a syukur kepada Allah, karena telah di beri rezki yang berlimpah dan berkah.


“keluarga yang aneh!” kata Marlina dengan suara lantang.


“Fatma yang mendengarkan ucapan dari Marlina langsung saja menjawabnya, hatinya merasa tak senang dengan ucapan besan barunya itu.


“Maksud Ibu apa?” tanya Fatma ingin tau.


Defi yang merasa tak enak dengan perdebatan kecil itu, dia segera mengajak Bunda nya pergi masuk kedalam kamar.


“Ada apa sih Defi, kok narik-narik tangan Bunda?”


“Kayaknya Bunda nggak cocok ya dengan keluarga ini.”


“kalau iya, kenapa?”


“Kalau iya, Bunda nggak perlukan menampakkan sikap Bunda itu pada mereka. Ingat Bun, kita hanya tamu disini bukan,” jelas Defi pada Bundanya.


“Bunda tau, tapi emang kenyataannya bukan, kalau mereka itu kumpulan keluarga yang aneh!”


“Mereka semua nggak aneh Bun, hanya Bunda saja yang belum terbiasa dengan cara mereka.”


“Kalau sikap mereka seperti itu, siapa yang mau terbiasa dengan cara mereka.”


“Buktinya aku, dulu aku juga berfikiran seperti itu, tapi nyatanya, aku bisa kok menyesuaikan diri dengan mereka, Mang Ojo itu, nggak mau ada orang bicara sewaktu lagi makan Bun, mereka sudah membiasakan diri disiplin sedari kecil.”


“Aah, Bunda nggak percaya, emang dasarnya aja mereka itu keluarga yang aneh.”


“Ya udah, kalau Bunda berpendapat seperti itu, nggak apa-apa,” ujar Defi yang tak ingin Bundanya tersakiti.


“Besok Bunda mau pulang! Ogah Bunda berlama-lama disini.”


“Baik, nanti akan kusuruh Bang Zaki ke bandara beli tiket untuk Ayah dan Bunda.”


Marlina memang tak suka melihat keluarga Mang Ojo yang di anggapnya begitu pelit dan aneh, untuk itu dia ingin segera pergi dari rumah mewah milik Mang Ojo secepatnya.

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2