
“Dimana Bapak menemukannya?”
“Di dalam bak kamar mandi, mungkin dia ingin menyelamatkan diri dengan berusaha masuk kedalam bak.”
“Ya Allah, kasihan sekali nek Rodiah.”
“Gimana ini Pak?” tanya Uyung.
“Nenek akan kita kuburkan dengan layak, kalian semua nggak usah kuatir ya.”
“Iya, Pak! nenek,” semua anak-anak itu menangisi kepergian nek Rodiah yang telah sehati bersama mereka.
Uyung, yang selalu mengurus nek Rodiah dan mendorong kursi roda milik perempuan tua itu, tampak begitu sedih sekali, Uyung merasa kehilangan.
Petaka yang menimpa panti, telah mengundang banyak pasang mata berdatangan mengucapkan bela sungkawa yang sebesar-besarnya pada Dika, termasuk saat itu Mang Ojo dan yang lainnya yang juga telah hadir saat itu.
Handoko yang saat itu datang bersama Bima dan Nurul, langsung memeriksa kondisi anak panti. Handoko yang merasa curiga, mencoba untuk tetap diam dan tak bertanya pada siapa-siapa kecuali Dika.
“Boleh Bapak bertanya sesuatu pada mu nak?” tanya Handoko pada Dika.
“Bapak mau bertanya apa?”
“Apakah kau memiliki cctv, di rumah panti ini?”
“Ada pak, kenapa, Bapak tanyakan itu?”
“Dua hari yang lewat, Riza kabur dari rumah sakit, siapa tau dia pelaku pembakaran ini.”
“Oh, begitu, mari kita lihat cctv nya siapa tau dari sana kita dapat memastikan siapa dalang dari pembakaran ini yang sebenarnya.
Untuk memastikan kejadian itu, keempatnya langsung bergegas masuk kedalam rumah Dika, karena cctv itu sengaja berada di rumah Dika.
Dengan sabar Handoko menantikan detik-detik perbuatan Riza di malam itu, memang di luar dugaan mereka sama sekali, tampak Riza melenggang dengan santai, memasuki arel panti, bukan hanya itu saja, Riza bahkan masih sempat duduk dengan tenang sebelum dia membakar panti.
Di cctv, mereka juga melihat dengan jelas bahwa dari tangan Riza lah pemantik api itu berasal. Setelah api berhasil di nyalakan, Riza tampak duduk tenang menunggu api membesar dan ketika api melahap sebagian kamar anak-anak panti barulah Riza berjalan keluar dengan tenang.
Bukan hanya itu saja, di saat seluruh anak-anak panti sibuk untuk menyelamatkan diri, Riza tampak tertawa senang dari luar pagar, dia bahkan bertepuk tangan kegirangan saat itu.
Air mata Handoko tampak menetes membasahi kedua pipinya, dia tak tau mesti berbuat apa lagi, agar anaknya itu tak membuat masalah, karena imbasnya, Handoko juga yang akan menanggung semua kerugian itu.
Seraya menarik nafas panjang, Handoko hanya bisa terhenyak duduk di sudut dinding, lidahnya terasa kelu untuk berbicara, tak ada, kata-kata yang bisa di rangkai untuk menjelaskan apa yang akan diucapkannya.
Dika begitu mengerti sekali dengan keadaan itu, dengan pelan di hampirinya Handoko yang tampak melemah, menerima takdir putra tunggalnya itu.
“Jangan bawa bersedih, Pak,” ujar Dika pelan.
__ADS_1
“Putra ku telah membunuh ku secara perlahan, Dik.”
“Aku nggak mau memperpanjang masalah ini, yang telah terjadi biarlah begitu, sekarang yang kita pikirkan bagai mana caranya untuk membangun panti ini kembali bersama-sama, agar, anak-anak bisa tenang tinggal di dalamnya.”
“Jadi, kamu nggak melaporkan hal ini ke polisi Dik?”
“Nggak Pak, karena aku tau apa yang bapak rasakan saat sekarang ini. Yang kita pikirkan hanyalah, bagai mana membangun panti ini secepatnya, agar ratusan anak-anak itu kembali dengan nyaman menempatinya.
“Baik, semua bahan bangunan saya yang menanggung biayanya,” ujar Handoko memulainya.
“Seluruh isi kamar dan perlengkapan mereka saya yang akan menanggungnya,” sambung Mirwan kemudian.
