Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 25 Keinginan yang di tolak


__ADS_3

“Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu.” kata dr. Burhan seraya melangkah pergi meninggalkan ruangan Ranit


Begitu pedih penderitaan yang dialami Ranita, demi memperjuangkan cinta sucinya dia rela mogok makan, hingga membahayakan nyawanya sendiri.


Namun hal serupa juga dialami oleh Niko. Penderitaannya juga berat, demi tercapainya rencana yang sudah dia sepakati dengan Mang Ojo, untuk mendapatkan Intan, Niko juga bersedia melakukan apa saja.


Waktu itu secara diam-diam dia mendatangi kedua orang tuanya, yang saat itu sedang menyelesaikan tugas sekolah yang dibawanya pulang.


“Ma, Pa ! Niko pengen ngomong kira-kira punya waktu kagak ?”


“Ngomong aja ! pake nanya waktu segala lagi !” jawab Retno seraya terus menyelesaikan soal ujian yang akan di bahas nya besok.


“Kamu mau bicara apa nak ?”


“Ma, Pa ! Niko mau nikah !”


“Apa ! nikah ?” jawab orang tua Niko kaget.


“Iya, emangnya kenapa ?”


“Nikah ama siapa, nak ?” tanya Hermawan dengan nada tak percaya. “Bukankah kamu nggak kenal wanita ! Lalu nikah sama sopo toh le, lee ?”


“Ya, sama wanita lah, Pa ! masa Niko nikah ama laki-laki. Niko serius ini Pa.”


“Iya sayang, tapi kamu itu mau nikah sama siapa ?”


“Sama seseorang Pa !”


“Seseorang itu siapa Le ?”


“Dengan anak Mang Ojo.”


“Dengan anak Mang Ojo ? emangnya Mang Ojo itu siapa ?” tanya Retno penasaran.


“Dia bekerja sebagai penjual kacang rebus Ma.”


“Dimana ?”


“Keliling.”


“Tapi prosesnya kan nggak semudah itu, Papa sama Mama kamu butuh waktu untuk berfikir dulu.” kata Hermawan dengan senyum manis di bibirnya.

__ADS_1


“Tapi jangan pake lama ! Kalau ternyata melamarnya kelamaan, Niko akan lamar sendiri.” Tegasnya pada Papa dan Mamanya.


“Eee, tunggu, tunggu, tunggu ! jangan keburu-buru nak, emangnya kamu ini mau nikah dengan siapa tadi ?” tanya Retno mencoba untuk mengingatkannya lagi.


“Dengan Intan, pemilik rumah makan berkah, yang ada dikawasan kumuh.”


“Apa ? Kawasan kumuh ? nggak salah tuh ?” kata Retno menyakinkan putranya.


“Emangnya kenapa, kalau Niko menikah degan perempuan dari Kawasan kumuh, Ma ?”


“Niko ! Kalau kau menikah dengan perempuan dari Kawasan kumuh, itu sama saja mencoreng nama baik keluarga kita nak.” Kata Retno dengan nada tinggi.


“Emangnya keluarga kita punya nama baik, ya ?”


“Dasar kamu ini ! emangnya siapa orang tua perempuan itu ?”


“Mereka semua berasal dari Kawasan kumuh, Ayahnya seorang penjual kacang rebus keliling, sedangkan Ibunya seorang pemulung. Tapi mereka mampu merubah semuanya.”


“Merubah apa ?”


"Merubah keluarganya , dari hidup miskin dan serba kekurangan, menjadi orang kaya yang bergelimang harta. Meski tinggal di kawasan kumuh tapi mereka bisa merubah nasibnya.”


“Tapi tetap sajakan kalau perempuan itu anak seorang pemulung ? ingat, Niko ? jika bibit, bebet dan bobotnya jelek ! Ya, keturunannya juga jelek, nak !”


“Niko ! bukan begitu maksut kami, lagian Mamamu itu ada benarnya juga kan ? kalau kau menikah dengan perempuan anak pemulung itu ? nanti keturunanmu juga nggak sehat.”


“Ah ! Papa ikut-ikutan Mama kayaknya ! baiklah kalau kalian nggak mau melamar Intan, biar Niko sendiri yang datang melamarnya.”


