Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 33 Perdebatan


__ADS_3

Disaat itu Zaki pun datang menghampiri Niko dan Dika, dia duduk tak begitu jauh dari mereka berdua.


“Lagi sidang paripurna kayaknya nih !”


“Hai Zaki ! gimana dengan tugasmu ?” tanya Niko.


“Alhamdulillah, sejauh ini masih aman Bang, Cuma posisiku masih berada dibawah pengawasan dokter kepala.


“Kenapa begitu ?”


“Ya, maklumlah masih belajar.”


“Ooo, ya wajarlah masih diawasi, kalau nggak rumah sakit tempatmu bekerja bisa tutup mendadak lho !”


“Kenapa tutup Bang ?”


“Mall praktek !”


“Hahaha !” semua tampak tertawa senang saat itu.


“Berarti rumah sakit tempat kau bekerja itu, menjamin keselamatan pasiennya Zaki.”


“Kali aja begitu Bang. Ya udah aku kedalam dulu mau istirahat.”


"Lho kok cepat ! nggak gabung dulu ?"


"Nggak Bang !"


“Ya udah, silahkan !” kata Niko.


“Kalau begitu, aku juga ya Bang ! kata Dika.


“Kau juga mau masuk Dik ?”


“Iya Bang, mau istirahat, capek rasanya.”


“Ok lah, kalau begitu.”


Setelah kepergian Zaki dan Dika, Niko mencoba menatap tajam keatas langit, suasana malam yang sangat indah, tampak begitu hampa dirasakannya.


Hati kecilnya sangat sedih sekali. Sebab dihari pernikahannya, hari yang sangat bahagia, disitulah tergaris momen yang sangat indah, dalam sejarah hidup seseorang.

__ADS_1


Yang semestinya tak ada air mata duka yang mengalir, justru petaka besar yang dialaminya.


Rasanya sangat sulit untuk dilupakan, rasa sakit itu telah tergores dalam lubuk hati kecilnya.


Niko bagai memakan buah simala kama, ada dua pilihan yang sedang menerpa hatinya, Mama atau istri yang baru saja dinikahinya.


Tanpa terasa air mata pria yang bertubuh semampai itupun , akhirnya jatuh membasahi pipinya. Kini Mamanya terbaring dirumah sakit, bertaruh nyawa antara hidup dan mati, namun dia tak bisa berada disisi Mamanya saat itu.


Tak ada yang dapat diperbuatnya , selain rasa penyesalan yang selalu membayangi pikirannya.


“Hai, Abang lagi ngapain ?” sebuah tangan lembut menyentuh pundak kirinya, membuat renungannya buyar seketika.


“He sayang, belum tidur ?” kata Niko pada istrinya.


“Gimana bisa tidur, kalau suamiku tercinta sedang merenungi nasibnya.” Jawab Intan dengan suara lembut.


“Ah, nggak kok, sayang ! Abang hanya sedang memandangi bulan saja, siapa tau Abang akan dapat inspirasi dari menatap keindahannya.”


“Bang Niko masih mikirin Mama, ya ? maafkan aku ya Bang ! semua ini pasti karena pernikahan kita.”


“Nggak sayang ! semua ini karena mereka terlalu mempertahankan ego mereka masing-masing, seperti Mama, dia lebih memilih terbaring dirumah sakit dari pada merestui pernikahan kita. Begitu juga dengan Papa, mereka berdua sama saja. Tak pernah memikirkan kebahagian anaknya.”


“Tapi, kalau seandainya Abang mendengarkan perkataan Mama, pasti semua ini tak akan terjadi bukan ?”


“Benar, benar sekali ! tapi kenapa kedua orang tua Abang menolak ketetapan itu ?”


“Karena mereka nggak mengerti itu sayang.”


“Bukankah kedua orang tua Abang itu seorang tenaga pendidik, dan bahkan seorang dosen lagi.”


“Memang benar mereka seorang tenaga pendidik, tapi jalan fikiran semua orang nggak sama kan ? orang seperti itu biasanya memiliki jiwa yang kosong, tentang Agama dan keyakinan.”


“ jika saja, Abang mau Menikah dengan wanita pilihan mereka, yang lebih dari Aku, pasti hasilnya nggak seperti ini.”


“Intan, jangan lakukan itu pada Abang ya sayang ! kamu harus tau satu hal, demi kamu orang yang sangat Abang sayangi, Abang rela mempertaruhkan segalanya, termasuk ini.”