“Perlengkapan sekolah dan pakaian mereka sehari-hari saya yang akan menanggungnya,” timpal Nurul dari depan pintu.
“upah para pekerja saya yang akan menanggung nantinya,” kata Alhuda yang juga ikut andil di dalamnya.
Mendengar kesanggupan mereka semua, hati Dika menjadi senang, lalu mereka pun membuat kesepakatan kerja, serta melibatkan banyak unsur dalam pembangunan panti tersebut.
Setelah kesepakatan di dapat, mulai hari itu juga, pembangunan panti mulai di laksanakan, lebih kurang empat ratus orang anak panti menantikan perbaikan pembangunan panti tersebut. Intan dan Defi siap selama dua puluh empat jam melayani mereka yang membutuhkan bantuan.
Bukan bahan bangunan saja yang datang pada hari itu, alat berat juga di kerahkan untuk merobohkan sisa puing-puing panti yang masih tersisa untuk di ratakan.
Mereka semua bekerja bahu-membahu.
Tak ada yang di permasalahkan dalam pembangunan itu, semuanya berjalan sesuai dengan rencana yang telah di sepakati.
Untuk mengalihkan rasa sedih yang di rasakan Handoko, Septi mencoba menawarkan minuman hangat pada majikannya itu.
“Tuan, minum dulu teh ini, agar pikiran tuan menjadi sedikit tenang.”
“Terimakasih, Sep.”
“Sama-sama tuan,” jawab Septi sembari sedikit menjauh dari Handoko.“Tuan sedang memikirkan Den Riza ya?” lanjut nya kemudian.
“Iya, Sep. anak itu selalu saja membuat masalah, bahkan kali ini dia membakar panti yang telah menewaskan seorang penghuninya.”
“Masya Allah!” ujar Septi terkejut.
“Saya nggak tau lagi mesti berbuat apa, Sep. rasanya saya udah capek menanggung beban derita ini.”
“Yang sabar Tuan, mungkin saja ada hikmah di balik semua ini.”
“Entahlah Sep, kita nggak tau apa lagi yang bakal terjadi setelah ini.”
Mendengar ucapan Handoko, Septi jadi merinding ketakutan, karena Riza mengalami gangguan jiwa, bisa jadi yang akan menjadi korban berikutnya Handoko atau berkemungkinan besar dia sendiri.
__ADS_1
“Gimana kalau untuk sementara waktu kita tinggalkan dulu rumah ini tuan, kita cari tempat yang aman untuk bersembunyi, sampai Riza dapat di temukan.”
“Percuma Sep, cepat atau lambat, dia pasti akan menemui saya.”
“Tapi saya takut Tuan.”
“Kalau kamu merasa takut, kamu boleh berhenti dulu bekerja di sini, nanti kalau Riza udah di temukan, baru kamu kembali bekerja.”
“Baik tuan,” jawab Septi yang sudah lama menunggu keputusan itu.
Setelah mendapat izin dari majikannya, Septi langsung bergegas mengemasi barangnya. Septi berencana untuk pulang ke kampung halamannya di Prubolinggo, melihat Ibunya yang sudah lama di tinggal bekerja ke Jakarta.
Ketika semua pakaian selesai di kemas dalam sebuah koper, Septi langsung bergegas keluar rumah malam itu juga.
“Saya mohon pamit Tuan,” ujar Septi menyalami tangan Handoko.
“Sekarang kamu berangkatnya Sep?”
“Iya Tuan,” jawab Septi pelan.
“Apakah masih ada mobil, malam begini Sep?”
“Saya nginap di rumah bibi dulu Tuan.”
“Ooo, begitu.”
“Kalau begitu saya permisi dulu Tuan.”
“Apakah kau punya uang Sep?”
“Ada Tuan.”
“Ini ada sedikit uang untuk mu, terimalah,” ucap Handoko sembari menyerahkan beberapa lembar uang ratusan pada Septi.
“Terimakasih Tuan.”
“Nanti kalau suasana udah aman, akan saya kabarkan kembali.”
“Baik Tuan, saya permisi dulu.”
“Iya, hati-hati di jalan.”
“Baik, Tuan,” jawab Septi sembari melangkah meninggalkan Handoko sendirian.
Bersambung...
__ADS_1
\*Selamat membaca\*