Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 114 Kecelakaan maut


__ADS_3

“Randi melarang kami untuk memberitahukannya padamu.”


“Randi selalu saja begitu, sifat egonya itu, nggak pernah berubah.”


“Iya sayang, dia itu keras kepala.”


“Kenapa Ibu bisa seperti ini Ayah?”


“Ibu mu mendadak seperti ini, karena melihat kami berdua bertengkar tadi.”


“Bertengkar masalah apa?”


“Membahas masalah perpisahan kalian.”


“Randi marah sama aku Ayah, karena aku belum juga hamil, dia merajuk dan pergi meninggalkan rumah.”


“Jadi kalian nggak bertengkar?”


“Nggak ada pertengkaran di rumah itu Ayah.”


“Lalu kenapa isi kamar kalian berantakan dan ada darah mengering di mana-mana.”


“Itu karena kesalahannya Ayah, saat kutawari dia makan, dia marah dan membanting nasi bersama piringnya ke lantai dan kacanya terinjak oleh dirinya sendiri.”


“Lalu, bagai mana dengan Ibu mu ini, nak?”


“Untuk sementara biarlah Ibu di rawat disini dulu, nanti kalau udah di izinkan pulang, maka bawa saja Ibu kerumah, biar aku yang akan merawatnya nanti.”


“Baiklah nak,” jawab Riswan senang.


Setelah selesai bicara, Nurul lalu mengurus administrasi dan dia pun kembali minta izin pada Ayah mertuanya untuk kembali bekerja.


Siang hari setelah jam istirahat dia pun kembali datang kerumah sakit, untuk membesuk Ibu mertuanya.


Selama Ibunya di rawat di rumah sakit, Randi tak pernah datang lagi kesana, dia sibuk memasukan lamaran pekerjaan kemana-mana.


“Coba saja hari itu aku bersikap sedikit manis pada keluarga pemulung itu, tentu aku nggak kesulitan mencari pekerjaan seperti ini,” gumam Randi sendirian.


Sementara itu, Mang Ojo yang berada dirumah, di kabari oleh Nurul, kalau Ibu mertuanya mengalami sakit stroke dan sedang di rawat di rumah sakit.


“Kapan dia mengalami sakit itu nak?” tanya Fatma ingin tau.

__ADS_1


“Kata Ayah, Ibu sakitnya kemaren siang,” jawab Nurul.


“Kenapa baru hari ini di kabari?”


“Karena Randi melarang kedua orang tuanya memberitahukan hal ini pada keluarga kita Bu.”


“Baiklah, nanti malam kami akan kesana membesuknya.”


“Baik Bu,” jawab Nurul singkat.


Benar saja apa yang di katakan Fatma, malam itu seluruh anggota keluarganya datang membesuk Rumana di rumah sakit.


Riswa yang telah mendapat perhatian khusus dari keluarga Mang Ojo, merasa tersentuh sekali, dia menangis di hadapan Mang Ojo sekeluarga.


Rasa haru telah menyelimuti suasana pertemuan mereka semua, Zaki yang tak melihat Randi di ruangan tempat ibunya dirawat, dia pun bertanya pada Nurul tentang keberadaan suaminya itu.


“Randi mana sayang?”


“Aku nggak tau, Bang.”


Mendengar Zaki bertanya pada Nurul, Riswan langsung menjawabnya, dengan suara yang serak.


“Dua hari yang lalu dia ikut mengantarkan kami kesini, tapi setelah itu, Ayah nggak melihat lagi dia ada dimana saat ini,” ujar Riswan pada Zaki yang bertanya saat itu.


“Kamu serius nak?” tanya Riswan tak percaya.


“Iya, Yah. Lagian Nurul kan sibuk bekerja, jadi waktunya banyak tersita di kantornya, kalau dirumah, kan ada pembantu yang mengurusnya setiap hari.”


“Baiklah, Bapak setuju sekali,” jawab Riswan dengan senangnya.


Mang ojo yang melihat kebaikan budi putranya itu, dia pun mengacungkan jempol, karena bukan hanya keluarganya saja, yang mendapat perhatian khusus darinya, tapi semua orang yang membutuhkan bantuan darinya pun mendapatkan pertolongan.


Setelah sepakat, Rumana pun mereka bawa pulang kerumah Mang Ojo, bersama tangan terampil Zaki, Rumana mendapatkan perawatan yang baik.