“Sabar, nak ? kalau kamu mau berumah tangga, kami bisa kok nyariin kamu istri cantik, anak orang kaya lagi, yang hidupnya setara dengan keluarga kita. Bukan anak seorang pemulung.”


“Ya, kalau begitu, silahkan Mama cari sendiri, dan nikahkan dia dengan Papa, biar Mama puas !” kata Niko tersulut emosi.


“Niko ! dah mulai kurang ajar kamu, ya ! syetan apa yang sudah merasuki pikiranmu yang kotor itu !” bentak Retno pada putranya. "Kalau begitu Papa dan Mama nggak usah merestui pernikahan kalian.”


“Baik, kalau Papa dan Mama nggak mau merestui pernikahan Niko dengan Intan, nggak masalah. Niko bisa kok melamar Intan tanpa restu kalian !”


“Dasar anak kurang ajar ! Beraninya kau memperlakukan Mama seperti ini Niko. Keluar kau dari rumah ini !” Teriak Retno dengan suara keras.


“Baik ! Nggak ada masaalah kok, hari ini juga Niko akan keluar dari rumah ini !” jawab Niko tersulut emosi.


“Niko ! Niko ! Jangan pergi nak, jangan tinggalkan Mama !” jerit Retno seraya berlari mengejar putranya itu.

__ADS_1


“Agar kalian ketahui, aku hanya sekedar minta restu pada kalian, hanya itu saja ! Mama dan Papa lihat sendirikan, kalau selama ini aku nggak pernah menuntut banyak dari kalian. Usia ku udah lanjut Pa, Ma, lalu aku mesti gimana ?” jawab Niko seraya berlalu meninggalkan Papa dan Mamanya.


Sementara itu, Retno yang telah mengusir putra satu-satunya, merasa menyesal takut Niko tak kembali lagi pada keluarganya. Dia pun berusaha untuk mengejarnya.


“Udah Ma, udah ! nggak usah dikejar, nanti dia akan pulang sendiri kerumah ini.”


“Iya kalau pulang ! Kalau nggak, gimana ?” kata Retno tak yakin dengan perkataan suaminya.


“Kalau dia nggak pulang, biar Papa yang nyarinya nanti.”


“Tapi kemana, Pa ?”


“Ya, kekawasan kumuhlah, bukankah dia sendiri yang bilang kalau dia akan menikah dengan gadis dari Kawasan kumuh ?”


“Kalau nggak jumpa gimana ?”


“Akan Papa cari sampai ke ujung langit.”


“Papa serius ! mau cari sampai ke ujung langit ?”


“Kenapa nggak ! asalkan Mama, nggak memaksakan diri, untuk menekannya.”


“Maksud Papa, apa ?”


“Sebenarnya, Mama terlalu memaksakan kehendak, sehingga beginilah akibatnya !”


“Papa jangan menyalahkan Mama terus dong !”


“Papa nggak menyalahkan Mama, tapi Papa hanya sekedar mengingatkannya saja, Mama sadarkan, kalau Mama itu punya penyakit jantung ?”


“Iya, Pa.”


“Ma, Niko itu udah dewasa, dia pasti bisa menimbang baik dan buruk apa yang telah jadi pilihan hidupnya, kita sebagai orang tua hanya bisa menasehati saja, selebihnya serahkan pada dia.”


“Tapi tadi itu Papa menyalahkan Mama kan ?”


“Siapa yang menyalahkan Mama ! Papa nggak menyalahkan Mama kok, hanya saja Mama terlalu memaksakan kehendak pada Niko, biarkan aja dia memilih jodohnya sendiri, thoh yang akan memakainya dia sendirikan ? lalu mengapa kita yang sibuk mengurusnya ?”


“Itukan menurut Papa ? kalau Niko menikah dengan anak pemulung itu, habislah reputasi keluarga kita, harga diri kita, kehormatan kita dan nama baik keluarga kita. Mau Mama taruh dimana muka Mama, Pa ! di kantor pasti semua teman mengejek Mama.”


“Ya sudah, kalau menurut Mama itu yang lebih penting. Silahkan aja Mama pertahankan dan jangan pernah Mama mengadukan kelakuan Niko pada Papa.”

__ADS_1


“Nggak bisa gitu dong, Pa !”


Bersambung...


__ADS_2