
“Udah Ma, udah ! Mama kayaknya hobi nyarik masaalah ya ? nggak perlu usil dengan urusan orang lain.” Kata Margono menasehati istrinya.
“Diam thoh, Pa ! ini urusan perempuan !” jawab Resti dengan pongahnya.
“Mama yang semestinya diam !” seru Ranita dengan suara lantang. "Aku jadi heran, kenapa ya ? Mama nggak pernah berubah, apa Mama nggak nyadar kalau roda itu selalu berputar. Apa Mama tau siapa itu dosen Dika ? Dia adalah putranya Mang Ojo dan Bu fatma !"
“Apa ! Dia itu putranya pemulung ini ? kalau begitu, puih ! Ayo kita pulang Pa, kalau Mama tau, Mama ogah pergi ketempat kotor ini !” kata Resti dengan kesal.
“Ibu mau pulang ? silahkan, perut Ibu udah kenyang, bukan ?” kata Zaki dari pojok sebuah ruangan.
“Kamu ini !” kata Resti menahan amarahnya.
“Kalau begitu ayo jeng kita pulang aja ! ayo Pa, kita pulang. Mereka semua sudah merendahkan harga diri kita !” ajak Retno pada Resti dan suaminya.
“Harga diri siapa yang telah direndahkan, Ma ?” kata Niko yang berdiri disamping Alhuda.
“Niko, ngapain disini ?” tanya Retno heran.
“Mama udah lupa ya ? kalau Niko kan udah jadi bagian keluarga pemulung ? orang yang selama ini Mama anggap sampah !”
“Diam kamu Nik ! kamu ini ngomongnya udah kayak orang yang nggak berpendidikan aja ?”
“Itu benar, karena Mama nggak mengajari Niko cara menghargai perasaan orang lain, sseperti yang Mama lakuin saat ini pada Mang Ojo dan Bu fatma.”
“Kamu ini ? dasar anak nggak berguna !” bentak Retno seraya menahan amarahnya.
“Udah Ma, udah ! ingat jantung Mama, nanti sakit lagi lhoo !” kata Hermawan menasehati istrinya.
“Kenapa ya ? orang kaya itu pelit, dan mereka selalu merendahkan orang miskin ?” tanya Zaki pada Retno dan Resti.
“Itu bukan urusanmu !”
“Ibu tau jawabannya ? karena orang kaya itu merasa, kalau dirinya telah bersusah payah mendapatkan harta yang mereka miliki, itu sebabnya mereka itu pelit untuk berbagi, dan kenapa mereka selalu merendahkan orang miskin ?”
Retno dan Resti masih diam dan tak menjawab, apa yang dipertanyakan Zaki pada dirinya.
“Itu semua karena mereka merasa derajatnya lebih tinggi dari orang miskin, dan dia merasa lebih berwibawa.”
“Zaki benar ! Ingat Ma, sebaik-baik manusia itu, manusia yang menghargai orang lain dan menghormatinya.”
__ADS_1
“Mama benar-benar kecewa pada mu !” jawab Retno seraya pergi meninggalkan pesta pernikahan itu.
“Terserah ! Kata Niko sambil tangannya memukul meja, yang ada dihadapannya.
Menyaksikan acara yang penuh dramatis itu, semua undangan terhenti untuk makan, acara pun tak berjalan seperti semula, tak satupun denting sendok terdengar.
Disudut ruangan Fatma hanya bisa menangis sedih, air matanya tak henti-hentinya mengalir.
Sementara Mang Ojo bersama yang lainnya, begitu kecewa atas perbuatan Bu Resti dan Bu Retno, yang terus saja menghina keluarganya.
Mesti demikian, kedua suami mereka tak ada yang mampu mencegah, apa yang telah dilakukan oleh istri mereka, bagai kerbau yang ditusuk hidungnya, Margono dan Hermawan pun pulang mengikuti langkah istrinya.
“Walau demikian, acara resepsi tetap dilanjutkan, dan para tamu dipersilahkan kembali menikmati hidangan yang sudah tersedia.
Mang Ojo beserta yang lainnya kembali memperlihatkan muka yang manis didepan para tamu.
Meski masih terasa mengganjal didalam dadanya. Mang Ojo yang selalu mendapatkan ujian berat, baginya hal itu hanya dijadikan sebagai pengalaman yang berharga dalam hidupnya.
