
“Kalau soal itu aku nggak tau Ma,” jawab Ahong.
“Ya, Aku juga nggak tau.”
“Kalau begitu biarkan saja semuanya berjalan dengan semestinya.”
“Ya, sebaiknya begitu Pa.”
Setelah hari itu, hati Leni semakin merasa tak tenang, setiap dia berpapasan dengan Zaki, ingin sekali dia membahas masalah Gita dan hubungan mereka berdua.
Begitulah naluri seorang Ibu, dia tak ingin hati putrinya tersakiti walau hanya sedikit. Sore itu, di saat Leni melihat Zaki sedang asik membaca koran diruang tamu, Leni pun datang menghampirinya.
“Boleh Ibu bicara, nak Zaki?”
“Melihat ada Leni di sampingnya, zaki langsung menutup koran yang sedang di bacanya, dengan tidak mengurangi rasa hormatnya sebagai yang lebih kecil, Zaki pun berdiri.
“Eh, ada Bu Leni rupanya,” ujar Zaki seraya tersenyum lebar.
“Nggak usah berdiri nak, duduk aja.”
Meski Leni menyuruhnya duduk, Zaki tetap tak mau duduk sebelum Leni duduk terlebih dahulu, di mata Zaki siapa pun orangnya, walau dia seorang pembantu, dia tetap mendapatkan hak yang sama untuk di hormati.
Setelah Leni duduk, barulah Zaki duduk di hadapan Leni, mereka sama-sama terdiam sejenak, sebelum Leni angkat bicara.
“Nak Zaki, sebenarnya begitu berat sekali untuk Ibu utarakan niat Ibu ini, tapi demi masa depan mu, Ibu harus bersikap bijak. Karena saat ini putri Ibu sedang sakit, jadi Ibu nggak dapat berbuat banyak,” kata Leni dengan linangan air mata.
“Maksud Ibu, apa?” tanya Zaki tak mengerti.
“Kalau nak Zaki ingin menikah dengan wanita lain, Ibu dan Bapak nggak merasa keberatan kok, karena kebahagiaan kalian sekeluarga, juga terdapat kebahagiaan kami di dalamnya.”
Mendengar perkataan Leni, Zaki merasa tak enak hati, dia yakin sekali, kalau malam itu Leni telah melihat dia duduk bersama Defi di serambi rumahnya.
Sebenarnya hati zaki saat itu masih terasa kosong, belum ada yang mengisi kekosongan itu, sejak bencana menimpa hidup Gita, Zaki terasa enggan untuk menjalin asmara lagi dengan gadis mana pun, karena Zaki terlalu fokus pada kesembuhan Gita.
“Ibu, aku yakin, kalau semalam Ibu melihat aku duduk bersama Defi, meski dia itu cantik dan bahkan seorang dokter, namun hati ku belum terpikat dengan wanita mana pun, karena untuk saat ini, aku masih fokus pada kesembuhan Gita dulu.”
“Tapi nak, Gita sudah tak suci lagi, dia telah ternodai oleh bajingan itu.”
“Ibu, kesucian itu, bukan hanya itu saja. Akan tetapi, kesucian yang hakiki datangnya dari lubuk hati yang paling dalam. Semenjak dahulu kami berkenalan, aku nggak pernah memandang Gita itu siapa.”
“Tapi Ibu nggak ingin, kau menyesal di kemudian hari nak?”
“Menyesal masalah apa?”
__ADS_1
“Masalah Gita yang telah ternoda.”
“Cukup Bu, jangan ulangi kata-kata itu lagi, biarkan masa lalu berlalu begitu saja, nggak usah di ingat dan nggak usah di kenang lagi,” tegas Zaki pada Leni.
Mendengar keputusan dari Zaki, hati Leni merasa senang, karena Zaki masih memberi harapan pada putrinya yang saat itu sedang berjuang untuk sembuh dari penderitaan yang baru di alaminya.
Di dalam kamarnya, Leni menghampiri Gita secara perlahan, dia membisikkan kata yang membuat Gita bersemangat untuk sembuh.
“Cepatlah sembuh sayang, karena Zaki selalu menanti mu untuk ke pelaminan.”
Gita yang setiap hari mendengar bisikan itu, dia hanya tersenyum lebar, menatap kearah Mamanya.
“Itu bukan kata Mama sayang, tapi itu kata yang terucap dari mulut Zaki sendiri.”