Riswan yang tak banyak bicara itu, dia hanya mengiuti saja apa yang dikatakan keluarga Mang Ojo padanya. Sementara itu Nurul juga dengan telaten merawat Ibu mertuanya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Siang itu setelah semua keluarga kumpul di ruang makan, Riswan pun datang, untuk ikut makan bersama dengan keluarga, Riswan yang tak pernah tahu, kebiasaan keluarga Mang Ojo, merasa sedikit kesulitan untuk makan.


“Kenapa nggak dimakan nasinya Pak?” tanya Mang Ojo heran.


“Maaf, saya nggak biasa makan pakai sendok, jadi saya merasa kesulitan untuk menyuapnya.”

__ADS_1


“Ooo, gitu! Kalau Bapak nggak bisa pakai sendok, ya, suap pakai tangan aja,” ujar Mang Ojo sembari tersenyum ramah.


“Boleh pakai tangan?”


“Ya tentu dong. Kami lantaran udah biasa pakai sendok dan garpu, jadi kami pun kesulitan pakai tangan untuk menyuapnya.”


Karena Mang Ojo memberinya izin makan pakai tangan, Riswan pun memulai menyuap nasinya pakai tangan, seluruh keluarga Mang Ojo, hanya memperhatikannya saja, mereka begitu senang melihat Riswan makan dengan menggunakan tangannya.


Di saat mereka semua sedang asik menikmati makanan yang telah terhidang di meja makan, dirumah sakit tempat Ibunya di rawat, ternyata Randi udah datang, dengan tujuan akan membayar biaya perawatan Rumana.


Dengan senang hati, Randi langsung masuk keruang UGD, tempat Ibunya mendapat pertolongan, akan tetapi betapa terkejutnya dia, disaat dilihatnya ruangan itu telah kosong.


Randi mencoba untuk memeriksa setiap ruangan yang ada, namun Ibunya tetap saja tak ada, hatinya begitu sedih saat itu, dicobanya untuk datang menemui petugas yang sedang berjaga.


“Ibu Rumana yang di rawat di ruang UGD, kemana di pindahkan sus?” tanya Randi ingin tau.


“Ibu rumana udah di bawa pulang oleh keluarganya Pak.”


“Di bawa pulang? di bawa pulang kemana?”


“Keluarganya yang datang menjemput kesini, Pak.”


“Kurang ajar! pasti keluarga pemulung itu lagi yang datang menjemputnya, benar-benar nyebelin mereka itu ya!” gerutu Randi sembari bergegas menuju parkiran.


Hati Randi begitu sakit sekali saat itu, matanya tampak merah, seperti hendak menerkam setiap yang ada didepannya, dengan kecepatan penuh Randi melajukan mobilnya di jalan raya.


Emosinya yang meluap, membuat jiwanya tak stabil saat itu, sehingga kekalapan telah membutakan hatinya. Di jalan yang padat pengendara, Randi melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.


Dan naas, sebuah truk bermuatan pasir menabrak mobilnya, untuk yang kedua kalianya, Randi mengalami kecelakaan di jalan raya.


Mobil Randi tampak mengalami rusak parah, kaca mobilnya hancur, sementara Randi terjepit di badan mobil, karena truk pengangkut pasir melindas sebagian mobil itu.


Di dalam mobil, Randi tampak tak sadarkan diri, darah segar bercucuran ditubuhnya, pertolongan telah berdatangan dari setiap tempat, namun mereka semua tak ada yang mampu mengeluarkan tubuh Randi yang terjepit di dalam mobil.


Karena begitu banyaknya orang yang ingin menyaksikan kejadian itu, kemacetan pun tak dapat dihindari lagi, baik mobil mau pun sepeda motor semuanya berbaris di bahu jalan hingga mengular sampai ratusan bahkan ribuan meter.


Tim SAR, telah diturunkan untuk membantu Randi yang sedang terjepit di dalam mobil, puluhan wartawan juga telah berdatangan, berita tentang kecelakaan itu langsung di siarkan di telivisi swasta.


Ketika siaran televisi itu berlangsung, tak seorang keluarga Mang Ojo pun yang melihatnya, karena mereka semua sedang asik menikmati hidangan yang telah tersedia.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2