Begitu juga dengan yang lainnya, sepertinya mereka semua sudah terbiasa dengan hal-hal seperti itu. Hidup bergelimang dengan ujian yang berat.
Sementara itu Yulia yang menyaksikan kejadian itu, merasa sedih sekali, bahkan dia sempat meneteskan air matanya di pangkuan Dika suaminya.
“Mereka itu orang tuanya kak Ranita dan Bang Niko. Mereka sedari dulu memang selalu mencari masalah dengan keluarga kita.”
“Kenapa mereka marah dan dendam pada keluarga Abang ?”
“Mereka nggak suka putra dan putri mereka menikah dengan anak seorang pemulung.”
“Bapak dan Ibu Abang kan udah lama menjadi pemulung, lalu kenapa mereka masih menghina anak-anaknya ?”
“Ingat sayang ! cara berfikir semua orang itu nggak sama, kadang mereka berfikir hanya mengandalkan otak semata, sebagian ada yang berfikir selain menggunakan otaknya mereka juga menggunakan perasaan, mengingat dan menimbang.”
“Berarti Orang tua kak Ranita dan Bang Niko, mereka berfikir menggunakan otak semata Dong.”
“Benar sayang !”
“Seperti itulah kebanyakan orang kaya itu berfikir, mereka nggak mau menggunakan persaannya, yang penting apa yang ada didalam fikirannya bisa tersampaikan, mesti harus mengorbankan perasaan orang lain.”
“Kasihan sekali kak Ranita dan Bang Niko yang punya orang tua seperti mereka, hatinya pasti begitu hancur.”
__ADS_1
“Iya sayang, Abang merasakan betapa sedihnya mereka berdua, walau dapat suami kaya sekalipun, kalau batin tertekan juga nggak ada gunanya kan ?”
“Iya, Bang.”
Di malam, di saat pesta yang mewah itu selesai di selenggarakan, seluruh tamu juga sudah bubar, Mang Ojo bersama yang lainnya juga sedang bersiap-siap untuk kembali pulang kerumahnya.
“Selamat bahagia sayang ! semoga kalian tetap akur dan selalu bersabar, karena membina rumah tangga yang sakinah itu nggak semudah membalikkan telapak tangan, butuh perjuangan yang berat.”
“Iya, Pak. Nasehat yang Bapak katakan, akan ku pegang erat seumur hidup ku.”
“Kamu memang anak yang penurut Dika, semoga Allah selalu melindungi pernikahan kalian.” Kata Mang Ojo sembari menepuk pundak Dika berkali-kali.
“Aamiin !” jawab semuanya serentak.
Di saat semuanya telah kembali kerumah masing-masing, Dika langsung membawa pengantinnya kedalam kamar, ruangan yang sangat indah yang belum pernah dilihat oleh Yulia, kali itu membuat matanya terbelalak.
Yulia berputar-putar mengelilingi kamar itu, seperti dalam mimpi, Yulia menjadi bidadari di hadapan suaminya.
“Kau senang ?” tanya Dika pelan.
“Senang apanya ?” tanya Yulia yang saat itu berada dipelukan suaminya.
“Kau senang dengan semua ini ?”
“Kenapa Abang melakukannya pada ku, Bang ?”
“Kenapa ?”
“Abang nggak semestinya menikahi perempuan jalanan seperti aku, hidup dengan belas kasihan orang lain, dikejar dan di buru Satpol PP berkali-kali, di lecehkan dan dihina setiap orang.”
“Hari ini takdir Allah telah berkehendak pada mu sayang, bukankah dalam Al Qur’an, Allah telah melarang kita untuk menghina dan melecehkan orang lain ?”
“Itu benar Bang, tapi untuk perempuan seperti Aku, serasa nggak pantas bersanding dengan seorang Dosen dan pelukis terkenal seperti Abang, aku malu sekali ! mereka semua pasti menghina dan merendahkan aku.”
Mendengar kepolosan Yulia, Dika hanya tersenyum manis, bibir Yulia yang tipis dan lembut telah mengakhiri semua rasa malu yang selalu di sebutkan Yulia di hadapan suaminya.
Berkali-kali, Dika mengecup lembut bibir yang seksi itu, dengan pelan dan penuh kelembutan, Dika memperlakukan istrinya dengan penuh kasih sayang.
Bersambung...
__ADS_1