Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 84 Mencari keberadaan Gita


__ADS_3

Mendengar penjelasan dari Zaki, hati Leni merasa menyesal, sedang orang lain saja tau, kalau Gita itu putri yang berbakti, lalu kenapa dia bersama suaminya malah selalu menekan dirinya.


“Oh, betapa bodohnya aku selama ini, tak pandai menilai putri sendiri,” kata Leni pada dirinya sendiri.


Awal mula pencarian di mulai dari pertemuan mereka kemaren sore, lalu dengan pelan Zaki terus menyusuri daerah tempat Gita berlari,


Di sekitar tempat itu, suasananya terlihat begitu sunyi sekali, tak ada rumah penduduk, kalau pun ada hanya satu atau dua rumah saja, itu pun sudah mereka tinggalkan dan tak layak huni.


“Apakah kamu melihat tanda-tanda, kemana Gita pergi, nak?” tanya Leni penasaran.


“Sepertinya belum, Bu. tapi kita akan coba menyisirnya kearah sana!”


“Baiklah,” jawab Leni dengan suara lirih.


Kearah yang berlainan, Zaki terus menyisir Kawasan itu dengan mobil mewahnya, daerah yang sunyi itu membuat Zaki merinding, karena dia takut, akan ada begal disana.


“Gimana, nak? apakah udah ketemu.”


“Belum Bu. kalau begitu kita cari kearah lain aja.”


“Baiklah.”


Di atas mobil itu Leni hanya bisa diam saja, dia sendiri juga tak berani bertanya banyak pada Zaki, yang menurutnya telah berusaha mencari keberadaan putrinya.


Hingga siang, hampir seluruh Kawasan itu ditelusuri oleh Zaki, namun dia belum juga melihat tanda-tanda keberadaan Gita di sana.


Karena matahari telah berada di atas kepalanya, tentu saja perutnya pun terasa begitu lapar, di depan sebuah restoran mewah, Zaki berhenti dan memarkir kendaraannya di sana.


“Kenapa berhenti di sini nak?” tanya Leni heran.


“Ayo, Bu. kita makan dulu,” ajak Zaki pada Leni.


Leni yang merasa tak punya uang sepersen pun saat itu, mencoba menolak untuk turun dari dalam mobil.


“Nggak usah nak, Ibu nggak lapar kok.”


Mesti Mama Gita berusaha untuk menolaknya, namun Zaki tetap membukakan pintu mobilnya dan menggandeng tangan Leni untuk keluar dari dalam mobil.


“Ibu nggak punya uang kan?” potong Zaki pada perempuan itu.


“Ik, iya, nak.” Leni menjawabnya dengan gugup.


“Aku yang akan bayar makanan Ibu nantinya,” jawab Zaki sembari menyediakan kursi untuk Leni.


Leni benar-benar malu sekali saat itu, karena selama ini, dia tak melihat kebaikan budi dari kekasih Gita itu.


“Pantasan Gita tergila-gila pada mu, nak,” ucap Leni di dalam hati.


Setelah duduk beberapa saat, berbagai menu masakan telah tersusun rapi di atas meja yang ada dihadapan Leni, akan tetapi Leni merasa enggan untuk menyentuhnya.

__ADS_1


Zaki yang saat itu hendak menyendok nasi kedalam mulutnya, sempat melirik kearah Leni yang tampak diam di hadapan makanan yang begitu banyaknya.


“Ibu, kenapa nggak makan?” tanya Zaki heran.


“Ibu bingung mesti ngambil yang mana nak.”


“Ibu ambil saja, mana yang Ibu suka,” jawab Zaki seraya tersenyum lebar.


“Tapi Ibu nggak berani.”


“Baiklah!” ujar Zaki sembari berdiri menghampiri Leni, yang saat itu masih kebingungan memilih sambal yang mana.


Di tariknya kursi yang berada di samping Leni, sehingga saat itu posisi Zaki telah berdampingan dengan Leni.


“Yang ini Ibu, suka?” tanya Zaki sembari mengangkat piring sambal itu kehadapan Leni.


“Nggak, nak,” jawab Leni polos.


“Kalau yang ini?”


“Nggak juga.”


Hingga beberapa piring sambal itu di angkat Zaki dan ditunjukan pada Leni, namun jawabannya tetap saja sama, melihat kepolosan perempuan itu, Zaki tak merasa tersinggung sedikit pun.


Lalu Zaki memanggil pelayan restoran dan menunjukan menu yang lain yang mungkin cocok dengan Leni, akan tetapi hal yang sama juga di ucapkan Leni saat itu.


