
“Kakak yang sabar ya, aku dan yang lainnya akan selalu merawat kakak, sampai kakak sembuh.” Jawab Intan dengan suara lembut.
Mesti berbau busuk dan menyengat, intan dan yang lainnya selalu membersihkan nanah itu secara bergantian, begitu juga dengan Gita, dia juga selalu hadir setiap saat untuk merawat Ranita.
Sudah satu minggu Ranita mengalami sakit, bahkan, semua dokter tak ada yang sanggup mengobatinya, bau busuk dan menyengat, itulah faktor pertama yang membuat dokter menolak untuk merawat Ranita.
Di tengah malam Ranita menangis histeris, dia merasa putus asa, karena penyakit yang menggerogoti tubuhnya, tak kunjung berangsur sembuh.
Alhuda yang selalu setia merawat dan menjaga istrinya, tak pernah meninggalkan Ranita, bahkan Alhuda juga mengajukan cuti tahunannya untuk merawat istri yang sangat dicintainya.
Malam itu, Mang Ojo mengumpulkan semua anggota keluarganya, kebetulan saat itu, Randi dan Krisna juga hadir bersama mereka.
“Anak-anak, gimana menurut kalian, kakakmu udah seminggu lebih nggak pernah bangun dari sakitnya, jangankan untuk makan, bahkan hampir setiap saat dia selalu menangis, Bapak nggak tahan melihatnya seperti itu !” kata Mang Ojo dengan deraian air mata.
Melihat Mang Ojo menangis, semuanya juga ikut menangis, kesedihan yang dirasakan oleh Ranita, mereka semua juga merasakan sakitnya.
Rasa haru, tak dapat lagi di sembunyikan saat itu, bahkan Zaki yang seorang dokter terkenal pun tak sanggup mengobati kakaknya sendiri.
Di sudut belakang Dika, tampak Zaki benar-benar merasa bersalah, dia bahkan menangis tiada henti, Zaki merasa kalau dirinya tak berguna.
“Bapak paham sekali dengan apa yang kau rasakan saat ini nak ? menurut Bapak panyakit ini bukan penyakit biasa, tapi ini penykit yang luar biasa. Apa ada pendapat kalian dalam hal ini ?” tanya Mang Ojo pada anak-anaknya.
“Boleh saya bicara ?” tanya Randi, memecah kebuntuan.
“Kamu mau bicara ?” tanya Mang Ojo saat itu.
"Iya Pak."
"Silahkan kalau ingin bicara." kata Mang Ojo lembut.
“Kalau di kota Padang, penyakit ini di sebut dengan penyakit guna-guna.”
“Penyakit guna-guna ? penyakit apa itu nak Randi ?”
“Penyakit guna-guna, itu bukan penyakit yang berasal dari tubuh seseorang, akan tetapi penyakit ini di kirimkan seseorang yang merasa dendam atau karena sakit hati, biasanya penyakit ini dikirim melalui seorang dukun atau para normal sakti.”
“Ooo, begitu.”
“Jadi jalan satu-satunya kita panggil pak Ustad, untuk menyelesaikannya, karena ilmu ghaib hanya bisa di lawan dengan ilmu ghaib pula.”
“Baiklah, mari kita panggil pak Ustad untuk mengobati Ranita.” Kata Mang Ojo.
“Ide mu sangat bagus Randi.” Puji Zaki pada Randi yang saat itu hanya bisa tersenyum manis.
__ADS_1
Setelah mereka sepakat, lalu Zaki langsung menemui Pak Ustad untuk minta bantuannya dalam mengobati penyakit Ranita.
Tidak semudah yang di ucapkan, bahkan sudah dua orang ustad yang datang membantu, namun Ranita masih saja seperti itu.
Tak merasa putus asa, Mang ojo mencari ustad, terkenal untuk mengobati Ranita, al hasil tetap saja nihil.
Di saat semuanya, berjibaku, membantu pengobatan Ranita, Resti justru merasa senang karena dukun bayarannya telah berhasil mengirimkan teluh kerumah Ranita, untuk membuat Ranita jera tinggal bersama keluarga Mang Ojo.
Mesti demikian, hal sebaliknya, justru membuat Ranita semakin betah untuk tinggal bersama keluarga Mang Ojo, karena di saat Ranita dalam keadaan sekarat pun mereka tak pernah meninggalkan Ranita sedetik pun juga. Bahkan mereka bahu membahu dalam merawat Ranita.
Malam itu, semua keluarga, membaca surat Yasin, semua tampak khusuk sekali, dengan bantuan seorang ustad, Ranita mereka obati secara bersama-sama.