“Untuk apa mempertaruhkan segalanya Bang, jika batin kita tersiksa ?”


“Nggak Intan, nggak ! justru disinilah Abang mendapatkan kebahagian itu, hidup bersama gadis yang sangat Abang cintai.”


“kalau begitu, jadikanlah ini takdir yang harus Abang jalani, jangan pernah menoleh kebelakang, buktikan pada orang tua Abang, kalau pilihan Abang, benar-benar yang terbaik.”

__ADS_1


“Iya sayang, kamu benar ! terimakasih atas dukungannya, kau istri yang paling baik.”


“Kalau begitu berdo’alah, agar Allah membukakan pintu hidayah untuk mereka.”


“Ya ! untuk saat ini memang do’a yang mereka butuhkan dari kita.” Jawab Niko dengan perasaan yang sedikit lega.


Sementara itu, dirumah mewah dikawasa kota Jakarta, Nampak Resti berjalan hilir mudik didepan pintu rumahnya, dia masih murka dengan kejadian yang baru saja dialaminya.


“Gimana ini, Pa ? ngomong dong ! Jangan diam saja ? kasih Aku solusi atau kita cari saja dukun yang paten. Biar rumah tangga mereka hancur dan Ranita bisa kembali kepada kita lagi. Habis itu kita carikan dia jodoh yang sederajat dengan kita.”


“Sssst, kamu ini udah ngawur kali ya ?”


“Ngawur gimana ? kita cari dukun yang sakti, untuk menghancurkan rumah tangga mereka. Setelah rumah tangga mereka berantakan, lalu kita ajak Ranita pulang kepangkuan kita. Lalu kita carikan dia jodoh yang kaya dan tampan, apa menurut Papa, Mama itu ngawur ?” kata Resti seraya mengarang rencana untuk putrinya.


“Goblok ! kamu ini udah sinting ya, Ma ! Papa nggak setuju, dengan ide konyol mu itu !” tegas Margono pada istrinya. “Kalau Mama ingin pergi kedukun, cari aja sendiri, tapi jangan coba-coba mengganggu hidup Ranita. Itu perbuatan terkutuk !”


“Lalu kita mesti gimana, Pa ?”


“Biarkan mereka hidup, layaknya sepasang suami istri dan kita nggak usah ikut campur dalam urusan mereka.” tegas Pak Margono.


“Kalau begitu Mama nggak setuju ! Ranita itu putri kita satu-satunya, dia harus patuh dan manut pada perintah kita, bukan patuh pada keluarga pemulung itu.” Bantah Resti.


“Kalau sifatmu seperti ini terus, jangankan keselamatan yang akan Mama dapatkan, justru petaka yang akan Mama tuai nantinya.”


“ Kalau Papa melarang Mama seperti itu, lalu Jalan yang mana lagi yang akan Mama tempuh ? Mama nggak punya jalan yang lain Pa ?”


“Aduh ! Mama ini gimana sih ! kalau Ranita sakit karena guna-gunamu bagai mana ? kamu mau bertanggung jawab ?” ancam Margono seraya beranjak dari tempat duduknya.


“Pa ! Papa ! Mama belum selesai ngomong ! huuh, dasar suami nggak berguna.” Gerutu Resti dengan suara keras.


Namun Margono tetap berlalu, walau ucapan istrinya terdengar jelas ditelinganya. Margono sengaja melakukan hal itu, karena dia tak ingin membahas hal yang tak semestinya di perdebatkan.


“Agar Papa ketahui, Itulah resikonya Pa ! berani berbuat, harus berani pula bertanggung jawab !” seru Resti walau Suaminya telah jauh.


“Terserah Mama aja ! kalau Mama ingin kedukun ! kedukun aja sendiri, jangan bawa-bawa Ranita dalam permainan kotor mu itu.”


“Mana bisa, Pa ! wong yang di dukuni itu ya mereka berdua !”


“Nggak ! Papa nggak setuju, kalau Ranita yang kau jadikan korbannya.”


“Jadi kita harus bagai mana ?”

__ADS_1


“ Bukankah tadi Papa udah katakan ! biarkan mereka hidup bahagia, layaknya sepasang suami istri, kita nggak perlu ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka.”


Bersambung...


__ADS_2