Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 30 Pernikahan yang gagal


__ADS_3

Akan tetapi Resti mengabaikan seruan mereka, dia tampak berbuat sesuka hatinya dan sesuai dengan yang ada didalam pikirannya.


“Kalian juga sengaja menyewa Gedung semegah ini hanya untuk memamerkan diri, kalau kalian itu orang kaya ! begitu bukan ? Jangan pernah mimpi !” Kata Resti dengan suara lantang.


Tak ada seorang pun yang menanggapi ucapan dari Resti, karena mereka banyak yang tau, kalau rumah mewah dan megah tempat berlangsungnya acara pernikahan, itu adalah milik Mang Ojo pribadi dan bukan rumah sewaan.


“Ooo, Ternyata kalian semua sengaja menjebak anak saya, ya ? Ternyata itu tujuan kalian !”


“ Hentikan itu Ma ! mereka tak pernah menjebak kami, tapi kami yang ingin menjadi bagian dari mereka !”


“Tutup mulut mu ! ingat Ranita, semenjak kau hadir di antara mereka, kau udah jauh berubah. Saat ini kau bukan saja mempermalukan Mama, akan tetapi kau juga udah menjadi anak pembangkang !”


“Itu semua nggak benar Ma ! aku hanya ingin restu saja dari kalian ! aku juga nggak pernah minta apa-apa selain itu, tapi kalian kenapa harus seperti ini ? huhuhuk !” kata Ranita seraya menangis histeris.


“Ibu itu bohong Ma ! dari awal mereka juga sudah nggak setuju putrinya menikah dengan anak Mang Ojo, itu sebabnya mereka menghina dan merendahkan Mang Ojo dihadapan semua orang, tapi Mama nggak seperti mereka, bukan ?” tanya Niko pada Mamanya yang di ambang keraguan.


“Kau salah Niko ! Justru Mama lah orang yang paling menentang pernikahan kalian berdua. Saat ini mata Mama benar-benar sudah terbuka dengan kebusukan keluarga pemulung ini.”


“Ma, apa-apaan ini, kenapa Mama jadi berubah secepat itu ?”


“Kau nggak lihat apa, Nik ? siapa yang kau nikahi itu ? mereka nggak sederajat dengan kita nak ! mereka hanya berasal dari kalangan rendah nak !”


“Ma, ya Allah ! kenapa jadi begini ?”


“Dari awal Mama juga udah nggak menyetujui pernikahan ini nak, tapi Papamu selalu berusaha untuk membujuk Mama.”


“Lalu kenapa Mama memberi izin pada Niko, untuk menikahi Intan ?”


“Itu karena ide gila Papamu !” kata Retno dengan suara lantang.


“Heh Niko ! Kau laki-laki yang gagah, kenapa mau menjerumuskan diri menjadi orang miskin begini ?” teriak Resti.


“Astagfirullah ! Sadar Bu, kalian udah tua, ntar lagi juga mau mati, harta nggak dibawa kedalam kubur, bukan ? jangan suka menghina kemiskinan orang.”


“Jaga ucapan mu Niko !” bentak Retno keras.

__ADS_1


“Mama sama aja dengan dia, sebelas dua belas, sama-sama gila harta. Aku nggak nyangka sama sekali kalau Mama bisa bersikap seperti itu.”


“Ma, udah Ma, Ranita malu Ma, kalian seperti orang yang tidak berpendidikan aja. Walaupun Mang Ojo dan keluarganya ini seorang pemulung, tapi mereka tidak seperti kalian, hatinya bersih, Namanya harum, jiwanya nggak kotor. Hanya kalian saja yang memandangnya seperti itu.”


“Ranita itu benar ! kalian itu sebagai orang tua, cobalah mengerti sedikit saja tentang kami, kami nggak butuh apa-apa kok, kami hanya minta restu dari kalian !”


“Anak-anak kita itu benar Ma, Mama jangan terlalu egois kenapa sih !” kata Pak Margono menengahi pertengkaran mereka semua.


“Kalian harus ingat satu hal, kami datang kesini atas keinginan kami sendiri, kalau kalian tidak menginginkan pernikahan ini, kalian boleh pergi. Aku malu punya orang tua seperti kalian selalu berjiwa picik dan kekanak-kanakan." Lanjut Ranita yang juga tersulut emosi.