Setelah Gita tersenyum manis, di dalam kesendiriannya dia pun menangis histeris, Leni yang mendengar suara putrinya, menangis histeris di dalam kamarnya, dia pun bergegas berlari menghampirinya.
“Ada apa sayang?” tanya Leni yang saat itu mendapatkan Gita sedang memukul-mukul dirinya sendiri.
Gita tak menjawab, dia hanya menangis saja tiada henti, seakan air mata itu merupakan kisah pahit yang tak ingin dia kenang lagi.
Karena Gita tak mau berhenti menangis, Leni menjadi panik, lalu dia memerintahkan Zakia untuk menemui Fatma yang saat itu sedang berada di butik.
Seraya berjalan begitu cepat, Zakia menemui Fatma di butiknya, yang saat itu sedang sibuk melayani pembeli.
“Ada apa Kia, kenapa terburu-buru?” tanya Fatma heran.
“Non Gita, Bu! dia nggak berhenti menangis.”
“Kenapa?”
“Nggak tau Bu, Mamanya saat ini sedang panik.”
“Baiklah, katakan pada Leni, aku akan segera datang.”
“Baik Bu,” jawab Zakia sembari kembali kerumahnya.
Setelah Zakia kembali, Fatma pun datang menyusul di belakangnya. Benar saja apa yang di sampaikan Zakia padanya, ternyata Gita benar-benar dalam keadaan kacau sekali, selain menangis Gita tak henti-hentinya memukuli dirinya dan menjerit histeris.
“Sayang! Kenapa kamu nak,” ujar Fatma seraya memeluk Gita dengan lembut.
Mesti demikian, Gita tetap saja menjerit histeris, Mang Ojo yang menyaksikan kejadian itu, langsung saja menelfon Zaki, yang saat itu sedang bertugas di rumah sakit.
Melihat nada ponselnya bergetar, Zaki langsung mengangkatnya.
__ADS_1
“Hallo, Assalamua’laikum Pak, ada apa?”
“Pulanglah nak, Gita sedang nggak sehat saat ini,” ujar Mang Ojo dengan suara lirih.
“Baik Pak, aku akan segera kembali,” jawab Zaki seraya meninggalkan rumah sakit yang saat itu sedang sepi pasien.
Di depan lobi rumah sakit, Zaki langsung menemui Ahong yang tampak duduk santai menunggu majikannya.
“Pak, kita pulang sekarang, Gita sedang sakit dirumah,” kata Zaki pada Ahong.
“Sakit? Sakit apa nak?” tanya Ahong heran.
“Saya juga nggak tau Pak, tapi barusan Bapak telfon, kalau Gita sakit.”
“Tadi pagi, waktu Bapak pergi kerja, dia baik-baik saja kok.”
“Mungkin ada hal yang lain terjadi padanya,” jawab Zaki sembari memacu jalannya menuju parkiran.
Di perjalanan menuju rumah, hati Ahong selalu bertanya-tanya tentang sakit yang di alami Gita saat itu, mesti demikian Ahong tetap fokus pada lalulintas jalan yang sedang padat.
Setibanya di depan rumahnya yang megah, zaki langsung turun dari mobil dan berlari menuju kamar Gita. Menyusul di belakangnya Ahong yang tampak sedikit cemas. Benar saja apa yang di katakan zaki, kalau Gita sedang kurang sehat.
“Ada apa ini? Sayang, kenapa menjerit?” tanya Zaki heran.
Walau Zaki bertanya, namun tak seorang pun yang bisa menjawab pertanyaan yang di ajukan Zaki pada mereka, karena saat itu, semuanya tampak cemas dan ketakutan.
Sementar itu, Ahong pun datang dengan keadaan yang lebih pucat lagi.
“Kenapa dengan Gita, Ma?” tanya Ahong ingin tahu.
“Entahlah Pa, dia menjerit dan menangis seraya memukul-mukul dirinya sendiri.
“Bantu aku Pak!” ujar Zaki seraya mengangkat tubuh Gita yang saat itu masih tetap meronta-ronta, dan menangis histeris.
Ahong yang saat itu berada di dekat Zaki langsung saja membantu Zaki mengangkat tubuhnya ke atas tempat tidur.
Gita pun diberi suntik penenang, agar keadaannya tidak semakin memburuk, hati Leni begitu teriris saat itu, dia menangis pilu sembari menutup kedua wajahnya dengan telapak tangan.
“Tenang Bu, saat ini Gita udah tenang, Ibu nggak perlu kuatir lagi.”
“Kenapa dia seperti itu Nak?"
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*