
Mendengar keputusan dari Zaki, Ahong dan Leni hanya diam saja, tak ada yang dapat dia katakan saat itu. Rasa sedih telah mencapai puncak maksimal, serasa tak kuasa tubuh renta nya menanggung beban seberat itu.
Mobil yang melaju kencang saat itu tak lagi dirasakannya, hingga tiba dirumah Zaki pun, keduanya merasa berat untuk turun.
Setelah Zaki turun, dia langsung membukakan pintu milik kedua orang tua Gita.
“Mari Pak, Bu, kita turun!” ajak Zaki pada keduanya.
Merasa enggan untuk turun dari atas mobil, Zaki langsung menjemput Gita kedalam mobil dan mengeluarkannya dengan perlahan.
Sementara itu, Mng Ojo dan Fatma langsung bergegas keluar menjemput kedua orang tua Gita, yang saat itu masih berada didalam mobil.
“Ayo Pak, Bu! kita masuk kedalam,” ajak Fatma pada kedua orang tua Gita.
“Tapi Bu, kami merasa malu,” ujar Leni saat itu.
“Malu! Malu kenapa?”
“kami sekeluarga telah menyusahkan kalian.”
“Nggak ada yang merasa di susahkan Bu, kita di dunia ini, harus saling membantu. Saat ini, keluarga Ibu yang sedang butuh bantuan dari kami,” jawab Fatma dengan suara lembut.
“Baiklah!” Leni dan Ahong pun langsung turun dari mobil milik Zaki.
Setelah mereka berdua masuk kedalam rumah, Fatma memberi mereka tempat beristirahat diruang tamu.
“Gita putri saya, ada dimana Bu?” tanya Leni ingin tau.
“Tuh, Dia ada diruang perawatan milik Zaki,” jawab Fatma
“Bolehkah kami kesana?”
“Silahkan, kalau Ibu dan Bapak mau kesana.”
Karena mereka burdua ingin melihat keadaan putrinya, Fatma langsung mengantarkan keduanya keruang rawat milik Zaki.
Di dalam kamar yang begitu luas, Ahong dan Leni melihat begitu banyak peralatan medis yang tersusun rapi, bahkan dia sampai berdecak kagum melihat itu semua.
Di atas tempat tidur, ada putrinya Gita yang sedang berbaring lemas dengan infus bergantung di samping kirinya.
“Gita mengalami depresi berat, saat ini dia dalam masa pengobatan ku, jadi biarkan dia beristirahat dulu,” ujar Zaki pada kedua orang tua Gita.
“Gimana keadaan putri kami nak?”
__ADS_1
Mendengar pertanyaan dari Ahong, Zaki tak langsung menjawabnya, di hanya menghampiri Ahong beserta istrinya dan mengajak keduanya menjauh dari tempat Gita berbaring.
“Putri kalian di perkosa oleh para penculik itu.”
“Apa?” betapa terkejutnya Ahong ketika menerima berita itu dari Zaki.
Hatinya yang telah hancur saat itu, semakin bertambah hancur, Ahong dan Leni begitu sock mendengar kabar yang menyakitkan itu.
Leni bahkan terhenyak di lantai menerima kenyataan itu, dia sungguh tak berdaya, seluruh persendiannya terasa hendak lepas, bersama suaminya Leni menangis tiada hentinya.
Bukan hanya Ahong dan Leni yang merasakan kepedihan itu Mang Ojo dan Fatma pun ikut menangis, penderitaan itu bukan karena takdir yang salah, tapi penderitaan itu merupakan satu ujian untuk orang-orang yang berada disekitarnya.
Dalam situasi seperti itu, Ahong baru menyesali semua yang telah dia lakukan selama ini pada Gita.
“Jika saja hari itu aku merestuinya untuk masuk Islam, pasti bukan ini yang bakal dia terima, aku benar-benar ayah yang egois!” ratap Ahong sembari memukul lantai rumah Mang Ojo.
“Tenang Pak! tenangkan dirimu! dalam situasi seperti ini tak ada yang bisa kita salahkan, semua yang terjadi pasti ada hikmah yang tersembunyi di balik semua itu,” jelas Mang Ojo menasehati.
“Lalu kami mesti gimana Pak, kami nggak punya apa-apa untuk biaya perawatan Gita, jangan kan untuk biaya perawatannya, untuk makan saja kami hanya bisa bergantung pada Gita selama ini.”
“Bapak nggak usah cemas, bukankah kemaren sore Bapak pernah bilang, kalau Bapak pintar nyopir?”