“Terus Ibu makannya pakai apa?”


“Nggak, aku nggak meras di susahkan kok.”


“Sebenarnya, bukannya Ibu nggak mau, tapi kami sehari-hari, hanya makan pakai sambal telur dan rebus sayur.”


Mendengar penuturan Leni, hati Zaki terasa sakit sekali, dalam kemewahan yang dia miliki, dia bahkan tak sempat melihat ada tetangganya yang kelaparan.


Kemudian tanpa harus bertanya lagi pada Leni, dia langsung saja menaruh potongan daging itu keatas piring Leni dan mempersilahkan perempuan itu untuk memakannya.


“Ibu makanlah yang kenyang, biar kita punya tenaga untuk mencari keberadaan Gita putri Ibu.”


“Baiklah,” jawab Leni sembari mencoba, memakan dengan pelan tumpukan nasi yang berada di piringnya.


Melihat Mama Gita makan dengan lahapnya, hati Zaki merasa sedih sekali, lalu Zaki pun memesan dua porsi nasi lagi untuk dibawa Ibu itu pulang.


“Nah, ini untuk Ibu. Bawalah pulang nasi ini, mungkin Bapak di rumah belum makan,” kata Zaki pada Leni.


“Nak Zaki, Ibu mau pulang dulu, boleh?”


“Ooo, kenapa Ibu mau pulang?”


“Tadi pagi sebelum Ibu kerumah sakit, Ibu nggak minta izin pada Papanya Gita. Ibu takut Papa Gita nanti mencari Ibu kemana-mana.”

__ADS_1


“Baiklah, kalau begitu kita pulang dulu kerumah Ibu, habis itu saya sholat, baru pencarian kita lanjutkan nantinya.”


“Baiklah,” jawab Leni dengan suara pelan.


Setelah selesai mereka makan, Zaki dan Leni langsung berangkat, tujuan mereka berdua kembali kerumah, karena Leni begitu cemas, kalau suaminya sibuk mencari keberadaan dirinya.


Dengan kecepatan sedang, mobilpun melaju di jalanan, hati Leni tampak begitu sedih sekali, sepanjang jalan menuju rumahnya, Leni selalu berharap agar bisa bertemu dengan Gita putrinya itu.


Hingga tak terasa, mobil yang di kendarai Zaki tiba didepan rumah yang di bangunnya, untuk Gita kekasihnya.


Dengan pelan, Leni pun turun seraya menenteng nasi bungkus yang di bawanya, zaki juga ikut membantu Mama Gita untuk turun dan berjalan menuju rumahnya.


Saat tiba didepan rumah, Ahong melihat Zaki dengan wajah amarah, ingin sekali saat itu dia melempar Zaki dengan batu.


“Kenapa kau bawa pria itu ke rumah ini, Ma?”


tanya Ahong dengan wajah kusam.


“Dia yang telah membantu ku mencari Gita.”


“Apakah Gita ketemu?” tanya Ahong dengan nada kesal.


“Anak mu itu menghilang, bukan Zaki pelakunya Pa.”


“Lalu, siapa pelakunya kalau bukan dia,” ujar Ahong tak percaya.


“Benar, Pak. Bukan aku pelakunya, aku sendiri nggak tau kalau Gita menghilang.”


Mendengar jawaban dari Zaki, Ahong langsung memeluk tubuh Zaki, dia menangis sedih dipelukan Zaki.


“Tolong bantu Bapak menemukan Gita, nak. Bapak nggak tau harus minta bantuan pada siapa? Jika lapor polisi pasti biayanya banyak, Bapak nggak punya uang untuk itu,” ujar Ahong sedih.


“Iya, Pak. Saya akan bantu mencari Gita sampai ketemu.”


“Terimakasih, nak.”


“Sama-sama.”


Setelah Ahong selesai bicara dengan Zaki, Leni langsung mengeluarkan nasi bungkus yang di bawanya.


“Ini, ada nasi dibelikan Zaki tadi,” ucap Leni sembari membuka bungkusan nasi itu di hadapan suaminya.


Seperti orang yang sedang sakit keras, Ahong tak menyentuh nasi itu sedikit pun, dia hanya memandangi nasi itu dengan air mata bercucuran.


“Makanlah sedikit, Pak. Habis itu baru kita mencari Gita bersama-sama.”


“Tapi Bapak nggak selera makan nak.”


“Kalau Bapak nggak makan, gimana Bapak kuat untuk mencari putri Bapak.”

__ADS_1


Bersambung...


\*Selamat membaca\*


__ADS_2