Di saat alunan surat yasin begema diangkasa, Nyai Romlah merasa kepanasan, lalu dia menyuruh Resti untuk datang padanya, karena di panggil Resti pun datang menemui Nyai Romlah.
“Ada apa nyai, kenapa nyai memanggil ku malam begini ?” tanya Resti ingin tau.
“Seseorang membantu putrimu yang ku teluh !”
“Maksud nyai apa ? nyai meneluh putri ku ?”
“Sesuai dengan permintaan mu, Bu !”
“Aku minta, bukan di teluh, aku hanya minta biar putri ku bisa kembali pulang ! jadi kau telah mengirimkan penyakit ke putri ku ?”
“Ya ampun ! kenapa nyai bisa salah ?”
“Saya nggak salah ! kaulah yang salah dalam memberi informasinya !” bentak nyai Romlah kesal.
“Penyakit apa yang telah nyai kirimkan ke putri ku ?”
“Penyakit yang sangat mengerikan, semua kulit putrimu melepuh dan bernanah serta mengeluarkan aroma busuk !”
“Apa !” karena kagetnya, Resti pun pingsan di rumah Nyai Romlah.
Melihat Resti pingsan, nyai Romlah menyuruh anak buahnya mengantarkan Resti pulang kerumahnya.
Melihat ada mobil yang masuk kedalam parkiran, Bi Inah keluar untuk membukakan pintu rumahnya, akan tetapi setelah ditunggu beberapa saat, ternyata Inah tak melihat siapa-siapa yang masuk kedalam.
Karena merasa takut, Inah langsung memanggil satpam yang saat itu sedang berjaga di luar pagar rumah Ranita.
“Parjo ! Parjo !” panggil Inah seraya menghampiri Parjo yang saat itu asik memainkan ponsel nya.
Merasa asik dengan permainan yang sedang di lakoninya, Parjo sama sekali tak mendengar kalau Inah sedang memanggil dirinya.
__ADS_1
“Hei ! Parjo !” kata Inah seraya menampar pundak Parjo.
Saat di tampar Inah, Parjo pun terkejut, hingga ponsel di tangannya langsung terjatuh kebawah.
“Ada apa Nah ? kenapa kau datang nggak bilang-bilang ! lihat tuh ponsel ku terjatuh dan retak.”
“Nggak bilang-bilang, kepala mu itu yang nggak bilang-bilang ! lihat mulut ku sampai berbusa memanggil namamu yang jelek itu.”
“Ada apa ? kenapa kamu marah ?”
“Tuh lihat ! di parkiran ada mobil nyonya, tapi nggak ada penghuninya ?”
“Maksud mu apa ?”
“Kau lihat sendiri dah ! aku takut !”
“Huuh ! dasar perempuan ! bisanya Cuma takut !”
“Itu sebabnya aku jadi perempuan, kalau aku jadi laki-laki pasti aku lebih berani dari kamu !” bantah Inah kesal.
Lalu dengan mengendap-endap seperti maling, Parjo dan Inah menghampiri mobil milik majikannya itu, ketika hendak sampai, Parjo langsung mengejutkan Inah yang saat itu juga ikut mengendap-endap di belakang Parjo.
“Deer ! ayo kena kamu !” ucap Parjo bercanda.
“Oalah ! der, der ! kurang ajar kamu ya, Parjo !” teriak Inah kaget.
Tangan Inah yang terus memukul punggung Parjo dari belakang, membuat Parjo merasa kesakitan, lalu dia pun kembali membuat Inah terkejut, ketika tiba-tiba saja pintu mobil itu dengan mudah di buka oleh Parjo.
“Ya ampun Inah !” teriak Parjo yang duluan berlari meninggalkan Inah sendirian.
Melihat Parjo berlari, Inah juga ikut berlari, akan tetapi saat keduanya melihat kebelakang, Parjo melihat ada tangan yang tergantung keluar dari pintu mobil yang terbuka.
“Ada tangan ?” kata Parjo seraya terhenti berlari.
“Tangan ? tangan siapa ?” tanya Inah yang saat itu juga terhenti berlari.
“Lihatlah ! seperti tangan nyonya !”
“Benar Jo, itu tangan nyonya !” teriak Inah sembari kembali kearah mobil.
Benar saja saat itu Parjo dan Inah mendapatkan Resti sedang tergeletak pingsan di atas mobil.
Lalu mereka berdua langsung mengeluarkan Resti dari dalam mobil itu, dan membawanya keruangan tamu.
__ADS_1
Bersambung...