“Iya, benar,” jawab Ahong dengan tegas.
“Hah! Benarkah itu nak?” tanya Ahong tak percaya.
“Benar! Sedangkan Ibu, tinggalah dirumah ini bersama Bu Zakia, bekerja membantu ibuku dalam segala hal.”
“Jadi Ibu dapat pekerjaan juga nak?”
“Iya, Bu. Kalian tinggallah dirumah ini, sambil merawat Gita.
Merasakan kebaikan hati Zaki dan keluarganya, Ahong dan Leni merasa senang sekali, dia masih bisa tersenyum manis di saat duka sedang menyelimuti hidupnya.
“Baru saja saya katakan, udah langsung terjawab,” ujar Mang Ojo saat itu.
“Emangnya Bapak bicara apa?” tanya Zaki heran.
“Yang itu tadi!”
“Yang itu, mana?”
“Itu, tuh! Yang barusan Bapak bilang, bahwa setiap ada ujian yang berat, pasti hikmahnya menyusul sesudah itu.”
__ADS_1
“Ya, ya! Bapak benar,” jawab Ahong, bahwa setiap ada ujian yang berat pasti di iringi suatu kebaikan sesudah itu.”
“Ya, itu yang saya maksudkan tadi!” jawab Mang Ojo dengan bersemangat.
Suasana yang tadinya penuh haru serta deraian air mata, saat itu telah berubah menjadi kebahagiaan yang tak dapat di ucapkan dengan kata-kata. Kebahagian yang tak bisa di nilai dengan setumpuk harta yang ada didunia ini.
Ahong yang tadinya merasa resah dan takut akan dirinya yang tak punya apa-apa, saat itu telah tersenyum bahagia karena Zaki memberinya pekerjaan yang layak.
Keesokan harinya, Mang Ojo mengumpulkan seluruh anggota keluarganya, guna membahas masalah yang baru saja terjadi dirumah itu, bersama mereka hadir juga Ahong beserta istrinya.
Pada kesempatan itu Mang Ojo membahas masalah kedua orang tua gita yang akan tinggal dirumah itu bersama mereka.
Semua keluarga tampak setuju, Alhuda dan Dika juga berjanji akan membantu keuangan rumah itu, agar semuanya menjadi senang.
Benar saja setelah hari itu, keadaan kembali stabil, Ahong yang sudah lanjut usia itu, dia bekerja sebagai supir pribadi dr.Zaki.
Hati Ahong merasa senang dengan pekerjaan barunya itu, begitu juga dengan Leni, selain membantu di dapur, Leni juga bertugas merawat putrinya Gita, yang saat itu kondisinya sudah mulai membaik.
Selama tinggal bersama keluarga Mang Ojo, Ahong sudah semakin jauh berubah, tubuhnya yang dulu terlihat kurus dan sedikit dekil, hari itu sudah tampak berisi, hatinya tak lagi kalut seperti waktu dulu.
Apa lagi keluarga Mang Ojo sangat baik padanya, mereka menerima Ahong sekeluarga dengan tangan terbuka.
Tak pernah terbayangkan oleh Ahong selama ini, kalau seorang pembantu di rumah mewah Mang Ojo, akan diperlakukan sama dengan orang biasa.
Pagi itu, di saat hendak menikmati sarapan pagi, semua penghuni rumah itu telah berkumpul di ruang makan, namun Ahong dan Leni belum terlihat, Mang Ojo tak langsung memulainya makan, dia menyuruh Zakia mencari mereka berdua dulu.
Setelah mengelilingi rumah mewah itu, ternyata Ahong bersama istrinya berada di kebun belakang rumah, mereka berdua menikmati suasana pagi dengan hati yang sangat bahagia.
Dari arah belakang dapur, Leni melihat ada Zakia yang datang menghampiri dirinya.
“Zakia, ada apa?” tanya leni heran.
“Bapak dan Ibu di tunggu keluarga di ruang makan,” ujar Zakia tenang.
“Nggak usah di tungguin, Kia, kami berdua belum lapar kok, ya kan Pa?”
“Iya, Kia. Kami berdua belum lapar kok, lagian kami mau menikmati suasana pagi dulu.”
“Tapi mereka nggak akan ngizinkan kalian, kalau nggak makan bersama mereka,” jawab Zakia, seakan memaksa Ahong beserta istrinya untuk segera makan.
Bersambung...
\*Selamat membaca\*
__ADS_1