“Ranita ! Matamu telah mereka buta kan Nak, sehingga kau mengabaikan kami demi mereka ?” kata Rasti sembari menangis tersedu-sedu.


“Aku nggak dibutakan oleh siapapun, Ma ! Aku masih Ranita dahulu, putri yang Mama sayangi, yang saat ini demi nama baik keluarga, Mama telah mencampakkannya.”


“Tutup mulutmu Ranita ! Kalau memang itu yang kau inginkan, baiklah akan Mama kabulkan !” kata Resti.


“Sudah, sudah Ma ! kamu ini nggak tau malu ! Papa yang merestui hubungan mereka. Istighfar Ma, istighfar ! jangan turuti emosimu. Ranita itu benar, dia nggak pernah membantah perintah kita !” kata Papa Ranita, yang sudah tak tahan dengan celotehan istrinya.


“Papa ! apa-apaan kamu ini ! Bukannya belain Mama, justru membela anaknya yang udah jelas-jelas bersalah !”


Karena Margono pergi meninggalkan acara itu, maka orang yang bersama Pak Margono pun ikut pergi meninggalkan Ranita yang menangis sedih.


Sementara itu Mama Niko, yang telah mendapat hasutan dari Resti, sakit jantungnya kambuh lagi dan mesti dilarikan kerumah sakit.


Melihat kejadian itu, Intan menangis tersedu-sedu didepan penghulu, tapi Niko mengambil keputusan yang bijak.


“Maaf, tolong nikahkan saya dengan Intan Pak, setelah itu baru saya susul Mama kerumah sakit.” Kata Niko berharap pada Mang Ojo.


“Tapi nak ? mereka kan nggak setuju dengan pernikahan ini ?”


“Yang memiliki tanggung jawab penuh dalam suatu rumah tangga itu kan Papa ! sementara Papa saja udah merestuinya kok.”


“Baiklah nak.” jawab Mang Ojo sembari duduk kembali di hadapan Niko.


Pernikahan pun dilaksanakan antara Niko dan Intan, ijab qobul berjalan lancar dan disaksikan oleh orang banyak.

__ADS_1


Sedangkan Ranita terbaring lemas dipangkuan Alhuda, baju pengantin yang dikenakan dihari yang bahagia, basah dengan cucuran air mata.


“Sepertinya hari ini hari untuk aku berduka, Bang.” Desah Ranita dengan suara lirih.


“Yang sabar sayang, nggak akan ada hari berduka, kalau kita nggak menganggapnya seperti itu, karena semua hari itu sama, nggak ada bedanya.


“Tapi mereka telah mengecewakan aku Bang.”


Abang tau itu sayang, tapi nggak semua orang itu berprinsip sama, mungkin juga prinsip Mama mu berbeda dengan kita, tapi tujuannya pasti sama.”


“Maksud Abang apa ?”


“Mereka pasti sama-sama menginginkan kebahagiaan untuk anak-anaknya.”


“Abang benar.” Jawab Ranita pelan.


Sementara itu, Setelah menikah. Niko minta izin pada istrinya untuk menyusul Mamanya kerumah sakit.


“Ayo nak, kita pulang, ini bukan tempatmu ! Mama nggak sudi menikahkan kamu dengan


pengangguran seperti dia !”


“Nggak Ma ! aku nggak akan pulang, biarlah aku mati disini.” Jawab Ranita pasrah.


“ Nggak nak ! jangan bicara seperti itu pada Mama !” kata Resti yang masih menangis.


“Mana Papa ? kalau dia nggak menikahkan aku dengan Alhuda hari ini, ku pastikan kalian nggak bakalan melihatku untuk selamanya, kalian terlalu mengutamakan derajat dan ego kalian, kan ? Kalian orang tua yang gila harta ! ini ambil semua harta yang kalian berikan kepadaku.” Kata Ranita seraya melepas semua perhiasan pemberian orang tuanya.


Dari kejauhan Margono melihat putrinya terlihat sedih di pangkuan Alhuda, dia pun datang menghampirinya.


“Jangan di lepas nak ! itu hadiah untuk mu !”


“Untuk apa, hadiah ini yang akan membawa aku hidup sengsara nantinya.”


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2